Senja baru saja kembali ke peraduaannya. Awan berarak pulang, terbang bersama suara alam memberitakan kidung malam. Nyanyian malam yang mengisahkan tentang kesunyiaan hati warga Papua. Nyanyian yang tidak bisa didengar dengan telinga, tetapi hanya bisa dirasakan dalam lubuk jiwa insan yang mengalaminya. Malam tak ada cahaya lampu lagi di rumah-rumah. Saat di mana persediaan minyak tanah di rumah mereka sudah tidak ada lagi. Saat di mana mereka datang ke kota untuk mencarinya di sana, tetapi di kota pun sudah habis. Saat di mana, beberapa minggu hujan tidak turun di kota, sehingga menyebabkan sungai mengalami kekeringan, dan kapal tidak dapat masuk ke pelabuhan Kiunga. Maka satu-satunyanya harapan mereka adalah cahaya lilin untuk menerangi hidup mereka di malam hari. Demikian juga di pastoran, tak ada lagi nyala listrik, persediaan disel untuk generator sudah habis. Yang ada cuma nyala lilin kecil di pastoran.
Di jalan masuk menuju gereja, terlihat beberapa umat yang berjalan dengan nyala lampu senter yang bergegas menuju pastoran. Mereka datang ke pastoran untuk mencari lilin. Kebetulan malam itu, di pastoran juga persediaan lilin sudah tidak ada lagi. Biasanya persediaan lilin selalu ada, tetapi saat itu sudah habis. Kami lupa membelinya di kota. Aku tahu keluarga Joan dan Jack serta anak-anaknya itu sangat mengharapkan ada persediaan lilin di pastoran. Ketika kukatakan bahwa tidak ada lilin lagi, mereka hanya berkata “no problem father”. Mereka terus duduk di beranda pastoran dan bercerita tentang kehidupan keluarga mereka, tentang anak mereka, dan tentang tak ada cahaya lampu lagi di malam hari. Aku hanya coba mendengarkan kisah tentang kehidupan keluarga mereka. Tak ada kata yang dapat aku ungkapkan, karena aku tahu mungkin ini yang bisa aku lakukan adalah mendengarkan kisah kehidupan mereka.
Lorong-Lorong Gelap
Joan adalah seorang guru yang mengajar di Elementary School. Suaminya bekerja sebagai security. Mereka dianugerahi dua orang anak. Suatu saat, Jenevi, anak yang paling terakhir, jatuh sakit. Ini merupakan pukulan berat bagi keluarga mereka. Berminggu-minggu, dan berbulan-bulan, dia dan suaminya harus menjaga Jenevi di rumah sakit. Jenivi yang masih kecil itu tidak dapat menahan rasa sakit. Hari-hari dia hanya bisa menangis. Ayah dan ibunya bingung dan sedih melihatnya. Jenivi tidak dapat mengerti dan menghayati rasa sakitnya. Yang dia lakukan adalah menangis, dan kadangkala dia berteriak, karena merasakan sakit yang luar biasa. Hari-hari Ayah dan ibunya hanya berdoa dan berdoa. Mereka sepertinya masuk dalam lorong-lorong hidup yang gelap. Tak ada terang yang memberi secercah harapan bagi anak mereka. Karena anak mereka terus menerus menangis. Keluarga ini sebenarnya takut, kalau-kalau terjadi sesuatu pada Jenevi. Jenevi sebenarnya mempunyai saudari kembar, tetapi sudah dipanggil oleh Tuhan. Rasa takut akan pengalaman yang sama membuat mereka berada dalam lorong-lorong kehidupan yang gelap. Doa sebagai satu-satunya harapan dan tempat mereka berkanjang menjadi tumpuan hidup keluarga mereka. Namun lorong-lorong penderitaan yang dirasakan oleh anak mereka membuat mereka bertanya “mengapa Tuhan”? Sebuah pertanyaan bernada menggugat. Karena takut kalau anak mereka mengalami kelumpuhan atau mengalami nasip yang sama yang dialami oleh saudari kembarnya Jenevi.
Sebagai keluarga kristiani yang setia dan berani berkorban dan melayani sesama. Pertanyaan mengapa Tuhan, penderitaan ini harus dialami oleh anak kami? Bukankah kami sudah setia mengikuti engkau? Bukankah kami tidak pernah melupakan engkau? Bukankah kami setia melayani engkau? Bukankah kami selalu giat mengikuti setiap kegiatan rohani dan sangat aktif membantu kehidupan iman umat di paroki? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak pernah terjawab, mengapa penderitaan, rasa sakit, dirasakan dan dialami oleh orang-orang yang setia kepada Allah, dan yang dermawan kepada orang lain? Namun akhirnya mereka menyadari misteri cinta Allah yang tersembunyi dan tidak dapat diketahui untuk saat ini. Mereka meyakini bahwa rencana Allah selalu indah bagi kehidupan mereka. Ada pesan dibalik semua penderitaan ini. Maka yang kami lakukan adalah terus berdoa. Malam hari kami melakukan doa bersama. Sebuah doa yang sederhana, mengingatkan bahwa pertolongan datang kepada kami dari Allah yang membuat langit dan bumi. Kami berusaha menemukan beberapa tindakan cinta untuk menghayati dan merasakan kehadiran Allah yakni melayani Jenevi dengan penuh cinta, hadir di tengah dia dan bersama dengan dia. Kami “menunggu” dan di dalam keheningan kami merasakan kasih Allah yang menyelamatkan. Lalu, sesudah itu kami melihat anak kami bisa tertidur. Kami tidak tahu apa yang terjadi keesokkan harinya, tetapi pada akhirnya kami merasa lebih baik. Lorong-lorong gelap itu tampak mulai ada cahaya, karena yakin bahwa pertolongan Tuhan datang pada waktunya. Dalam masa penantiaan menunggu, kami mencoba menghayati dalam keheningan. Di sanalah kasih Allah kami rayakan.
Pengalaman Getzemani
Ketika Yesus mengetahui bahwa dia akan menghadapi dan mengalami penderitaan, Yesus sungguh merasakan ketakutan yang luar biasa. Di taman Getzemani peluh darah mengalir di tubuhnya, karena ketakutan yang akan dihadapinya. Yesus berdoa sampai tiga kali. Bahkan Dia meminta para muridNya untuk menemani Dia dalam berdoa “tidak bisakah kamu bersamaku satu jam saja”? Yesus menggugat kesetiaan para muridNya. Namun akhirnya Dia menyadari karya perutusanNya “ Ya Bapa, biarlah piala ini berlalu dari padaKu, namun bukan karena kehendakKu, melainkan karena kehendakMu”. Tuhan Yesus sungguh-sungguh menyakini kasih BapaNya akan selalu menyertaiNya.
Saat mengalami penderitaan di Kayu salib, Tuhan Yesus merasa sendirian. Dia merasa ditinggalkan oleh BapaNya. “Ya Allahku, ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Yesus memasuki lorong-lorong gelap, karena merasa ditinggalkan oleh BapaNya. Namun, lorong-lorong gelap mulai ada cahaya ketika Yesus meyakini dan pasrah kepada kehendak BapaNya. Dia diutus untuk melanjutkan karya perutusan BapaNya di surga. Karya dan perutusan ini harus dilaksanakan. Puncak karya perutusanNya adalah penderitaan, dan wafat di kayu salib. Pada titik ini Yesus menyadari dan mengetahui bahwa BapaNya mempunyai rencana yang indah bagi DiriNya.
Sahabat Allah
Pengalaman penderitaan merefleksikan suatu pengalaman manusia yang tidak mengenakan. Seperti halnya yang dialami oleh Yesus ketika menghadapi penderitaan adalah rasa takut dan merasa ditingalkan oleh BapaNya di surga. Pengalaman yang sama acap kali juga kita alami dalam hidup kita yakni merasa ketakutan dan ditinggalkan oleh Tuhan. Maka pertanyaan bernada menggugat seperti ini seringkali kita lakukan adalah “mengapa Tuhan ini terjadi padaku”. Mengapa aku harus menanggung penderitaan seperti ini? Mengapa keluargaku harus menanggung penderitaan seperti ini? Namun pertanyaan seperti ini tak pernah tuntas terjawab, karena kemampaun kita sangat terbatas untuk menyelami rencana Allah atas hidup kita. Disini pentinglah kita memiliki iman seperti yang dilakukan oleh keluarga Joan dan Jack. Ungkapan mereka adalah rencana Allah selalu indah, bahkan pada saat kita mengalami situasi penderitaan. Hanya iman dapat membuat kita memiliki pengharapan, bahwa sesuatu akan terjadi yang tidak dapat kita ramalkan yakni tangan Allah selalu menyapa dengan lembut. Jika kita memiliki pengharapan, maka kita akan memiliki keberanian untuk sabar menanti pertolongan dari Tuhan.
Saat-saat mengalami penderitaan adalah saat-saat kita merasakan keterbatasan kita sebagai manusia. Namun rencana Allah yang indah dibalik itu akan kita rasakan, bila kita memiliki iman. Betapa kita semakin dekat dengan Tuhan. Saat-saat seperti itu adalah saat-saat kita membiarkan diri kita menjadi sahabat Allah. Kesempatan kita untuk merajuk persahabatan dengan Tuhan dalam doa-doa kita. Waktu kita menjadi tersedia untuk Tuhan. Karena satu-satuNya harapan dan tempat kita mengadu adalah berseru kepada Allah. Keluarga Joan dan Jack sudah mengalami saat-saat seperti itu. Tatkala lorong-lorong gelap mereka tapaki, ketakutan dan keputusasaan mereka alami, namun ketika iman dan keyakinan berkobar dalam hati mereka, mereka menjadi sadar bahwa pertolongan dari Tuhan akan datang pada waktunya. Kekuatan yang memungkinkan mereka berada dalam keberanian untuk bersabar adalah karena Tuhan adalah sahabat mereka. Mereka mengisi hari-hari bersama dengan Jenevi dengan doa, melayani Jenevi dengan penuh cinta dan senyum.
Nyala Kasih
Kisah kehidupan keluarga Joan dan Jack membuka mata hatiku akan misteri kasih Allah yang tersembunyi. Allah mempunyai rencana indah bagi hidup kita. Yang terjadi adalah seringkali kita gagal untuk melihat cinta Allah karena terlanjur hidup dalam keputusasaan. Saat-saat penderitaan kita lihat sebagai bentuk hukuman dari Allah. Allah bagi kita adalah seorang hakim yang siap memukul gendang palu untuk memberikan hukuman atas segala sikap hidup kita. Dengan demikian, kita gagal melihat Allah sebagai seorang Bapa yang penuh belas kasih. Bapa yang mau menerima anaknya kembali. Bila kita mampu melihat kasih Allah yang demikian, nyala kasih itu sedang menerangi lorong-lorong gelap kehidupan kita. Hanya dengan iman, harap dan kasih, kita akan mampu melihat semuanya itu. Pertanyaan mengapa Tuhan akan tersingkapkan kepada kita. Karena dibalik semua penderitaan ada pesan bagi kehidupan kita yakni nyala kasih terpancar di sana.
