Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Sudah beberapa jam speed boat yang kami tumpangi berusaha untuk melaju, tetapi tidak ada tanda-tanda untuk ia bergerak maju, karena mesin motor tidak berfungsi dengan baik, dan harus berhadapan dengan arus sungai yang sangat kencang. Beberapa kali, kami merapat ke tepi untuk memperbaiki mesin motor yang tidak mempunyai tenaga untuk menggerakan speed boat. Ketika berhadapan dengan arus yang lebih kencang, kami terpaksa harus turun dari speed boat, dan perlahan-lahan mendorong melawan arus, bahkan ada beberapa diantara kami yang harus menarik speed boat dengan tali melintasi arus sungai. Rasa lelah, dan lapar tidak membuat kami putus asa untuk membawa salib dan gambar bunda Maria ke sebuah paroki di atas bukit. Untuk sampai ke paroki itu, kami harus melewati sungai dengan arus yang sangat keras. Rasa lelah berubah menjadi keceriaan tatkala ribuan kupu-kupu putih melintasi dan berarak bersama kami. Mereka sepertinya sedang menari, dan ikut berjuang bersama-sama dengan kami. Kupu-kupu itu sepertinya memberikan kegembiraan kepada kami. Kadang mereka mendarat di speed boat, dan beberapa diantara kami sibuk untuk menangkap dan mengumpulkan kupu-kupu putih tersebut. Kata mereka, kupu-kupu itu akan dikumpulkan dan dimakan. Sementara itu sepanjang aliran sungai, ribuan kupu-kupu, ada yang sedang terbang, ada yang sedang bermain-main di atas sungai. Salah satu diantara mereka berkata kepada aku; father, Allah juga ikut berjuang bersama kita untuk melawan arus sungai ini. Aku hanya menjawab “I think so”. Ia berkata lagi; Allah datang menemui kita, dalam keindahan kupu-kupu putih ini.
Setelah sekian lama melawan arus, kami akhirnya tiba juga di sebuah hutan, dan berlabuh di sebuah sungai kecil. Beberapa penduduk di sekitar itu sudah datang menyambut salib dan gambar bunda Maria yang kami bawa. Kami berjalan kaki lagi menuju sebuah kampung. Kampung itu letaknya di atas bukit, dengan pemandangan yang sangat menawan. Kurang lebih satu jam kami tiba di paroki itu. Hari sudah menjelang malam saat itu. Di depan pintu masuk kampung, sudah banyak umat berkumpul untuk menyambut salib dan gambar bunda Maria. Mereka berdoa dan menyanyikan lagu Maria. Beberapa kaum muda dari paroki kami menyerahkan salib kepada mereka. Dengan keceriaan, mereka membawanya menuju gereja. Salib dan gambar bunda Maria diletakkan di depan altar, dan semua orang yang datang menyaksikan dan memberi penghormatan kepadanya.
Cinta Allah
Dalam kesaksian hidup mereka, mereka membagikan pengalaman yang berharga bahwa Allah datang menemui dan mengunjungi mereka. Meskipun hidup di sebuah dunia yang sangat jauh dari keramaian, dengan akses tempat tinggal yang sangat jauh dari kota, dan sulit, tetapi Allah sendiri tetap memperhatikan hidup kami. Dia datang menemui kami di daerah ini. Umat yang tinggal di kampung itu semuanya beragama katolik. Sebagai ungkapan sukacita dan kegembiraan bahwa Allah datang menemui mereka, mereka berdoa dan memuji kebaikan Allah. Mereka datang membuat baris, sambil kepalanya tertunduk, masing-masing mulai dari yang kecil sampai yang tua, maju ke depan berlutut dan menyentuh salib, merangkul salib dan bunda Maria, sebagai ungkapan terima kasih atas rahmat yang boleh mereka terima. Aku berdiri di belakang mereka sambil memandang mereka melakukan tindakan yang serupa. Dalam hati kecil aku, ada kekaguman bahwa cinta Allah pertama-tama bukan karena usaha atau prestasi dari manusia, tetapi karena semata-mata rahmat dari Allah. Aku dapat mengalami Allah, bukan karena usaha aku, tetapi karena usaha dan inisiatif dari Allah yang datang menemuiku. Disinilah cinta Allah tidak pernah terungkap, dan cinta yang paling jelas itu dalam diri Yesus, yang datang sebagai manusia, solider dengan manusia, agar manusia dapat mengalami kasih Allah secara penuh.
Mencari Allah
Dalam Injil dikisahkan tentang Zakeus, seorang pemungut Cukai. Sebagai pemungut pajak ia masuk dalam jajaran pegawai dari kekuasaan bangsa Romawi. Kehadirannya tidak disukai oleh kebanyakan orang, bukan karena ukuran badannya yang pendek, tetapi karena kehadirannya membuat banyak rakyat menderita. Sebagai pegawai pajak, ia memungut lebih uang yang seharusnya diberikan untuk membayar pajak. Kelebihan uang ini dipakai untuk kantong pribadinya. Dengan kata lain, ia memeras dari rakyat. Sudah pasti, dia tidak disenangi oleh kebanyakan orang, dan dianggap sebagai orang berdosa. Dalam situasi yang terpuruk, justru ia berusaha mencari Allah. Ketika suatu saat Yesus datang ke kotanya, dia juga tidak ketinggalan untuk datang melihat Yesus. Namun, karena banyak orang yang mengelilingi Yesus, dan ukuran badannya yang pendek membuat dia kesulitan untuk melihat bagaimana rupa dari Yesus. Zakeus tidak kehilangan akal, dia lalu memanjat pohon supaya dapat melihat Yesus yang sedang berada di tengah kerumunan banyak orang. Ia berusaha mencari wajah Allah dalam diri Yesus. Ia mencari Yesus karena kerinduannya yang sangat besar untuk mengalami cinta dari Yesus seperti pengalaman dari kebanyakan orang yang mengalami penyembuhan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, Yesus datang menemuinya. Di tengah kerumunan begitu banyak orang, Yesus justru lebih tertarik untuk melihat seorang pribadi yang sedang mencarinya, yang berada di atas pohon. Sesuatu yang tidak biasa. Yesus tidak hanya memandang dia, tetapi justru berbicara dengan Zakeus, dan berkata, bahwa dia ingin bertamu di rumahnya. Tentu Zakeus begitu kaget, heran, dan bahagia. Ia heran, karena sebagai orang berdosa, di mata banyak orang, Yesus berbicara dengan dia. Ia bahagia, karena Yesus mau datang ke rumahnya dan makan di rumahnya. Sesuatu kegembiraan yang meluap di hati Zakeus.
