To All of You,

Dengarkan Musik Ini

Super Mario Game

INFO SINGKAT

Beri Masukan Untuk Kami

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x
Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label papua. Tampilkan semua postingan

Minggu, November 02, 2008

CERITAKAN ALLAH KEPADAKU

Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea

Sudah beberapa jam speed boat yang kami tumpangi berusaha untuk melaju, tetapi tidak ada tanda-tanda untuk ia bergerak maju, karena mesin motor tidak berfungsi dengan baik, dan harus berhadapan dengan arus sungai yang sangat kencang. Beberapa kali, kami merapat ke tepi untuk memperbaiki mesin motor yang tidak mempunyai tenaga untuk menggerakan speed boat. Ketika berhadapan dengan arus yang lebih kencang, kami terpaksa harus turun dari speed boat, dan perlahan-lahan mendorong melawan arus, bahkan ada beberapa diantara kami yang harus menarik speed boat dengan tali melintasi arus sungai. Rasa lelah, dan lapar tidak membuat kami putus asa untuk membawa salib dan gambar bunda Maria ke sebuah paroki di atas bukit. Untuk sampai ke paroki itu, kami harus melewati sungai dengan arus yang sangat keras. Rasa lelah berubah menjadi keceriaan tatkala ribuan kupu-kupu putih melintasi dan berarak bersama kami. Mereka sepertinya sedang menari, dan ikut berjuang bersama-sama dengan kami. Kupu-kupu itu sepertinya memberikan kegembiraan kepada kami. Kadang mereka mendarat di speed boat, dan beberapa diantara kami sibuk untuk menangkap dan mengumpulkan kupu-kupu putih tersebut. Kata mereka, kupu-kupu itu akan dikumpulkan dan dimakan. Sementara itu sepanjang aliran sungai, ribuan kupu-kupu, ada yang sedang terbang, ada yang sedang bermain-main di atas sungai. Salah satu diantara mereka berkata kepada aku; father, Allah juga ikut berjuang bersama kita untuk melawan arus sungai ini. Aku hanya menjawab “I think so”. Ia berkata lagi; Allah datang menemui kita, dalam keindahan kupu-kupu putih ini.

Setelah sekian lama melawan arus, kami akhirnya tiba juga di sebuah hutan, dan berlabuh di sebuah sungai kecil. Beberapa penduduk di sekitar itu sudah datang menyambut salib dan gambar bunda Maria yang kami bawa. Kami berjalan kaki lagi menuju sebuah kampung. Kampung itu letaknya di atas bukit, dengan pemandangan yang sangat menawan. Kurang lebih satu jam kami tiba di paroki itu. Hari sudah menjelang malam saat itu. Di depan pintu masuk kampung, sudah banyak umat berkumpul untuk menyambut salib dan gambar bunda Maria. Mereka berdoa dan menyanyikan lagu Maria. Beberapa kaum muda dari paroki kami menyerahkan salib kepada mereka. Dengan keceriaan, mereka membawanya menuju gereja. Salib dan gambar bunda Maria diletakkan di depan altar, dan semua orang yang datang menyaksikan dan memberi penghormatan kepadanya.

Cinta Allah
Dalam kesaksian hidup mereka, mereka membagikan pengalaman yang berharga bahwa Allah datang menemui dan mengunjungi mereka. Meskipun hidup di sebuah dunia yang sangat jauh dari keramaian, dengan akses tempat tinggal yang sangat jauh dari kota, dan sulit, tetapi Allah sendiri tetap memperhatikan hidup kami. Dia datang menemui kami di daerah ini. Umat yang tinggal di kampung itu semuanya beragama katolik. Sebagai ungkapan sukacita dan kegembiraan bahwa Allah datang menemui mereka, mereka berdoa dan memuji kebaikan Allah. Mereka datang membuat baris, sambil kepalanya tertunduk, masing-masing mulai dari yang kecil sampai yang tua, maju ke depan berlutut dan menyentuh salib, merangkul salib dan bunda Maria, sebagai ungkapan terima kasih atas rahmat yang boleh mereka terima. Aku berdiri di belakang mereka sambil memandang mereka melakukan tindakan yang serupa. Dalam hati kecil aku, ada kekaguman bahwa cinta Allah pertama-tama bukan karena usaha atau prestasi dari manusia, tetapi karena semata-mata rahmat dari Allah. Aku dapat mengalami Allah, bukan karena usaha aku, tetapi karena usaha dan inisiatif dari Allah yang datang menemuiku. Disinilah cinta Allah tidak pernah terungkap, dan cinta yang paling jelas itu dalam diri Yesus, yang datang sebagai manusia, solider dengan manusia, agar manusia dapat mengalami kasih Allah secara penuh.