Nyala lilin di pastoran sudah hampir habis. Hampir dua jam, keluarga Jack dan Joan berkisah tentang pengalaman iman mereka. Pengalaman yang sungguh mengalir dari kedalaman hidup mereka. Ketika mereka pamit kembali ke rumah, pertanyaan mengapa Tuhan masih ada di benakku. Mengapa Tuhan mereka sudah miskin, dan sekarang tidak ada lagi persediaan minyak tanah? Mengapa hujan tidak turun di kota sehingga sungai kering dan kapal laut tidak dapat merapat ke pelabuhan. Mengapa aku tidak menyediakan lilin di pastoran? Aku sendiri pun tidak menemukan jawaban yang tuntas. Namun aku ingat kisah kehidupan Jack dan Joan, berdoalah bahwa pertolongan akan datang pada waktunya. Lakukan sesuatu yakni mencoba mendengarkan kisah kehidupan mereka dengan kasih. Miliki pengharapan bahwa Tuhan selalu mempunyai rencana yang indah.
Dua minggu kemudian, nyala lampu di rumah-rumah penduduk mulai terang kembali. Persedian minyak tanah di rumah-rumah dan di kota sudah ada lagi. Bahkan disel untuk generator di pastoran pun sudah ada lagi . Hujan mulai turun lagi membasahi jalan-jalan di kota dan mengenangi sungai kembali. Kini aku sadar seperti itulah kehidupan. Kita perlu mengalami dan merasakan lorong-lorong yang gelap dalam hidup kita. Seperti Mother Theresa juga mengalami pengalaman berada dalam lorong-lorong gelap. Dalam surat-suratnya yang ditulis untuk superior jendral, ia menulis tentang pengalaman kekosongan dan kegelapan dalam hidupnya. (“...God, please forgive me. When I try to raise my thoughts to Heaven, there is such convicting emptiness that those very thought return like sharp knives and hurt my very soul. I am told God loves me, and yet the reality of darkness and coldness and emptiness is so great that nothing touches my soul. Did I make a mistake in surrendering blindly to the call of Sacred Heart)( Time, September 3rd 2007). Mother Theresa sendiri pun mengalami pengalaman berada dalam lorong-lorong gelap. Kepada Father Lawrance Picachy, August 1957, Ia menulis “Tell me, Father, why is there so much pain and darkness in my soul?” Mother Theresa juga bertanya “mengapa aku mengalami penderitaan dan saat gelap dalam hidup ini. Tetapi Mother Theresa juga menulis dalam pengalamannya (“If this brings you glory, if souls are brought to you, with joy I accept all to the end of my life”). Seperti Mother Theresa, kita sendiri juga mengalami saat-saat gelap dalam hidup kita. Saat kita sendiri sakit, atau saat orang yang kita cintai menderita pengalaman yang pahit atau juga saat anak-anak kita mengalami sejumlah kegagalan dalam hidup atau, saat anak-anak kita tidak lagi peduli dengan kehidupan kita. Saat-saat seperti itu mungkin kita selalu bertanya “mengapa Tuhan”? Namun dibalik peristiwa itu ada makna yang mendalam, agar kita semakin mengerti bagaimana mencintai dan bagaimana belas kasih itu kita hayati.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
To All of You,
Dengarkan Musik Ini
Super Mario Game
INFO SINGKAT
Send texts to over 200 countries with CardBoardFish
Beri Masukan Untuk Kami
|
|
Tampilkan postingan dengan label werang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label werang. Tampilkan semua postingan
Jumat, Agustus 15, 2008
Selasa, Juli 29, 2008
TIGA MENIT
Dia selalu duduk diam. Sesekali dia tersenyum dan hanya mengatakan good morning, good afternoon dan good night, bila aku menyapanya. Karena Ia tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Ia hanya berbicara dalam bahasa Awim (bahasa daerah mereka). Setiap pagi dia berangkat dari rumahnya dengan jalan kaki. Di kepalanya disangulkan tas (bilum) dengan berbagai macam barang dan bergegas ke tepi jalan untuk menjajakan barang dagangannya. Tidak terlalu banyak barang dagangannya, hanya beberapa pak rokok, korek api, jenis umbi-umbian dan sirih pinang. Ia tak memiliki tempat berteduh, selain payung yang ditancapkan begitu saja pada tanah dan dia duduk dibawahnya dengan barang dagangnnya. Setiap mobil yang lewat di tepi jalan tak henti-hentinya dia tersenyum dan melambaikan tangan. Ketika hari sudah menunjukkan jam 12, dia mengemaskan barang dagangannya, kembali ke rumahnya untuk makan siang dan melepaskan lelah sejenak bersama dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Jam dua siang, dia akan kembali lagi menjajakan barang dagangannya. Demikianlah kesehariaan hidup Ari Linda. Umurnya kira-kira 70 tahun. Nama ibu itu sebenarnya Linda, tetapi karena dia sudah tua, di depan nama Linda diberi nama Ari. Nama “Ari” hanya dikenakan pada ibu-ibu yang sudah memasuki usia senja. Tepatnya mereka yang sudah menjadi nenek.
Ari Linda hidup sangat sederhana, tetapi seorang yang saleh. Dia selalu terlibat dalam semua bentuk kegiatan rohani. Suatu saat, kami mengadakan sharing kitab suci, “metode tujuh langkah”. Metode ini pertama kali kami adakan. Kami membuat liturgi yang menarik. Kami duduk membentuk lingkaran. Sedangkan di tengah-tengahnya diletakkan salib, lilin, kitab suci, dan jenis makanan khas mereka, pisang, sagu dan umbi-umbiaan. Saat sharing kitab suci, semua yang hadir tidak ketinggalan untuk menceritakan pengalaman hidup dan iman mereka, tak terkecuali Ari Linda. Saat Ari Linda berkisah tentang pengalamannya, beberapa orang berkata “drinu” artinya benar apa yang dikatakannya. Aku tidak memahami satu kata pun apa yang dikatakan oleh Ari Linda. Namun aku penasaran dan mencoba mencari penjelasan. Aku mendapat informasi dari penerjemah bahwa setiap malam Ari Linda menghabiskan waktu 3 menit untuk bertemu dengan Tuhan. Sederhana saja yang dilakukannya; menit pertama, ia mencoba merenungkan apa yang membuatnya merasa bahagia hari ini. Ia mulai merenungkan bahwa ternyata banyak pembeli yang datang ke tempat dagangannya. Melihat cucu-cucunya yang memang lucu-lucu dan menyenangkan. Ia berkata kepada Yesus tentang kegembiraan ini. Dan akhirnya ia mengucap syukur atas pengalaman kegembiraan kecil hari ini. Menit yang kedua, ia merenungkan bahwa seharian ini, kadangkala ia kurang sabar, dan kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya. Dia katakan kepada Yesus tentang kelemahannya dan meminta Yesus untuk mengampuni segala dosanya. Akhirnya menit yang ketiga, dia melihat untuk keesokkan harinya. Ia berpikir bahwa akan menghadapi banyak kesulitan, karena harus pergi ke kota untuk belanja barang dagangannya. Dan terkadang takut barang dagangannya tidak laku. Dia berbicara kepada Yesus tentang masalah ini, dan meminta penerangan dan kekuatan dari tanganNya.
Doa Ari Linda yang sangat sederhana membuat aku terkesima, betapa kedalaman hatinya terpancar sukacita dan kegembiraan yang mendalam, karena relasi yang akrab dengan Tuhan. Tuhan memberikan hati seorang “Ari” yang selalu tekun dan berani berbagi tentang pengalaman iman yang sederhana, tetapi memberikan penerangan hati bagi siapa saja termasuk aku.
Masuk dalam Relasi
Menyimak kehidupan Yesus dan perutusananNya, jelas bahwa Yesus selalu mengajak para muridNya untuk meluangkan waktu untuk berdoa. Setelah berkeliling dari desa ke desa mengadakan mujisat, menyembuhkan orang sakit, dan memberi makan kepada banyak orang, Yesus datang dan berdoa kepada bapaNya. Rasa lelah, capek, dan sibuk dengan karya perutusanNya bukanlah alasan untuk tidak berdoa kepada BapaNya. Doa adalah kekuatan dan sumber pengharapan dan kegembiraan Yesus dalam karya perutusanNya. Tidak jemu-jemunya dia berdoa dan mohon kekuatan dari BapaNya, bahkan saat di kayu salib, Dia masih berdoa dan meminta kekuatan dari BapaNya.
Namun, di lain kesempatan Yesus mengeritik kebiasaan doa dari orang-orang Farisi sebagai orang yang munafik, karena mereka berdoa di sudut-sudut jalan, dengan jubah yang panjang-panjang, tampak saleh, tetapi dengan suatu motivasi yang terselubung supaya dilihat orang dan tampak sebagai orang yang beragama. Yesus berkata, kalau engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu dan berdoalah di tempat yang tersembunyi, karena BapaMu yang berada di tempat yang tersembunyi akan mengetahuinya. Yesus mengajak para muridnya untuk memiliki kebiasaan berdoa. Doa bukan karena supaya mendapat pujian, atau keinginan untuk mendapat penghargaan dari orang lain karena dilihat sebagai orang saleh, tetapi doa adalah suatu pengalaman masuk dalam relasi yang pribadi dengan Allah. Doa adalah suatu kebutuhan untuk menjalin relasi yang akrab dengan Allah. Dengan masuk dalam relasi yang mesra dengan Allah, maka kekuatan dan cinta Allah itu dapat dirasakan dan dialami.
Setelah Yesus pergi kepada BapaNya di surga, para murid menyadari arti pentingnya berdoa. Mereka mulai berkumpul bersama, berbagi pengalaman imannya, dan berdoa bersama. Doa menjadi suatu kekuatan dan sumber pengharapan mereka. Stefanus, adalah salah satu contohnya. Menghadapi penderitaan, hingga dirajam sampai mati, ia berdoa kepada Yesus agar dikuatkan imannya dalam menghadapi segala bentuk penderitaan. Stefanus mengerti dengan benar, doa membuat dia berani untuk memberi kesaksiaan tentang kebenaran, dan cinta Allah. Rasul Petrus juga juga mengalami doa sebagai sumber kekuatan dan pengharapannya. Ketika ia mengalami begitu banyak penderitaan, dan akhirnya ditangkap dan harus berada di penjara. Ia berdoa, dan akhirnya malaikat Tuhan datang membantu dia membuka terali besi, sehingga dia bisa keluar dari penjara dengan bebas. Pengalaman Yesus dan para muridNya menunjukkan kepada kita, doa adalah sumber kekuatan bagi seseorang. Tanpa doa, manusia kehilangan kekuatan cinta.
Berkanjang dalam Pengharapan
Memupuk kebiasaan berdoa bukanlah hal yang mudah bagi orang jaman sekarang. Kesibukan kita kian menyita waktu untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan. “Aku tidak mempunyai waktu untuk berdoa”. Tidak ada gunanya aku berdoa siang malam, toh Tuhan tak pernah mengabulkan permohonanku. Bagaimana aku bisa berdoa, aku harus mengurus banyak hal dengan tugas-tugasku. Demikian alasan klasik yang seringkali kita katakan. Yang terjadi adalah kesempatan untuk membangun relasi dengan Allah menjadi hilang. Sehingga makna dan arti hidup menjadi bias. Hidupku menjadi tidak berarti, karena makanan bagi santapan jiwa tidak terpenuhi.