Pengalaman Zakeus menunjukkan dengan jelas bahwa rahmat Allah yang kita terima bukan semata-mata prestasi kita, bukan juga karena usaha keras kita, melainkan karena semata-mata rahmat Allah. Tuhan sendirilah yang datang menemui dan bertamu di dalam rumah kita. Ketika pencarian kita tentang Allah dengan usaha dan jerih payah yang melelahkan, tidak pernah kita temukan. Saat-saat seperti itulah Tuhan datang kepada kita dan bertamu di dalam rumah kita. Tuhan mengetahui segala apa yang sedang menjadi kegalauan hati kita.
Membuka hati disapa
Ketika kami kembali dari paroki di atas bukit itu, hati kami dipenuhi dengan keceriaan. Kami tidak lagi berjuang melawan arus. Kupu-kupu putih yang berarak mengantarkan kami juga sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah ketenangan. Salah satu anak muda berkata kepada aku, father, Tuhan kemarin datang berjuang bersama kita, Dia datang menemui kita yang sedang kelaparan, ketika kita lelah, capek, lapar, justru Dia datang menemui kita dalam semerbak ribuan kupu-kupu putih. Father, “ aku baru melihatnya ini pertama kali” kata dia lebih lanjut. Di kampung kita tidak ada kupu-kupu seperti itu, sungguh-sungguh rahmat yang mengagumkan.
Hidup saat ini adalah bukan suatu yang mudah. Kita hidup dengan suatu idealisme untuk mengejar kekayaan, prestasi, dan mengira itu semua memberikan kebahagian. Kadang kita harus berhadapan dengan arus kehidupan yang sangat kencang. Berbagai kegagalan, pengalaman pahit menghadang kita. Semangat hidup kita tidak ada lagi, ketika antuasisme meredup, karena berbagai kesulitan yang kita alami. Saat-saat seperti itu terkadang kita putus asa, dan tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan lagi. Bahkan, termasuk mencintai orang-orang yang disekitar kita pun, kita abaikan begitu saja. Kehadiran Allah yang menyapa kitapun dalam pengalaman keseharian kita tidak kita rasakan lagi. Namun, seperti pengalaman Zakeus dan orang-orang Papua, Tuhan justru sedang berjuang bersama-sama kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita melawan badai kehidupan seorang diri, karena Dia menginginkan kita mengalami keselamatan, dan kebahagian dalam hidup ini. Yang terpenting adalah membuka diri untuk disapa dalam berbagai peristiwa ini, karena kehadiran Tuhan tidak pernah kita duga.
Merenungkan kembali pengalaman itu, aku terbawa dalam pergulatan untuk mengenal lebih dekat pribadi Yesus. Yesus adalah seorang pribadi yang mengagumkan. kehadiranNya membawa kebahagian bagi setiap orang yang membuka hatinya. Siapun pribadi kita dengan segala kelemahan, dan keterbatasan, dengan segala kerapuhan dan dosa kita, Tuhan tetap datang menyapa dan menemui kita. Apapun situasi kita, dia datang berjuang, dan berjalan bersama kita. Dia tidak pernah menunggu, apalagi menunda tetapi datang menemui kita. Yang terpenting adalah membuka hati kita untuk menerima rahmat dari Allah. Selanjutnya mewujudkan cinta Allah dengan mencintai setiap orang yang ada di sekitar kita, terutama orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dari kita. Saat di sanalah kita akan bertemu dengan Allah sendiri. Tidak ada ruang untuk menunda dan berhenti untuk mencintai, karena Allah adalah cinta itu sendiri. Kita telah mengalami dan menikmati hidup ini, karena semata-mata cinta yang datang dari Allah, bukan karena prestasi kita, tetapi karena kemurahan Allah. Cinta dan rahmat Allah inilah yang telah aku dengar bahwa Allah adalah Allah yang berani memberi tubuh dan darahNya bagi manusia. Allah adalah pribadi yang berani menderita, memikul salib yang berat, hingga wafat di kayu salib, hanya karena cinta kepada manusia. Allah adalah pribadi yang mengalahkan maut, agar aku semakin mengimani Dia bahwa DIa adalah Allah yang hidup yang menyertai setiap langkah hidup kita. Inilah rahmat Allah yang kita alami selama pekan suci.