Mencari Allah
Dalam Injil dikisahkan tentang Zakeus, seorang pemungut Cukai. Sebagai pemungut pajak ia masuk dalam jajaran pegawai dari kekuasaan bangsa Romawi. Kehadirannya tidak disukai oleh kebanyakan orang, bukan karena ukuran badannya yang pendek, tetapi karena kehadirannya membuat banyak rakyat menderita. Sebagai pegawai pajak, ia memungut lebih uang yang seharusnya diberikan untuk membayar pajak. Kelebihan uang ini dipakai untuk kantong pribadinya. Dengan kata lain, ia memeras dari rakyat. Sudah pasti, dia tidak disenangi oleh kebanyakan orang, dan dianggap sebagai orang berdosa. Dalam situasi yang terpuruk, justru ia berusaha mencari Allah. Ketika suatu saat Yesus datang ke kotanya, dia juga tidak ketinggalan untuk datang melihat Yesus. Namun, karena banyak orang yang mengelilingi Yesus, dan ukuran badannya yang pendek membuat dia kesulitan untuk melihat bagaimana rupa dari Yesus. Zakeus tidak kehilangan akal, dia lalu memanjat pohon supaya dapat melihat Yesus yang sedang berada di tengah kerumunan banyak orang. Ia berusaha mencari wajah Allah dalam diri Yesus. Ia mencari Yesus karena kerinduannya yang sangat besar untuk mengalami cinta dari Yesus seperti pengalaman dari kebanyakan orang yang mengalami penyembuhan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, Yesus datang menemuinya. Di tengah kerumunan begitu banyak orang, Yesus justru lebih tertarik untuk melihat seorang pribadi yang sedang mencarinya, yang berada di atas pohon. Sesuatu yang tidak biasa. Yesus tidak hanya memandang dia, tetapi justru berbicara dengan Zakeus, dan berkata, bahwa dia ingin bertamu di rumahnya. Tentu Zakeus begitu kaget, heran, dan bahagia. Ia heran, karena sebagai orang berdosa, di mata banyak orang, Yesus berbicara dengan dia. Ia bahagia, karena Yesus mau datang ke rumahnya dan makan di rumahnya. Sesuatu kegembiraan yang meluap di hati Zakeus.

Pengalaman Zakeus menunjukkan dengan jelas bahwa rahmat Allah yang kita terima bukan semata-mata prestasi kita, bukan juga karena usaha keras kita, melainkan karena semata-mata rahmat Allah. Tuhan sendirilah yang datang menemui dan bertamu di dalam rumah kita. Ketika pencarian kita tentang Allah dengan usaha dan jerih payah yang melelahkan, tidak pernah kita temukan. Saat-saat seperti itulah Tuhan datang kepada kita dan bertamu di dalam rumah kita. Tuhan mengetahui segala apa yang sedang menjadi kegalauan hati kita.

Membuka hati disapa
Ketika kami kembali dari paroki di atas bukit itu, hati kami dipenuhi dengan keceriaan. Kami tidak lagi berjuang melawan arus. Kupu-kupu putih yang berarak mengantarkan kami juga sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah ketenangan. Salah satu anak muda berkata kepada aku, father, Tuhan kemarin datang berjuang bersama kita, Dia datang menemui kita yang sedang kelaparan, ketika kita lelah, capek, lapar, justru Dia datang menemui kita dalam semerbak ribuan kupu-kupu putih. Father, “ aku baru melihatnya ini pertama kali” kata dia lebih lanjut. Di kampung kita tidak ada kupu-kupu seperti itu, sungguh-sungguh rahmat yang mengagumkan.

Hidup saat ini adalah bukan suatu yang mudah. Kita hidup dengan suatu idealisme untuk mengejar kekayaan, prestasi, dan mengira itu semua memberikan kebahagian. Kadang kita harus berhadapan dengan arus kehidupan yang sangat kencang. Berbagai kegagalan, pengalaman pahit menghadang kita. Semangat hidup kita tidak ada lagi, ketika antuasisme meredup, karena berbagai kesulitan yang kita alami. Saat-saat seperti itu terkadang kita putus asa, dan tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan lagi. Bahkan, termasuk mencintai orang-orang yang disekitar kita pun, kita abaikan begitu saja. Kehadiran Allah yang menyapa kitapun dalam pengalaman keseharian kita tidak kita rasakan lagi. Namun, seperti pengalaman Zakeus dan orang-orang Papua, Tuhan justru sedang berjuang bersama-sama kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita melawan badai kehidupan seorang diri, karena Dia menginginkan kita mengalami keselamatan, dan kebahagian dalam hidup ini. Yang terpenting adalah membuka diri untuk disapa dalam berbagai peristiwa ini, karena kehadiran Tuhan tidak pernah kita duga.

Merenungkan kembali pengalaman itu, aku terbawa dalam pergulatan untuk mengenal lebih dekat pribadi Yesus. Yesus adalah seorang pribadi yang mengagumkan. kehadiranNya membawa kebahagian bagi setiap orang yang membuka hatinya. Siapun pribadi kita dengan segala kelemahan, dan keterbatasan, dengan segala kerapuhan dan dosa kita, Tuhan tetap datang menyapa dan menemui kita. Apapun situasi kita, dia datang berjuang, dan berjalan bersama kita. Dia tidak pernah menunggu, apalagi menunda tetapi datang menemui kita. Yang terpenting adalah membuka hati kita untuk menerima rahmat dari Allah. Selanjutnya mewujudkan cinta Allah dengan mencintai setiap orang yang ada di sekitar kita, terutama orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dari kita. Saat di sanalah kita akan bertemu dengan Allah sendiri. Tidak ada ruang untuk menunda dan berhenti untuk mencintai, karena Allah adalah cinta itu sendiri. Kita telah mengalami dan menikmati hidup ini, karena semata-mata cinta yang datang dari Allah, bukan karena prestasi kita, tetapi karena kemurahan Allah. Cinta dan rahmat Allah inilah yang telah aku dengar bahwa Allah adalah Allah yang berani memberi tubuh dan darahNya bagi manusia. Allah adalah pribadi yang berani menderita, memikul salib yang berat, hingga wafat di kayu salib, hanya karena cinta kepada manusia. Allah adalah pribadi yang mengalahkan maut, agar aku semakin mengimani Dia bahwa DIa adalah Allah yang hidup yang menyertai setiap langkah hidup kita. Inilah rahmat Allah yang kita alami selama pekan suci.


Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)

Minggu, Oktober 12, 2008

BUTTERFLY DANCE


Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea


Delapan orang anak kecil keluar dari semak-semak dan mulai menari. Ditangan mereka masing-masing memegang ranting-ranting pohon yang dihiasi dengan bulu ayam berwarna putih. Seluruh tubuh mereka juga dicat dengan warna putih. Mereka tidak berbusana. Sedangkan di depan dan di belakang barisan anak-anak, dua orang pemuda, yang juga tanpa busana, dengan tubuh mereka juga dihiasi warna putih menari sambil memukul gendang. Mereka hanya mengenakan koteka. Diwajah mereka dicat berbagai warna-warni, di kepala mereka disematkan hiasan mahkota dari burung paradise dan di belakang punggung mereka, dicat dengan tulisan “welcome”. Gerakan mereka menyerupai kupu-kupu yang sedang terbang. Beberapa kali mereka mengelilingi halaman dengan tarian yang bervariasi seperti kupu-kupu. Semua yang berkumpul di sana dengan khidmat berdiri, mengagumi tarian yang sedang diperagakan untuk penerimaan beberapa tamu dari keuskupan. Itulah tarian kupu-kupu untuk penerimaan orang-orang asing yang datang ke kampung kami. Kata seorang bapak kepada aku. Menurut legenda, tarian kupu-kupu berasal dari nenek moyang mereka yang diwariskan turun-temurun untuk menyambut tamu asing. Semula ada sebuah batu besar. Suatu saat ada orang asing datang membawa pesan yang berguna bagi kehidupan mereka. Kupu-kupu putih itu keluar dari sebuah batu besar untuk menyambut mereka. Ribuan kupu-kupu putih terbang dan mengelilingi kampung, sebagai tanda akan datang tamu yang membawa warta gembira. Warisan ini diteruskan dan dilanjutkan oleh orang-orang refugis dari west papua. Setelah penyambutan dengan tarian kupu-kupu, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Mereka membakar babi, sebagai tanda keramahan mereka untuk menjamu para tamu. Ketika kutanya, apakah hanya karena tatkala kami datang, mereka berkata bahwa kami lakukan pada umumnya menyambut tamu asing yang datang ke tempat kami. Apalagi para tamu yang datang adalah orang-orang yang membawa pesan yang berharga bagi kampung kami. Peristiwa itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua di paroki Matkomnai. Pada saat kaum muda dari Australia datang ke paroki kami, mereka juga menunjukkan keramahan melalui penerimaan mereka dengan pakaian adat mereka. Mulai dari anak-anak, para wanita sampai orang tua ingin mempersembahkan yang terbaik dengan tarian untuk orang-orang Australia. Mereka memakai pakaian dari jenis rumput-rumput, dengan telanjang dada. Sedangkan di kepala mereka disematkan mahkota dari burung paradise. Mereka menari dan membentuk gerakan yang meragakan penerimaan tamu dengan kegembiraan. Itulah bentuk keramahan orang-orang Papua.
Orang-orang Papua mempunyai kebiasaan menjamu orang-orang asing bila datang ke tempat mereka. Mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik. Rumah mereka yang sangat sederhana tidak mengurangi keramahan mereka untuk mengundang, datang dan bertamulah ke rumah kami. Citarasa keramahan mereka membuat aku merenungkan hidup kita.

Rahmat yang berharga
Di dalam kitab suci diceritakan tentang semangat keramahan dari orang-orang yang menerima orang asing. Suatu hari, Abraham sedang duduk dibawah kemahnya di Mamre. Ketika ia mengangkat mukanya dilihatnya tiga orang asing. Ia menyongsong mereka dan mempersilakan mereka datang dan beristirahat sejenak untuk melepaskan dahaga mereka, membiarkan mereka membasuh wajah mereka dengan air. Setelah itu Abraham dan Sarah istrinya menyediakan bagi mereka, air, roti dan lembu tambun yang terbaik. Ketiga tamunya akhirnya mengungkapkan diri mereka kepadanya bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, meskipun istrinya sudah sangat tua. Demikian juga yang dilakukan oleh Janda di Zaraphat, sikap keramahannya juga diperlihatkan ketika ia menghidangkan makanan dan menampung Elia di rumahnya. Ia menyediakan makanan untuk Elia, yang sebenarnya makanan itu merupakan persediaan yang terakhir untuk anak-anaknya, setelah itu ia dan anak-anaknya akan mati. Elia mengungkapkan dirinya sebagai utusan Allah yang akan memberikan kelimpahan minyak dan makanan, dan akan membangkitkan anaknya dari kematian. Dalam injil, kita dapat menyimak kisah tentang dua orang murid Yesus yang pergi ke Emaus, dan tiba-tiba di tengah jalan, hadir seorang asing yang berjalan-jalan bersama-sama dengan mereka. Karena hari menjelang malam, kedua murid itu mengundang seorang asing itu, datang dan tinggal bersama mereka. Pada akhirnya Yesus memperkenalkan diriNya tatkala Dia memecahkan roti dan membagi-bagikan kepada dua orang muridNya. Dia hadir sebagai Tuhan dan penyelamat. Keramahan yang diperlihatkan oleh kisah di atas bukan merupakan suatu kewajiban untuk menerima orang asing di dalam rumah mereka, tetapi lebih dari itu, karena orang-orang asing membawa pesan dan rahmat yang berharga bagi mereka.


