To All of You,
Dengarkan Musik Ini
Super Mario Game
INFO SINGKAT
Beri Masukan Untuk Kami
|
|
Sabtu, Februari 20, 2010
ST. ANDREW
Feastday: November 30
Patron of Fisherman
St. Andrew
Andrew, like his brother Simon Peter, was a fisherman. He became a disciple of the great St. John the Baptist, but when John pointed to Jesus and said, "Behold the Lamb of God!" Andrew understood that Jesus was greater. At once he left John to follow the Divine Master. Jesus knew that Andrew was walking behind him, and turning back, he asked, "what do you seek?" When Andrew answered that he would like to know where Jesus lived, Our Lord replied, "Come and see." Andrew had been only a little time with Jesus when he realized that this was truly the Messiah.
From then on, he chose to follow Jesus. Andrew was thus the first disciple of Christ. Next, Andrew brought his brother Simon (St. Peter) to Jesus and Jesus received him, too, as His disciple. At first the two brothers continued to carry on their fishing trade and family affairs, but later, the Lord called them to stay with Him all the time. He promised to make them fishers of men, and this time, they left their nets for good. It is believed that after Our Lord ascended into Heaven, St. Andrew went to Greece to preach the gospel. He is said to have been put to death on a cross, to which he was tied, not nailed. He lived two days in that state of suffering, still preaching to the people who gathered around their beloved Apostle. Two countries have chosen St. Andrew as their patron - Russia and Scotland.
Jumat, Mei 08, 2009
Pesan Paus Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-43, 24 Mei 2009
| Teknologi Baru, Relasi Baru: Saudara dan Saudari Terkasih, 1. Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang, Saya ingin menyampaikan kepada anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia. Pergeseran itu secara istimewa dialami oleh kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri. Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa seringkali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya ingat akan mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru demi memajukan pemahaman dan rasa kesetiakawanan manusia. Teknologi baru sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya tentu dipergunakan untuk melayani semua manusia secara pribadi dan komunitas, teristimewa mereka yang kurang beruntung dan menderita. (Manfaat Media Baru) 2. Akses terhadap telpon seluler dan komputer yang kian mudah disertai dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas sampai ke wilayah jauh dan terpencil telah menjadikan internet sebagai prasarana jalan bagi penyampaian berbagai jenis pesan. Sungguh sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Daya dasyat media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih ke media baru sebagai sarana berkomunikasi dengan teman-teman, berjumpa dengan teman-teman baru, membangun paguyuban dan jejaring, mencari informasi dan berita, serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Budaya baru ini membawa banyak manfaat bagi komunikasi, antara lain keluarga-keluarga tetap bisa berkomunikasi meski terpisah oleh jarak yang jauh, para pelajar dan peneliti memperoleh peluang lebih cepat dan mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka mampu bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda. Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh berbagai media baru mempermudah pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis dan pada akhirnya memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial. (Jangan hanya terpukau dengan kecanggihan teknis media baru. Media baru sebagai jawaban mendasar kerinduan umat manusia untuk berkomunikasi) 3. Kita tidak perlu terlalu terpukau dengan kehebatan media baru dalam menjawab kerinduan manusia dalam berkomunikasi dan berelasi dengan sesama, karena sesungguhnya, hasrat berkomunikasi dan bersahabat ini berakar dari kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan, yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka dan membuat kita dikenal oleh mereka maka saat itulah kita sedang menjawab panggilan Allah, yakni panggilan yang terpatri dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan. ( Hasrat mendasar manusia adalah berkomunikasi) 4. Hasrat saling berhubungan dan naluri komunikasi yang melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai ungkapan kecenderungan mendasar dan berkelanjutan manusia modern untuk menjangkau keluar serta mengupayakan persekutuan dengan orang lain. Tatkala kita membuka diri terhadap orang lain, kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia. Pada dasarnya, mengasihi adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: "Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga, dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu" dan " kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" (bdk. Mrk 12:30-31). Dalam terang pemahaman ini, merenungi makna teknologi baru sungguh penting, agar kita tidak sekadar menaruh pehatian pada kemampuannya yang tak dapat diragukan itu, tetapi terutama pada kwalitas isi yang disebarkan melalui media tersebut. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri dalam memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan. Oleh karena itu, mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat, semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia, keintiman hubungan seksual, atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita. ( Media baru sebagai gelanggang berdialog) 5. Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpa an yang demikian, jika ingin berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penghargaan. Bila dialog bertujuan untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus berakar pada ikhtiar mencari kebenaran sejati dan bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman. Hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah-yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan-kita menemukan kebahagiaan dan sukacita. Kita tidak boleh membiarkan diri diperdaya oleh orang-orang yang memandang kita semata-mata sebagai konsumen sebuah pasar, yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan, yang mengubah pilihan menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran. (Persahabatan 'on-line' dan persahabatan riil) 6. Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman baru oleh munculnya kosa kata jaringan sosial digital dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu, persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai kekayaan paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan 'on-line' mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga serta mereka yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial sehari-hari sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia. 7. Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka serta memanfaatkannya demi pelayanan umat manusia. Dalam konteks ini, sungguh membanggakan bila jejaring digital baru beriktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaring ini dapat mempermudah bentuk-bentuk kerjasama antar manusia dari konteks geografis dan budaya yang berbeda serta membuat mereka mampu memperdalam rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu, secara tegas kita harus menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaring serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh menjadi tragedi masa depan umat manusia apabila sarana baru komunikasi yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila ia hanya membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi. (Pesan khusus untuk kaum muda: menginjil di dunia digital) 8. Saya bermaksud menyimpulkan pesan ini dengan menyampaikan secara khusus kepada orang muda katolik untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, Saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya teknologi komunikasi dan informasi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul bersama murid-muridnya mewartakan kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya evangelisasi menuntut perhatian yang seksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia jika teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna. 9. Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang memiliki hubungan spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi 'benua digital' ini. Pastikan untuk mewartakan Injil ke dalam dunia jaman sekarang dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka. Hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka "kabar gembira" Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafat dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja, dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai. Iman kita mampu menjawab harapan-harapan itu. Semoga kamu menjadi bentaraNya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya Vatikan, 24 Januari 2009, pesta Santo Fransiskus de Sales Paus Benediktus XVI |
Dikirim Oleh: Titi (Paroki MBK-Jakarta)
Selasa, April 28, 2009
DI BERANDA NUGINI
Oleh: Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Pagi ini mereka ingin membakar mobil di kampung ini. Kata seorang ibu kepadaku, saat aku bertemu dia di beranda pastoran. Orang-orang di kampung ini tidak menerima kematian saudara mereka. Keluarga dan kenalannya mulai datang dari berbagai kampung ke kampung ini dengan pertanyaan, mengapa dia mati muda? Semalam sekelompok orang merencanakan untuk membakar rumah dan membawa orang-orang yang dituduh penyebab kematian orang muda itu ke pengadilan desa. Bukankah orang muda yang meninggal itu, karena terlalu banyak mengkonsumsi minuman keras? Kata saya kepada ibu itu. Menurut adat kami kematian bukanlah hal yang alamiah, apalagi dia masih muda, pasti ada orang yang membenci dia dan membunuh dia secara gaib. Demikian jawaban dari ibu itu kepadaku.
Saya tidak ingin melanjutkan lagi pertanyaan kepada ibu dan segera itu dia meninggalkan pastoran. Saya memilih duduk diam saja di beranda pastoran sambil merenungkan apa yang akan terjadi di pagi hari ini. Bermacam-macam perasaan takut dan cemas muncul di dalam benakku. Apa yang akan terjadi seandainya mereka sungguh-sungguh membakar mobil? Mungkinkah akan ada perang? Atau mereka akan membakar rumah-rumah penduduk disini juga? Tampak dari jauh sesepuh di desa kami, Noel namanya datang menemuiku di pastoran. Raut wajahnya tampak sangat lelah. Ia hanya diam saja dan memilih duduk di beranda bersama saya. Beberapa menit kemudian ia berkata kepadaku, bahwa persoalan di kampung ini semakin sulit. Kemungkinan akan terjadi kekacauan yang luar biasa di kampung ini. Tadi malam semua suku-suku berkumpul di rumah duka untuk membicarakan persoalan mengapa dia meninggal? Bahkan beberapa kelompok merencanakan untuk membakar mobil, dan ingin melakukan balas dendam sebagai tanda ketidakpuasaan mereka atas kematian saudara mereka ini. Untuk itu, sebaiknya father tetap berada di pastoran saja, dan menunggu sampai saya datang dan memberikan informasi lebih lanjut kepada father.
Dentang ketakutan
Ketika dia pamit meninggalkanku, saya masuk ke kamar dan memilih berdiam diri. Tatkala saya berada di dalam kamar, saya mendengar ledakan yang sangat besar, tampak asap tebal mengepul di jalan raya. Rasa takut dan cemas menghantuiku. Dari balik jendala pastoran, saya melihat massa di jalan raya yang begitu banyak. Mungkinkah akan terjadi perang? Tanyaku dalam hati. Beberapa orang lari menuju jalan raya. Sr. Denis Haman, DW (Daughter of wisdom) datang menemuiku di pastoran. Ia berkata kepadaku mengapa orang-orang Matkomnai melakukan tindakan kekerasan seperti ini? Apakah tidak ada cara lain lagi yang lebih manusiawi? Saya sendiri tidak tau apa yang dapat saya katakan kepadanya. Saya hanya menyarankan dia untuk tetap berada di susteran saja.
Beberapa saat kemudian seorang pemimpin umat berlari dengan ketakutan tanpa mengenakan pakaian. Saya mencoba pergi menemui dia, namun dia tidak memberikan informasi yang banyak kepadaku. Beberapa orang yang menemuiku bercerita bahwa keluarga dari orang muda yang meninggal itu hampir saja membakar dia hidup-hidup dengan menuangkan bensin ke tubuhnya. Ketika mereka hendak membakar dia, korek apinya jatuh ke tanah, dan segera saja pemimpin umat itu berlari ke rumahnya untuk menyelamatkan diri. Mereka berkata kepadaku, dia adalah salah satu yang dituduh oleh pihak keluarga sebagai pembunuh secara gaib. Tatkala kutanya dimanakah polisi? Mereka mengatakan kepadaku, ini bukan bisnisnya polisi, tetapi ini bisnisnya orang-orang kampung. Saya tidak mau melanjutkan lagi pertanyaan dan memilih kembali lagi ke beranda pastoran. Ketika senja mulai kembali ke peraduaan, kuajak beberapa umat datang ke gereja untuk menghadiri perayaan ekaristi, meskipun tidak begitu banyak jumlahnya. Selesai misa, sesepuh dari desa lain datang menemuiku dengan permintaan untuk berdoa di rumah duka. Saya agak ragu menerima permintaannya, karena hari sebelumnya saat saya datang ke rumah duka, mereka menolak saya berdoa untuk orang muda yang meninggal ini. Namun, akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke rumah duka. Saya datang dengan beberapa anak muda dan Sr. Denis Haman, DW. Kondisi dan keadaannya sudah mulai meredah, namun mereka mengatakan bahwa besok saat penguburan pasti terjadi kekacauan lagi di kampung ini.
Keesokan harinya saat saya datang untuk penutupan peti, tampak kerumunan orang-orang di rumah duka. Beberapa dari mereka merusakan apa saja yang ada di sekitar mereka, bahkan tiang rumah pun dipotong. Tidak ada orang yang berani menghentikan mereka karena ini ungkapan kesedihan dan kemarahan mereka. Upacara penutupan peti tidak berjalan dengan lancar, karena pihak-pihak keluarga menuntut agar kompensasi berupa uang atas meninggalnya saudara mereka harus diletakan di atas peti sebelum dibawah ke tempat peristirahatan yang terakhir. Maka kami harus menunggu lagi. Saya mencoba menunggu dengan sabar. Noel, datang mendekatiku dan mengatakan untuk tetap bersabar. Meskipun dia seorang pemimpin umat dan sesepuh di desa itu, tetapi dia tidak memiliki kekuasaan apapun menghadapi suku dari keluarga yang berduka ini. Setelah melalui perdebatan dan negoisasi, akhirnya saya diperkenankan mendoakan dan memberkati jenasah, dan akhirnya dibawah ke tempat peristirahatan yang terakhir.
Selama satu bulan semua kegiatan di gereja tidak berjalan dengan lancar. Kegiatan pasar di tepi jalan juga sangat sepih, karena tidak ada yang berani menjual dagangannya di pasar. Sementara jumlah orang yang datang ke gereja juga mulai menurun. Masing-masing pihak saling mencurigai dan menuduh satu dengan yang lainnya. Pihak keluarga yang berduka datang ke pastoran berbicara dengan saya tentang kematian saudara mereka dengan versi yang berbeda-beda. Sementara itu orang-orang yang dituduh membunuh orang muda itu secara gaib juga datang berkisah kepada saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, karena masing-masing dengan versi kisahnya. Saya mencoba mendengarkan kisah mereka, dan menawarkan untuk mengadakan rekonsialiasi. Namun gagasan rekonsialiasi ternyata sangat berbeda dengan apa yang mereka pikirkan. Rekonsiliasi bagi mereka adalah, pihak yang dituduh harus membawa uang, makanan, binatang kepada keluarga yang berduka tersebut. Mereka akan duduk bersama, makan bersama dan meminta maaf sesuai dengan adat kebiasaan mereka. Sementara gagasan rekonsialiasi yang saya pikirkan sangat berbeda dengan mereka, sehingga rekonsiliasi yang saya tawarkan tidak pernah terwujud.