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
To All of You,
Dengarkan Musik Ini
Super Mario Game
INFO SINGKAT
Send texts to over 200 countries with CardBoardFish
Beri Masukan Untuk Kami
|
|
Tampilkan postingan dengan label mans. werang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mans. werang. Tampilkan semua postingan
Minggu, November 02, 2008
Minggu, Oktober 12, 2008
BUTTERFLY DANCE

Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Delapan orang anak kecil keluar dari semak-semak dan mulai menari. Ditangan mereka masing-masing memegang ranting-ranting pohon yang dihiasi dengan bulu ayam berwarna putih. Seluruh tubuh mereka juga dicat dengan warna putih. Mereka tidak berbusana. Sedangkan di depan dan di belakang barisan anak-anak, dua orang pemuda, yang juga tanpa busana, dengan tubuh mereka juga dihiasi warna putih menari sambil memukul gendang. Mereka hanya mengenakan koteka. Diwajah mereka dicat berbagai warna-warni, di kepala mereka disematkan hiasan mahkota dari burung paradise dan di belakang punggung mereka, dicat dengan tulisan “welcome”. Gerakan mereka menyerupai kupu-kupu yang sedang terbang. Beberapa kali mereka mengelilingi halaman dengan tarian yang bervariasi seperti kupu-kupu. Semua yang berkumpul di sana dengan khidmat berdiri, mengagumi tarian yang sedang diperagakan untuk penerimaan beberapa tamu dari keuskupan. Itulah tarian kupu-kupu untuk penerimaan orang-orang asing yang datang ke kampung kami. Kata seorang bapak kepada aku. Menurut legenda, tarian kupu-kupu berasal dari nenek moyang mereka yang diwariskan turun-temurun untuk menyambut tamu asing. Semula ada sebuah batu besar. Suatu saat ada orang asing datang membawa pesan yang berguna bagi kehidupan mereka. Kupu-kupu putih itu keluar dari sebuah batu besar untuk menyambut mereka. Ribuan kupu-kupu putih terbang dan mengelilingi kampung, sebagai tanda akan datang tamu yang membawa warta gembira. Warisan ini diteruskan dan dilanjutkan oleh orang-orang refugis dari west papua. Setelah penyambutan dengan tarian kupu-kupu, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Mereka membakar babi, sebagai tanda keramahan mereka untuk menjamu para tamu. Ketika kutanya, apakah hanya karena tatkala kami datang, mereka berkata bahwa kami lakukan pada umumnya menyambut tamu asing yang datang ke tempat kami. Apalagi para tamu yang datang adalah orang-orang yang membawa pesan yang berharga bagi kampung kami. Peristiwa itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua di paroki Matkomnai. Pada saat kaum muda dari Australia datang ke paroki kami, mereka juga menunjukkan keramahan melalui penerimaan mereka dengan pakaian adat mereka. Mulai dari anak-anak, para wanita sampai orang tua ingin mempersembahkan yang terbaik dengan tarian untuk orang-orang Australia. Mereka memakai pakaian dari jenis rumput-rumput, dengan telanjang dada. Sedangkan di kepala mereka disematkan mahkota dari burung paradise. Mereka menari dan membentuk gerakan yang meragakan penerimaan tamu dengan kegembiraan. Itulah bentuk keramahan orang-orang Papua.
Orang-orang Papua mempunyai kebiasaan menjamu orang-orang asing bila datang ke tempat mereka. Mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik. Rumah mereka yang sangat sederhana tidak mengurangi keramahan mereka untuk mengundang, datang dan bertamulah ke rumah kami. Citarasa keramahan mereka membuat aku merenungkan hidup kita.
Rahmat yang berharga
Di dalam kitab suci diceritakan tentang semangat keramahan dari orang-orang yang menerima orang asing. Suatu hari, Abraham sedang duduk dibawah kemahnya di Mamre. Ketika ia mengangkat mukanya dilihatnya tiga orang asing. Ia menyongsong mereka dan mempersilakan mereka datang dan beristirahat sejenak untuk melepaskan dahaga mereka, membiarkan mereka membasuh wajah mereka dengan air. Setelah itu Abraham dan Sarah istrinya menyediakan bagi mereka, air, roti dan lembu tambun yang terbaik. Ketiga tamunya akhirnya mengungkapkan diri mereka kepadanya bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, meskipun istrinya sudah sangat tua. Demikian juga yang dilakukan oleh Janda di Zaraphat, sikap keramahannya juga diperlihatkan ketika ia menghidangkan makanan dan menampung Elia di rumahnya. Ia menyediakan makanan untuk Elia, yang sebenarnya makanan itu merupakan persediaan yang terakhir untuk anak-anaknya, setelah itu ia dan anak-anaknya akan mati. Elia mengungkapkan dirinya sebagai utusan Allah yang akan memberikan kelimpahan minyak dan makanan, dan akan membangkitkan anaknya dari kematian. Dalam injil, kita dapat menyimak kisah tentang dua orang murid Yesus yang pergi ke Emaus, dan tiba-tiba di tengah jalan, hadir seorang asing yang berjalan-jalan bersama-sama dengan mereka. Karena hari menjelang malam, kedua murid itu mengundang seorang asing itu, datang dan tinggal bersama mereka. Pada akhirnya Yesus memperkenalkan diriNya tatkala Dia memecahkan roti dan membagi-bagikan kepada dua orang muridNya. Dia hadir sebagai Tuhan dan penyelamat. Keramahan yang diperlihatkan oleh kisah di atas bukan merupakan suatu kewajiban untuk menerima orang asing di dalam rumah mereka, tetapi lebih dari itu, karena orang-orang asing membawa pesan dan rahmat yang berharga bagi mereka.

Ketiga kisah di atas menunjukkan bahwa keramahan menerima seseorang mendatangkan berkat yang melimpah bagi penerima tamunya. Ketika merenungkan pengalaman dan kisah kehidupan orang-orang di dalam kitab suci dan kisah kehidupan orang-orang Papua, aku terpana pada sikap keramahan yang ditampilkan. Kehadiran orang asing tidak membuat mereka menaruh curiga, tetapi sebaliknya menerima mereka dengan sukacita, layaknya seorang sahabat lama yang tidak pernah bertemu, dan suatu saat datang ke tempat mereka. Mereka semua berusaha untuk memberikan yang terbaik. Dalam artian tertentu memberi kesan yang membuat orang terpesona, atau “memanjakan mereka”. Cita rasa keramahan yang ditampilkan ini membuat penerima merasa damai, karena berani untuk memberi yang terbaik, dan yang datang juga merasa diterima, dimanjakan, yang membuat kesan tersendiri bagi orang lain.