Ketiga kisah di atas menunjukkan bahwa keramahan menerima seseorang mendatangkan berkat yang melimpah bagi penerima tamunya. Ketika merenungkan pengalaman dan kisah kehidupan orang-orang di dalam kitab suci dan kisah kehidupan orang-orang Papua, aku terpana pada sikap keramahan yang ditampilkan. Kehadiran orang asing tidak membuat mereka menaruh curiga, tetapi sebaliknya menerima mereka dengan sukacita, layaknya seorang sahabat lama yang tidak pernah bertemu, dan suatu saat datang ke tempat mereka. Mereka semua berusaha untuk memberikan yang terbaik. Dalam artian tertentu memberi kesan yang membuat orang terpesona, atau “memanjakan mereka”. Cita rasa keramahan yang ditampilkan ini membuat penerima merasa damai, karena berani untuk memberi yang terbaik, dan yang datang juga merasa diterima, dimanjakan, yang membuat kesan tersendiri bagi orang lain.

Datang dan Lihatlah
Dalam injil Yohanes dikisahkan bagaimana keramahan yang ditampilkan oleh Yesus. Ketika dua orang murid Yohanes bertanya di manakah engkau tinggal? Yesus menjawab kepada mereka “datang dan lihatlah”. Suatu bentuk undangan dari Yesus untuk datang dan mengenal Dia secara lebih dekat. Tetapi dibalik itu semua suatu bentuk keramahan dari Yesus yang mengundang para murid Yohanes untuk memahami dan mengerti dengan benar bahwa Dialah Tuhan yang ditunggu-tunggu. Untuk mengenal pribadi Yesus tidak cukup hanya dengan mendengar saja, tetapi datang mengikuti Dia, berkunjung ke rumah Dia, mengenal Dia secara lebih mendalam. Pengenalan secara mendalam mengandaikan sikap untuk datang dan mengalami secara langsung. Sikap Yesus ini menunjukkan suatu sikap yang terbuka kepada siapapun yang datang kepadaNya. Yesus hanya menawarkan bentuk keramahanNya, tergantung dari kita, apakah kita berani untuk memenuhi undanganNya atau tidak.

Undangan itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua. Dalam kesederhanaan, mereka selalu mengundang setiap orang untuk datang dan mengenal mereka secara lebih dekat. Mereka adalah pribadi-pribadi yang terbuka untuk disapa, untuk disentuh dengan kasih. Kehadiran kita akan membuat mereka selalu ingin menyuguhkan yang terbaik bagi siapa saja yang datang ke tempat mereka.
Ketika merenung seorang diri, aku menemukan hidup sekarang ini semakin memuja pada semangat individualisme. Artinya semangat yang berpusat pada diri sendiri, tanpa menghiraukan orang lain di sekitar kita. Semangat keramahan kepada orang lain semakin luntur, karena kita terbawah pada sikap tidak mempercayai orang lain. Orang lain adalah bukan aku yang lain. Orang lain adalah di luar dari hidup kita, sehingga ketika ada orang yang datang kepada kita, sikap yang kita tampilkan adalah sikap tidak ramah, untuk tidak mengatakan sikap menolak kehadiran mereka. Kita tidak membiarkan ruang sedikit pun untuk mengenal mereka secara mendalam, dan sebaliknya tidak ada ruang pula bagi mereka untuk mengenal kita secara lebih mendalam. Kita menutup jendela hati kita untuk mereka. Lantas undangan untuk masuk dalam perjamuan, menikmati bersama menjadi tidak ada lagi. Karena kehadiran orang asing adalah kehadiran yang merepotkan kita. Kehadiran orang asing adalah kehadiran yang membuat kita sibuk dengan segala banyak urusan. Lantas yang terjadi adalah sikap tidak ramah yang kita tampilkan.