St Vinsensius mempunyai pengalaman tersendiri tentang doa. Dia berdoa kepada Tuhan dengan rumusan yang sederhana tetapi kaya. “Tuhan berilah aku seorang pendoa, maka semuanya dapat aku lakukan”. Vinsensius menyakini bahwa doa adalah sumber kekuatan bagi seorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Dengan doa, kita dapat melakukan apa pun juga yang bagi kita tidak mungkin menjadi mungkin. Karena kita bekerja dengan kekuatan yang datang dari Allah, bersumber dan mengalir dari Allah. Karya-karya besar yang dilakukan oleh St. Vinsensius dapat berjalan dengan baik karena kekuatan doa yang mengalir padanya. Demikian halnya St. Igantius Loyola berkata, doa adalah nafas hidup kita. Seperti kita menghirup udara dan memberikan kehidupan bagi setiap orang, demikian halnya juga dengan doa. Tanpa doa, atau tanpa nafas, kita akan kehilangan kehidupan. Doa adalah sumber pemberi dan santapan jiwa yang memberikan kelegaan dan kegembiraan bagi setiap orang. Sedemikian pentingnya doa, St. Agustinus berkata kepada Tuhan setelah mengalami pertobatan “Jiwaku tidak dapat tenang, sebelum aku beristirahat dalam damaiMu Tuhan”. Ungkapan ini melukiskan kedalaman kerinduaan St. Agustinus akan relasi yang mendalam dengan Tuhan untuk merebut kelegaan jiwa. Apa yang dilakukan oleh mereka adalah bukti bahwa berkanjang dalam doa mendatangkan kegembiraan, kekuatan, dan kedamaian di hati.
Kelegaan Hati
Dalam doa, sering kita mengalami pergumulan dengan Tuhan. Suatu saat, di mana kita mengalami kemandekan dalam doa, kecewa dengan Tuhan karena doa-doa kita tidak belum terkabul, putus asa, kisah tentang kehidupan doa Ari Linda memberikan pengharapan baru bagi kita untuk terus membangun relasi dengan Tuhan. Ari Linda mempunyai rumusan yang sangat sederhana untuk merebut kelegaan hati melalui doa dalam tiga menit. Menghabiskan waktu dalam tiga menit untuk berdoa sebelum merebakan tubuh bukanlah sesuatu yang sukar atau sulit untuk kita jalankan. Tiga menit sungguh-sungguh akan memberikan kelegaan hati di dalam jiwanya, karena seperti kata St. Agutinus, jiwa kita dapat tenang, karena beristirahat dengan damai dalam Tuhan.
Dalam doa, memang ada saat-saat di mana luapan sukacita yang mendalam yang kita alami dan rasakan. Akan tetapi tidak jarang pula kekosongan dan kehampaan yang kita rasakan di dalam doa. Kadangkala pula pandangan hati kita tidak lagi terarah kepada Tuhan. Bila kita tetap berdoa, meskipun mengalami kekosongan yang kita rasakan, Tuhan akan memberikan apreasiasi atas perjuangan kita.
Ketika kembali ke kamarku, aku merenungkan apa yang disharingkan oleh Ari Linda kepada kami. Benar! Doa seharusnya menjadi nafas bagi hidupku. Setiap menit, adalah saat-saat merasakan dan mengalami cinta Tuhan. Ketika lelah menghinggapi hidupku, kejenuhan dan kebosanan datang dalam banyak rupa, aku hanya datang kepada Tuhan, dalam tiga menit, melihat kembali saat-saat kebahagian yang aku alami, aku syukuri, saat-saat di mana aku lalai dengan tugasku, karena kelemahan pribadiku, aku minta maaf, dan saat-saat di mana ada rasa takut, cemas yang menghantuiku, aku minta kepada Tuhan untuk memohon penerangan dan bimbingan dari ROh Kudus. Cara sederhana yang diajarkan oleh Ari Linda ternyata memberikan kelegaan dalam diriku. Saat-saat di mana doaku semakin kering, saat di mana aku mengalami kekosongan, aku selalu berusaha untuk datang bertemu dengan Tuhan. Karena yakin, Tuhan tetap memberi apresiasi atas perjuanganku. Nasihat yang sederhana dan bijaksana dari Ari Linda, tetaplah berkanjang dalam doa memberikan kelegaan hati bahwa Dalam situasi apapun tetaplah berdoa dan berharap kepada Allah.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Ari Linda hidup sangat sederhana, tetapi seorang yang saleh. Dia selalu terlibat dalam semua bentuk kegiatan rohani. Suatu saat, kami mengadakan sharing kitab suci, “metode tujuh langkah”. Metode ini pertama kali kami adakan. Kami membuat liturgi yang menarik. Kami duduk membentuk lingkaran. Sedangkan di tengah-tengahnya diletakkan salib, lilin, kitab suci, dan jenis makanan khas mereka, pisang, sagu dan umbi-umbiaan. Saat sharing kitab suci, semua yang hadir tidak ketinggalan untuk menceritakan pengalaman hidup dan iman mereka, tak terkecuali Ari Linda. Saat Ari Linda berkisah tentang pengalamannya, beberapa orang berkata “drinu” artinya benar apa yang dikatakannya. Aku tidak memahami satu kata pun apa yang dikatakan oleh Ari Linda. Namun aku penasaran dan mencoba mencari penjelasan. Aku mendapat informasi dari penerjemah bahwa setiap malam Ari Linda menghabiskan waktu 3 menit untuk bertemu dengan Tuhan. Sederhana saja yang dilakukannya; menit pertama, ia mencoba merenungkan apa yang membuatnya merasa bahagia hari ini. Ia mulai merenungkan bahwa ternyata banyak pembeli yang datang ke tempat dagangannya. Melihat cucu-cucunya yang memang lucu-lucu dan menyenangkan. Ia berkata kepada Yesus tentang kegembiraan ini. Dan akhirnya ia mengucap syukur atas pengalaman kegembiraan kecil hari ini. Menit yang kedua, ia merenungkan bahwa seharian ini, kadangkala ia kurang sabar, dan kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya. Dia katakan kepada Yesus tentang kelemahannya dan meminta Yesus untuk mengampuni segala dosanya. Akhirnya menit yang ketiga, dia melihat untuk keesokkan harinya. Ia berpikir bahwa akan menghadapi banyak kesulitan, karena harus pergi ke kota untuk belanja barang dagangannya. Dan terkadang takut barang dagangannya tidak laku. Dia berbicara kepada Yesus tentang masalah ini, dan meminta penerangan dan kekuatan dari tanganNya.
Doa Ari Linda yang sangat sederhana membuat aku terkesima, betapa kedalaman hatinya terpancar sukacita dan kegembiraan yang mendalam, karena relasi yang akrab dengan Tuhan. Tuhan memberikan hati seorang “Ari” yang selalu tekun dan berani berbagi tentang pengalaman iman yang sederhana, tetapi memberikan penerangan hati bagi siapa saja termasuk aku.
Masuk dalam Relasi
Menyimak kehidupan Yesus dan perutusananNya, jelas bahwa Yesus selalu mengajak para muridNya untuk meluangkan waktu untuk berdoa. Setelah berkeliling dari desa ke desa mengadakan mujisat, menyembuhkan orang sakit, dan memberi makan kepada banyak orang, Yesus datang dan berdoa kepada bapaNya. Rasa lelah, capek, dan sibuk dengan karya perutusanNya bukanlah alasan untuk tidak berdoa kepada BapaNya. Doa adalah kekuatan dan sumber pengharapan dan kegembiraan Yesus dalam karya perutusanNya. Tidak jemu-jemunya dia berdoa dan mohon kekuatan dari BapaNya, bahkan saat di kayu salib, Dia masih berdoa dan meminta kekuatan dari BapaNya.
Namun, di lain kesempatan Yesus mengeritik kebiasaan doa dari orang-orang Farisi sebagai orang yang munafik, karena mereka berdoa di sudut-sudut jalan, dengan jubah yang panjang-panjang, tampak saleh, tetapi dengan suatu motivasi yang terselubung supaya dilihat orang dan tampak sebagai orang yang beragama. Yesus berkata, kalau engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu dan berdoalah di tempat yang tersembunyi, karena BapaMu yang berada di tempat yang tersembunyi akan mengetahuinya. Yesus mengajak para muridnya untuk memiliki kebiasaan berdoa. Doa bukan karena supaya mendapat pujian, atau keinginan untuk mendapat penghargaan dari orang lain karena dilihat sebagai orang saleh, tetapi doa adalah suatu pengalaman masuk dalam relasi yang pribadi dengan Allah. Doa adalah suatu kebutuhan untuk menjalin relasi yang akrab dengan Allah. Dengan masuk dalam relasi yang mesra dengan Allah, maka kekuatan dan cinta Allah itu dapat dirasakan dan dialami.
Setelah Yesus pergi kepada BapaNya di surga, para murid menyadari arti pentingnya berdoa. Mereka mulai berkumpul bersama, berbagi pengalaman imannya, dan berdoa bersama. Doa menjadi suatu kekuatan dan sumber pengharapan mereka. Stefanus, adalah salah satu contohnya. Menghadapi penderitaan, hingga dirajam sampai mati, ia berdoa kepada Yesus agar dikuatkan imannya dalam menghadapi segala bentuk penderitaan. Stefanus mengerti dengan benar, doa membuat dia berani untuk memberi kesaksiaan tentang kebenaran, dan cinta Allah. Rasul Petrus juga juga mengalami doa sebagai sumber kekuatan dan pengharapannya. Ketika ia mengalami begitu banyak penderitaan, dan akhirnya ditangkap dan harus berada di penjara. Ia berdoa, dan akhirnya malaikat Tuhan datang membantu dia membuka terali besi, sehingga dia bisa keluar dari penjara dengan bebas. Pengalaman Yesus dan para muridNya menunjukkan kepada kita, doa adalah sumber kekuatan bagi seseorang. Tanpa doa, manusia kehilangan kekuatan cinta.
Berkanjang dalam Pengharapan
Memupuk kebiasaan berdoa bukanlah hal yang mudah bagi orang jaman sekarang. Kesibukan kita kian menyita waktu untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan. “Aku tidak mempunyai waktu untuk berdoa”. Tidak ada gunanya aku berdoa siang malam, toh Tuhan tak pernah mengabulkan permohonanku. Bagaimana aku bisa berdoa, aku harus mengurus banyak hal dengan tugas-tugasku. Demikian alasan klasik yang seringkali kita katakan. Yang terjadi adalah kesempatan untuk membangun relasi dengan Allah menjadi hilang. Sehingga makna dan arti hidup menjadi bias. Hidupku menjadi tidak berarti, karena makanan bagi santapan jiwa tidak terpenuhi.