Datang dan Lihatlah
Dalam injil Yohanes dikisahkan bagaimana keramahan yang ditampilkan oleh Yesus. Ketika dua orang murid Yohanes bertanya di manakah engkau tinggal? Yesus menjawab kepada mereka “datang dan lihatlah”. Suatu bentuk undangan dari Yesus untuk datang dan mengenal Dia secara lebih dekat. Tetapi dibalik itu semua suatu bentuk keramahan dari Yesus yang mengundang para murid Yohanes untuk memahami dan mengerti dengan benar bahwa Dialah Tuhan yang ditunggu-tunggu. Untuk mengenal pribadi Yesus tidak cukup hanya dengan mendengar saja, tetapi datang mengikuti Dia, berkunjung ke rumah Dia, mengenal Dia secara lebih mendalam. Pengenalan secara mendalam mengandaikan sikap untuk datang dan mengalami secara langsung. Sikap Yesus ini menunjukkan suatu sikap yang terbuka kepada siapapun yang datang kepadaNya. Yesus hanya menawarkan bentuk keramahanNya, tergantung dari kita, apakah kita berani untuk memenuhi undanganNya atau tidak.
Undangan itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua. Dalam kesederhanaan, mereka selalu mengundang setiap orang untuk datang dan mengenal mereka secara lebih dekat. Mereka adalah pribadi-pribadi yang terbuka untuk disapa, untuk disentuh dengan kasih. Kehadiran kita akan membuat mereka selalu ingin menyuguhkan yang terbaik bagi siapa saja yang datang ke tempat mereka.
Ketika merenung seorang diri, aku menemukan hidup sekarang ini semakin memuja pada semangat individualisme. Artinya semangat yang berpusat pada diri sendiri, tanpa menghiraukan orang lain di sekitar kita. Semangat keramahan kepada orang lain semakin luntur, karena kita terbawah pada sikap tidak mempercayai orang lain. Orang lain adalah bukan aku yang lain. Orang lain adalah di luar dari hidup kita, sehingga ketika ada orang yang datang kepada kita, sikap yang kita tampilkan adalah sikap tidak ramah, untuk tidak mengatakan sikap menolak kehadiran mereka. Kita tidak membiarkan ruang sedikit pun untuk mengenal mereka secara mendalam, dan sebaliknya tidak ada ruang pula bagi mereka untuk mengenal kita secara lebih mendalam. Kita menutup jendela hati kita untuk mereka. Lantas undangan untuk masuk dalam perjamuan, menikmati bersama menjadi tidak ada lagi. Karena kehadiran orang asing adalah kehadiran yang merepotkan kita. Kehadiran orang asing adalah kehadiran yang membuat kita sibuk dengan segala banyak urusan. Lantas yang terjadi adalah sikap tidak ramah yang kita tampilkan.
Tetapi orang Papua berkisah lain tentang kehadiran orang lain. Orang lain adalah rahmat karena mereka membawa pesan bagi mereka. Maka suguhan yang paling baik diberikan. Tarian kupu-kupu dan tarian adat mereka tampilkan. Semua yang mereka lakukan hanya untuk memberikan kegembiraan dan kelegaan kepada para tamu. Sagu, pisang, dan segala bentuk makanan mereka sajikan hanya untuk membuat para tamu merasa dimanjakan. Dalam kesederhanaan, mereka tetap mengundang setiap orang asing untuk datang ke rumah mereka. Mereka tidak pernah malu untuk berkisah tentang rumah, kehidupan dan makanan yang sederhana yang disajikan oleh mereka. Karena itulah cita rasa keramahan mereka. Keramahan yang keluar dari ketulusan dan keterbukaan hati mereka untuk menerima siapapun yang datang berkunjung ke tempat mereka. Bagi mereka orang asing adalah tamu yang terhormat, maka memberi tempat yang terhormat dengan menyajikan sesuatu yang terbaik mendapat tempat yang pantas dalam budaya mereka.
Tarian kupu-kupu itu mengingatkan aku, dan mengingatkan kita akan semangat keramahan, dalam menerima orang lain. Kehadiran orang lain, siap pun orangnya, terlebih lagi orang miskin adalah kehadiran yang memberi pesan bagi kehidupan kita. Acap kali kita lalai terhadap kehadiran mereka di depan pintu rumah, di depan pintu pastoran kita, karena anggapan kita mereka adalah orang lain, mereka adalah orang asing. Namun kitab suci mengingatkan kita “barangsiapa menerima orang sekecil ini, ia menerima Aku”. Itulah kehadiran Yesus yang datang bertamu dalam rupa orang asing, dalam rupa orang miskin. Dalam diri orang yang kotor, bau badan, dengan pakaian seadanya. Tetapi kehadiran mereka membawa pesan, bahwa Tuhan sendiri yang datang berkunjung ke dalam rumah kita. St. Vinsensius berkata kalau ada orang yang datang ke tempatmu, dan pada saat itu kamu sedang berdoa, “tinggalkan Tuhan untuk bertemu dengan Tuhan, yang hadir dalam diri sesamamu. Kata-kata itu menjadi kekuatan kita untuk menerima orang dengan keramahan, dan dengan sikap yang terbuka dan tulus. Seperti Tuhan Yesus sendiri yang menerima kedua murid Yohanes, kita pun berani berkata “ datanglah dan lihatlah”. Disinilah damai itu dapat kita rasakan, karena kita melayani Tuhan yang hadir dalam diri mereka. inilah pesan kehadiran mereka orang-orang miskin.