Merenung di beranda
Hidup dan berkarya di Papua New Guinea kadang sangat keras, bagaikan hidup di tengah padang gurun. Ada begitu banyak kesulitan dan tantangan yang akan kita hadapi dan alami. Kata seorang relawan dari Australia kepada saya. Karena yang dihadapi adalah karakter orang-orang Papua yang unik, keras, dan akses tempat tinggal yang sangat jauh, serta sulitnya sarana transportasi. Kita sangat sulit mengerti jalan pikiran dan hidup mereka. Romo Hubert, seorang imam diosesan bercerita kepadaku bahwa dia pernah diusir oleh orang-orang Papua sendiri, ketika dia berusaha membangun jalan raya bagi penduduk. Melihat akses tempat tinggal mereka yang sangat sulit, dia berusaha sekuat tenaga untuk membuka jalan di tengah hutan menuju kampung mereka, namun dia dibenci oleh orang-orang Papua. Ia sendiri berkata kepadaku bahwa dia pun sulit mengerti dengan orang-orangnya sendiri. Sedangkan Romo Salvius, seorang imam diosesan lainnya berkata kepadaku, jalan satu-satunya untuk hidup dan berkarya di Papua adalah menghadapi semua tantangan dan kesulitan dengan kebesaran jiwa. Ia berkisah tentang pengalamannya kepadaku bahwa setiap daerah di Papua memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Untuk datang ke keuskupan saja dia harus menempuh perjalanan melewati sungai selama tiga hari. Beberapa kali, dia terpaksa harus tidur dan menginap di hutan, karena kehabisan minyak, atau mesin motor tidak berfungsi dengan baik. Ia hanya makan pisang dan makan apa saja yang dia temukan di hutan, bahkan seringkali dia tidak makan apapun juga. Pengalaman ini bukan hanya terjadi sekali, tetapi seperti menu bagi kehidupan dan karyanya setiap saat. Romo Jack Gros, CM, juga berkisah kepadaku bahwa selama delapan hari dia berjalan kaki mencari umatnya yang sedang berada dalam ketakutan, tetapi dia tidak menemukan mereka. Setelah delapan hari tidur dan tinggal di hutan dengan makan apa saja yang ditemukan di hutan, dia berhasil menjumpai satu keluarga. Saya juga ingat Romo Edi CM yang menerima seorang bapak dengan kebesaran jiwa, meskipun bapak itu meluapkan kemarahan yang meluap-luap tanpa alasan yang jelas. Saya juga ingat kisah dari Romo Aloi, SMM, yang berkarya di daerah Nomed yang sangat terpencil. Ketika dia pergi mengunjungi umatnya, tidak jarang dia tidur di tengah hutan, karena jarak yang sangat jauh. Lelah, capeh, dan lapar adalah santapan dan menu hidupnya. Ia berkisah kepadaku, hampir setiap hari umatnya meninggal dunia, karena tidak tersedianya rumah sakit. Saya juga ingat kisah Romo Mas John, SMM, setiap kali datang ke keuskupan dia harus berjalan kaki selama tiga hari. Ia berkisah kepadaku, jalan kaki selama tiga hari untuk datang ke kota, atau untuk kembali ke parokinya adalah santapan dan menu hidupnya. Bila hari sudah mulai malam, dia tidur di tengah hutan. Saya juga ingat kisah tentang jatuhnya pesawat yang menyebabkan seorang romo, smm yang adalah pilot, dan seorang suster DW meninggal dunia.
Makna Salib
Saya masih duduk di beranda, tatkala kisah-kisah tentang kehidupan orang-orang Papua dengan segala kesulitan dan tantangan hadir dalam ingatanku. Kesulitan dan tantangan ini masih akan selalu dihadapi, karena ini adalah menu dan santapan keseharian bagi orang yang bekerja di Papua. Mengingat kisah tragedy di Matkomnai setahun yang lalu, dan kisah-kisah dari Romo-romo yang berkarya di Papua, terlintas di benak saya mungkinkah ada solusinya? Namun saya tidak pernah menemukan jawaban yang tuntas. Tatkala saya memalingkan wajahku, kulihat salib besar yang dipasang di luar gereja. Salib itu setiap hari berdiri di sana, tetapi saya tidak melihat dengan mata iman. Kini, saat duduk sendirian di beranda, salib itu sepertinya berbicara kepadaku tentang pemberian diri Tuhan Yesus kepada kita. Salib adalah tanda pengorbanan Yesus dan cinta yang tuntas kepada kita. Salib juga adalah jalan untuk menemukan makna, dan arti hidup manusia. Semakin lama saya melihat dan membayangkan salib Kristus, semakin saya mulai menemukan jawaban atas hidup dan pelayanan kita sebagai seorang kristiani. Cardinal Basil Hume dalam bukunya ("The mystery of the cross", Dalton Longman + Todd, 2000), menulis ("...there, and there alone, is the solution, because behind the crucifix you see, with the eyes of faith, the outline of the risen Christ. That is the point and that is why a crucifix is such a lovely thing"). Saya yakin jawaban yang ditemukan oleh Kardinal Basil bukanlah tanpa alasan yang kuat, karena segala persoalan, kesulitan, beban hidup yang berat, dan padang gurun hidup yang kita hadapi dan alami akhirnya kita temukan keindahannya pada salib Kristus. Melalui salib, Kristus ingin menunjukkan cintaNya untuk kita. Dia tidak mempunyai dosa, tetapi dia melakukan semuanya itu sehingga setiap orang dapat mengalami keselamatan. "Tidak ada cinta yang lebih besar, dari pada cinta seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya".
Kadang saya merasa hidup dan berkarya di Papua sangat berat, karena kita sepertinya berada dalam situasi padang gurun, dan kesendirian. Apalagi merasa tidak berdaya menghadapi orang Papua, karena karakter mereka yang unik dan akses tempat tinggal mereka yang sangat jauh. Namun, dari berbagai pengalaman itu, saya semakin mengerti kata-kata Tuhan Yesus, barang siapa ingin menjadi pengikutiku, harus menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikuti Aku. Tuhan Yesus sendiri menunjukkan jalan, memikul salib, dan mati di kayu salib. Namun kematiannya di kayu salib berakhir dengan kemenangan yakni kebangkitan. Saat itulah hidup kita dijiwai dengan semangat pengharapan, kegembiraan dan damai, karena setelah melewati padang gurun, pasti ada sumber air yang memancarkan kegembiraan, setelah masa kegelapan dalam hidup, pasti ada terang, setelah penderitaan ada kegembiraan, dan setelah kematiaan ada kebangkitan. Selamat menjalani masa prapaskah 2009.
Kamis, Februari 19, 2009
SEMINAR " Buat Apa Jadi Katolik"

KEP MBK bekerjasama dengan Penerbit Dioma akan mengadakan Seminar setengah hari dengan tema “Buat Apa jadi Katolik?”. Seminar Rome Sweet Home, The Lamb s Supper dan Reason to Believe. Pembicara Rm. Prof. Dr. Mardiatmaja, S.J. dan moderator Rm. L. Heru Susanto, Pr.
Diadakan pada hari Sabtu, 21 Februari 2009,
Pkl. 09:00-12:00 di Auditorium Gereja MBK.
Tiket seharga Rp.30.000,- dapat diperoleh di stand di depan gereja setelah misa atau dapat menghubungi Sutji (0816.935172), Galan (0812.9988799), Wihendro (0812.8287098) atau Ferry (0816.4822620).
Dikirim oleh: Titi (Paroki MBK - Jakarta)
Rabu, Januari 28, 2009
AKU INGIN PULANG
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Diletakkan begitu saja bajunya di atas tumpukan kayu bakar. Segera ia mengambil beberapa pisang mentah dan dibakar di dalam tungku api yang sedang menyalah. Sambil menunggu pisang yang sedang dibakar, dia mengambil sebatang rokok dari saku celananya. Ia mengisap rokok itu dalam-dalam dan segera itu menghebuskan asap rokok itu keluar dari mulut dan hidungnya. Sepertinya memberikan kelegaan tersendiri bagi dirinya. Pandangan matanya terarah pada pisang mentah yang sedang dibakar, sesekali dibalikannya pisang itu dan dikeluarkannya dari tungku api setelah dilihat pisang itu sudah dapat dimakan. Ia bergegas ke sudut rumahnya mengambil sebuah piring yang sudah agak kumal, diletakkan pisang di atasnya dan dihidangkannya kepada saya. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah dan capeh, tampak dari lingkaran hitam pada kedua bola matanya. Namun ia tetap memberi senyum kepadaku. Itulah bapak Andreas, wajah seorang pengungsi dari Papua Barat.
Sudah sepuluh tahun kami tinggal di Papua New Guinea, tetapi kehidupan kami tidak pernah berubah, malah mengenaskan. Sejak kami datang ke tempat ini, lahan tanah tidak pernah kami miliki, selain pekarangan di sekitar rumah yang tidak dapat ditanam karena kondisi tanahnya. Kata bapak Andreas kepadaku. Sebenarnya kami diberi tanah tetapi masih dalam kepemilikan tuan tanah. Kami tidak dapat menanam apapun juga. Kalaupun kami menanam sesuatu pasti akan diambil semuanya oleh tuan tanah.
Kepastian Hidup
Saat kami keluar dari Papua barat menuju Papua New Guinea sebenarnya kami tidak mengetahui dengan pasti persoalan politik apa yang sedang terjadi. Kami hanya mendengar bahwa kami akan merdeka, tetapi merdeka dari apa? Kamipun tidak pernah mengetahui dengan pasti. Tetapi satu hal ini yang tidak pernah kami lupakan adalah perlakukan yang sangat tidak manusiawi dari pihak-pihak penguasa. Kami ditekan, dipaksa, bahkan kami hidup dalam ketakutan di kampung kami sendiri. Kami merasa takut di tanah yang merupakan warisan dari leluhur kami. Dalam suasana kepanikan, dan ketakutan, kami meninggalkan tanah dan semua warisan dari nenek moyang kami. Kini tanah itu sudah bukan milik kami lagi. Ketika kami tiba di PNG, kami mendapat janji dari pemerintah bahwa mereka akan memberikan tempat yang layak bagi kami, dan memperhatikan hak-hak kami. Namun kenyataan itu tidak pernah kami alami, justru pengalaman-pengalaman pahit yang kami alami. Semua tanah di daerah tempat kami tinggal sekarang ini adalah milik tuan tanah. Sewaktu-waktu tanah ini dapat diambil oleh tuan tanah, dan pemerintah PNG sepertinya tidak memiliki kewibahan untuk menghadapi tuan tanah. Kami tidak dapat menggunakan tanah itu untuk berkebun. Bahkan bukan hanya keluarga kami saja, tetapi semua pengungsi yang mendiami tanah disini adalah milik tuan tanah yakni penduduk asli. Jika kami diberi tanah, luasnya tanah itu hanya sepetak saja. Bila kami membuat bisnis kecil-kecilan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga, kami akan diprotes oleh mereka. Katanya lebih lanjut kepadaku. Saya hanya mendengarkan kisahnya dan memilih diam saja, saat dia menceritakan kehidupannya. Mungkin ini yang dapat saya lakukan, menyediakan hati untuk mendengarkan kisah kehidupannya.
Hidup sebagai pengungsi bukanlah sesuatu yang gampang, seperti halnya yang dialami oleh keluarga Bapak Andreas. Mereka hidup dalam ketidakpastian. Meskipun mereka tinggal di Papua New Guinea sekian tahun, tetapi mereka masih dianggap sebagai orang asing, dan imbas dari itu kadangkala hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka dilihat sebagai orang yang membawa masalah, bukan sebagai pribadi. Mendiang Paus Yohanes Paulus II, saat merayakan hari buruh migran dan para pengungsi, 2005 di dalam pesannya, beliau mengatakan bahwa pentingnya integrasi diantara orang-orang untuk memperkokoh identitas para pengungsi dan buruh migran dan pengakuan hak asasi mereka melalui diolog, keramahtamahan, serta mengembangkan semangat solidaritas sehingga mereka dapat bertumbuh kembang. Seruan mendiang Paus Yohanes Paulus II ini masih memiliki gemah yang mendalam sampai saat ini ketika melihat ribuan bahkan jutaan pengungsi yang hak-hak asasi mereka tidak dihargai sebagai manusia. Kisah dari Ruwanda, Tutsi, Ethiophia, Gasa, Iran, Sidoarjo adalah contoh lain dari wajah-wajah para pengungsi yang hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka seperti orang asing yang tidak menemukan kepastian pengalaman hidup mereka di masa mendatang. Hari esok seperti hari-hari yang penuh kegelapan, karena mereka melangkah dalam ketidakpastian. Mereka mendengar dan menerima janji, tetapi janji seperti pemanis bagi kehidupan mereka. Kisah pengungsi di Sidoarjo adalah contohnya, betapa hari-hari hidup mereka diwarnai dengan ketidakpastian, karena janji untuk perbaikan kesejahteraan tidak pernah terpenuhi, bahkan hidup mereka kian hari semakin tidak menentu. Untuk tidak mengatakan hak-hak asasi mereka semakin tidak diapresiasi sebagai manusia. Mereka dipaksa untuk meninggalkan tanah warisan mereka dengan janji ganti rugi, namun pada akhirnya ganti rugi sangat merugikan para pengungsi.