Tetapi orang Papua berkisah lain tentang kehadiran orang lain. Orang lain adalah rahmat karena mereka membawa pesan bagi mereka. Maka suguhan yang paling baik diberikan. Tarian kupu-kupu dan tarian adat mereka tampilkan. Semua yang mereka lakukan hanya untuk memberikan kegembiraan dan kelegaan kepada para tamu. Sagu, pisang, dan segala bentuk makanan mereka sajikan hanya untuk membuat para tamu merasa dimanjakan. Dalam kesederhanaan, mereka tetap mengundang setiap orang asing untuk datang ke rumah mereka. Mereka tidak pernah malu untuk berkisah tentang rumah, kehidupan dan makanan yang sederhana yang disajikan oleh mereka. Karena itulah cita rasa keramahan mereka. Keramahan yang keluar dari ketulusan dan keterbukaan hati mereka untuk menerima siapapun yang datang berkunjung ke tempat mereka. Bagi mereka orang asing adalah tamu yang terhormat, maka memberi tempat yang terhormat dengan menyajikan sesuatu yang terbaik mendapat tempat yang pantas dalam budaya mereka.
Tarian kupu-kupu itu mengingatkan aku, dan mengingatkan kita akan semangat keramahan, dalam menerima orang lain. Kehadiran orang lain, siap pun orangnya, terlebih lagi orang miskin adalah kehadiran yang memberi pesan bagi kehidupan kita. Acap kali kita lalai terhadap kehadiran mereka di depan pintu rumah, di depan pintu pastoran kita, karena anggapan kita mereka adalah orang lain, mereka adalah orang asing. Namun kitab suci mengingatkan kita “barangsiapa menerima orang sekecil ini, ia menerima Aku”. Itulah kehadiran Yesus yang datang bertamu dalam rupa orang asing, dalam rupa orang miskin. Dalam diri orang yang kotor, bau badan, dengan pakaian seadanya. Tetapi kehadiran mereka membawa pesan, bahwa Tuhan sendiri yang datang berkunjung ke dalam rumah kita. St. Vinsensius berkata kalau ada orang yang datang ke tempatmu, dan pada saat itu kamu sedang berdoa, “tinggalkan Tuhan untuk bertemu dengan Tuhan, yang hadir dalam diri sesamamu. Kata-kata itu menjadi kekuatan kita untuk menerima orang dengan keramahan, dan dengan sikap yang terbuka dan tulus. Seperti Tuhan Yesus sendiri yang menerima kedua murid Yohanes, kita pun berani berkata “ datanglah dan lihatlah”. Disinilah damai itu dapat kita rasakan, karena kita melayani Tuhan yang hadir dalam diri mereka. inilah pesan kehadiran mereka orang-orang miskin.


Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)

Minggu, Mei 18, 2008

BERBAGI

Ahmans2006

Sungai kecil itu mengalir di tengah hutan ke sungai yang lain. Airnya selalu bening. Ketika melewati sungai kecil di tengah hutan, beberapa orang-orang mengambil air dari sungai itu dan dimasukan ke dalam botol. Dalam bayanganku, air itu akan dibawa ke rumah, direbus, setelah itu diminum. Namun, tidak demikian air itu langsung diminum begitu saja. Aku agak ragu-ragu untuk meminumnya, tetapi setelah melihat beberapa orang menikmati air di sungai itu, tanpa ragu-ragu aku juga ikut menikmatinya. Bahkan setelah kami tiba di sebuah kampung dan melepaskan lelah, air itu diletakkan begitu saja di rumah panggung. Tatkala kami menikmati hidangan sagu dan pisang, air itu diminum tanpa dimasak lebih dahulu.

Romanus adalah salah satu keluarga yang seringkali datang untuk mengambil air dari sungai. Setiap kali datang, ia selalu membawa beberapa botol air. Botol-botol ini tidak terlalu besar. Bila botol itu sudah selesai, ia datang mengambil air dari sungai ini lagi. Demikian pula warga yang lain, mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Romanus. Di rumah-rumah mereka, hampir tidak pernah dijumpai ember dalam ukuran yang besar, tetapi botol-botol kecil yang warna dan bentuknya sudah semakin tidak jelas. Kadangkala di tengah hutan, mereka membuat aliran kecil dari bambu,sehingga setiap orang yang lewat memudahkan mereka untuk mengambilnya.

Mereka tidak pernah membuang kotoran atau sampah di tengah sungai itu. Romanus bercerita kepadaku bahwa air ini akan mengalir ke sungai yang lebih besar, dan sepanjang sungai itu, masyarakat di desa yang lain akan menikmati air yang sama. Maka seperti suatu kebijaksanaan hidup, mereka tidak akan mengotori air tersebut.
Ketika persediaan air semakin tidak ada, mereka rela berbagi air kepada orang lain. Kegembiraan itulah yang mereka berikan. Meskipun persediaan air tinggal sedikit, mereka masih mau berbagi dengan orang lain. Bagi mereka, seperti sumber air yang memberi dan berbagi kepada sungai-sungai yang lain, dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, maka kehidupan itu akan selalu dirayakan dalam kebahagiaan dengan “memberi”. Romanus berkata, sumber air selalu memancarkan kebeningan, karena sumber air selalu memberi, dan selalu berbagi kepada orang lain. Ke mana air itu mengalir, ia selalu menawarkan sukacita, kepuasaan dan memberikan kedahagaan kepada orang lain.

Mengalirkan kehidupan
Tuhan Yesus menyebut dirinya sebagai sumber air hidup. “Barang siapa datang kepadaKu, dan minum dari sumber air yang Aku berikan ini, dia tidak akan mati, tetapi akan memperoleh kehidupan. Yesus dalam seluruh karya perutusanNya selalu memberikan kelegaan kepada manusia. Ketika Ia mengajar dari desa ke desa Ia selalu membawa warta gembira dan sukacita, sehingga hati setiap orang yang terbuka dan mendengarkan warta gembira mengalami sukacita, dan kegembiraan.