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Labels:
butterfly,
dance,
mans,
mans. werang,
papua
Minggu, April 20, 2008
DOMPET
Hari masih gelap. Pintu pastoran masih tertutup rapat. Tampak kabut putih menyelimuti bukit kecil di tengah hutan. Sepi! Sepertinya tak ada kehidupan. Sesekali terdengar suara alam yang menyanyikan senandung kidung pujian pagi. Semalam hujan turun dengan lebatnya menyebabkan aliran sungai di sekeliling bukit itu meluap. Tampak dari jauh seorang pemuda datang mendekat ke pastoran. Ia tidak pernah memakai alas kaki, dan hanya mengenakan celana pendek dengan baju yang agaknya sudah mulai sobek. Kumis dan jenggotnya dibiarkan begitu saja, dan tak pernah diurus dengan rapi. Di belakang punggungnya ada sebuah rangsel. Tergesa-gesa ia mengetuk pintu dan segera mengatakan “good morning father” kepadaku. Aku membuka pintu pastoran dan mengucapkan salam kepadanya. Dalam pikiranku, aku bertanya-tanya ada apa gerangan pagi-pagi Kwane sudah datang ke pastoran. Ternyata dia hanya bertanya apakah dia boleh ikut ke kota bersamaku? Aku menjanjikan dia, jam delapan nanti dia dapat pergi bersama denganku.
Dalam perjalanan menuju ke kota, Kwane bercerita bahwa ia datang ke kota hanya untuk jalan-jalan dan melihat situasi di kota. Kebetulan hari itu hari “pay day”, artinya hari di mana semua instansi pemerintahan dan swasta membayar gaji para pegawai dan karyawannya dengan system fort night, dua minggu sekali mereka mendapat gaji. Jadi orang-orang berbondong-bondong datang ke kota untuk belanja kebutuhan hidup mereka, dan sekedar jalan-jalan seperti yang dilakukan oleh Kwane. Aku memperhatikan saku celananya, tak terlihat ada dompet. Dia berkata bahwa dia tidak memiliki dompet, dan tidak membutuhkannya. Kalau pun ada uang, uang itu dimasukkan saja ke dalam saku celananya. Akupun memberikan nasihat bijak kepadanya; “bila engkau mempunyai dompet, uangmu tidak akan mudah hilang, dan tidak tercecer ke mana-mana, serta memudahkanmu untuk menemukan sewaktu-waktu kamu membutuhkannya”. Tetapi Kwane berkata kepadaku “ father this is life”. Yang terpenting dalam hidup ini bukan ke mana-mana membawa dompet berisi uang, tetapi kemana-mana membawa hati, senyum dan kegembiraan. Kekayaan kita bukan diukur sejauh mana kita memiliki barang, atau uang, tetapi kekayaan kita diukur sejauh mana kemurahan hati, kita berikan kepada orang lain. Aku hanya bisa diam, dan merenung kotbah bijak yang pertama kali aku dengar dari seorang pemuda Papua bernama Kwane.
Kaya di mata Allah
Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpaan yang indah kepada orang Farisi tentang seorang kaya yang berlimpah-limpah harta kekayaan. Ia memikirkan bagaimana ia dapat menyimpan di tempat yang aman, kemudian membangun gedung yang besar untuk menyimpan kekayaannya. Ia berkata kepada jiwanya, “ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi keesokkan harinya jiwanya diambil oleh Tuhan. Ia mati. Lantas segala kekayaannya yang berlimpah-limpah tidak ada gunanya lagi.
Orang kaya dalam perumpamaan ini melupakan satu hal yang penting dalam hidup ini yakni bagaimana membuat dirinya kaya di mata Allah. Ia hanya mengumpulkan segala harta kekayaan duniawi yang dapat memberikan kebahagiaan tubuhnya, tetapi lupa untuk membuat dirinya kaya di mata Allah. Kaya di mata Allah, artinya pribadi-pribadi yang menghayati hidup yang penuh kemurahan hati, cinta dan kebaikan kepada sesama. Ini lah harta yang tersimpan di surga. Tidak jarang, kita alpa untuk mencari dan mengumpulkan harta seperti ini. Kita lebih tergiur untuk mengumpulkan harta duniawi. Kecemasan dan rasa takut membawa kita tidak lagi memikirkan harta yang tersimpan di surga. Tuhan Yesus berkata “ carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Kata-kata Tuhan Yesus ini memiliki kekuatan yang luar biasa, karena Kerajaan Allah yang dimaksudkan oleh Yesus adalah cinta, kemurahan hati, kedamaian, pengampunan, belas kasih dan bila kita lakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari, maka Allah akan menambahkan apa yang kita butuhkan saat ini. Janganlah cemas akan apa pun yang akan kamu makan, atau apapun yang akan kamu pakai, lihatlah burung di udara yang tidak pernah menabur, tetapi diberi makan oleh Allah. Kalau demikian manusia lebih berharga dari itu semuanya ini. Allah akan memperhatikan dan memelihara kehidupan kita.
Nyala Kasih

Kwane adalah seorang pemuda yang menghayati kata-kata Tuhan Yesus. Buatlah dirimu kaya di mata Allah. Ia masih muda, umurnya kira-kira 25 tahun. Ia gagal menjadi seorang perawat. Bahkan ia bercita-cita dan berkeinginan untuk menjadi seorang pastor. Selama dua tahun ia bekerja di paroki. Ia pekerja keras. Ketika ia menerima uang dari hasil kerjanya, uang itu diberikan untuk keluarga dan saudara-saudarinya. Sementara dia hanya mengambil sedikit untuk keperluaan hidupnya bahkan tidak sama sekali untuk dirinya. Ketika ia tidak bekerja lagi di paroki, ia berniat untuk kembali ke kampungnya dan membangun gereja di tempat asalnya. Ia sungguh-sungguh merealisasikan semangatnya dengan membangun iman umat di kampungnya. Ia sangat aktif dalam semua kegiatan rohani di gereja dengan mempersiapkan liturgi untuk umat yang datang pada hari minggu. Kadang-kala di hari-hari tertentu dia datang dari kampungnya dengan jalan kaki, kira-kira satu jam hanya untuk mencari lagu-lagu dan latihan nyanyi sendiri di gereja sampai sore hari. Semangat hidupnya itu juga ditunjukkan dalam semua aktivitas. Kalau bepergiaan untuk mengadakan kunjungan ke kampung selama satu minggu, dia selalu menyediakan dirinya untuk membawa barang-barang, bahkan suatu saat kami harus melewati sungai, dan kebetulan mesin motor kami mengalami kerusakan, dia turun dari perahu dan menarik perahu yang kami tumpangi di sungai, sampai ke tempat tujuan.