Menjadi rasul cinta
Paus Benediktus XV1, di dalam pesannya saat merayakan hari para migran dan para pengungsi sedunia yang ke-95, memilih tema "St.Paul migrant, Apostle of the peoples, 18 January 2008. Rasul Paulus lahir di dalam sebuah keluarga imigran Yahudi di Tarsus, Cicilia, ia didik di Ibrani, dalam budaya dan bahasa Yunani. Sesudah pengalaman berjumpaannya dengan Yesus di jalan Damaskus, dia mengabdikan dirinya tanpa ragu-ragu pada misinya yang baru dengan keberanian dan entusiasme, serta patuh pada perintah Tuhan. Hidupnya berubah secara radikal. Jesus menjadikan hidupnya "raisaon d'etre and motivosi yang menginspirasikan karya kerasulannya untuk pewartaan Injil. Ia berubah dari penganiyaya orang kristiani menjadi rasul Tuhan Yesus. Paulus didalam karya perutusannya melihat Injil sebagai kekuatan Allah bagi keselamatan setiap orang yang memiliki iman baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Ia menyebut dirinya sebagai "Missionary to migrants", ketika karya pewartaannya ditolak oleh orang Yahudi. Hidup dan pewartaannya membuat Yesus dikenal dan dicintai oleh banyak orang. Inilah semangat missioner dari Santo Paulus.
Paus Benediktus XVI di dalam suratnya menyebutkan bahwa semangat missioner adalah semangat dari setiap orang yang dibaptis. Semangat missioner ditunjukan melalui keberpihakkan dan perhatiannya pada kaum imigran, pengungsi, orang-orang yang tidak memiliki rumah, termasuk korban dari bentuk penindasan modern. Paus Benediktus menegaskan bahwa berhadapan dengan perubahan budaya, sosial dan tantangan-tantangan lainnya, semangat Santo Paulus harus menjadi jiwa dari setiap orang kristiani yakni mengembangkan semangat solidaritas dengan saudara-saudari yang menderita, dan ikut menciptakan lingkungan yang damai diantara budaya, agama dan manusia.
Kerinduan yang besar
Sebulan kemudian saat saya datang ke kota, saya bertemu dengan bapak Andreas. Ia mengatakan kepadaku bahwa dia ingin pulang ke tanah asalnya, karena tanah warisan dari nenek moyangnya adalah tanah yang menjanjikan dan memberikan kebahagian daripada di tempat ini. Ia memiliki bakat, keterampilan, tetapi ia ingin membangun dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik di daerahnya, bukan di negeri orang. Tidak ada kebahagian yang lebih besar, selain pergi dan membangun kehidupan yang lebih baik di tanah sendiri, daripada di tanah milik orang lain. Di negara PNG kami tidak pernah diakui hak-hak kami; kami hanya dilihat sebagai masalah bukan sebagai pribadi. Maka jalan yang paling baik adalah kembali ke kampung halaman kami dan membangun kembali kampung halaman kami menjadi lebih baik seperti waktu kami masih berada di sana. Tetapi bagaimana dengan tanah warisanmu yang ada di sana? Apakah masih menjadi hakmu, setelah sekian lama kamu tinggalkan? Tanyaku lebih lanjut kepadanya. Ia tidak menjawab dengan segera pertanyaanku. Air matanya membasah pipinya, karena dia ingat bahwa beberapa tahun yang lalu ketika dia ke tempat asalnya untuk mengunjungi saudara-saudarinya mereka mengatakan kepada dia bahwa tanah yang dahulu dibangga-banggakan kini tidak pernah ditempati lagi, karena mereka mendapat tekanan dari banyak pihak, dicurigai, dituduh sebagai orang yang bekerjasama dengan kelompok pro kemerdekaan Papua. Padahal kami ini adalah masyarakat sederhana yang tidak pernah mengerti tentang peta politik. Yang kami rindukan adalah kelak kami dapat pulang lagi ke tanah yang telah melahirkan, yang telah memberikan kehidupan bagi kami. Di tanah itu kami merasa hidup itu menjadi lebih berarti karena tinggal bersama sebagai saudara-saudari, diterima, dihargai sebagai pribadi dan bukan dilihat sebagai masalah. Ia berkata kepadaku bahwa dia hanya ingin pulang melihat kampung halamannya, karena disanalah dia mendapat kekuatan dan kegembiraan melihat saudara-saudarinya di Papua Barat.
Ketika dia pamit dan meninggalkanku, pandanganku terarah kepada pengalaman orang Israel saat mereka berada di tepi sungai Babylon. Mungkinkah orang-orang pengungsi adalah orang-orang yang berada di tepi sungai Babilon yang tidak dapat menyanyikan kidung di negeri orang? Mereka hanya ingin menyanyikan kidung di tanah warisan nenek moyang mereka, di tanah yang memungkinkan mereka merasa dihormati, dan dihargai. Mungkin mereka hanya duduk menangis, karena mereka tidak pernah tahu dengan pasti kapan mereka pulang? Mereka juga merasa lelah dan capeh karena stigmatisasi dari masyarakat terhadap mereka sebagai pembawa persoalan dan bukan sebagai pribadi. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tatakala kuceritakan kisah ini kepada Romo Gros, CM, beliau hanya mengatakan kepadaku hadirlah bersama mereka melalui pembinaan manusiawi dan iman untuk melihat secercah harapan di masa yang akan datang. Mungkin ini pesan solidaritas yang sederhana menjadi rasul cinta seperti Santo Paulus.
Jumat, Januari 09, 2009
MISA JUMAT KEDUA FORUM KATOLIK / FORKAT SCBD
Bagaikan siraman air yang segar ditengah kesibukan dapat sejenak hadir dalam keheningan pikiran dan batin mengikuti misa, mendengarkan firman yang disampaikan sekaligus menyemarakkan suasana dengan melantunkan lagu-lagu dalam kelompok paduan suara KKF dan bertemu dengan teman teman dalam satu iman dan pengharapan akan Tuhan Yesus menyertai dan membimbing kita sepanjang tahun 2009 ini yang menurut para analis bahkan paranormal sekalipun adalah tahun yang berat dan menakutkan.
Romo mengajak agar dengan kerendahan hati kita memohon penyertaan dan campur tangan Tuhan seperti bacaan Injil hari ini, seorang kusta yang tersungkur dan memohon kepada Yesus. Tuhan menyembuhkan seketika itu juga penyakitnya karena dia percaya dan Tuhan mau mentahirkannya.
Andreas Andy S. - Paroki Kristus Salvator, Jakarta.
Rabu, November 05, 2008
MALAM DEVOSI MARIA III
.jpg)
Saya bersama dengan Pak Hendro mengikuti acara Malam Devosi Maria III pada hari Jumat, 31 Oktober 2008 bertempat di XXI Ballroom, Djakarta Theatre Complex yang berlangsung dengan acara ramah tamah, santap malam, Devosi, penggalangan dana dan diakhiri dengan berkat penutup oleh Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM.
Acara ini diselenggarakan oleh Mitra Komisi Liturgi KWI dengan ketua panitia acaranya adalah Ibu A. Lily Widjaja.
Mitra Komisi Liturgi KWI (Mitra Komlit) yang diketuai oleh Bapak Agustinus Santoso adalah sekelompok awam Katolik yang peduli dan penuh komitmen membantu karya dan program kerja Komisi Liturgi KWI.
Mitra Komisi Liturgi KWI mempunyai misi membantu dan mendukung program kerja Komisi Liturgi KWI bagi pengembangan liturgi di Indonesia serta menggalang dana guna mensukseskan karya pelayanan Komisi Liturgi KWI. Salah satu karya Komisi Liturgi KWI yang dibantu Mitra Komlit yang sudah berjalan adalah penerbitan Majalah LITURGI. Majalah ini didistribusikan ke semua paroki di seluruh Indonesia.
Devosi dibuka dan dijembatani dengan aksi monolog Butet Kartaredjasa, lagu dan pujian persembahan Trie Utami, Maria Mama Mia, Kia AFI, Gratia Voice, Gerak tari dari Ratna Ully Dancer dan Vicky Sianipar Ethnic Band.
Kolaborasi dan aksi panggung yang apik para seniman tersebut mengingatkan dan menggugah perasaan terlebih introspeksi diri sejauh mana cinta dan kasih serta perhatian kita kepada sesama terutama kepada keluarga dan anak-anak kita yang kita kasihi. Seraya berdoa kepada Tuhan melalui pertolongan Bunda Maria untuk kita dapat meneladani kesetiaan Maria dari awal hingga akhir menemani Yesus dan mewujudkan rencana Allah, meskipun hancur hatinya melihat Anaknya yang harus menanggung derita dengan dihina, disiksa dan wafat di kayu salib.
.jpg)
Demikian Maria bagi umat Katolik sungguh berarti, dihormati dan diteladani karena peranannya yang luar biasa sebagai anggota keluarga kudus Allah dalam mengiringi Puteranya mewujudkan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan karena maut/dosa. Kini jalan keselamatan itu sudah ditawarkan oleh karena inisiatif yang berlandaskan kasih dari Allah Bapa dan kita sebagai manusia diberikan pilihan.
Kiriman: Andreas Andy S. & Petrus Hendro (Paroki Kristus Salvator)
Minggu, November 02, 2008
CERITAKAN ALLAH KEPADAKU
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Sudah beberapa jam speed boat yang kami tumpangi berusaha untuk melaju, tetapi tidak ada tanda-tanda untuk ia bergerak maju, karena mesin motor tidak berfungsi dengan baik, dan harus berhadapan dengan arus sungai yang sangat kencang. Beberapa kali, kami merapat ke tepi untuk memperbaiki mesin motor yang tidak mempunyai tenaga untuk menggerakan speed boat. Ketika berhadapan dengan arus yang lebih kencang, kami terpaksa harus turun dari speed boat, dan perlahan-lahan mendorong melawan arus, bahkan ada beberapa diantara kami yang harus menarik speed boat dengan tali melintasi arus sungai. Rasa lelah, dan lapar tidak membuat kami putus asa untuk membawa salib dan gambar bunda Maria ke sebuah paroki di atas bukit. Untuk sampai ke paroki itu, kami harus melewati sungai dengan arus yang sangat keras. Rasa lelah berubah menjadi keceriaan tatkala ribuan kupu-kupu putih melintasi dan berarak bersama kami. Mereka sepertinya sedang menari, dan ikut berjuang bersama-sama dengan kami. Kupu-kupu itu sepertinya memberikan kegembiraan kepada kami. Kadang mereka mendarat di speed boat, dan beberapa diantara kami sibuk untuk menangkap dan mengumpulkan kupu-kupu putih tersebut. Kata mereka, kupu-kupu itu akan dikumpulkan dan dimakan. Sementara itu sepanjang aliran sungai, ribuan kupu-kupu, ada yang sedang terbang, ada yang sedang bermain-main di atas sungai. Salah satu diantara mereka berkata kepada aku; father, Allah juga ikut berjuang bersama kita untuk melawan arus sungai ini. Aku hanya menjawab “I think so”. Ia berkata lagi; Allah datang menemui kita, dalam keindahan kupu-kupu putih ini.
Setelah sekian lama melawan arus, kami akhirnya tiba juga di sebuah hutan, dan berlabuh di sebuah sungai kecil. Beberapa penduduk di sekitar itu sudah datang menyambut salib dan gambar bunda Maria yang kami bawa. Kami berjalan kaki lagi menuju sebuah kampung. Kampung itu letaknya di atas bukit, dengan pemandangan yang sangat menawan. Kurang lebih satu jam kami tiba di paroki itu. Hari sudah menjelang malam saat itu. Di depan pintu masuk kampung, sudah banyak umat berkumpul untuk menyambut salib dan gambar bunda Maria. Mereka berdoa dan menyanyikan lagu Maria. Beberapa kaum muda dari paroki kami menyerahkan salib kepada mereka. Dengan keceriaan, mereka membawanya menuju gereja. Salib dan gambar bunda Maria diletakkan di depan altar, dan semua orang yang datang menyaksikan dan memberi penghormatan kepadanya.