Hati Yesus adalah sumber air hidup yang memberikan kelegaan dan kegembiraan kepada manusia yang siap untuk menerima. Kabar sukacita ini ditawarkan kepada setiap manusia dengan memberikan diriNya sendiri seutuhNya kepada manusia, agar manusia mengalami kebahagiaan. Puncak pemberiaan diriNya adalah melalui penderitaan, hingga wafat di kayu salib. Warta tentang kebangkitan yang dibawah oleh para rasul dan wanita yang mengalami penampakan menimbulkan sukacita, karena Yesus sebagai sumber air hidup tetap tinggal dan hadir di setiap langkah hidup manusia.

Berani Memberi
Confusions mengajarkan sebuah nilai keutamaan bahwa tatkala manusia berani melepaskan dan menanggalkan segala apa yang menjadi keinginannya, dan kelekatan hidupnya ia akan meraih hidup baru. Kelekatan berarti tidak berani untuk memberi yang dimilikinya untuk dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian hidup baru yakni hidup yang memberi dan menyajikan santapan kehidupan yang melegakan bagi orang lain tidak dirayakan bersama dengan orang lain, tetapi hanya demi kepuasaan diri sendiri. Anthony De Mello mengatakan hidup yang sejati adalah sikap hidup lepas bebas. Sikap hidup lepas bebas ini memungkinkan manusia meraih arti dan makna hidup yang sebenarnya.

Orang-orang Papua adalah pribadi yang berani untuk memberi. Prinsip hidup mereka adalah seperti sumber air hidup yang mengalir ke mana saja dan menawarkan kesegaran. Demikian pula hidup mereka, dengan memberi air kepada orang lain, meskipun mereka hanya memiliki sedikit, tetapi mampu memberikan kehidupan kepada orang lain. Mereka berani melepaskan dan menanggalkan apa yang mereka miliki dan dibagikan kepada orang lain untuk merebut kelegaan hati yang jauh lebih mewah dari pada membiarkan orang lain menderita.

Perumpaan seorang janda miskin yang memberikan sepeser koin yang dimilikinya di bait Allah mendapat apresiasi dari Yesus adalah contoh paling jelas dalam kitab suci. Yesus memuji janda miskin, karena dia berani memberikan dari kekurangannya dan bukan dari kelebihannya untuk Tuhan. Ia berani memberikan semua yang menjadi jerih payahnya. Keyakinannya yang teguh bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terindah dalam hidupnya. Satu-satunya pedomanan hidupnya adalah berharap dan berpegang pada Tuhan. Iman dan keteguhan akan kepercayaan bahwa kemurahan Allah akan dialami, membuat dia memberikan semuanya untuk Tuhan.

Menikmati kebahagiaan
Tatkala kami pulang, dan melewati sungai itu, Romanus menunjukkan kepadaku bahwa sungai ini menjadi berkat bagi hidup mereka. Sungainya tetap bersih dan bening, dan mengalir kemana saja, dia suka, dan kemana dia mengalir, sungai ini menawarkan dan memberikan kepuasaan bagi orang lain. Hidup itu indah kalau kita mau memberi, seperti sungai yang selalu memberi dan mengalir. Meskipun hanya sedikit tetapi memberi makna bagi hidup orang ini. Aku tidak banyak menanggapi dengan filosofi sederhana yang diajarkan oleh Romanus kepadaku. Aku teringat akan tindakan sederhana yang dilakukan oleh Romanus ketika ia memberikan semua makanannya kepada orang lain saat kami makan bersama di sebuah kampung. Ketika kubertanya apakah masih ada makanan untuk dirinya? Sambil tersenyum ia berkata tidak ada lagi makanan yang lain selain ini. Tetapi “no problem”. Karena kadang kala kami hanya makan sekali saja dalam sehari. Aku baru mengerti bahwa ia telah belajar dari air sungai yang selalu memberi. Memberi adalah sebuah tindakan yang sederhana, namun kedalaman hatinya mengajarkan sebuah keutamaan kemurahan hati. Kemurahan yang memancarkan sukacita dalam dirinya dan dalam diri orang lain yang menikmatinya.

Steven covey, dalam bukunya “ Delapan kebiasaan Baik” memaparkan rumusan yang sederhana namun kaya dengan makna hidup yakni bahwa kebahagian dapat diraih melalui “sikap dan tindakan memberi”. Sikap memberi adalah tindakan “share and give” apa yang aku miliki kepada orang lain, agar orang lain dapat menikmati kebahagiaan. Benar! Seperti apa yang dilakukan oleh janda miskin dalam Injil, dikisahkan bahwa ia memberikan semua apa yang ada padanya kepada Tuhan. Bagi orang lain, tindakan janda miskin adalah sebuah tindakan yang keliru, karena memberi semuanya, lantas untuk dirinya bagaimana? Sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi. Tetapi keyakinan yang teguh bahwa memberi adalah menuai kebahagiaan dalam jiwa. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menuai kebahagiaan yakni menerima. Tuhan Yesus adalah teladan hidup dalam sikap pemberiaan diriNya yang total kepada Allah dan manusia. Meskipun penderitaan dan kesengsaraan yang dialami begitu berat, namun keselamatan manusia menjadi kebahagiaan BapaNya di surga.