Ketika kutanya mengapa ia melakukan semuanya itu. Dengan senyum ia berkata bahwa dia melakukannya semuanya karena dia adalah instrument dari cinta Allah. Cahaya kasih harus dibagikan kepada orang lain, supaya orang lain juga dapat melihat terang. Inilah yang dapat dia bawa ke mana-mana, yakni cinta dan hati yang siap untuk membantu dan melayani orang lain. Aku meyakini bahwa jawaban Kwane adalah suatu jawaban dari kedalaman pengalaman dan penghayatan imannya terhadap cinta Tuhan. Ia melakukan dan menjalankan semuanya itu dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Aku teringat kembali apa yang dikatakan oleh Kwane tentang dompet ketika kami melakukan perjalanan ke kota. Yang terpenting adalah kemana-mana tetaplah membawa cinta, kasih dan pengharapan. Rupanya apa yang dikatakan oleh Kwane mengalir dari kehidupannya sendiri. Sebagai seorang pemuda yang sangat sederhana, dia sudah mengerti tentang kehidupan dan arti cinta ini dengan sangat mendalam. Cinta adalah suatu peziarahan yang tidak pernah berhenti, keluar dari diri sendiri menuju orang lain melalui pemberiaan diri sendiri, pengorbanan, pengharapan sehingga orang lain pun mampu menemukan Allah.
Membawa Hati
Kemana-mana kita bepergiaan, kita selalu membawa dompet di saku belakang celana atau di dalam tas kecil kita. Di dalam dompet ada bermacam-macam jenis kartu. Ada kartu nama, kartu tabungan, uang, dan bermacam-macam lagi jenis barang yang kita simpan di dalam dompet kita. Sementara itu di saku pakaian kita yang lain, kita letakkan handphone. Bila sewaktu-waktu kita membutuhkan, atau orang menelepon kita, kita sudah menyiapkannya. Pendek kata segala sarana yang kita butuhkan kita ambil dan tak pernah kita lupa untuk membawanya. Inilah yang kita lakukan hampir setiap hari. Bahkan pada saat kita menghadiri perayaan ekaristi pada hari minggu, dompet dan handphone kita pun selalu tidak ketinggalan.
Namun, sangat berbeda yang dilakukan oleh Kwane, bila bepergiaan ke gereja sekalipun, ia tidak membawa dompet, apalagi handphone. Ia hanya membawa hati, kemurahan hati, kegembiraan, dan senyum. Inilah kekayaan hati yang dibawa ke mana pun Kwane pergi. Kekayaan bukan yang lagi ditentukan sejauh mana aku memiliki banyak barang, uang, handphone, tetapi kekayaan seorang kristiani sejauh mana kemurahan hati, kegembiraan, senyum, dan pelayanan aku bagikan kepada orang lain. Inilah sebuah nilai yang diajarkan oleh Kwane kepadaku “tentang mengumpulkan harta surgawi”. Inilah harta surgawi yang tersembunyi dalam diri orang-orang sederhana. Harta surgawi inilah yang selalu Kwane pelihara dan bawa ke mana-mana. Tidak memiliki dompet dan handphone membuat dirinya tidak memiliki banyak kebutuhan. Kebutuhannya yang sedikit membuat hidupnya lebih fokus pada pencarian harta surgawi.
Ketika aku memulai lagi suatu perjalanan, atau mlakukan suatu pekerjaan aku mengambil lagi dompetku, kuperhatikan isinya ada uang di dalamnya, kuperhatikan banyak kartu yang tersimpan di dalamnya. Tampak tebal di saku belakang celanaku. Sedangkan di saku celanaku yang lain, tidak pernah ketinggalan kuletakkan hand phone. Tiba-tiba aku diingatkan bahwa semuanya ini hanya sebuah sarana bagiku untuk menjadi seorang pembawa kabar gembira. Bukannya sarana ini menghalangi aku menjadi lebih leluasa membagi kasih dan kegembiraan kepada orang yang ada sekitarku. Dengan sarana ini pula menjadikan aku memiliki peluang yang lebih besar untuk mencintai dan melayani orang lain.
Kwane, pemuda sederhana telah mengajarkan kita akan arti pentingnya membawa hati ke mana pun kita pergi. Hati yang selalu memancarkan kegembiraan, dan bukan kesedihan, hati yang selalu belaskasih, dan bukan egoisme, hati yang selalu senyum, dan bukan hati yang selalu murung, hati yang selalu mencintai, dan bukan hati yang selalu menuntut, hati yang selalu menjadi pembawa damai, bukan hati yang membawa pertikaian, hati yang selalu percaya akan cinta Allah, dan bukan hati yang selalu takut. Inilah kekayaan hati yang selalu kita bawa, sehingga orang lain pun dapat mengalami Tuhan. Di dompet kita mungkin masih banyak barang mewah dan berharga, karena tersimpan uang, kartu kredit, foto orang-orang yang kita cintai, tetapi kedalaman hati Kwane mengajarkan kita bahwa kita juga mesti menyimpan hati kita yang murah hati ke mana pun kita bawa atau ke mana pun kita pergi. Inilah harta yang harus kita jaga, kita rawat dan kita bangun. Kini kabut putih yang menyelimuti pastoran sederhana di tengah hutan di sebuah bukit sudah tidak ada lagi. Kabut itu sudah pergi meninggalkan suatu jejak indah untuk selalu setia membawa hati ke mana pun aku pergi.