Cinta Allah
Dalam kesaksian hidup mereka, mereka membagikan pengalaman yang berharga bahwa Allah datang menemui dan mengunjungi mereka. Meskipun hidup di sebuah dunia yang sangat jauh dari keramaian, dengan akses tempat tinggal yang sangat jauh dari kota, dan sulit, tetapi Allah sendiri tetap memperhatikan hidup kami. Dia datang menemui kami di daerah ini. Umat yang tinggal di kampung itu semuanya beragama katolik. Sebagai ungkapan sukacita dan kegembiraan bahwa Allah datang menemui mereka, mereka berdoa dan memuji kebaikan Allah. Mereka datang membuat baris, sambil kepalanya tertunduk, masing-masing mulai dari yang kecil sampai yang tua, maju ke depan berlutut dan menyentuh salib, merangkul salib dan bunda Maria, sebagai ungkapan terima kasih atas rahmat yang boleh mereka terima. Aku berdiri di belakang mereka sambil memandang mereka melakukan tindakan yang serupa. Dalam hati kecil aku, ada kekaguman bahwa cinta Allah pertama-tama bukan karena usaha atau prestasi dari manusia, tetapi karena semata-mata rahmat dari Allah. Aku dapat mengalami Allah, bukan karena usaha aku, tetapi karena usaha dan inisiatif dari Allah yang datang menemuiku. Disinilah cinta Allah tidak pernah terungkap, dan cinta yang paling jelas itu dalam diri Yesus, yang datang sebagai manusia, solider dengan manusia, agar manusia dapat mengalami kasih Allah secara penuh.
Mencari Allah
Dalam Injil dikisahkan tentang Zakeus, seorang pemungut Cukai. Sebagai pemungut pajak ia masuk dalam jajaran pegawai dari kekuasaan bangsa Romawi. Kehadirannya tidak disukai oleh kebanyakan orang, bukan karena ukuran badannya yang pendek, tetapi karena kehadirannya membuat banyak rakyat menderita. Sebagai pegawai pajak, ia memungut lebih uang yang seharusnya diberikan untuk membayar pajak. Kelebihan uang ini dipakai untuk kantong pribadinya. Dengan kata lain, ia memeras dari rakyat. Sudah pasti, dia tidak disenangi oleh kebanyakan orang, dan dianggap sebagai orang berdosa. Dalam situasi yang terpuruk, justru ia berusaha mencari Allah. Ketika suatu saat Yesus datang ke kotanya, dia juga tidak ketinggalan untuk datang melihat Yesus. Namun, karena banyak orang yang mengelilingi Yesus, dan ukuran badannya yang pendek membuat dia kesulitan untuk melihat bagaimana rupa dari Yesus. Zakeus tidak kehilangan akal, dia lalu memanjat pohon supaya dapat melihat Yesus yang sedang berada di tengah kerumunan banyak orang. Ia berusaha mencari wajah Allah dalam diri Yesus. Ia mencari Yesus karena kerinduannya yang sangat besar untuk mengalami cinta dari Yesus seperti pengalaman dari kebanyakan orang yang mengalami penyembuhan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, Yesus datang menemuinya. Di tengah kerumunan begitu banyak orang, Yesus justru lebih tertarik untuk melihat seorang pribadi yang sedang mencarinya, yang berada di atas pohon. Sesuatu yang tidak biasa. Yesus tidak hanya memandang dia, tetapi justru berbicara dengan Zakeus, dan berkata, bahwa dia ingin bertamu di rumahnya. Tentu Zakeus begitu kaget, heran, dan bahagia. Ia heran, karena sebagai orang berdosa, di mata banyak orang, Yesus berbicara dengan dia. Ia bahagia, karena Yesus mau datang ke rumahnya dan makan di rumahnya. Sesuatu kegembiraan yang meluap di hati Zakeus.
Pengalaman Zakeus menunjukkan dengan jelas bahwa rahmat Allah yang kita terima bukan semata-mata prestasi kita, bukan juga karena usaha keras kita, melainkan karena semata-mata rahmat Allah. Tuhan sendirilah yang datang menemui dan bertamu di dalam rumah kita. Ketika pencarian kita tentang Allah dengan usaha dan jerih payah yang melelahkan, tidak pernah kita temukan. Saat-saat seperti itulah Tuhan datang kepada kita dan bertamu di dalam rumah kita. Tuhan mengetahui segala apa yang sedang menjadi kegalauan hati kita.
Membuka hati disapa
Ketika kami kembali dari paroki di atas bukit itu, hati kami dipenuhi dengan keceriaan. Kami tidak lagi berjuang melawan arus. Kupu-kupu putih yang berarak mengantarkan kami juga sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah ketenangan. Salah satu anak muda berkata kepada aku, father, Tuhan kemarin datang berjuang bersama kita, Dia datang menemui kita yang sedang kelaparan, ketika kita lelah, capek, lapar, justru Dia datang menemui kita dalam semerbak ribuan kupu-kupu putih. Father, “ aku baru melihatnya ini pertama kali” kata dia lebih lanjut. Di kampung kita tidak ada kupu-kupu seperti itu, sungguh-sungguh rahmat yang mengagumkan.
Hidup saat ini adalah bukan suatu yang mudah. Kita hidup dengan suatu idealisme untuk mengejar kekayaan, prestasi, dan mengira itu semua memberikan kebahagian. Kadang kita harus berhadapan dengan arus kehidupan yang sangat kencang. Berbagai kegagalan, pengalaman pahit menghadang kita. Semangat hidup kita tidak ada lagi, ketika antuasisme meredup, karena berbagai kesulitan yang kita alami. Saat-saat seperti itu terkadang kita putus asa, dan tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan lagi. Bahkan, termasuk mencintai orang-orang yang disekitar kita pun, kita abaikan begitu saja. Kehadiran Allah yang menyapa kitapun dalam pengalaman keseharian kita tidak kita rasakan lagi. Namun, seperti pengalaman Zakeus dan orang-orang Papua, Tuhan justru sedang berjuang bersama-sama kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita melawan badai kehidupan seorang diri, karena Dia menginginkan kita mengalami keselamatan, dan kebahagian dalam hidup ini. Yang terpenting adalah membuka diri untuk disapa dalam berbagai peristiwa ini, karena kehadiran Tuhan tidak pernah kita duga.
Merenungkan kembali pengalaman itu, aku terbawa dalam pergulatan untuk mengenal lebih dekat pribadi Yesus. Yesus adalah seorang pribadi yang mengagumkan. kehadiranNya membawa kebahagian bagi setiap orang yang membuka hatinya. Siapun pribadi kita dengan segala kelemahan, dan keterbatasan, dengan segala kerapuhan dan dosa kita, Tuhan tetap datang menyapa dan menemui kita. Apapun situasi kita, dia datang berjuang, dan berjalan bersama kita. Dia tidak pernah menunggu, apalagi menunda tetapi datang menemui kita. Yang terpenting adalah membuka hati kita untuk menerima rahmat dari Allah. Selanjutnya mewujudkan cinta Allah dengan mencintai setiap orang yang ada di sekitar kita, terutama orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dari kita. Saat di sanalah kita akan bertemu dengan Allah sendiri. Tidak ada ruang untuk menunda dan berhenti untuk mencintai, karena Allah adalah cinta itu sendiri. Kita telah mengalami dan menikmati hidup ini, karena semata-mata cinta yang datang dari Allah, bukan karena prestasi kita, tetapi karena kemurahan Allah. Cinta dan rahmat Allah inilah yang telah aku dengar bahwa Allah adalah Allah yang berani memberi tubuh dan darahNya bagi manusia. Allah adalah pribadi yang berani menderita, memikul salib yang berat, hingga wafat di kayu salib, hanya karena cinta kepada manusia. Allah adalah pribadi yang mengalahkan maut, agar aku semakin mengimani Dia bahwa DIa adalah Allah yang hidup yang menyertai setiap langkah hidup kita. Inilah rahmat Allah yang kita alami selama pekan suci.
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Minggu, Oktober 12, 2008
BUTTERFLY DANCE

Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Delapan orang anak kecil keluar dari semak-semak dan mulai menari. Ditangan mereka masing-masing memegang ranting-ranting pohon yang dihiasi dengan bulu ayam berwarna putih. Seluruh tubuh mereka juga dicat dengan warna putih. Mereka tidak berbusana. Sedangkan di depan dan di belakang barisan anak-anak, dua orang pemuda, yang juga tanpa busana, dengan tubuh mereka juga dihiasi warna putih menari sambil memukul gendang. Mereka hanya mengenakan koteka. Diwajah mereka dicat berbagai warna-warni, di kepala mereka disematkan hiasan mahkota dari burung paradise dan di belakang punggung mereka, dicat dengan tulisan “welcome”. Gerakan mereka menyerupai kupu-kupu yang sedang terbang. Beberapa kali mereka mengelilingi halaman dengan tarian yang bervariasi seperti kupu-kupu. Semua yang berkumpul di sana dengan khidmat berdiri, mengagumi tarian yang sedang diperagakan untuk penerimaan beberapa tamu dari keuskupan. Itulah tarian kupu-kupu untuk penerimaan orang-orang asing yang datang ke kampung kami. Kata seorang bapak kepada aku. Menurut legenda, tarian kupu-kupu berasal dari nenek moyang mereka yang diwariskan turun-temurun untuk menyambut tamu asing. Semula ada sebuah batu besar. Suatu saat ada orang asing datang membawa pesan yang berguna bagi kehidupan mereka. Kupu-kupu putih itu keluar dari sebuah batu besar untuk menyambut mereka. Ribuan kupu-kupu putih terbang dan mengelilingi kampung, sebagai tanda akan datang tamu yang membawa warta gembira. Warisan ini diteruskan dan dilanjutkan oleh orang-orang refugis dari west papua. Setelah penyambutan dengan tarian kupu-kupu, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Mereka membakar babi, sebagai tanda keramahan mereka untuk menjamu para tamu. Ketika kutanya, apakah hanya karena tatkala kami datang, mereka berkata bahwa kami lakukan pada umumnya menyambut tamu asing yang datang ke tempat kami. Apalagi para tamu yang datang adalah orang-orang yang membawa pesan yang berharga bagi kampung kami. Peristiwa itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua di paroki Matkomnai. Pada saat kaum muda dari Australia datang ke paroki kami, mereka juga menunjukkan keramahan melalui penerimaan mereka dengan pakaian adat mereka. Mulai dari anak-anak, para wanita sampai orang tua ingin mempersembahkan yang terbaik dengan tarian untuk orang-orang Australia. Mereka memakai pakaian dari jenis rumput-rumput, dengan telanjang dada. Sedangkan di kepala mereka disematkan mahkota dari burung paradise. Mereka menari dan membentuk gerakan yang meragakan penerimaan tamu dengan kegembiraan. Itulah bentuk keramahan orang-orang Papua.
Orang-orang Papua mempunyai kebiasaan menjamu orang-orang asing bila datang ke tempat mereka. Mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik. Rumah mereka yang sangat sederhana tidak mengurangi keramahan mereka untuk mengundang, datang dan bertamulah ke rumah kami. Citarasa keramahan mereka membuat aku merenungkan hidup kita.
Rahmat yang berharga
Di dalam kitab suci diceritakan tentang semangat keramahan dari orang-orang yang menerima orang asing. Suatu hari, Abraham sedang duduk dibawah kemahnya di Mamre. Ketika ia mengangkat mukanya dilihatnya tiga orang asing. Ia menyongsong mereka dan mempersilakan mereka datang dan beristirahat sejenak untuk melepaskan dahaga mereka, membiarkan mereka membasuh wajah mereka dengan air. Setelah itu Abraham dan Sarah istrinya menyediakan bagi mereka, air, roti dan lembu tambun yang terbaik. Ketiga tamunya akhirnya mengungkapkan diri mereka kepadanya bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, meskipun istrinya sudah sangat tua. Demikian juga yang dilakukan oleh Janda di Zaraphat, sikap keramahannya juga diperlihatkan ketika ia menghidangkan makanan dan menampung Elia di rumahnya. Ia menyediakan makanan untuk Elia, yang sebenarnya makanan itu merupakan persediaan yang terakhir untuk anak-anaknya, setelah itu ia dan anak-anaknya akan mati. Elia mengungkapkan dirinya sebagai utusan Allah yang akan memberikan kelimpahan minyak dan makanan, dan akan membangkitkan anaknya dari kematian. Dalam injil, kita dapat menyimak kisah tentang dua orang murid Yesus yang pergi ke Emaus, dan tiba-tiba di tengah jalan, hadir seorang asing yang berjalan-jalan bersama-sama dengan mereka. Karena hari menjelang malam, kedua murid itu mengundang seorang asing itu, datang dan tinggal bersama mereka. Pada akhirnya Yesus memperkenalkan diriNya tatkala Dia memecahkan roti dan membagi-bagikan kepada dua orang muridNya. Dia hadir sebagai Tuhan dan penyelamat. Keramahan yang diperlihatkan oleh kisah di atas bukan merupakan suatu kewajiban untuk menerima orang asing di dalam rumah mereka, tetapi lebih dari itu, karena orang-orang asing membawa pesan dan rahmat yang berharga bagi mereka.