St Vinsensius mempunyai pengalaman tersendiri tentang doa. Dia berdoa kepada Tuhan dengan rumusan yang sederhana tetapi kaya. “Tuhan berilah aku seorang pendoa, maka semuanya dapat aku lakukan”. Vinsensius menyakini bahwa doa adalah sumber kekuatan bagi seorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Dengan doa, kita dapat melakukan apa pun juga yang bagi kita tidak mungkin menjadi mungkin. Karena kita bekerja dengan kekuatan yang datang dari Allah, bersumber dan mengalir dari Allah. Karya-karya besar yang dilakukan oleh St. Vinsensius dapat berjalan dengan baik karena kekuatan doa yang mengalir padanya. Demikian halnya St. Igantius Loyola berkata, doa adalah nafas hidup kita. Seperti kita menghirup udara dan memberikan kehidupan bagi setiap orang, demikian halnya juga dengan doa. Tanpa doa, atau tanpa nafas, kita akan kehilangan kehidupan. Doa adalah sumber pemberi dan santapan jiwa yang memberikan kelegaan dan kegembiraan bagi setiap orang. Sedemikian pentingnya doa, St. Agustinus berkata kepada Tuhan setelah mengalami pertobatan “Jiwaku tidak dapat tenang, sebelum aku beristirahat dalam damaiMu Tuhan”. Ungkapan ini melukiskan kedalaman kerinduaan St. Agustinus akan relasi yang mendalam dengan Tuhan untuk merebut kelegaan jiwa. Apa yang dilakukan oleh mereka adalah bukti bahwa berkanjang dalam doa mendatangkan kegembiraan, kekuatan, dan kedamaian di hati.
Kelegaan Hati
Dalam doa, sering kita mengalami pergumulan dengan Tuhan. Suatu saat, di mana kita mengalami kemandekan dalam doa, kecewa dengan Tuhan karena doa-doa kita tidak belum terkabul, putus asa, kisah tentang kehidupan doa Ari Linda memberikan pengharapan baru bagi kita untuk terus membangun relasi dengan Tuhan. Ari Linda mempunyai rumusan yang sangat sederhana untuk merebut kelegaan hati melalui doa dalam tiga menit. Menghabiskan waktu dalam tiga menit untuk berdoa sebelum merebakan tubuh bukanlah sesuatu yang sukar atau sulit untuk kita jalankan. Tiga menit sungguh-sungguh akan memberikan kelegaan hati di dalam jiwanya, karena seperti kata St. Agutinus, jiwa kita dapat tenang, karena beristirahat dengan damai dalam Tuhan.
Dalam doa, memang ada saat-saat di mana luapan sukacita yang mendalam yang kita alami dan rasakan. Akan tetapi tidak jarang pula kekosongan dan kehampaan yang kita rasakan di dalam doa. Kadangkala pula pandangan hati kita tidak lagi terarah kepada Tuhan. Bila kita tetap berdoa, meskipun mengalami kekosongan yang kita rasakan, Tuhan akan memberikan apreasiasi atas perjuangan kita.
Ketika kembali ke kamarku, aku merenungkan apa yang disharingkan oleh Ari Linda kepada kami. Benar! Doa seharusnya menjadi nafas bagi hidupku. Setiap menit, adalah saat-saat merasakan dan mengalami cinta Tuhan. Ketika lelah menghinggapi hidupku, kejenuhan dan kebosanan datang dalam banyak rupa, aku hanya datang kepada Tuhan, dalam tiga menit, melihat kembali saat-saat kebahagian yang aku alami, aku syukuri, saat-saat di mana aku lalai dengan tugasku, karena kelemahan pribadiku, aku minta maaf, dan saat-saat di mana ada rasa takut, cemas yang menghantuiku, aku minta kepada Tuhan untuk memohon penerangan dan bimbingan dari ROh Kudus. Cara sederhana yang diajarkan oleh Ari Linda ternyata memberikan kelegaan dalam diriku. Saat-saat di mana doaku semakin kering, saat di mana aku mengalami kekosongan, aku selalu berusaha untuk datang bertemu dengan Tuhan. Karena yakin, Tuhan tetap memberi apresiasi atas perjuanganku. Nasihat yang sederhana dan bijaksana dari Ari Linda, tetaplah berkanjang dalam doa memberikan kelegaan hati bahwa Dalam situasi apapun tetaplah berdoa dan berharap kepada Allah.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Minggu, Juni 15, 2008
SEPATU

Sudah agak lama ia memperhatikan sepatu keakungannya. Diletakkan begitu saja di sudut rumahnya. Satu-satunya hadiah dari orang tuanya. Sepatu itu penuh lumpur. Diambilnya kain dan dibersihkannya perlahan-lahan, hingga tampak lumpur yang melekat pada sepatu itu tidak kelihatan lagi. Meskipun ia tahu, kalau dia bepergian, dan harus melewati jalan yang berlumpur dan jalan yang becek, sepatunya pasti akan kotor lagi.
Sepatu adalah satu-satunya sahabatnya. Ke mana saja ia pergi, sepatu itu selalu dikenakan. Tatkala ia melewati hutan, sungai, pergi ke kota, bahkan ke gereja, sepasang sepatu satu-satunya itu selalu melekat di kaki. Kalau hendak pergi tidur, sepatu itu baru akan dilepaskan dari kakinya. Namun, sepatu itu sekarang itu tidak dapat digunakan lagi, tampak sobek di mana-mana. Kini ia tidak memiliki lagi sepatu itu. Ia tidak mempunyai niat untuk membeli sepatu lagi, karena untuk makanan saja sangat sulit. Terkadang ia hanya makan sekali saja dalam sehari.
Ia tidak pernah sedih tidak memakai sepatu ketika datang ke kota, bahkan dia tak pernah malu untuk datang ke gereja tanpa sepatu dan sandal, karena baginya bukan sepatu yang diminta oleh Tuhan, tetapi hati, kerinduan jiwalah yang diminta oleh Tuhan. Demikianlah kisah Simon tentang sepasang sepatu satu-satunya.
Sepatu Berbicara tentang Status

Sepatu berbicara tentang siapa diri kita. Ada orang mengatakan kita memakai hati kita pada tapak kaki. Sepatu adalah indikasi yang paling baik bagaimana orang merasakan dirinya. Bila sepatu yang dikenakan itu indah, bermerek, orang akan dengan mudah mengatakan bahwa orang ini memiliki kedudukan yang tinggi. Bila sepatu yang dikenakan adalah sepatu bot, orang akan dengan mudah berpikiran bahwa pasti dia seorang tentara. Dari sepatu, kita akan mengetahui siapakah dirinya. Kita juga akan dapat mengetahui kepada siapa, ia mengabdi. Maxim Gorky seorang penulis Rusia mengatakan sepasang sepatu bot lebih akan mengabdi kepada kekuasaan dari pada sepasang mata yang hitam. Sepatu itu akan menghentikan kematian yang lebih dini.
Namun sepasang sepatu akan berbicara lain tentang orang Papua. Bagi orang Papua, sepatu adalah barang mewah. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sepatu. Kalaupun mereka menggenakan sepatu, tampak lumpur dan sobek di mana-mana. Karena ada hal yang lebih penting dari sepatu yakni bagaimana mereka bisa makan. Kebanyakan mereka, kecil, tua dan muda ke mana-mana tanpa alas kaki. Mereka sepertinya sudah menyatu dengan kehidupan mereka. Meskipun terik matahari yang menyengat, dan lumpur di jalanan, mereka tetap berjalan tanpa alas kaki. Demikian halnya juga tatkala mereka datang ke gereja menghadiri perayaan ekaristi. Pada umumnya mereka tidak mengenakan sandal, apalagi sepatu.
Keindahan Jiwa

Masyarakat modern memandang sepatu sebagai suatu gaya hidup. Maka orang berlomba-lomba mencari merek sepatu yang terbaik, dan paling mahal. Sepatu memiliki fungsinya masing-masing, tergantung situasi dan tempat. Tatkala orang datang ke tempat umum, sepatunya merek luar negeri, dan ketika datang ke gereja, orang memakai sepatu merek dari negara lain. Orang mengetahui saat kapan harus menggunakan sepatu jenis ini dan sepatu jenis itu. Sedemikian pentingnya sepatu, sehingga berbagai merek sepatu terpajang di rak-rak lemari.
Kenyataan seperti itu tidak ditemukan pada orang Papua. Sepatu jarang ada di rumah mereka, apalagi sepatu yang bermerek. Seperti halnya, di rumahnya Simon yang sederhana. Simon berkisah untuk makan saja sulit, apalagi untuk membeli sepatu bermerek. Namun Simon tak pernah merasa minder karena tidak memiliki sepatu tatkala datang ke Gereja. Ia mempunyai keyakinan bahwa Tuhan tak pernah merasa kecewa dengan dirinya karena kakinya penuh lumpur. Yang Tuhan minta adalah kerendahan hati dari dirinya. “Aku tidak pernah memiliki keinginan yang banyak, harus memakai sepatu yang indah dan bermerek ke Gereja, karena bagiku hati yang selalu bersyukur, karena diberi kehidupan oleh Tuhan. Itu sudah cukup bagiku”.
Taoisme pernah berkata bahwa orang sukar menjadi bijaksana dan suci karena terlalu banyak mempunyai keinginan. Keinginan yang banyak membuat diri manusia terpenjara di dalam dirinya, karena ketika orang itu memenuhi satu keinginan, akan muncul keinginan lainnya, dan seterusnya. Keinginan yang banyak bagaikan sebuah mata rantai yang tak pernah berakhir. Sehingga hidup manusia kehilangan fokus dan arah hidupnya yang sebenarnya.
Simon adalah gambaran wajah orang-orang Papua yang sederhana, tidak mempunyai keinginan yang meluap-luap tetapi memiliki kebijaksanaan hidup. Hidup apa adanya dan mengalir begitu saja, seperti air sungai yang mengalir dari dataran tinggi menuju dataran yang rendah. Ia tetap bening dan cemerlang, karena ia mengalir dalam keheningan dan ketenangan. Kehidupan Yesus adalah cermin kehidupan yang sederhana. Yesus hanya memiliki satu keinginan yakni melakukan kehendak BapaNya di surga. Untuk itu, Yesus memilih cara hidup yang sederhana, lahir di kandang Betlehem yang hina, tidak di tempat yang mewah, bergaul dengan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa. Ia datang dalam kesederhanaan, tetapi dari sanalah mengalir kebijaksanaan karena hatiNya yang selalu terbuka kepada kehendak BapaNya.
Dipanggil untuk berkorban
Di kamar kita, mungkin ada bermacam-macam merek sepatu. Kita dapat sesuka hati kita mengenakannya. Bila menginginkan sepatu jenis tertentu, kita dapat pula dengan mudah membelinya. Berbagai tawaran merek sepatu yang terbaik dan termahal dengan gampang juga kita dapat menjangkaunya. Sepatu adalah simbol harga diri kita, karena dari sanapula kita memperoleh pengakuan sosial, dan penghormatan dari orang lain.
Mendengar kisah Simon, terkadang terbersit rasa malu, karena Simon tak pernah merasa takut melewati jalan yang berlumpur, meskipun ia tidak mengenakan sepatu. Sedangkan aku masih merasa takut kalau sepatu yang aku kenakan menjadi kotor kalau melayani orang-orang sederhana dan miskin. Maka aku memilih untuk menghindarinya. Aku memilih jalan yang menyenangkan diriku dan tidak mau peduli dengan orang lain. Simon juga tak pernah merasa malu dan takut ketika datang ke Gereja dengan tidak mengenakan sepatu. Sedangkan aku masih merasa takut, kalau tidak mendapat penghormatan dan penghargaan dari orang lain, saat aku tidak mengenakan sepatu. Itulah cermin wajah manusia jaman sekarang yang lebih melihat penampilan luar dari pada penampilan dari lubuk hati yang terdalam.