Fr. Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea. ( ahmans2006@yahoo.com.au) atau (belina_cm@dg.com.pg
Dikirim oleh: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Dalam perjalanan menuju ke kota, Kwane bercerita bahwa ia datang ke kota hanya untuk jalan-jalan dan melihat situasi di kota. Kebetulan hari itu hari “pay day”, artinya hari di mana semua instansi pemerintahan dan swasta membayar gaji para pegawai dan karyawannya dengan system fort night, dua minggu sekali mereka mendapat gaji. Jadi orang-orang berbondong-bondong datang ke kota untuk belanja kebutuhan hidup mereka, dan sekedar jalan-jalan seperti yang dilakukan oleh Kwane. Aku memperhatikan saku celananya, tak terlihat ada dompet. Dia berkata bahwa dia tidak memiliki dompet, dan tidak membutuhkannya. Kalau pun ada uang, uang itu dimasukkan saja ke dalam saku celananya. Akupun memberikan nasihat bijak kepadanya; “bila engkau mempunyai dompet, uangmu tidak akan mudah hilang, dan tidak tercecer ke mana-mana, serta memudahkanmu untuk menemukan sewaktu-waktu kamu membutuhkannya”. Tetapi Kwane berkata kepadaku “ father this is life”. Yang terpenting dalam hidup ini bukan ke mana-mana membawa dompet berisi uang, tetapi kemana-mana membawa hati, senyum dan kegembiraan. Kekayaan kita bukan diukur sejauh mana kita memiliki barang, atau uang, tetapi kekayaan kita diukur sejauh mana kemurahan hati, kita berikan kepada orang lain. Aku hanya bisa diam, dan merenung kotbah bijak yang pertama kali aku dengar dari seorang pemuda Papua bernama Kwane.
Kaya di mata Allah
Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpaan yang indah kepada orang Farisi tentang seorang kaya yang berlimpah-limpah harta kekayaan. Ia memikirkan bagaimana ia dapat menyimpan di tempat yang aman, kemudian membangun gedung yang besar untuk menyimpan kekayaannya. Ia berkata kepada jiwanya, “ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi keesokkan harinya jiwanya diambil oleh Tuhan. Ia mati. Lantas segala kekayaannya yang berlimpah-limpah tidak ada gunanya lagi.
Orang kaya dalam perumpamaan ini melupakan satu hal yang penting dalam hidup ini yakni bagaimana membuat dirinya kaya di mata Allah. Ia hanya mengumpulkan segala harta kekayaan duniawi yang dapat memberikan kebahagiaan tubuhnya, tetapi lupa untuk membuat dirinya kaya di mata Allah. Kaya di mata Allah, artinya pribadi-pribadi yang menghayati hidup yang penuh kemurahan hati, cinta dan kebaikan kepada sesama. Ini lah harta yang tersimpan di surga. Tidak jarang, kita alpa untuk mencari dan mengumpulkan harta seperti ini. Kita lebih tergiur untuk mengumpulkan harta duniawi. Kecemasan dan rasa takut membawa kita tidak lagi memikirkan harta yang tersimpan di surga. Tuhan Yesus berkata “ carilah dahulu Kerajaan Allah, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu”. Kata-kata Tuhan Yesus ini memiliki kekuatan yang luar biasa, karena Kerajaan Allah yang dimaksudkan oleh Yesus adalah cinta, kemurahan hati, kedamaian, pengampunan, belas kasih dan bila kita lakukannya dalam kehidupan kita sehari-hari, maka Allah akan menambahkan apa yang kita butuhkan saat ini. Janganlah cemas akan apa pun yang akan kamu makan, atau apapun yang akan kamu pakai, lihatlah burung di udara yang tidak pernah menabur, tetapi diberi makan oleh Allah. Kalau demikian manusia lebih berharga dari itu semuanya ini. Allah akan memperhatikan dan memelihara kehidupan kita.
Nyala Kasih

Kwane adalah seorang pemuda yang menghayati kata-kata Tuhan Yesus. Buatlah dirimu kaya di mata Allah. Ia masih muda, umurnya kira-kira 25 tahun. Ia gagal menjadi seorang perawat. Bahkan ia bercita-cita dan berkeinginan untuk menjadi seorang pastor. Selama dua tahun ia bekerja di paroki. Ia pekerja keras. Ketika ia menerima uang dari hasil kerjanya, uang itu diberikan untuk keluarga dan saudara-saudarinya. Sementara dia hanya mengambil sedikit untuk keperluaan hidupnya bahkan tidak sama sekali untuk dirinya. Ketika ia tidak bekerja lagi di paroki, ia berniat untuk kembali ke kampungnya dan membangun gereja di tempat asalnya. Ia sungguh-sungguh merealisasikan semangatnya dengan membangun iman umat di kampungnya. Ia sangat aktif dalam semua kegiatan rohani di gereja dengan mempersiapkan liturgi untuk umat yang datang pada hari minggu. Kadang-kala di hari-hari tertentu dia datang dari kampungnya dengan jalan kaki, kira-kira satu jam hanya untuk mencari lagu-lagu dan latihan nyanyi sendiri di gereja sampai sore hari. Semangat hidupnya itu juga ditunjukkan dalam semua aktivitas. Kalau bepergiaan untuk mengadakan kunjungan ke kampung selama satu minggu, dia selalu menyediakan dirinya untuk membawa barang-barang, bahkan suatu saat kami harus melewati sungai, dan kebetulan mesin motor kami mengalami kerusakan, dia turun dari perahu dan menarik perahu yang kami tumpangi di sungai, sampai ke tempat tujuan.