Ketiga kisah di atas menunjukkan bahwa keramahan menerima seseorang mendatangkan berkat yang melimpah bagi penerima tamunya. Ketika merenungkan pengalaman dan kisah kehidupan orang-orang di dalam kitab suci dan kisah kehidupan orang-orang Papua, aku terpana pada sikap keramahan yang ditampilkan. Kehadiran orang asing tidak membuat mereka menaruh curiga, tetapi sebaliknya menerima mereka dengan sukacita, layaknya seorang sahabat lama yang tidak pernah bertemu, dan suatu saat datang ke tempat mereka. Mereka semua berusaha untuk memberikan yang terbaik. Dalam artian tertentu memberi kesan yang membuat orang terpesona, atau “memanjakan mereka”. Cita rasa keramahan yang ditampilkan ini membuat penerima merasa damai, karena berani untuk memberi yang terbaik, dan yang datang juga merasa diterima, dimanjakan, yang membuat kesan tersendiri bagi orang lain.
Datang dan Lihatlah
Dalam injil Yohanes dikisahkan bagaimana keramahan yang ditampilkan oleh Yesus. Ketika dua orang murid Yohanes bertanya di manakah engkau tinggal? Yesus menjawab kepada mereka “datang dan lihatlah”. Suatu bentuk undangan dari Yesus untuk datang dan mengenal Dia secara lebih dekat. Tetapi dibalik itu semua suatu bentuk keramahan dari Yesus yang mengundang para murid Yohanes untuk memahami dan mengerti dengan benar bahwa Dialah Tuhan yang ditunggu-tunggu. Untuk mengenal pribadi Yesus tidak cukup hanya dengan mendengar saja, tetapi datang mengikuti Dia, berkunjung ke rumah Dia, mengenal Dia secara lebih mendalam. Pengenalan secara mendalam mengandaikan sikap untuk datang dan mengalami secara langsung. Sikap Yesus ini menunjukkan suatu sikap yang terbuka kepada siapapun yang datang kepadaNya. Yesus hanya menawarkan bentuk keramahanNya, tergantung dari kita, apakah kita berani untuk memenuhi undanganNya atau tidak.
Undangan itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua. Dalam kesederhanaan, mereka selalu mengundang setiap orang untuk datang dan mengenal mereka secara lebih dekat. Mereka adalah pribadi-pribadi yang terbuka untuk disapa, untuk disentuh dengan kasih. Kehadiran kita akan membuat mereka selalu ingin menyuguhkan yang terbaik bagi siapa saja yang datang ke tempat mereka.
Ketika merenung seorang diri, aku menemukan hidup sekarang ini semakin memuja pada semangat individualisme. Artinya semangat yang berpusat pada diri sendiri, tanpa menghiraukan orang lain di sekitar kita. Semangat keramahan kepada orang lain semakin luntur, karena kita terbawah pada sikap tidak mempercayai orang lain. Orang lain adalah bukan aku yang lain. Orang lain adalah di luar dari hidup kita, sehingga ketika ada orang yang datang kepada kita, sikap yang kita tampilkan adalah sikap tidak ramah, untuk tidak mengatakan sikap menolak kehadiran mereka. Kita tidak membiarkan ruang sedikit pun untuk mengenal mereka secara mendalam, dan sebaliknya tidak ada ruang pula bagi mereka untuk mengenal kita secara lebih mendalam. Kita menutup jendela hati kita untuk mereka. Lantas undangan untuk masuk dalam perjamuan, menikmati bersama menjadi tidak ada lagi. Karena kehadiran orang asing adalah kehadiran yang merepotkan kita. Kehadiran orang asing adalah kehadiran yang membuat kita sibuk dengan segala banyak urusan. Lantas yang terjadi adalah sikap tidak ramah yang kita tampilkan.
Tetapi orang Papua berkisah lain tentang kehadiran orang lain. Orang lain adalah rahmat karena mereka membawa pesan bagi mereka. Maka suguhan yang paling baik diberikan. Tarian kupu-kupu dan tarian adat mereka tampilkan. Semua yang mereka lakukan hanya untuk memberikan kegembiraan dan kelegaan kepada para tamu. Sagu, pisang, dan segala bentuk makanan mereka sajikan hanya untuk membuat para tamu merasa dimanjakan. Dalam kesederhanaan, mereka tetap mengundang setiap orang asing untuk datang ke rumah mereka. Mereka tidak pernah malu untuk berkisah tentang rumah, kehidupan dan makanan yang sederhana yang disajikan oleh mereka. Karena itulah cita rasa keramahan mereka. Keramahan yang keluar dari ketulusan dan keterbukaan hati mereka untuk menerima siapapun yang datang berkunjung ke tempat mereka. Bagi mereka orang asing adalah tamu yang terhormat, maka memberi tempat yang terhormat dengan menyajikan sesuatu yang terbaik mendapat tempat yang pantas dalam budaya mereka.
Tarian kupu-kupu itu mengingatkan aku, dan mengingatkan kita akan semangat keramahan, dalam menerima orang lain. Kehadiran orang lain, siap pun orangnya, terlebih lagi orang miskin adalah kehadiran yang memberi pesan bagi kehidupan kita. Acap kali kita lalai terhadap kehadiran mereka di depan pintu rumah, di depan pintu pastoran kita, karena anggapan kita mereka adalah orang lain, mereka adalah orang asing. Namun kitab suci mengingatkan kita “barangsiapa menerima orang sekecil ini, ia menerima Aku”. Itulah kehadiran Yesus yang datang bertamu dalam rupa orang asing, dalam rupa orang miskin. Dalam diri orang yang kotor, bau badan, dengan pakaian seadanya. Tetapi kehadiran mereka membawa pesan, bahwa Tuhan sendiri yang datang berkunjung ke dalam rumah kita. St. Vinsensius berkata kalau ada orang yang datang ke tempatmu, dan pada saat itu kamu sedang berdoa, “tinggalkan Tuhan untuk bertemu dengan Tuhan, yang hadir dalam diri sesamamu. Kata-kata itu menjadi kekuatan kita untuk menerima orang dengan keramahan, dan dengan sikap yang terbuka dan tulus. Seperti Tuhan Yesus sendiri yang menerima kedua murid Yohanes, kita pun berani berkata “ datanglah dan lihatlah”. Disinilah damai itu dapat kita rasakan, karena kita melayani Tuhan yang hadir dalam diri mereka. inilah pesan kehadiran mereka orang-orang miskin.
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Kamis, Oktober 09, 2008
Misa Pelantikan Pengurus PDKK Kristus Salvator 2008-2011
.jpg)
Pastor Anton dalam misa pelantikan pengurus baru PDKK Kristus Salvator mengingatkan bahwa dalam setiap pelayanan dapat terjadi perselisihan paham atau pendapat tentang sesuatu hal. Demikian halnya pernah terjadi pada jaman Rasul Paulus dengan Petrus dan Yakobus seperti tertulis dalam surat Paulus kepada Jemaat Galatia tentang adanya permasalahan/perbedaan pendapat dalam hal perlunya Hukum Taurat diterapkan kepada golongan yang tidak bersunat atau non Yahudi yang telah menjadi Kristen.
Merujuk pada bacaan Injil, selanjutnya Pastor mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk melakukan pelayanan dalam kasih agar dengan demikian kita tidak akan menjadi batu sandungan bagi yang lainnya.
Demikian dilaporkan dari Misa pelantikan malam hari ini (8 Oktober 2008).
Andreas Andy S.
Kamis, September 18, 2008
MENGENAL SIMBOL "TAU"
TAU merupakan simbol yang dikenal di dunia ini yang mempunyai ciri khas Kristiani - Fransiskan. TAU ini merupakan huruf terakhir dalam abjad bahasa Hibrani dan huruf tengah dalam bahasa Yunani. TAU juga digunakan sebagai tanda tangan St. Fransiskus.
Dalam Kitab Perjanjian Lama: Kitab Keluaran menjelaskan bahwa rumah yang pintunya ditandai darah anak domba dilewati oleh Tuhan atau tegasnya rumah yang pintunya ditandai darah anak domba, anak sulungnya tidak dibunuh oleh Tuhan (Kel 12:7. 13.22-23). Sedangkan dalam Kitab Nabi Yeheskiel, T merupakan tanda bagi orang yang terpilih. Mereka yang ditandai dengan huruf T pada dahi merupakan orang yang terpilih, yang berada dalam perlindungan khusus dari Allah (lih.9:4-6). Dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Kitab Wahyu, Allah memberikan meterai pada dahi sebagai tanda keselamatan yang definitif (Why 7:2-3; 9:4; 14:1). T bentuknya menyerupai Salib Kristus karena itu sejak dulu T merupakan simbol salib, tanda keselamatan dan berkat.
Dalam tradisi Fransiskan, Santo Fransiskus pertama-tama menggunakan TAU sebagai tanda pertobatan dan pembaharuan diri, mengikuti jejak Kristus dan kasihnya pada salib. Kerapkali Santo Fransiskus menggunakan TAU sebagai tanda tangan pada surat-suratnya sebagai tanda meditasi dan berkat. Misalnya surat kepada Saudara Leo. Melalui tanda TAU yang ditulisnya pada kertas atau yang tertera pada dahinya, Santo Fransiskus menyelamatkan banyak orang (bdk Thomas Celano, second Life bagian II bab XX dan LXXII; Thomas Celano,The Treatise of Miracles bagian II.3, bab XVII.59; Santo Bonaventura, Major Life of St. Francis, prolog 1; bab IV.9 dll).
Bagi para pengikut Fransiskus yakni para putera dan puteri Fransiskan, TAU merupakan warisan Fransiskus yang mendorong mereka untuk mengikuti ajaran dan teladan Tuhan kita Yesus Kristus dan setiap hari memikul salib Tuhan kita Yesus Kristus.
Dalam tulisan yang singkat ini kami berusaha memperkenalkan TAU, yang dipakai oleh para pengikut St. Fransiskus Asisi, dengan harapan agar pembaca dapat mengenal TAU dan mencintainya, menjadikan TAU sebagai salib yang menjadi lambang, tanda dan sarana keselamatan Allah.
Ordo Saudara-saudara Dina (OFM)
Provinsialat:
Jl. Kramat 5 No.10, Jakarta Pusat
Tel/Fax : 021-3101940
Sumber: Brosur informasi yang menyertai pemberian kenang-kenangan dari Pastor Robby Wowor OFM untuk peserta Kursus Kitab Suci di Paroki/Gereja Santa Theresia - Jakarta Pusat (Tanggal 5 Agustus 2008 s.d 23 September 2008)
Minggu, September 14, 2008
ULANG TAHUN KE 40 PAROKI KRISTUS SALVATOR, SLIPI - JAKARTA
Pada tanggal 13 September 2008 telah diselenggarakan perayaan Ekaristi pesta puncak Hari Ulang Tahun ke-40 Paroki Kristus Salvator jam 16.30 - 18.15.
Selesai perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan acara pemberian penghargaan kepada para umat yang berjasa dalam pengabdian di paroki dengan kriteria tertentu oleh panitia penghargaan. Tercatat 18 umat yang mendapatkan penghargaan dimaksud. Selamat ya kepada Bapak/Ibu semua yang mendapatkannya.
Terakhir adalah acara makan malam bersama dan penyerahan hadiah lomba olah raga dan kebersamaan yang diselingi dengan pembagian DOOR PRIZE.
Download susunan acara, click di sini.
Demikian dilaporkan.
(Andreas Andy S.)
Berikut ini cuplikan rekaman video suasana perayaan ulang tahun ke 40 Paroki Kristus Salvator.
VIDEO-1
VIDEO-2
HATI SEBAGAI HAMBA

Topik ini adalah kiriman dari teman kita, Loly, yang diperoleh dari mengikuti seminar pada bulan Juni 2008 di Shekinah-Jakarta yang dibawakan oleh Bapak Benyamin Ratu.
Membaca dari tulisan terlampir di bawah ini, Topik “Hati Sebagai Hamba” ingin memberikan pengetahuan dan pemahaman terkait dengan hal-hal yang perlu disadari sebagai pelayan Tuhan atau dalam melayani Tuhan atau pelayanan.
Melayani Tuhan atau seorang pelayan Tuhan harus memiliki kesadaran dan mempunyai komitmen akan hal-hal diantaranya sebagai berikut:
1. Kerelaan diri menjadi pelayan atas orang lain
2. Mau melepaskan hak individunya/kehendak bebasnya
3. Perilakunya yang benar sesuai dengan perkataannya dan rendah hati
4. Mengerjakan pekerjaan Tuhan tanpa pamrih dalam bentuk apapun
5. Siap menderita karena tugas dan tanggung jawab pelayanannya
6. Mengerjakan pekerjaan Tuhan dalam kekudusan
Salah satu paragraf dari tulisan tersebut yang mungkin dapat menjadi renungan bagi kita adalah:
“Ketika kita mulai belajar untuk menjadi pelayan atas orang lain, mulanya memang kita dengan sukacita menerima dan melakukannya. Namun bila kerelaan itu memudar atau menghilang dari diri kita, maka kita akan berpikir bahwa sepantasnyalah kita yang harus dilayani, karena kita telah menghasilkan prestasi yang luar biasa di dalam pelayanan.”