Kisah kehidupan Simon membawa permenungan tersendiri, bahwa rahasia cinta Allah tersembunyi dalam hidup orang miskin. Rahasia cinta Allah tersembunyi dalam lubuk hati yang terbuka dan rendah hati. Rahasia hati inilah yang dicari oleh banyak orang, tetapi tidak pernah menemukannya, karena lebih memilih untuk memuliakan tubuh dengan aksesoris luar, dari pada memuliakan jiwa yang terdalam di dalam lubuk hati kita. Tuhan Yesus mengatakan kepada para muridNya bahwa banyak orang mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga tetapi tidak mendengar. Hanya kepada orang yang dianugerahi sajalah yang mampu melihat dan mendengarkan. Yesus ingin menunjukkan rahasia kebijaksanaan dapat diperoleh, hanya bila manusia selalu terbuka pada kehendak Allah dan rendah hati.
Simon tidak pernah memvonis orang lain yang mempunyai sepatu yang banyak, dan dapat membeli sepatu yang bermerek kalau hendak Gereja. Itu merupakan hak pribadi mereka masing-masing. Ia hanya bercerita tentang kehidupannya yang sederhana dan sepasang sepatu satu-satunya yang tidak dapat dia pakai lagi. Namun dari balik kisah Simon, terungkap sebuah jawaban tentang rahasia hidup damai, ketenangan batin yakni keterbukaan jiwa dan kerendahan hati dihadapan Allah. Yang Allah minta bukan penampilan luar dengan segala aksesoris, tetapi hati yang tulus yang dengan rendah hati datang bertelut di bawah kaki Tuhan, bukan untuk dilayani, melainkan berani melayani, bukan untuk mengharapkan penghormatan dan penghargaan dari orang lain, namun siap menjadi kotor dan berani melewati jalan berlumpur. Di situlah semangat berkorban kita diminta. Berkorban berarti memberi diri bagi orang lain, agar orang lain juga mencicipi kebahagiaan. Semangat inilah yang menjiwai Mother Theresa untuk berkorban memberikan dirinya bagi pelayaan orang miskin. Semangat berkorban ini pula yang membuat Mother Theresa meyakini bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang berani berbagi dan berkorban untuk orang lain. Siapa takut??
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Minggu, Mei 18, 2008
BERBAGI
Ahmans2006
Sungai kecil itu mengalir di tengah hutan ke sungai yang lain. Airnya selalu bening. Ketika melewati sungai kecil di tengah hutan, beberapa orang-orang mengambil air dari sungai itu dan dimasukan ke dalam botol. Dalam bayanganku, air itu akan dibawa ke rumah, direbus, setelah itu diminum. Namun, tidak demikian air itu langsung diminum begitu saja. Aku agak ragu-ragu untuk meminumnya, tetapi setelah melihat beberapa orang menikmati air di sungai itu, tanpa ragu-ragu aku juga ikut menikmatinya. Bahkan setelah kami tiba di sebuah kampung dan melepaskan lelah, air itu diletakkan begitu saja di rumah panggung. Tatkala kami menikmati hidangan sagu dan pisang, air itu diminum tanpa dimasak lebih dahulu.
Romanus adalah salah satu keluarga yang seringkali datang untuk mengambil air dari sungai. Setiap kali datang, ia selalu membawa beberapa botol air. Botol-botol ini tidak terlalu besar. Bila botol itu sudah selesai, ia datang mengambil air dari sungai ini lagi. Demikian pula warga yang lain, mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Romanus. Di rumah-rumah mereka, hampir tidak pernah dijumpai ember dalam ukuran yang besar, tetapi botol-botol kecil yang warna dan bentuknya sudah semakin tidak jelas. Kadangkala di tengah hutan, mereka membuat aliran kecil dari bambu,sehingga setiap orang yang lewat memudahkan mereka untuk mengambilnya.
Mereka tidak pernah membuang kotoran atau sampah di tengah sungai itu. Romanus bercerita kepadaku bahwa air ini akan mengalir ke sungai yang lebih besar, dan sepanjang sungai itu, masyarakat di desa yang lain akan menikmati air yang sama. Maka seperti suatu kebijaksanaan hidup, mereka tidak akan mengotori air tersebut.
Ketika persediaan air semakin tidak ada, mereka rela berbagi air kepada orang lain. Kegembiraan itulah yang mereka berikan. Meskipun persediaan air tinggal sedikit, mereka masih mau berbagi dengan orang lain. Bagi mereka, seperti sumber air yang memberi dan berbagi kepada sungai-sungai yang lain, dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, maka kehidupan itu akan selalu dirayakan dalam kebahagiaan dengan “memberi”. Romanus berkata, sumber air selalu memancarkan kebeningan, karena sumber air selalu memberi, dan selalu berbagi kepada orang lain. Ke mana air itu mengalir, ia selalu menawarkan sukacita, kepuasaan dan memberikan kedahagaan kepada orang lain.
Mengalirkan kehidupan
Tuhan Yesus menyebut dirinya sebagai sumber air hidup. “Barang siapa datang kepadaKu, dan minum dari sumber air yang Aku berikan ini, dia tidak akan mati, tetapi akan memperoleh kehidupan. Yesus dalam seluruh karya perutusanNya selalu memberikan kelegaan kepada manusia. Ketika Ia mengajar dari desa ke desa Ia selalu membawa warta gembira dan sukacita, sehingga hati setiap orang yang terbuka dan mendengarkan warta gembira mengalami sukacita, dan kegembiraan.
Hati Yesus adalah sumber air hidup yang memberikan kelegaan dan kegembiraan kepada manusia yang siap untuk menerima. Kabar sukacita ini ditawarkan kepada setiap manusia dengan memberikan diriNya sendiri seutuhNya kepada manusia, agar manusia mengalami kebahagiaan. Puncak pemberiaan diriNya adalah melalui penderitaan, hingga wafat di kayu salib. Warta tentang kebangkitan yang dibawah oleh para rasul dan wanita yang mengalami penampakan menimbulkan sukacita, karena Yesus sebagai sumber air hidup tetap tinggal dan hadir di setiap langkah hidup manusia.
Berani Memberi
Confusions mengajarkan sebuah nilai keutamaan bahwa tatkala manusia berani melepaskan dan menanggalkan segala apa yang menjadi keinginannya, dan kelekatan hidupnya ia akan meraih hidup baru. Kelekatan berarti tidak berani untuk memberi yang dimilikinya untuk dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian hidup baru yakni hidup yang memberi dan menyajikan santapan kehidupan yang melegakan bagi orang lain tidak dirayakan bersama dengan orang lain, tetapi hanya demi kepuasaan diri sendiri. Anthony De Mello mengatakan hidup yang sejati adalah sikap hidup lepas bebas. Sikap hidup lepas bebas ini memungkinkan manusia meraih arti dan makna hidup yang sebenarnya.
Orang-orang Papua adalah pribadi yang berani untuk memberi. Prinsip hidup mereka adalah seperti sumber air hidup yang mengalir ke mana saja dan menawarkan kesegaran. Demikian pula hidup mereka, dengan memberi air kepada orang lain, meskipun mereka hanya memiliki sedikit, tetapi mampu memberikan kehidupan kepada orang lain. Mereka berani melepaskan dan menanggalkan apa yang mereka miliki dan dibagikan kepada orang lain untuk merebut kelegaan hati yang jauh lebih mewah dari pada membiarkan orang lain menderita.
Perumpaan seorang janda miskin yang memberikan sepeser koin yang dimilikinya di bait Allah mendapat apresiasi dari Yesus adalah contoh paling jelas dalam kitab suci. Yesus memuji janda miskin, karena dia berani memberikan dari kekurangannya dan bukan dari kelebihannya untuk Tuhan. Ia berani memberikan semua yang menjadi jerih payahnya. Keyakinannya yang teguh bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terindah dalam hidupnya. Satu-satunya pedomanan hidupnya adalah berharap dan berpegang pada Tuhan. Iman dan keteguhan akan kepercayaan bahwa kemurahan Allah akan dialami, membuat dia memberikan semuanya untuk Tuhan.
Menikmati kebahagiaan
Tatkala kami pulang, dan melewati sungai itu, Romanus menunjukkan kepadaku bahwa sungai ini menjadi berkat bagi hidup mereka. Sungainya tetap bersih dan bening, dan mengalir kemana saja, dia suka, dan kemana dia mengalir, sungai ini menawarkan dan memberikan kepuasaan bagi orang lain. Hidup itu indah kalau kita mau memberi, seperti sungai yang selalu memberi dan mengalir. Meskipun hanya sedikit tetapi memberi makna bagi hidup orang ini. Aku tidak banyak menanggapi dengan filosofi sederhana yang diajarkan oleh Romanus kepadaku. Aku teringat akan tindakan sederhana yang dilakukan oleh Romanus ketika ia memberikan semua makanannya kepada orang lain saat kami makan bersama di sebuah kampung. Ketika kubertanya apakah masih ada makanan untuk dirinya? Sambil tersenyum ia berkata tidak ada lagi makanan yang lain selain ini. Tetapi “no problem”. Karena kadang kala kami hanya makan sekali saja dalam sehari. Aku baru mengerti bahwa ia telah belajar dari air sungai yang selalu memberi. Memberi adalah sebuah tindakan yang sederhana, namun kedalaman hatinya mengajarkan sebuah keutamaan kemurahan hati. Kemurahan yang memancarkan sukacita dalam dirinya dan dalam diri orang lain yang menikmatinya.
Steven covey, dalam bukunya “ Delapan kebiasaan Baik” memaparkan rumusan yang sederhana namun kaya dengan makna hidup yakni bahwa kebahagian dapat diraih melalui “sikap dan tindakan memberi”. Sikap memberi adalah tindakan “share and give” apa yang aku miliki kepada orang lain, agar orang lain dapat menikmati kebahagiaan. Benar! Seperti apa yang dilakukan oleh janda miskin dalam Injil, dikisahkan bahwa ia memberikan semua apa yang ada padanya kepada Tuhan. Bagi orang lain, tindakan janda miskin adalah sebuah tindakan yang keliru, karena memberi semuanya, lantas untuk dirinya bagaimana? Sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi. Tetapi keyakinan yang teguh bahwa memberi adalah menuai kebahagiaan dalam jiwa. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menuai kebahagiaan yakni menerima. Tuhan Yesus adalah teladan hidup dalam sikap pemberiaan diriNya yang total kepada Allah dan manusia. Meskipun penderitaan dan kesengsaraan yang dialami begitu berat, namun keselamatan manusia menjadi kebahagiaan BapaNya di surga.
Melihat cara hidup orang Papua, kekaguman terberserit dalam diriku. Betapa mereka menghayati sebuah nilai memberi agar mereka dapat menikmati kebahagiaan. Kata-kata Romanus menggetarkan hatiku, betapa penghayatan hidup yang sederhana ini justru menuai kebahagian. Tidak jarang, egoisme dan sikap indivuadualisme menumbuhkan sikap untuk enggan memberi apa yang kita miliki kepada orang lain. Karena memahami memberi berarti mengurangi apa yang telah aku miliki.