Melihat cara hidup orang Papua, kekaguman terberserit dalam diriku. Betapa mereka menghayati sebuah nilai memberi agar mereka dapat menikmati kebahagiaan. Kata-kata Romanus menggetarkan hatiku, betapa penghayatan hidup yang sederhana ini justru menuai kebahagian. Tidak jarang, egoisme dan sikap indivuadualisme menumbuhkan sikap untuk enggan memberi apa yang kita miliki kepada orang lain. Karena memahami memberi berarti mengurangi apa yang telah aku miliki.
Sungai yang mengalir di tengah hutan itu kini menjadi symbol untuk mengingatkan hidup manusia bahwa memberi adalah mengalirkan kehidupan kepada orang lain, agar orang lain dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan. Dengan memberi dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, hidup menjadi bermakna dan berarti, karena sumber yang mengalir dalam jiwa manusia terus memancarkan sukacita.

Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea


Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)

Sabtu, Mei 10, 2008

LUAPAN KECERIAAN


Rumahnya berbentuk rumah panggung, dengan atap dari daun lontar dan dindingnya terbuat dari pohon sagu. Ruangan rumahnya sangat lebar, dibuat tidak dari papan, tetapi dari batang pohon sagu yang sudah dibelah dan disusun. Ruangan ini serba guna, selain untuk masak, untuk tidur, untuk bermain anak-anak dan sarana berkumpul keluarga. Di dekat pintu masuk, diletakan beberapa piring, senduk nasi, dan panci untuk memasak. Di beberapa sudut yang lainnya, tergantung beberapa potong pakaian yang tampaknya sudah sobek dan lusuh, dan beberapa tandan pisang mentah, dan jenis umbi-umbian. Kalau lelah setelah pulang dari kebun, mereka langsung merebahkan tubuhnya dan lelap dalam tidurnya. Mereka sepertinya sudah menyatu dengan kehidupan mereka. Demikianlah kesederhanaan keluarga Paul dan Ana dengan lima orang anaknya.

Mereka hidup dari hasil hutan dan hasil berburu. Setelah dua atau tiga hari, persediaan makanan mereka sudah habis, Paul dan Ana kembali ke kebun. Selama mereka belum mendapatkannya mereka tidak akan pulang ke rumah panggung mereka. Kesehariaan mereka adalah menikmati pisang, sagu, umbi-umbian dan kalau Paul mendapat rejeki dari hasil buruannya, maka mereka mendapat rejeki makan daging babi dan jenis binatang buruan lainnya. Anak-anaknya tidak pernah mengeluh tentang makanan. Sarapan pagi, siang dan malam adalah pisang bakar, dan sagu. Jarang sekali mereka makan nasi, karena harganya sangat mahal dan mereka harus datang membelinya di kota. Meskipun demikian keceriaan wajah mereka selalu nampak. Yang ada adalah kegembiraan menikmati hidangan dengan senyuman. Mereka menikmatinya itu sebagai anugerah.
Keluarga Paul adalah salah satu keluarga yang tinggal di desa yang bernama Noningire. Untuk sampai ke tempat mereka, dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 5 jam, atau naik perahu bermotor selama empat jam melewati sungai. Penduduk desa Noningire umumnya bermata pencaharian berkebun, dan berburu. Bentuk rumah mereka umumnya sama seperti halnya dimiliki oleh Paul dan Ana. Di desa ini ada beberapa umat yang beragama Kristen Katolik. Setiap dua bulan sekali pastor datang mengunjungi mereka. Kebanyakan dari anak-anak muda sudah tidak mau menempati desa ini lagi. Mereka mulai pindah ke daerah-daerah di dekat kota yang mudah diakses. Hanya beberapa penduduk yang tinggal di daerah ini termasuk keluarga Paul dan Ana.

Luapan Keceriaan
“Kami tidak punya apa-apa untuk diberikan”…demikian ungkapan Paul kepada kami. Ketika itu, Ana menyediakan bagi kami pisang bakar dan sagu. Namun luapan keceriaan dan keramahan selalu tampak dalam pemberiaan mereka. Dalam kesederhanaan, luapan keceriaan dan semangat hidup tetap terpancar dalam hidup mereka.

Kotbah Yesus di bukit, dengan gamblang mengungkapkan kebenaran kata-kata ini “berbahagialah orang miskin, karena kamulah empunya kerajaan Surga. Berbahagialah mereka, yang tidak memiliki apa-apa tetapi keceriaan dan kebahagiaan hidup selalu mereka nikmati. Kebenaran kata-kata itu terungkap jelas dalam keseharian hidup keluarga Paul dan Ana. Satu-satunya andalan hidup mereka adalah kemurahan dan kebaikan Allah. Mereka tidak pernah cemas dengan apa yang harus mereka makan, atau apa yang harus mereka pakai, karena keyakinan yang besar pada kasih dan kebaikan Tuhan, bahwa pasti Tuhan akan menyediakan bagi mereka. Allah adalah harta kekayaan mereka. Harta yang tidak ternilai harganya. Harta yang dilupakan oleh orang-orang dunia yang ambisi untuk mengejar kedudukan, kekayaan dunia, tetapi miskin akan kedamaian.

Kehidupan manusia kian hari, kian memuja pada materialisme. Orang gelisah karena hatinya terpaut dan terpusat pada harta duniawi. Hidupnya menjadi tidak tenang karena dihantui perasaan tidak aman. Berbeda dengan kehidupan Ana dan Paul yang adalah cerminan gaya hidup orang Papua, dalam kesederhanaan luapan keceriaan tetap terpancar dari hati mereka.