Selamat membaca dan merenungkannya !
Andreas Andy S.
Download “Hati Sebagai Hamba”, click di sini
Jumat, September 05, 2008
BELAJAR UNTUK MENGATAKAN “TIDAK”… AGAR ANDA DAPAT MENGATAKAN “YA” YANG LEBIH BESAR KEPADA HIDUP!

Orang Yang Menyusahkan Akan Mengajar Anda Bagaimana Membangun Batasan-batasan Anda
Jika Anda adalah seorang yang sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain atau seorang yang selalu ingin menyenangkan orang lain seperti saya, saya menulis ini secara khusus bagi Anda.
Anda lihat, saya adalah seorang yang tidak suka mengatakan “Tidak”.
Untuk waktu yang sangat lama, kata itu bahkan tidak terdapat dalam perbendaharaan kata saya.
Selama bertahun-tahun, saya tidak pernah menunjukkan kemarahan saya kepada siapapun. Setelah tersenyum bertahun-tahun, bahkan ketika saya tersinggung, saya sampai pada satu titik dimana saya bahkan tidak lagi merasakan kemarahan. Saya hanya menepis itu dari hidup saya.
(Percaya deh, hal ini membuat saya berpikir saya begitu kudus. Tidak menyadari bahwa jauh dalam diri saya, saya sangat kacau secara emosional.)
Saya mempunyai ketergantungan akan pengakuan yang sangat kuat, yang mengatur setiap keputusan yang saya buat.
Mengapa? Karena saya sangat ingin orang menyukai saya.
Ketika seseorang tidak menyukai saya, saya merasa sangat susah.
Saya tidak mencintai diri saya sendiri.
Saya mempunyai harga diri yang sangat rendah dan buruk sekali.
Karena itu saya mencoba untuk menyenangkan semua orang dalam segala cara.
Saya membenci semua jenis konflik.
Oh ya, saya dulu sangat kacau.
Dan salah satu cara untuk membuat orang lain mengasihi saya adalah dengan selalu mengatakan “Ya”.
Saya tidak pernah tahu dengan mengatakan “Ya” setiap saat sebenarnya sama dengan mengatakan “Tidak” kepada suatu hidup yang berkelimpahan.
Maka saya mentolerir semua orang yang menyusahkan dan vampir emosional di planet ini: Orang-orang aneh yang ingin memegang kendali. Ratu-ratu drama. Kasus-kasus yang tidak logis. Orang-orang yang selalu marah. Orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Orang-orang yang hiper-sensitif. Para parasit yang posesif. Anda sebut orang yang menyusahkan, saya akan menyenangkan setiap mereka – hanya
untuk menjaga kedamaian. Tapi damai yang keliru harus dibayar dengan suatu harga: saya membuang kedamaian hati saya. Rasa hormat terhadap diri sendiri. Harga diri saya.
Saya akan ceritakan sebuah kisah pada Anda…
Bangun Batasan-batasan Anda – Agar Anda Dapat Menyambut Orang Lain Sebagai Tamu
Melalui Pintu Gerbang, Bukan Pencuri Yang Berlari Mengamuk Ke Dalam Hidup Anda
Billy (bukan nama sebenarnya) adalah seorang teman yang mengundang saya untuk menjadi seorang rekan bisnis dalam salah satu perusahaannya.
Tapi ia mempunyai satu kelemahan: Dia adalah seorang yang ingin mengendalikan. Ia ingin mengendalikan saya. Ia ingin mengendalikan semua orang. Termasuk matahari dan bulan dan bintang. Untuk sementara, saya bisa menerimanya. Saya menganggapnya sebagai salah satu hal yang tidak menyenangkan dalam hidup, seperti jalinan
kemacetan Manila, kelembaban Filipin, dan alergi saya terhadap udang.
Tapi bekerja dengan Billy sangatlah membuat stres.
Saya tidak ingin mengakuinya. “Tapi dia adalah teman saya,” saya katakan pada diri sendiri setiap kali saya merasa stres. Saya menyangkalnya. Ketergantungan saya akan pengakuan tengah membutakan saya pada kenyataan bahwa bekerja bersamanya membuat saya tidak waras.
Namun suatu hari, saya harus mengatakan “Tidak” dan membangun batasan-batasan pribadi saya. Banyak kali saya membiarkan dia menginjak-injak pagar saya. Saya harus memperbaiki batasan-batasan saya dan melindungi diri saya.
Hal itu sangat menyakitkan, tapi saya tahu hanya ada satu jalan keluar. Maka suatu hari, saya mengatakan pada Billy bahwa meskipun saya ingin tetap berteman, saya ingin keluar dari kerjasama bisnis kami.
Ia tidak dapat menerima hal itu. Maka sejak hari itu, ia tidak pernah berbicara pada saya lagi. Hal itu menyakitkan karena persahabatan kami berakhir.
Tapi saya langsung tahu saya telah melakukan sesuatu yang benar karena saya merasakan kedamaian hati hari itu. Ketergantungan akan pengakuan saya disingkirkan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya menciptakan sebuah konflik. Dengan menghormati diri saya sendiri dan garis batasan saya, saya sedang bertumbuh dalam kekuatan diri.
Hari itu, saya akhirnya mencintai diri saya sendiri.
Hari ini, relasi-relasi saya lebih kaya.
Karena batasan-batasan saya utuh, orang-orang yang datang dalam hidup saya adalah para tamu yang diundang yang masuk melalui pintu gerbang (saya membukanya dengan sengaja bagi mereka), bukan pencuri yang lari mengamuk ke dalam hidup saya.
Ketika Anda mengatakan “Tidak” pada situasi yang tepat, Anda sedang mengatakan sebuah “Ya” yang lebih besar kepada hidup.
Kebenaran: Orang Akan Melakukan Apa Yang Anda Toleransikan
Ijinkan saya mengajukan pertanyaan ini: Adakah orang-orang dalam hidup Anda yang kepada mereka Anda harus mengatakan “Tidak”? Adakah orang-orang yang menyusahkan dalam hidup Anda yang telah menabrak gerbang dan berlari mengamuk ke dalam hidup Anda?
Ingat: Anda mengajar orang lain bagaimana memperlakukan Anda.
Jika orang tersebut melecehkan Anda, atau menghancurkan batasan-batasan Anda, itu berarti Anda mengajar orang itu bahwa apa yang dilakukannya adalah wajar. Anda mentoleransi. Dan orang lain akan melakukan apa yang Anda toleransikan.
Solusinya mungkin tidak dengan mengakhiri relasi (meskipun terkadang, itu adalah solusinya), tapi hanya untuk sekedar mengatakan “Tidak” pada situasi tertentu dimana orang itu melintasi garis batasan Anda.
Nyatakan kembali diri Anda.
Jangan biarkan orang lain menghancurkan Anda.
Tuhan mencintai Anda. Tuhan menciptakan Anda sebagai anakNya. Tuhan
ingin Anda bahagia.
Karena itu berbahagialah.
Semoga impian Anda menjadi kenyataan,
Bo Sanchez
Terjemahan oleh : Jessica J. Pangestu
Sumber: Milis Bo Sanchez
Kiriman dari: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
Jumat, Agustus 15, 2008
WHY GOD ?
Di jalan masuk menuju gereja, terlihat beberapa umat yang berjalan dengan nyala lampu senter yang bergegas menuju pastoran. Mereka datang ke pastoran untuk mencari lilin. Kebetulan malam itu, di pastoran juga persediaan lilin sudah tidak ada lagi. Biasanya persediaan lilin selalu ada, tetapi saat itu sudah habis. Kami lupa membelinya di kota. Aku tahu keluarga Joan dan Jack serta anak-anaknya itu sangat mengharapkan ada persediaan lilin di pastoran. Ketika kukatakan bahwa tidak ada lilin lagi, mereka hanya berkata “no problem father”. Mereka terus duduk di beranda pastoran dan bercerita tentang kehidupan keluarga mereka, tentang anak mereka, dan tentang tak ada cahaya lampu lagi di malam hari. Aku hanya coba mendengarkan kisah tentang kehidupan keluarga mereka. Tak ada kata yang dapat aku ungkapkan, karena aku tahu mungkin ini yang bisa aku lakukan adalah mendengarkan kisah kehidupan mereka.
Lorong-Lorong Gelap
Joan adalah seorang guru yang mengajar di Elementary School. Suaminya bekerja sebagai security. Mereka dianugerahi dua orang anak. Suatu saat, Jenevi, anak yang paling terakhir, jatuh sakit. Ini merupakan pukulan berat bagi keluarga mereka. Berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, dia dan suaminya harus menjaga Jenevi di rumah sakit. Jenivi yang masih kecil itu tidak dapat menahan rasa sakit. Hari-hari dia hanya bisa menangis. Ayah dan ibunya bingung dan sedih melihatnya. Jenivi tidak dapat mengerti dan menghayati rasa sakitnya. Yang dia lakukan adalah menangis, dan kadangkala dia berteriak, karena merasakan sakit yang luar biasa. Hari-hari Ayah dan ibunya hanya berdoa dan berdoa. Mereka sepertinya masuk dalam lorong-lorong hidup yang gelap. Tak ada terang yang memberi secercah harapan bagi anak mereka. Karena anak mereka terus menerus menangis. Keluarga ini sebenarnya takut, kalau-kalau terjadi sesuatu pada Jenevi. Jenevi sebenarnya mempunyai saudari kembar, tetapi sudah dipanggil oleh Tuhan. Rasa takut akan pengalaman yang sama membuat mereka berada dalam lorong-lorong kehidupan yang gelap. Doa sebagai satu-satunya harapan dan tempat mereka berkanjang menjadi tumpuan hidup keluarga mereka. Namun lorong-lorong penderitaan yang dirasakan oleh anak mereka membuat mereka bertanya “mengapa Tuhan”? Sebuah pertanyaan bernada menggugat. Karena takut kalau anak mereka mengalami kelumpuhan atau mengalami nasip yang sama yang dialami oleh saudari kembarnya Jenevi.
Sebagai keluarga kristiani yang setia dan berani berkorban dan melayani sesama. Pertanyaan mengapa Tuhan, penderitaan ini harus dialami oleh anak kami? Bukankah kami sudah setia mengikuti engkau? Bukankah kami tidak pernah melupakan engkau? Bukankah kami setia melayani engkau? Bukankah kami selalu giat mengikuti setiap kegiatan rohani dan sangat aktif membantu kehidupan iman umat di paroki? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah terjawab, mengapa penderitaan, rasa sakit, dirasakan dan dialami oleh orang-orang yang setia kepada Allah, dan yang dermawan kepada orang lain? Namun akhirnya mereka menyadari misteri cinta Allah yang tersembunyi dan tidak dapat diketahui untuk saat ini. Mereka meyakini bahwa rencana Allah selalu indah bagi kehidupan mereka. Ada pesan dibalik semua penderitaan ini. Maka yang kami lakukan adalah terus berdoa. Malam hari kami melakukan doa bersama. Sebuah doa yang sederhana, mengingatkan bahwa pertolongan datang kepada kami dari Allah yang membuat langit dan bumi. Kami berusaha menemukan beberapa tindakan cinta untuk menghayati dan merasakan kehadiran Allah yakni melayani Jenevi dengan penuh cinta, hadir di tengah dia dan bersama dengan dia. Kami “menunggu” dan di dalam keheningan kami merasakan kasih Allah yang menyelamatkan. Lalu, sesudah itu kami melihat anak kami bisa tertidur. Kami tidak tahu apa yang terjadi keesokkan harinya, tetapi pada akhirnya kami merasa lebih baik. Lorong-lorong gelap itu tampak mulai ada cahaya, karena yakin bahwa pertolongan Tuhan datang pada waktunya. Dalam masa penantiaan menunggu, kami mencoba menghayati dalam keheningan. Di sanalah kasih Allah kami rayakan.
Pengalaman Getzemani
Ketika Yesus mengetahui bahwa dia akan menghadapi dan mengalami penderitaan, Yesus sungguh merasakan ketakutan yang luar biasa. Di taman Getzemani peluh darah mengalir di tubuhnya, karena ketakutan yang akan dihadapinya. Yesus berdoa sampai tiga kali. Bahkan Dia meminta para muridNya untuk menemani Dia dalam berdoa “tidak bisakah kamu bersamaku satu jam saja”? Yesus menggugat kesetiaan para muridNya. Namun akhirnya Dia menyadari karya perutusanNya “ Ya Bapa, biarlah piala ini berlalu dari padaKu, namun bukan karena kehendakKu, melainkan karena kehendakMu”. Tuhan Yesus sungguh-sungguh menyakini kasih BapaNya akan selalu menyertaiNya.