Sungai yang mengalir di tengah hutan itu kini menjadi symbol untuk mengingatkan hidup manusia bahwa memberi adalah mengalirkan kehidupan kepada orang lain, agar orang lain dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan. Dengan memberi dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, hidup menjadi bermakna dan berarti, karena sumber yang mengalir dalam jiwa manusia terus memancarkan sukacita.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Sungai kecil itu mengalir di tengah hutan ke sungai yang lain. Airnya selalu bening. Ketika melewati sungai kecil di tengah hutan, beberapa orang-orang mengambil air dari sungai itu dan dimasukan ke dalam botol. Dalam bayanganku, air itu akan dibawa ke rumah, direbus, setelah itu diminum. Namun, tidak demikian air itu langsung diminum begitu saja. Aku agak ragu-ragu untuk meminumnya, tetapi setelah melihat beberapa orang menikmati air di sungai itu, tanpa ragu-ragu aku juga ikut menikmatinya. Bahkan setelah kami tiba di sebuah kampung dan melepaskan lelah, air itu diletakkan begitu saja di rumah panggung. Tatkala kami menikmati hidangan sagu dan pisang, air itu diminum tanpa dimasak lebih dahulu.
Romanus adalah salah satu keluarga yang seringkali datang untuk mengambil air dari sungai. Setiap kali datang, ia selalu membawa beberapa botol air. Botol-botol ini tidak terlalu besar. Bila botol itu sudah selesai, ia datang mengambil air dari sungai ini lagi. Demikian pula warga yang lain, mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Romanus. Di rumah-rumah mereka, hampir tidak pernah dijumpai ember dalam ukuran yang besar, tetapi botol-botol kecil yang warna dan bentuknya sudah semakin tidak jelas. Kadangkala di tengah hutan, mereka membuat aliran kecil dari bambu,sehingga setiap orang yang lewat memudahkan mereka untuk mengambilnya.
Mereka tidak pernah membuang kotoran atau sampah di tengah sungai itu. Romanus bercerita kepadaku bahwa air ini akan mengalir ke sungai yang lebih besar, dan sepanjang sungai itu, masyarakat di desa yang lain akan menikmati air yang sama. Maka seperti suatu kebijaksanaan hidup, mereka tidak akan mengotori air tersebut.
Ketika persediaan air semakin tidak ada, mereka rela berbagi air kepada orang lain. Kegembiraan itulah yang mereka berikan. Meskipun persediaan air tinggal sedikit, mereka masih mau berbagi dengan orang lain. Bagi mereka, seperti sumber air yang memberi dan berbagi kepada sungai-sungai yang lain, dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, maka kehidupan itu akan selalu dirayakan dalam kebahagiaan dengan “memberi”. Romanus berkata, sumber air selalu memancarkan kebeningan, karena sumber air selalu memberi, dan selalu berbagi kepada orang lain. Ke mana air itu mengalir, ia selalu menawarkan sukacita, kepuasaan dan memberikan kedahagaan kepada orang lain.
Mengalirkan kehidupan
Tuhan Yesus menyebut dirinya sebagai sumber air hidup. “Barang siapa datang kepadaKu, dan minum dari sumber air yang Aku berikan ini, dia tidak akan mati, tetapi akan memperoleh kehidupan. Yesus dalam seluruh karya perutusanNya selalu memberikan kelegaan kepada manusia. Ketika Ia mengajar dari desa ke desa Ia selalu membawa warta gembira dan sukacita, sehingga hati setiap orang yang terbuka dan mendengarkan warta gembira mengalami sukacita, dan kegembiraan.
Hati Yesus adalah sumber air hidup yang memberikan kelegaan dan kegembiraan kepada manusia yang siap untuk menerima. Kabar sukacita ini ditawarkan kepada setiap manusia dengan memberikan diriNya sendiri seutuhNya kepada manusia, agar manusia mengalami kebahagiaan. Puncak pemberiaan diriNya adalah melalui penderitaan, hingga wafat di kayu salib. Warta tentang kebangkitan yang dibawah oleh para rasul dan wanita yang mengalami penampakan menimbulkan sukacita, karena Yesus sebagai sumber air hidup tetap tinggal dan hadir di setiap langkah hidup manusia.
Berani Memberi
Confusions mengajarkan sebuah nilai keutamaan bahwa tatkala manusia berani melepaskan dan menanggalkan segala apa yang menjadi keinginannya, dan kelekatan hidupnya ia akan meraih hidup baru. Kelekatan berarti tidak berani untuk memberi yang dimilikinya untuk dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian hidup baru yakni hidup yang memberi dan menyajikan santapan kehidupan yang melegakan bagi orang lain tidak dirayakan bersama dengan orang lain, tetapi hanya demi kepuasaan diri sendiri. Anthony De Mello mengatakan hidup yang sejati adalah sikap hidup lepas bebas. Sikap hidup lepas bebas ini memungkinkan manusia meraih arti dan makna hidup yang sebenarnya.
Orang-orang Papua adalah pribadi yang berani untuk memberi. Prinsip hidup mereka adalah seperti sumber air hidup yang mengalir ke mana saja dan menawarkan kesegaran. Demikian pula hidup mereka, dengan memberi air kepada orang lain, meskipun mereka hanya memiliki sedikit, tetapi mampu memberikan kehidupan kepada orang lain. Mereka berani melepaskan dan menanggalkan apa yang mereka miliki dan dibagikan kepada orang lain untuk merebut kelegaan hati yang jauh lebih mewah dari pada membiarkan orang lain menderita.
Perumpaan seorang janda miskin yang memberikan sepeser koin yang dimilikinya di bait Allah mendapat apresiasi dari Yesus adalah contoh paling jelas dalam kitab suci. Yesus memuji janda miskin, karena dia berani memberikan dari kekurangannya dan bukan dari kelebihannya untuk Tuhan. Ia berani memberikan semua yang menjadi jerih payahnya. Keyakinannya yang teguh bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terindah dalam hidupnya. Satu-satunya pedomanan hidupnya adalah berharap dan berpegang pada Tuhan. Iman dan keteguhan akan kepercayaan bahwa kemurahan Allah akan dialami, membuat dia memberikan semuanya untuk Tuhan.
Menikmati kebahagiaan
Tatkala kami pulang, dan melewati sungai itu, Romanus menunjukkan kepadaku bahwa sungai ini menjadi berkat bagi hidup mereka. Sungainya tetap bersih dan bening, dan mengalir kemana saja, dia suka, dan kemana dia mengalir, sungai ini menawarkan dan memberikan kepuasaan bagi orang lain. Hidup itu indah kalau kita mau memberi, seperti sungai yang selalu memberi dan mengalir. Meskipun hanya sedikit tetapi memberi makna bagi hidup orang ini. Aku tidak banyak menanggapi dengan filosofi sederhana yang diajarkan oleh Romanus kepadaku. Aku teringat akan tindakan sederhana yang dilakukan oleh Romanus ketika ia memberikan semua makanannya kepada orang lain saat kami makan bersama di sebuah kampung. Ketika kubertanya apakah masih ada makanan untuk dirinya? Sambil tersenyum ia berkata tidak ada lagi makanan yang lain selain ini. Tetapi “no problem”. Karena kadang kala kami hanya makan sekali saja dalam sehari. Aku baru mengerti bahwa ia telah belajar dari air sungai yang selalu memberi. Memberi adalah sebuah tindakan yang sederhana, namun kedalaman hatinya mengajarkan sebuah keutamaan kemurahan hati. Kemurahan yang memancarkan sukacita dalam dirinya dan dalam diri orang lain yang menikmatinya.
Steven covey, dalam bukunya “ Delapan kebiasaan Baik” memaparkan rumusan yang sederhana namun kaya dengan makna hidup yakni bahwa kebahagian dapat diraih melalui “sikap dan tindakan memberi”. Sikap memberi adalah tindakan “share and give” apa yang aku miliki kepada orang lain, agar orang lain dapat menikmati kebahagiaan. Benar! Seperti apa yang dilakukan oleh janda miskin dalam Injil, dikisahkan bahwa ia memberikan semua apa yang ada padanya kepada Tuhan. Bagi orang lain, tindakan janda miskin adalah sebuah tindakan yang keliru, karena memberi semuanya, lantas untuk dirinya bagaimana? Sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi. Tetapi keyakinan yang teguh bahwa memberi adalah menuai kebahagiaan dalam jiwa. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menuai kebahagiaan yakni menerima. Tuhan Yesus adalah teladan hidup dalam sikap pemberiaan diriNya yang total kepada Allah dan manusia. Meskipun penderitaan dan kesengsaraan yang dialami begitu berat, namun keselamatan manusia menjadi kebahagiaan BapaNya di surga.
Melihat cara hidup orang Papua, kekaguman terberserit dalam diriku. Betapa mereka menghayati sebuah nilai memberi agar mereka dapat menikmati kebahagiaan. Kata-kata Romanus menggetarkan hatiku, betapa penghayatan hidup yang sederhana ini justru menuai kebahagian. Tidak jarang, egoisme dan sikap indivuadualisme menumbuhkan sikap untuk enggan memberi apa yang kita miliki kepada orang lain. Karena memahami memberi berarti mengurangi apa yang telah aku miliki.
Sungai yang mengalir di tengah hutan itu kini menjadi symbol untuk mengingatkan hidup manusia bahwa memberi adalah mengalirkan kehidupan kepada orang lain, agar orang lain dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan. Dengan memberi dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, hidup menjadi bermakna dan berarti, karena sumber yang mengalir dalam jiwa manusia terus memancarkan sukacita.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Sabtu, Mei 10, 2008
LUAPAN KECERIAAN

Rumahnya berbentuk rumah panggung, dengan atap dari daun lontar dan dindingnya terbuat dari pohon sagu. Ruangan rumahnya sangat lebar, dibuat tidak dari papan, tetapi dari batang pohon sagu yang sudah dibelah dan disusun. Ruangan ini serba guna, selain untuk masak, untuk tidur, untuk bermain anak-anak dan sarana berkumpul keluarga. Di dekat pintu masuk, diletakan beberapa piring, senduk nasi, dan panci untuk memasak. Di beberapa sudut yang lainnya, tergantung beberapa potong pakaian yang tampaknya sudah sobek dan lusuh, dan beberapa tandan pisang mentah, dan jenis umbi-umbian. Kalau lelah setelah pulang dari kebun, mereka langsung merebahkan tubuhnya dan lelap dalam tidurnya. Mereka sepertinya sudah menyatu dengan kehidupan mereka. Demikianlah kesederhanaan keluarga Paul dan Ana dengan lima orang anaknya.
Mereka hidup dari hasil hutan dan hasil berburu. Setelah dua atau tiga hari, persediaan makanan mereka sudah habis, Paul dan Ana kembali ke kebun. Selama mereka belum mendapatkannya mereka tidak akan pulang ke rumah panggung mereka. Kesehariaan mereka adalah menikmati pisang, sagu, umbi-umbian dan kalau Paul mendapat rejeki dari hasil buruannya, maka mereka mendapat rejeki makan daging babi dan jenis binatang buruan lainnya. Anak-anaknya tidak pernah mengeluh tentang makanan. Sarapan pagi, siang dan malam adalah pisang bakar, dan sagu. Jarang sekali mereka makan nasi, karena harganya sangat mahal dan mereka harus datang membelinya di kota. Meskipun demikian keceriaan wajah mereka selalu nampak. Yang ada adalah kegembiraan menikmati hidangan dengan senyuman. Mereka menikmatinya itu sebagai anugerah.