Ketika kutanya mengapa ia melakukan semuanya itu. Dengan senyum ia berkata bahwa dia melakukannya semuanya karena dia adalah instrument dari cinta Allah. Cahaya kasih harus dibagikan kepada orang lain, supaya orang lain juga dapat melihat terang. Inilah yang dapat dia bawa ke mana-mana, yakni cinta dan hati yang siap untuk membantu dan melayani orang lain. Aku meyakini bahwa jawaban Kwane adalah suatu jawaban dari kedalaman pengalaman dan penghayatan imannya terhadap cinta Tuhan. Ia melakukan dan menjalankan semuanya itu dari pengalaman hidupnya sehari-hari. Aku teringat kembali apa yang dikatakan oleh Kwane tentang dompet ketika kami melakukan perjalanan ke kota. Yang terpenting adalah kemana-mana tetaplah membawa cinta, kasih dan pengharapan. Rupanya apa yang dikatakan oleh Kwane mengalir dari kehidupannya sendiri. Sebagai seorang pemuda yang sangat sederhana, dia sudah mengerti tentang kehidupan dan arti cinta ini dengan sangat mendalam. Cinta adalah suatu peziarahan yang tidak pernah berhenti, keluar dari diri sendiri menuju orang lain melalui pemberiaan diri sendiri, pengorbanan, pengharapan sehingga orang lain pun mampu menemukan Allah.
Membawa Hati
Kemana-mana kita bepergiaan, kita selalu membawa dompet di saku belakang celana atau di dalam tas kecil kita. Di dalam dompet ada bermacam-macam jenis kartu. Ada kartu nama, kartu tabungan, uang, dan bermacam-macam lagi jenis barang yang kita simpan di dalam dompet kita. Sementara itu di saku pakaian kita yang lain, kita letakkan handphone. Bila sewaktu-waktu kita membutuhkan, atau orang menelepon kita, kita sudah menyiapkannya. Pendek kata segala sarana yang kita butuhkan kita ambil dan tak pernah kita lupa untuk membawanya. Inilah yang kita lakukan hampir setiap hari. Bahkan pada saat kita menghadiri perayaan ekaristi pada hari minggu, dompet dan handphone kita pun selalu tidak ketinggalan.
Namun, sangat berbeda yang dilakukan oleh Kwane, bila bepergiaan ke gereja sekalipun, ia tidak membawa dompet, apalagi handphone. Ia hanya membawa hati, kemurahan hati, kegembiraan, dan senyum. Inilah kekayaan hati yang dibawa ke mana pun Kwane pergi. Kekayaan bukan yang lagi ditentukan sejauh mana aku memiliki banyak barang, uang, handphone, tetapi kekayaan seorang kristiani sejauh mana kemurahan hati, kegembiraan, senyum, dan pelayanan aku bagikan kepada orang lain. Inilah sebuah nilai yang diajarkan oleh Kwane kepadaku “tentang mengumpulkan harta surgawi”. Inilah harta surgawi yang tersembunyi dalam diri orang-orang sederhana. Harta surgawi inilah yang selalu Kwane pelihara dan bawa ke mana-mana. Tidak memiliki dompet dan handphone membuat dirinya tidak memiliki banyak kebutuhan. Kebutuhannya yang sedikit membuat hidupnya lebih fokus pada pencarian harta surgawi.
Ketika aku memulai lagi suatu perjalanan, atau mlakukan suatu pekerjaan aku mengambil lagi dompetku, kuperhatikan isinya ada uang di dalamnya, kuperhatikan banyak kartu yang tersimpan di dalamnya. Tampak tebal di saku belakang celanaku. Sedangkan di saku celanaku yang lain, tidak pernah ketinggalan kuletakkan hand phone. Tiba-tiba aku diingatkan bahwa semuanya ini hanya sebuah sarana bagiku untuk menjadi seorang pembawa kabar gembira. Bukannya sarana ini menghalangi aku menjadi lebih leluasa membagi kasih dan kegembiraan kepada orang yang ada sekitarku. Dengan sarana ini pula menjadikan aku memiliki peluang yang lebih besar untuk mencintai dan melayani orang lain.
Kwane, pemuda sederhana telah mengajarkan kita akan arti pentingnya membawa hati ke mana pun kita pergi. Hati yang selalu memancarkan kegembiraan, dan bukan kesedihan, hati yang selalu belaskasih, dan bukan egoisme, hati yang selalu senyum, dan bukan hati yang selalu murung, hati yang selalu mencintai, dan bukan hati yang selalu menuntut, hati yang selalu menjadi pembawa damai, bukan hati yang membawa pertikaian, hati yang selalu percaya akan cinta Allah, dan bukan hati yang selalu takut. Inilah kekayaan hati yang selalu kita bawa, sehingga orang lain pun dapat mengalami Tuhan. Di dompet kita mungkin masih banyak barang mewah dan berharga, karena tersimpan uang, kartu kredit, foto orang-orang yang kita cintai, tetapi kedalaman hati Kwane mengajarkan kita bahwa kita juga mesti menyimpan hati kita yang murah hati ke mana pun kita bawa atau ke mana pun kita pergi. Inilah harta yang harus kita jaga, kita rawat dan kita bangun. Kini kabut putih yang menyelimuti pastoran sederhana di tengah hutan di sebuah bukit sudah tidak ada lagi. Kabut itu sudah pergi meninggalkan suatu jejak indah untuk selalu setia membawa hati ke mana pun aku pergi.
Fr. Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea. ( ahmans2006@yahoo.com.au) atau (belina_cm@dg.com.pg
Dikirim oleh: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Langganan:
Postingan (Atom)