Saat mengalami penderitaan di Kayu salib, Tuhan Yesus merasa sendirian. Dia merasa ditinggalkan oleh BapaNya. “Ya Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Yesus memasuki lorong-lorong gelap, karena merasa ditinggalkan oleh BapaNya. Namun, lorong-lorong gelap mulai ada cahaya ketika Yesus meyakini dan pasrah kepada kehendak BapaNya. Dia diutus untuk melanjutkan karya perutusan BapaNya di surga. Karya dan perutusan ini harus dilaksanakan. Puncak karya perutusanNya adalah penderitaan, dan wafat di kayu salib. Pada titik ini Yesus menyadari dan mengetahui bahwa BapaNya mempunyai rencana yang indah bagi DiriNya.
Sahabat Allah
Pengalaman penderitaan merefleksikan suatu pengalaman manusia yang tidak mengenakan. Seperti halnya yang dialami oleh Yesus ketika menghadapi penderitaan adalah rasa takut dan merasa ditingalkan oleh BapaNya di surga. Pengalaman yang sama acap kali juga kita alami dalam hidup kita yakni merasa ketakutan dan ditinggalkan oleh Tuhan. Maka pertanyaan bernada menggugat seperti ini seringkali kita lakukan adalah “mengapa Tuhan ini terjadi padaku”. Mengapa aku harus menanggung penderitaan seperti ini? Mengapa keluargaku harus menanggung penderitaan seperti ini? Namun pertanyaan seperti ini tak pernah tuntas terjawab, karena kemampaun kita sangat terbatas untuk menyelami rencana Allah atas hidup kita. Disini pentinglah kita memiliki iman seperti yang dilakukan oleh keluarga Joan dan Jack. Ungkapan mereka adalah rencana Allah selalu indah, bahkan pada saat kita mengalami situasi penderitaan. Hanya iman dapat membuat kita memiliki pengharapan, bahwa sesuatu akan terjadi yang tidak dapat kita ramalkan yakni tangan Allah selalu menyapa dengan lembut. Jika kita memiliki pengharapan, maka kita akan memiliki keberanian untuk sabar menanti pertolongan dari Tuhan.
Saat-saat mengalami penderitaan adalah saat-saat kita merasakan keterbatasan kita sebagai manusia. Namun rencana Allah yang indah dibalik itu akan kita rasakan, bila kita memiliki iman. Betapa kita semakin dekat dengan Tuhan. Saat-saat seperti itu adalah saat-saat kita membiarkan diri kita menjadi sahabat Allah. Kesempatan kita untuk merajuk persahabatan dengan Tuhan dalam doa-doa kita. Waktu kita menjadi tersedia untuk Tuhan. Karena satu-satuNya harapan dan tempat kita mengadu adalah berseru kepada Allah. Keluarga Joan dan Jack sudah mengalami saat-saat seperti itu. Tatkala lorong-lorong gelap mereka tapaki, ketakutan dan keputusasaan mereka alami, namun ketika iman dan keyakinan berkobar dalam hati mereka, mereka menjadi sadar bahwa pertolongan dari Tuhan akan datang pada waktunya. Kekuatan yang memungkinkan mereka berada dalam keberanian untuk bersabar adalah karena Tuhan adalah sahabat mereka. Mereka mengisi hari-hari bersama dengan Jenevi dengan doa, melayani Jenevi dengan penuh cinta dan senyum.
Nyala Kasih
Kisah kehidupan keluarga Joan dan Jack membuka mata hatiku akan misteri kasih Allah yang tersembunyi. Allah mempunyai rencana indah bagi hidup kita. Yang terjadi adalah seringkali kita gagal untuk melihat cinta Allah karena terlanjur hidup dalam keputusasaan. Saat-saat penderitaan kita lihat sebagai bentuk hukuman dari Allah. Allah bagi kita adalah seorang hakim yang siap memukul gendang palu untuk memberikan hukuman atas segala sikap hidup kita. Dengan demikian, kita gagal melihat Allah sebagai seorang Bapa yang penuh belas kasih. Bapa yang mau menerima anaknya kembali. Bila kita mampu melihat kasih Allah yang demikian, nyala kasih itu sedang menerangi lorong-lorong gelap kehidupan kita. Hanya dengan iman, harap dan kasih, kita akan mampu melihat semuanya itu. Pertanyaan mengapa Tuhan akan tersingkapkan kepada kita. Karena dibalik semua penderitaan ada pesan bagi kehidupan kita yakni nyala kasih terpancar di sana.
Nyala lilin di pastoran sudah hampir habis. Hampir dua jam, keluarga Jack dan Joan berkisah tentang pengalaman iman mereka. Pengalaman yang sungguh mengalir dari kedalaman hidup mereka. Ketika mereka pamit kembali ke rumah, pertanyaan mengapa Tuhan masih ada di benakku. Mengapa Tuhan mereka sudah miskin, dan sekarang tidak ada lagi persediaan minyak tanah? Mengapa hujan tidak turun di kota sehingga sungai kering dan kapal laut tidak dapat merapat ke pelabuhan. Mengapa aku tidak menyediakan lilin di pastoran? Aku sendiri pun tidak menemukan jawaban yang tuntas. Namun aku ingat kisah kehidupan Jack dan Joan, berdoalah bahwa pertolongan akan datang pada waktunya. Lakukan sesuatu yakni mencoba mendengarkan kisah kehidupan mereka dengan kasih. Miliki pengharapan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah.
Dua minggu kemudian, nyala lampu di rumah-rumah penduduk mulai terang kembali. Persedian minyak tanah di rumah-rumah dan di kota sudah ada lagi. Bahkan disel untuk generator di pastoran pun sudah ada lagi . Hujan mulai turun lagi membasahi jalan-jalan di kota dan mengenangi sungai kembali. Kini aku sadar seperti itulah kehidupan. Kita perlu mengalami dan merasakan lorong-lorong yang gelap dalam hidup kita. Seperti Mother Theresa juga mengalami pengalaman berada dalam lorong-lorong gelap. Dalam surat-suratnya yang ditulis untuk superior jendral, ia menulis tentang pengalaman kekosongan dan kegelapan dalam hidupnya. (“...God, please forgive me. When I try to raise my thoughts to Heaven, there is such convicting emptiness that those very thought return like sharp knives and hurt my very soul. I am told God loves me, and yet the reality of darkness and coldness and emptiness is so great that nothing touches my soul. Did I make a mistake in surrendering blindly to the call of Sacred Heart)( Time, September 3rd 2007). Mother Theresa sendiri pun mengalami pengalaman berada dalam lorong-lorong gelap. Kepada Father Lawrance Picachy, August 1957, Ia menulis “Tell me, Father, why is there so much pain and darkness in my soul?” Mother Theresa juga bertanya “mengapa aku mengalami penderitaan dan saat gelap dalam hidup ini. Tetapi Mother Theresa juga menulis dalam pengalamannya (“If this brings you glory, if souls are brought to you, with joy I accept all to the end of my life”). Seperti Mother Theresa, kita sendiri juga mengalami saat-saat gelap dalam hidup kita. Saat kita sendiri sakit, atau saat orang yang kita cintai menderita pengalaman yang pahit atau juga saat anak-anak kita mengalami sejumlah kegagalan dalam hidup atau, saat anak-anak kita tidak lagi peduli dengan kehidupan kita. Saat-saat seperti itu mungkin kita selalu bertanya “mengapa Tuhan”? Namun dibalik peristiwa itu ada makna yang mendalam, agar kita semakin mengerti bagaimana mencintai dan bagaimana belas kasih itu kita hayati.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Minggu, Agustus 03, 2008
Dari Seminar "Menguak Rahasia Perjamuan Anak Domba Allah Menurut Kitab Wahyu"
Dibawah ini adalah tulisan yang diperoleh Titi dari mengikuti seminar sehari bersama Pater Robby Wowor OFM pada tanggal 20 Juli 2008 yang berjudul "Menguak Rahasia Perjamuan Anak Domba Allah Menurut Kitab Wahyu", di Aula SMUK Sang Timur – Jakarta.
Membaca tulisan di bawah ini sungguh kita menjadi semakin menyadari akan kekayaan makna liturgi Gereja Katolik dan selanjutnya diharapkan kita dapat terus belajar untuk lebih memahami makna Ekaristi Kudus dan dapat mengikutinyaa dengan lebih khusuk.
Gali terus iman Gereja Katolik kita dengan mengikuti seminar-seminar dan/atau kursus-kursus yang dibawakan oleh para pastor yang dewasa ini banyak diadakan. Pastikan dari sumbernya yang kompeten dan yang masih berada dalam lingkup Gereja Katolik.
Selamat membaca !
GBU All.
Andreas Andy S.
-----------------------------------------------------------
Prof. Scott Hahn : Misa Kudus dan Kitab Wahyu
Dari segala hal seputar iman Katolik, tidak ada hal lain yang lebih kita kenal lebih daripada Misa Kudus. Dengan doa-doa yang sudah sangat tua usianya, himne-himne, posisi kita pada waktu Misa, Misa Kudus seperti layaknya kita di rumah sendiri. Akan tetapi banyak sekali umat Katolik menghabiskan seumur hidupnya tanpa mampu melihat lebih daripada mengucapkan doa-doa yang sudah dihafalkan. Sangat sedikit dari umat Katolik bisa mengintip DRAMA SUPERNATURAL yang LUAR BIASA sewaktu mereka mengikuti ritual Misa Kudus setiap hari Minggunya. Sri Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa Misa Kudus adalah “ Surga di bumi”, sambil menjelaskan bahwa “liturgi yang kita rayakan di bumi adalah partisipasi yang misterius dari liturgi surgawi”.
Misa Kudus begitu sangat kita kenal. Di lain pihak, Kitab Wahyu tampak asing dan penuh teka-teki. Halaman demi halaman mengisahkan gambaran-gambaran yang menyeramkan: peperangan, wabah penyakit, binatang-binatang dan malaikat-malaikat, sungai darah, katak jadi-jadian, dan naga berkepala tujuh. Dan figur yang paling baik adalah anak domba yang bertanduk tujuh dan bermata tujuh. “Kalau ini baru kulitnya saja”, demikian sebagian umat Katolik berkata, “Saya rasa saya tidak ingin melihat lebih jauh”.
Dalam buku ini, saya ingin menawarkan sesuatu yang sangat sulit dicerna. Saya akan mengatakan bahwa KUNCI untuk memahami Misa Kudus tidak lain adalah Kitab Wahyu, dan lebih jauh lagi, bahwa Misa Kudus adalah SATU-SATUNYA cara umat Kristen bisa memahami isi Kitab Wahyu.
Kalau anda tidak percaya, anda mesti tahu bahwa anda tidak sendirian. Ketika saya mengatakan kepada seorang teman bahwa saya sedang menulis tentang Misa Kudus sebagai kunci (untuk memahami) Kitab Wahyu, dia tertawa dan berkata, “Kitab Wahyu? Itu Cuma berisi hal-hal yang aneh.”Memang tampak aneh bagi umat Katolik, karena selama bertahun-tahun, kita telah membaca kitab ini secara terpisah dari tradisi Kristen. Interpretasi-interpretasi yang dikenal oleh banyak orang sekarang ini adalah interpretasi-interpretasi yang masuk halaman utama surat kabar atau daftar buku terlaris, dan interpretasi-interpretasi itu nyaris seluruhnya berasal dari Protestanisme.
Saya tahu ini dari pengalaman saya pribadi. Saya telah mempelajari Kitab Wahyu selama lebih dari dua puluh tahun. Sampai dengan tahun 1985, saya mempelajari dengan kedudukan saya sebagai pendeta suatu denominasi Protestan, dan sepanjang tahun-tahun itu, saya terlibat, secara bergiliran, dengan berbagai teori-teori penafsiran yang populer maupun tidak populer.
Saya mencoba setiap kunci, tetapi tidak satupun yang bisa membuka pintu. Sekali-sekali saya mendengar suara klik yang membawa harapan. Akan tetapi baru ketika saya mulai merenungkan Misa Kudus saya merasakan bahwa pintunya telah mulai membuka, sedikit demi sedikit. Secara bertahap, saya menemukan diri saya diliputi oleh tradisi Kristen yang luar biasa, dan pada tahun 1986 saya diterima dalam persekutuan yang penuh di Gereja Katolik. Setelah itu, dalam riset saya menyangkut Kitab Wahyu, berbagai hal-hal menjadi jelas. “Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya sebuah pintu terbuka di Surga….” ( Wahyu 4:1)…..Dan pintu itu membuka menuju…..Misa Kudus mingguan di paroki setempat !
Nah sekarang mungkin anda menjawab pengalaman mingguan yang anda alami pada waktu Misa berlangsung sama sekali tidak bersifat surgawi. Bahkan, satu jam itu adalah saat-saat yang tidak nyaman, yang diisi oleh bayi-bayi yang menangis, lagu-lagu yang dinyanyikan secara sumbang, orang-orang yang mondar-mandir, homili yang tidak mengena, umat yang berpakaian seolah-olah mereka ingin pergi nonton acara sepak bola atau ke pantai atau pergi piknik.