Keluarga Paul adalah salah satu keluarga yang tinggal di desa yang bernama Noningire. Untuk sampai ke tempat mereka, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 5 jam, atau naik perahu bermotor selama empat jam melewati sungai. Penduduk desa Noningire umumnya bermata pencaharian berkebun, dan berburu. Bentuk rumah mereka umumnya sama seperti halnya dimiliki oleh Paul dan Ana. Di desa ini ada beberapa umat yang beragama Kristen Katolik. Setiap dua bulan sekali pastor datang mengunjungi mereka. Kebanyakan dari anak-anak muda sudah tidak mau menempati desa ini lagi. Mereka mulai pindah ke daerah-daerah di dekat kota yang mudah diakses. Hanya beberapa penduduk yang tinggal di daerah ini termasuk keluarga Paul dan Ana.
Luapan Keceriaan
“Kami tidak punya apa-apa untuk diberikan”…demikian ungkapan Paul kepada kami. Ketika itu, Ana menyediakan bagi kami pisang bakar dan sagu. Namun luapan keceriaan dan keramahan selalu tampak dalam pemberiaan mereka. Dalam kesederhanaan, luapan keceriaan dan semangat hidup tetap terpancar dalam hidup mereka.
Kotbah Yesus di bukit, dengan gamblang mengungkapkan kebenaran kata-kata ini “berbahagialah orang miskin, karena kamulah empunya kerajaan Surga. Berbahagialah mereka, yang tidak memiliki apa-apa tetapi keceriaan dan kebahagiaan hidup selalu mereka nikmati. Kebenaran kata-kata itu terungkap jelas dalam keseharian hidup keluarga Paul dan Ana. Satu-satunya andalan hidup mereka adalah kemurahan dan kebaikan Allah. Mereka tidak pernah cemas dengan apa yang harus mereka makan, atau apa yang harus mereka pakai, karena keyakinan yang besar pada kasih dan kebaikan Tuhan, bahwa pasti Tuhan akan menyediakan bagi mereka. Allah adalah harta kekayaan mereka. Harta yang tidak ternilai harganya. Harta yang dilupakan oleh orang-orang dunia yang ambisi untuk mengejar kedudukan, kekayaan dunia, tetapi miskin akan kedamaian.
Kehidupan manusia kian hari, kian memuja pada materialisme. Orang gelisah karena hatinya terpaut dan terpusat pada harta duniawi. Hidupnya menjadi tidak tenang karena dihantui perasaan tidak aman. Berbeda dengan kehidupan Ana dan Paul yang adalah cerminan gaya hidup orang Papua, dalam kesederhanaan luapan keceriaan tetap terpancar dari hati mereka.
Berguru pada Orang Miskin
Yesus sendiri pernah berkata, “barang siapa melayani orang sekecil ini, dia melayani Aku. Yesus sendiri dalam seluruh hidupnya berpihak pada orang miskin”. Ia mengidentifikasikan diriNya dengan orang yang terppingirkan. Ia datang menjumpai mereka, menyapa mereka, memeluk mereka, bahkan makan bersama dengan mereka. Suatu gaya hidup baru yang diperkenalkan oleh Yesus pada ahli penafsir kitab Taurat. Yesus menunjukkan suatu jalan pikiran baru kepada mereka bahwa orang miskin memiliki harta yang tak ternilai yakni hidup yang berpegang pada kasih Tuhan. Mereka tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk dijadikan andalan hidup mereka, kekuatan hukum dan kekuasaan tidak mereka miliki, maka ketika mereka mengalami kesulitan, pegangan dan andalan hidup mereka adalah Tuhan. Sekaligus Yesus juga ingin menunjukan kepada kaum Yahudi bahwa orang miskin bukanlah kaum pendosa yang pantas dipinggirkan, karena mereka memiliki martabat yang sama sebagai citra Allah.
Kehadiran Yesus menunjukkan suatu radikalisme baru yakni kita perlu menatap mereka dengan penuh kasih. Karena di dalam hidup mereka mengalir kebijaksanaan Allah sendiri. Wajah Allah tersembunyi di balik wajah orang-orang Miskin. St Vinsensius memandang orang miskin sebagai Tuan dan Majikan. Vinsensius datang dan berguru pada kehidupan mereka. Ia menemukan wajah Kristus sendiri. Sehingga ia sangat getol melayani mereka. Ia menghayati kebenaran kata-kata Yesus sendiri bahwa melayani orang miskin adalah melayani Tuhan Yesus sendiri. Kehadiran Tuhan Yesus tidak hanya dijumpai di Synagoga ( Gereja ) tetapi Tuhan Yesus juga hadir secara nyata dalam diri orang miskin. “ Ketika Aku di penjara, kamu tidak melawat Aku, ketika Aku haus kamu tidak memberi Aku minum, dan ketika Aku tidak mempunyai pakaian kamu tidak memberi aku pakaian.
Pemberian diri
Merenungkan perjalanan hidup sebagai seorang Kristiani, terkadang terbersit rasa malu karena luapan keceriaan jarang aku alami. Aku memiliki segala-galanya dalam ukuran orang Papua. Rumah yang lumayan bagus, dengan perabot masak yang agak lengkap, kamar tidur dengan tempat tidur yang baik, dilengkapi dengan kamar mandi. Tak pernah aku kesulitan untuk makan, karena dengan kendaraan aku dapat menjangkaunya ke Kota. Meskipun demikian, terkadang aku terpenjara dalam impian aku sendiri dan lupa memberi diri untuk melayani Yesus yang hadir dalam diri orang miskin.
Hendri Nouwen menulis di dalam bukunya “ The Road of Peace” mengatakan bahwa spiritualitas melayani orang miskin adalah soal semangat pemberian diri kepada orang miskin, hadir bersama mereka dan berjumpa dengan orang miskin. Segala sarana yang kita miliki adalah fasilitas yang memudahkan kita untuk datang berjumpa dengan mereka. Dengan demikian, segala fasilitas yang kita miliki tidak membelokkan kita untuk menggapai dan menjumpai Yesus dalam diri orang miskin. Kita harus mengakui banyaknya fasilitas terkadang membuat hidup kita terpusat padanya, tidak merasa bebas, dan terpenjara pada harta duniawi.
Keluarga Paul dan Ana telah mengajarkan sebuah kebenaran kuno dari Yesus sendiri yang tetap aktul sampai saat ini. Kebenaran yang tidak pernah termakan jaman, kebenaran yang tidak pernah tergoyahkan oleh promosi modernisme. Saatnya kita berkiblat pada orang miskin, karena wajah Tuhan secara nyata hadir di dalam diri mereka. Jalan pemberian diri dalam bentuk apa saja adalah suatu jalan untuk mengapai dan mencicipi luapan keceriaan dari orang miskin.
Fr. Mans Werang, Cm
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea.(Ahmans2006@yahoo.com.au)
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Minggu, April 13, 2008
BUKAN BASA-BASI

Malam itu hujan turun dengan lebatnya. Beberapa umat kesulitan untuk kembali ke rumah mereka, setelah mereka latihan nyanyi di gereja. Diantara mereka, hanya sedikit yang membawa payung dan segera itu mereka meninggalkan gereja. Ada beberapa anak-anak datang ke pastoran meminta kantong plastik untuk meletakan pakaian mereka di dalamnya. Setelah itu mereka berlari di tengah kegelapan dan guyuran hujan. Mereka hanya menyelamatkan pakaian mereka agar tidak basah. Pakaian tersebut akan dipakai keesokan harinya untuk menghadiri perayaan ekaristi di Gereja. Pakaian yang mereka kenakan yang itu-itu saja. Bukan karena mereka senang dengan pakaian itu, tetapi karena yang mereka miliki hanya itu. Tampak sobek, agak kotor dan aroma khas yang menebar. Mereka tidak terlalu mempedulikannya, karena itulah hidup mereka di tengah kesederhanaan.
Untuk membeli pakaian bukanlah hal yang mudah atau gampang bagi mereka. Harga pakaian sangat mahal. Akses antar kota perdagangan dari provinsi lain ke western Provinsi sangat sulit. Semuanya hanya dapat dijangkau melalui sungai. Bila musim kemarau tiba, kapal-kapal tidak dapat masuk ke pelabuhan Kiunga, maka harga bahan makanan dan pakaian semakin melambung. Kurangnya perhatian pemerintah dalam menyediakan sarana transportasi, juga turut menyumbang membengkaknya harga barang-barang. Maka kebanyakan mereka memiliki dua atau tiga pasang pakaian, itu sudah cukup bagi mereka.
Cita rasa hidup
Samuel bercerita bahwa mode pakaian belum mendapat tempat di hati mereka. Mereka memakai pakaian seadanya saja. Lihatlah anak-anak Papua, setelah bermain atau berolaraga, mereka segera mandi di sungai, tetapi masih mengenakan pakaian yang sama lagi ke rumah mereka masing-masing. Keesokan harinya saat berangkat ke sekolah mereka masih menggunakan pakaian yang sama, dengan sobekan di mana-mana. Mereka tidak pernah merasa minder, apalagi malu, karena umumnya semua anak-anak demikian dalam cara berpakaian.
Suatu saat Samuel yang masih duduk di bangku Primary school mengajak aku ke sungai untuk melihat teman-temannya yang sedang ceria bermain dengan air di sungai. Di tepi sungai ia bercerita tentang teman-temannya. Ia tidak terlalu peduli apakah aku mengerti atau tidak dengan aksen yang kadang kala bahasa inggris, kadangkala bahasa pidgin, dan sesekali bahasa awim. Ia tidak pernah meminta dari aku pakaian atau makanan, tetapi bermain bersama dengan dia dan teman-temannya.
Samual adalah gambaran wajah anak-anak Papua. Mereka tidak memiliki hiburan yang menarik, selain bermain kelereng, bermain sepak bola dan bermain di sungai. Namun yang terindah adalah mereka menikmati hiburan itu dalam kebersamaan dengan teman-temannya. Ada jalinan komunikasi, keceriaan, dan kegembiraan yang mereka rayakan bersama-sama.
Hadir Bersama Mereka
Pakaian yang kita gunakan menentukan siapakah diri kita. Ketika seseorang menggunakan jubah, orang akan mengetahui dia seorang frater, atau pastor. Tatkala seseorang menggunakan jas dengan dasi, orang dengan mudah pula mengetahui pasti dia seorang eksekutif, atau memiliki kedudukan yang tinggi. Pakaian juga menentukan dengan siapa kita menjalin kerjasama atau berkomunikasi. Dengan pakaian yang rapih, orang akan merasa percaya diri ketika tampil berkomunikasi dengan orang lain. Dengan pakaian yang rapih pula memberi nilai plus pada dirinya, karena orang pasti akan memberikan apresiasi pada dirinya.
Orang-orang Papua adalah pribadi yang sederhana. Mereka tidak terlalu mempersoalkan bagaimana pakaian yang mereka kenakan. Bagi mereka, hidup dalam suasana kebersamaan, dengan merayakan kegembiraan bersama adalah sesuatu yang memberikan rasa damai di hati. Maka, kehadiran secara pribadi, duduk bersama mereka, dan mendengarkan kerinduaan hati mereka adalah jauh lebih mewah, karena disanalah mereka merasa dihargai, dihormati dan disapa hati mereka sebagai teman, sahabat dan keluarga. Mereka seringkali berkisah tentang hidup mereka, tentang kegembiraan, dan tentang pengalaman mereka dan membiarkan diri mereka dicintai.