Akan tetapi saya tetap mendesak bahwa kita SUNGGUH-SUNGGUH pergi ke Surga ketika kita pergi menghadiri Misa Kudus, dan ini BENAR ADANYA bagi setiap Misa Kudus yang kita hadiri, terlepas dari kualitas musik atau semangat berkotbahnya. Ini bukan semata-mata karena kita ingin melihat sisi baiknya dari liturgi yang berlangsung secara kurang menarik. Ini juga bukan karena ingin bermurah hati terhadap solis yang tidak merdu suaranya. Ini semua adalah sesuatu yang benar secara objektif, sesuatu yang sama nyatanya seperti detak jantung anda. MISA KUDUS - dan maksud saya adalah SETIAP MISA KUDUS - ADALAH SURGA DI BUMI.
Saya ingin meyakinkan anda bahwa ini semua sama sekali bukan ide saya. Ini berasal dari Gereja. Itupun tetap saja bukan suatu ide yang baru. Ide ini sudah ada sejak hari dimana Rasul Yohanes mendapatkan penglihatan wahyu. Akan tetapi ini adalah ide yang belum mendapat perhatian yang memadai pada abad-abad terakhir dan saya sama sekali tidak bisa mengerti mengapa. Kita semua ingin mengatakan bahwa kita ingin sesuatu yang lebih dari Misa Kudus. Sesungguhnya kita tidak bisa mendapatkan sesuatu yang lebih daripada Surga itu sendiri. Saya mesti mengatakan sejak mulanya bahwa buku ini bukanlah suatu pendalaman Alkitab. Isinya difokuskan kepada aplikasi praktis dari satu sisi dari Kitab Wahyu, dan pelajaran kita jauh dari lengkap. Para teolog berdebat tanpa habis-habisnya tentang siapa yang sesungguhnya menulis Kitab Wahyu, dan kapan, dan dimana, dan mengapa, dan ditulis diatas perkamen macam apa.
Dalam buku ini, saya tidak akan menyinggung pertanyaaan ini secara mendetail. Buku ini juga bukan sebuah buku pegangan bagi penjelasan liturgi. Kitab Wahyu adalah sebuah buku mistik, bukan video untuk training atau buku petunjuk pemakai. Sepanjang buku ini, anda akan melihat Misa Kudus dengan pemahaman-pemahaman yang baru - pemahaman yang lain daripada pemahaman yang biasanya anda kenal. Meski surga turun ke bumi ketika Gereja merayakan Ekaristi, Misa Kudus tampak berbeda dari tempat yang satu ke tempat yang lain dan dari waktu ke waktu. Di tempat dimana saya tinggal, umumnya umat Katolik terbiasa dengan liturgi dari ritus Latin (=Roma=Barat). Bahkan kata “Misa” itu sendiri sebetulnya hanya menunjuk pada bagian liturgi Ekaristi dari Ritus Latin. Akan tetapi ada banyak liturgi-liturgi Ekaristi dalam Gereja Katolik: ritus Ambrosia, ritus Armenia, ritus Bizantium, ritus Kaldea, ritus Koptik, ritus Malabar, ritus Malankar, ritus Maronit, ritus Melkite, dan ritus Rutenian, beberapa contoh diantaranya. Masing-masing punya keindahannya yang tersendiri. Masing-masing punya kebijakannya tersendiri. Masing-masing menunjukkan sudut yang berbeda dari Surga di bumi.
Riset buku “The Lamb’s Supper” telah memberi saya penglihatan yang baru terhadap Misa Kudus. Saya berdoa semoga setelah membaca buku ini juga memberi karunia yang sama terhadap anda. Bersama-sama mari kita meminta pembaruan hati kita juga supaya melalui doa-doa dan belajar, kita bisa lebih bertumbuh dan lebih mengasihi misteri-misteri Kristiani yang telah diberikan kepada kita oleh Allah Bapa. Kitab Wahyu akan memperlihatkan kepada kita, Misa Kudus sebagai Surga di bumi. Sekarang, marilah kita teruskan tanpa menunda-nunda lagi, karena Surga tidak dapat menunggu.
“Di Surga Sekarang!” (dari buku Rome Sweet Home / Roma Rumahku )
Saya berdiri di sana dengan sembunyi-sembunyi, seorang pendeta Protestan dalam pakaian preman, menyelinap masuk ke bagian belakang sebuah kapel Katolik Milwaukee untuk menyaksikan Misa Kudus saya yang pertama. Rasa ingin tahu telah membawa saya kesana, dan saya masih ragu bahwa ini adalah rasa ingin tahu yang sehat. Selama mempelajari tulisan-tulisan umat Kristen perdana, saya menemukan referensi yang tak terhitung banyaknya kepada “LITURGI”, “EKARISTI”, “KURBAN”. Bagi umat Kristen perdana tersebut, Alkitab, buku paling saya cintai, tidak bisa terlepaskan dari acara ritual yang sekarang ini oleh umat Katolik disebut sebagai “ Misa Kudus”. Saya ingin memahami pemikiran umat Kristen perdana, akan tetapi saya tidak punya pengalaman sedikitpun menyangkut liturgi. Jadi saya membujuk diri saya sendiri untuk pergi dan melihat, semacam latihan akademis, tetapi dengan tetap bersikeras bahwa saya tidak akan berlutut ataupun ikut mangambil bagian dalam penyembahan berhala ini.
Saya mengambil tempat duduk di bagian yang terlindung, di barisan yang paling belakang dari kapel di lantai dasar tersebut. Di depan saya ada sekelompok umat Katolik yang lumayan jumlahnya, laki-laki dan perempuan dari segala umur. Sikap mereka sewaktu berlutut mengesankan saya, seperti juga agaknya konsentrasi mereka sewaktu berdoa. Kemudian sebuah bel berbunyi dan mereka semua bediri ketika imam ( romo/father) muncul dari pintu yang terletak di samping altar. Tidak tahu mesti berbuat apa, saya tetap duduk. Selama bertahun-tahun sebagai evangelis dari aliran Calvinis, saya telah diajarkan untuk percaya bahwa Misa Kudus adalah penghinaan terbesar yang dilakukan oleh manusia (terhadap iman Kristiani). Saya telah diajarkan bahwa Misa Kudus adalah ritual yang dibuat untuk “ mengurbankan kembali Yesus Kristus.” Jadi saya akan tetap sebagai seorang pengamat. Saya akan tetap duduk dengan Alkitab saya terbuka di samping saya.
DIPENUHI AYAT-AYAT ALKITAB
Akan tetapi, seaktu Misa berlangsung sesuatu membuat saya tersadar. Alkitab saya tidak hanya berada di samping saya. ALKITAB BERADA DI DEPAN SAYA - DALAM KATA-KATA DALAM MISA KUDUS! SATU AYAT DARI KITAB YESAYA, SATU LAGI DARI KITAB MAZMUR, SATU LAGI DARI SURAT RASUL PAULUS. Pengalaman ini SUNGGUH LUAR BIASA ! Saya ingin menghentikan mereka dan berteriak, “HEI, BOLEHKAN SAYA MENJELASKAN APA YANG SEDANG TERJADI DISINI DARI KITAB SUCI? INI SUNGGGUH-SUNGGUH HEBAT !!!” Tetapi, saya tetap menjaga status saya sebagai pengamat. Saya tetap berada di luar lapangan sampai saya mendengar imam mengucapkan kalimat konsekrasi: “INILAH TUBUHKU….INILAH PIALA DARAHKU.” Lantas saya merasakan bahwa segala keragu-raguan saya sirna sudah. Sewaktu saya melihat imam mengangkat hosti berwarna putih tersebut, saya merasakan suatu doa mencuat dari dalam hati saya dalam sebuah bisikan : “YA TUHANKU DAN YA ALLAHKU. SUNGGUH-SUNGGUH ENGKAULAH ITU !”
Mungkin anda bisa menyebut keadaan saya pada waktu itu seperti orang tuna-daksa, terkesima tak mampu berbuat apa-apa. Saya tidak bisa membayangkan kesuka-citaan yang lebih besar daripada apa yang telah diperbuat oleh kata-kata tersebut terhadap saya. Akan tetapi pengalaman itu semakin memukau hanya sejenak berikutnya, ketika saya mendengar seluruh umat mengucapkan : “ ANAK DOMBA ALLAH….ANAK DOMBA ALLAH…..ANAK DOMBA ALLAH….,” dan sang imam menjawab , “ INILAH ANAK DOMBA ALLAH……” sambil mengangkat HOSTI itu. Hanya dalam waktu kurang dari satu menit, kalimat “ANAK DOMBA ALLAH” telah bergema empat kali. Selama bertahun-tahun mempelajari Alkitab, saya denga serta merta tahu dimana saya berada saat ini. SAYA SEDANG BERADA DALAM KITAB WAHYU, dimana Yesus dipanggil dengan sebutan ANAK DOMBA tidak kurang dari dua puluh delapan kali sepanjang dua puluh dua pasal dalam Kitab Wahyu. Saya sedang berada di PERJAMUAN KAWIN yang dijelaskan oleh Rasul Yohanes pada bagian akhir kitab yang terakhir Alkitab. Saya sedang berada di hadapan TAHTA SURGA, dimana Yesus dipuji-puji untuk selama-lamanya sebagai ANAK DOMBA. Saya sungguh tidak siap untuk menerima kenyataan ini, SAYA SEDANG BERADA DALAM MISA KUDUS.!!!
DEMI ASAP SUCI !!!
Saya kembali menghadiri Misa pada hari berikutnya dan pada hari berikutnya dan pada hari berikutnya. Setiap kali saya kembali, saya akan “ menemukan “lebih banyak lagi Kitab Suci terpenuhi di depan mata kepala saya. Akan tetapi tidak ada kitab lain yang lebih nyata bagi saya, di kapel yang agak remang-remang tersebut, selain Kitab Wahyu, yang menggambarkan para malaikat dan orang kudus menyembah di Surga. Seperti di dalam Kitab Wahyu, demikian juga pula di dalam kapel itu, saya melihat IMAM YANG MEMAKAI JUBAH, sebuah ALTAR, KONGREGASI UMAT yang beseseru “KUDUS, KUDUS, KUDUS!” Saya melihat kepulan ASAP DUPA. Saya mendengar SERUAN PARA MALAIKAT DAN ORANG KUDUS. Saya sendiri ikut menyanyikan Alleluya, karena saya telah ditarik lebih dalam lagi daripada sebelumnya ke dalam ibadat ini. Saya terus duduk di bangku bagian belakang dengan Alkitab, dan saya nyaris tidak tahu harus memperhatikan yang mana - kepada peristiwa-peristiwa dalam Kitab Wahyu atau kepada aksi yang terjadi di altar. Makin lama, keduanya makin tampak menyerupai satu dengan yang lain. Saya membenamkan diri dengan semangat baru yang meluap-luap untuk mempelajari Kristen pada awalnya dan saya menemukan bahwa uskup-uskup yang paling pertama, yaitu para BAPA GEREJA, telah mendapatkan “penemuan” yang sama seperti yang saya dapat setiap pagi (sewaktu menghadiri Misa Kudus). Mereka berpendapat bahwa KITAB WAHYU adalah KUNCI BAGI LITURGI dan bahwa LITURGI adalah KUNCI BAGI KITAB WAHYU.
Sesuatu yang sangat luar biasa sedang terjadi terhadap saya sebagai seorang teolog dan umat Kristen. Buku dalam Alkitab yang bagi saya paling sulit dimengerti - yaitu Kitab Wahyu - saat ini justru menerangi ide-ide yang paling fundamental dari iman Kristen: ide tentang PERJANJIAN sebagai ikatan yang kudus keluarga Allah. Sekarang, setelah dua minggu menghadiri Misa setiap harinya, saya merasa ingin bangkit berdiri selama liturgi berlangsung dan berseru ,”PERHATIAN SEMUANYA!!! KALAU BOLEH SAYA INGIN MEMBERITAHUKAN DIMANA ANDA BERADA SEKARANG INI DALAM KITAB WAHYU!!! LIHAT PASAL EMPAT AYAT DELAPAN. ANDA SEKARANG SEDANG BERADA DI SURGA !!!
Disadur dari buku “ The Lamb’s Supper” karangan Prof. Dr. Scott Hahn.
Beliau dulunya adalah seorang pendeta denominasi Prebyterian, yang sangat brilian, yang lewat studi Alkitab, percaya bahwa Gereja Katolik sebagai gereja yang didirikan Yesus Kristus sendiri, tiang dan pondasi kebenaran. Beliau masuk Katolik pada pertengahan 1980-an dan buku-bukunya maupun kesaksiannya merupakan kaset/buku terlaris di Amerika Serikat dan terus menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang mengikuti jejak langkahnya ke dalam Gereja Katolik
Dikirim oleh: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta),
Materi diperoleh dari mengikuti seminar sehari bersama Pater Robby Wowor OFM tanggal 20 Juli 2008, “Menguak Rahasia Perjamuan Anak Domba Allah Menurut Kitab Wahyu”, di Aula SMUK Sang Timur – Jakarta.