Hadir bersama mereka adalah kebijaksanaan kuno yang seringkali kita lupa. Kita terbawa arus dalam gaya hidup baru yakni gaya hidup instant. Gaya hidup instant mempromosikan sebuah cita rasa untuk memenuhi selera pribadi, dan mengabaikan kebersamaan. Dengan kata lain, hidup instant memperkenalkan pencarian cita rasa untuk memenuhi keinginan diri sendiri, tanpa menghiraukan keberadaan orang lain. “ slogan yang sering kali kita dengar adalah “emangnya gua pikirin”. Lu, lu, gue..gue” Slogan yang memuliakan paham individualisme. Lantas, perayaan kebersamaan dengan menikmati indahnya duduk bersama, tertawa bersama, bermain bersama adalah sesuatu yang membosankan. Jalinan komunikasi antar pribadi juga menjadi semakin sedikit, karena dunia instant mendikte manusia untuk mengabdi pada kesenangan pribadi. Contoh jelas, kesibukan kita dengan aktivitas yang banyak, kian menyita sekian waktu yang diperlukan untuk membina relasi kebersamaan dalam keluarga. Kita memilih memenuhi selera pribadi kita dengan mengabaikan hadir bersama dengan orang-orang yang kita cintai. Kesenangan kita juga, seringkali menyita sekian waktu yang diperlukan untuk melayani orang lain. Kita memilih untuk mengabdi pada pemenuhan diri sendiri, dari pada merayakan kebersamaan dengan orang lain. Ketika pengabdian pada diri sendiri kian kuat, kita akan mengorbankan roh dari keluarga kita dan mengorbankan semangat pelayanan kita.
Menikmati Kebersamaan
Yesus adalah teladan hidup bagaimana menikmati kebersamaan. Ia selalu berusaha menjalin kebersamaan dengan para rasulNya. Yesus memandang bahwa kekuatan hadir bersama dengan para muridNya mendorong mereka selalu berada dalam komunio, dalam ikatan kesatuaan. Maka Ia selalu berusaha untuk duduk bersama para muridNya, bercanda bersama mereka, bahkan makan bersama mereka.
Hidup dalam kebersamaan dengan menikmati indahnya persaudaraan membuat para muridNya merasa dicintai oleh Guru mereka. Meskipun, Para murid Yesus adalah pribadi-pribadi yang sederhana yakni para nelayan, yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang memadai, namun Yesus tetap hadir bersama mereka. Yesus meyakini bahwa dengan hidup dalam kebersamaan, para muridNya merasa dihargai, dan dihormati sebagai pribadi. Yesus tidak hanya mengajarkan bagaimana menghayati nilai kebersamaan, tetapi ia mempraktekkan nilai kebersamaan itu. Dalam karya pewartaan dan perutusanNya dari desa-ke desa Yesus selalu hadir bersama mereka. Ketika menghadiri perjamuan di Kana, Yesus selalu datang dengan para muridNya. Tatkala pada malam perjamuan terakhir, ia merayakanNya bersama dengan para MuridNya. Ia duduk bersama semeja, dan menikmati kebersamaan dalam perjamuan itu. Bahkan ia berdoa bagi para muridNya kepada BapaNya, agar mereka selalu hidup dalam kebersamaan, dalam komunio sebagai tanda akan pentingnya hadir bersama. Setelah kebangkitanNya, Yesus selalu menampakkan diriNya dan hadir serta menikmati perjamuan bersama para muridNya; seperti kepada dua orang muridnya yang berjalan ke Emaus, atau ketika Yesus meminta makanan dari mereka. Yesus duduk bersama mereka yang sedang dalam suasana ketakutan, dan makan bersama mereka. Pada saat, Yesus mengucapkan syukur, para muridNya baru mengetahui bahwa Dia adalah guru mereka yang datang bersama mereka. Saat para muridNya diliputi suasana ketakutan, pasca kematian Yesus dengan berkumpul bersama di sebuah rumah, Yesus datang mengunjungi mereka, memberikan salam damai, hadir bersama mereka. Kehadiran Yesus bersama dengan para muridNya merupakan kekuatan cinta yang sungguh dirasakan oleh mereka.
Tuhan Yesus juga selalu berusaha hidup dalam persatuan dan kebersamaan dengan BapaNya. Yesus memandang pentingnya menjalin persatuan dan hadir bersama dengan BapaNya, karena dari sana mengalir kekuatan, dan harapan untuk melaksanakan karya perutusanNya. Tatkala Ia memulai karya pewartaanNya, Ia ingin menikmati kebersamaan dengan BapaNya di padang gurun. Ketika, mereka berjalan dari desa ke desa untuk mewartakan tentang Kerajaan Allah, Yesus selalu mengajak para muridNya untuk mengungsi ke sebuah tempat yang sepi untuk menikmati hadir bersama dengan BapaNya. Bahkan saat, Yesus berada di taman Getzemani, peluh dan darah mengalir, karena ketakutan menghadapi kematian, Yesus bertemu secara pribadi dengan BapaNya. Ketakutan berubah menjadi keberanian, ketika Yesus menikmati indahNya hadir bersama dengan BapaNya. “Biarlah Piala ini berlalu dari padaKu ya, Bapa, tetapi bukan karena kehendakKu, melainkan karena KehendakMu”. Yesus sungguh-sungguh merasa diubah oleh kekuatan dari BapaNya, setelah Ia menikmati kebersamaan dengan BapaNya, karena keyakinan bahwa BapaNya mencintai Dia, dan tidak akan meninggalkan Dia sendirian.
Mengalami Rahmat
Hadir bersama dengan orang lain, membuat kita dapat mengalami rahmat tersendiri. Rahmat mencintai dan dicintai oleh pribadi yang lain. Ketika kita mengabaikan hadir dalam kebersamaan, rahmat itu tidak akan kita rasakan, dan orang lain juga tidak akan mengalaminya. Rasul Thomas adalah contohnya, ketika para rasul yang lain sedang berkumpul di sebuah rumah, rasul Thomas tidak hadir dalam kebersamaan itu. Saat itu, Yesus menampakan diri kepada mereka dan memberikan semangat, serta dukungan bagi mereka supaya mereka jangan takut, karena Dia selalu menyertai mereka. Para muridNya mengalami kehadiran Yesus sebagai suatu rahmat, karena Yesus datang memberikan harapan baru bagi mereka. Namun, tidak demikian bagi Thomas, ketika para rasul menceritakan kepadanya, bahwa mereka melihat Tuhan datang, hadir bersama mereka, Thomas mengungkapkan ketidakpercayaannya; “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya." Thomas tidak dapat melihat Tuhan dan mengalami rahmat, karena dia tidak hadir dalam kebersamaan. Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Thomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!". Kemudian Ia berkata kepada Thomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."Thomas baru mengalami rahmat dari Tuhan yang mencintainya, melalui kehadiran bersama dengan para rasul yang lain. Seandainya, Thomas memilih untuk mengikuti keinginan hatinya dan mengabaikan untuk hadir bersama dengan para murid yang lain, dia tidak dapat melihat dan berjumpa dengan Tuhan.
Jean Vanier pendiri komunitas L’arche, Daybreak di Kanada, sebuah rumah khusus bagi orang cacat mental berkata bahwa hadir bersama dengan orang lain membuat hidup kita menjadi lebih berarti dan bermakna. Karena kehadiran kita menjadi tanda rahmat bagi orang lain. Di sanalah mengalir solidaritas, karena kita berani berbagi hidup tentang kelemahan, dari pada berbagi kekuasaan dengan orang lain. Kehadiran kita sudah menjadi tanda rahmat bagi orang lain, karena orang lain merasa dicintai, berharga di mata kita. Sedangkan kita mengalami sukacita dan damai, karena boleh membagi kegembiraan, dan harapan bersama mereka. Mother Theresa, berkata bahwa hadir bersama mereka, berarti duduk bersama mereka, mendengarkan kata hati dan kerinduaan mereka yang terdalam, walaupun tanpa kata, tetapi sangat berarti dan bermakna bagi hidup mereka.
Anak-anak Papua adalah anak-anak yang sederhana. Mereka tidak terlalu memikirkan pakaian bermerek apa, yang akan mereka kenakan. Mereka juga tidak pernah berusaha untuk membeli pakaian yang mewah, atau datang mencarinya ke kota. Itu tidak mereka lakukan, karena kemewahan mereka adalah cita rasa akan kebersamaan. Mereka menikmati kebersamaan sebagai suatu yang terindah dalam hidup mereka. Mereka akan merasa lebih berharga dan dicintai lagi, kalau ada orang yang mau datang duduk bersama mereka, dan mendengarkan senandung kerinduan hati mereka yang terdalam di dalam hidup mereka. Mereka adalah anak-anak yang mengalami damai dan sukacita. Tertawa mereka yang khas mengundang rasa kagum akan keagungan Tuhan yang memberikan rahmat kepada mereka. Mereka membawa terang bagi hati kita yang kian hari kian tidak mempedulikan hadir bersama orang yang kita cintai. Mereka seperti nyala obor bagi penuntun jalan hidup kita, bahwa hidup damai dapat kita rasakan bila kita masing-masing memberi diri, hadir bersama dengan orang lain yang membutuhkan perhatian dan uluran hati dari kita.
Anak-anak di mana pun membutuhkan cinta, dihargai, dihormati dan diakung. Mereka membutuhkan kehadiran kita. Pribadi-pribadi yang merasa sendirian, kesepian, dipinggirkan juga adalah adalah pribadi-pribadi membutuhkan cinta dari kita. Pribadi-pribadi yang dipercayakan kepada kita untuk dilayani adalah pribadi-pribadi yang membutuhkan cinta, dihargai dan dihormati juga. Mereka adalah pribadi-pribadi yang merindukan kehadiran orang lain yang menyapa, yang menghangatkan dan menggetarkan hidup mereka untuk bangkit dari keterpurukan. Maka luangkan waktu yang terindah dalam hidup ini untuk berbagi kegembiraan dengan mereka.
Samuel adalah wajah anak-anak Papua yang mengajarkan kita akan nilai hadir bersama dengan orang lain yang agaknya mulai luntur di dalam hidup kita. Samuel masih mengenakan pakaian yang sama dengan aroma yang khas, tetapi kedalaman hatinya mengajarkan tentang sebuah makna hidup yang bernilai yakni hadir bersama mereka. Meskipun, hanya duduk diam bersama mereka, memberi senyum kepada mereka, bermain bersama mereka, tetapi memiliki makna dan arti yang mendalam. Kita akan merasakan suasana yang damai, setelah kita hadir bersama mereka. Karena kehadiran kita bersama mereka, bukanlah sekedar basa-basi, tetapi sungguh-sungguh kehadiran kita adalah tanda rahmat bagi mereka. Buktikan sendiri!
Fr Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea. (ahmans2006@yahoo.com.au) atau (belina_cm@dg.com.pg)
Dikirim Oleh: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel)
Langganan:
Postingan (Atom)