Berguru pada Orang Miskin
Yesus sendiri pernah berkata, “barang siapa melayani orang sekecil ini, dia melayani Aku. Yesus sendiri dalam seluruh hidupnya berpihak pada orang miskin”. Ia mengidentifikasikan diriNya dengan orang yang terppingirkan. Ia datang menjumpai mereka, menyapa mereka, memeluk mereka, bahkan makan bersama dengan mereka. Suatu gaya hidup baru yang diperkenalkan oleh Yesus pada ahli penafsir kitab Taurat. Yesus menunjukkan suatu jalan pikiran baru kepada mereka bahwa orang miskin memiliki harta yang tak ternilai yakni hidup yang berpegang pada kasih Tuhan. Mereka tidak memiliki kekuatan apa-apa untuk dijadikan andalan hidup mereka, kekuatan hukum dan kekuasaan tidak mereka miliki, maka ketika mereka mengalami kesulitan, pegangan dan andalan hidup mereka adalah Tuhan. Sekaligus Yesus juga ingin menunjukan kepada kaum Yahudi bahwa orang miskin bukanlah kaum pendosa yang pantas dipinggirkan, karena mereka memiliki martabat yang sama sebagai citra Allah.

Kehadiran Yesus menunjukkan suatu radikalisme baru yakni kita perlu menatap mereka dengan penuh kasih. Karena di dalam hidup mereka mengalir kebijaksanaan Allah sendiri. Wajah Allah tersembunyi di balik wajah orang-orang Miskin. St Vinsensius memandang orang miskin sebagai Tuan dan Majikan. Vinsensius datang dan berguru pada kehidupan mereka. Ia menemukan wajah Kristus sendiri. Sehingga ia sangat getol melayani mereka. Ia menghayati kebenaran kata-kata Yesus sendiri bahwa melayani orang miskin adalah melayani Tuhan Yesus sendiri. Kehadiran Tuhan Yesus tidak hanya dijumpai di Synagoga ( Gereja ) tetapi Tuhan Yesus juga hadir secara nyata dalam diri orang miskin. “ Ketika Aku di penjara, kamu tidak melawat Aku, ketika Aku haus kamu tidak memberi Aku minum, dan ketika Aku tidak mempunyai pakaian kamu tidak memberi aku pakaian.

Pemberian diri
Merenungkan perjalanan hidup sebagai seorang Kristiani, terkadang terbersit rasa malu karena luapan keceriaan jarang aku alami. Aku memiliki segala-galanya dalam ukuran orang Papua. Rumah yang lumayan bagus, dengan perabot masak yang agak lengkap, kamar tidur dengan tempat tidur yang baik, dilengkapi dengan kamar mandi. Tak pernah aku kesulitan untuk makan, karena dengan kendaraan aku dapat menjangkaunya ke Kota. Meskipun demikian, terkadang aku terpenjara dalam impian aku sendiri dan lupa memberi diri untuk melayani Yesus yang hadir dalam diri orang miskin.

Hendri Nouwen menulis di dalam bukunya “ The Road of Peace” mengatakan bahwa spiritualitas melayani orang miskin adalah soal semangat pemberian diri kepada orang miskin, hadir bersama mereka dan berjumpa dengan orang miskin. Segala sarana yang kita miliki adalah fasilitas yang memudahkan kita untuk datang berjumpa dengan mereka. Dengan demikian, segala fasilitas yang kita miliki tidak membelokkan kita untuk menggapai dan menjumpai Yesus dalam diri orang miskin. Kita harus mengakui banyaknya fasilitas terkadang membuat hidup kita terpusat padanya, tidak merasa bebas, dan terpenjara pada harta duniawi.

Keluarga Paul dan Ana telah mengajarkan sebuah kebenaran kuno dari Yesus sendiri yang tetap aktul sampai saat ini. Kebenaran yang tidak pernah termakan jaman, kebenaran yang tidak pernah tergoyahkan oleh promosi modernisme. Saatnya kita berkiblat pada orang miskin, karena wajah Tuhan secara nyata hadir di dalam diri mereka. Jalan pemberian diri dalam bentuk apa saja adalah suatu jalan untuk mengapai dan mencicipi luapan keceriaan dari orang miskin.

Fr. Mans Werang, Cm
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea.(Ahmans2006@yahoo.com.au)


Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)

Jumat, April 04, 2008

MENIKMATI KESENDIRIAN BUKAN BERARTI KESEPIAN

Oleh: Mans Werang, CM

Sudah lama ia berjalan tanpa alas kaki. Di tangannya hanya ada parang dan tas kecil yang disangkutkan pada kepalanya. Keringat mengucur deras di tubuhnya. Sesekali dia berusaha untuk menghindari jalan yang berlumpur dan memilih jalan yang agak kering. Pandangan matanya tetap mengarah pada jalan kecil itu. Tak terdengar suara manusia. Di kiri dan kanannya hanya hutan lebat. Bila ada suara yang asing di telinganya, dia berhenti sejenak, namun segera itu ia melangkah lagi, karena ia menyakini itu suara alam yang setia menyertainya. Tatkala rasa lelah dan haus menghingapi dirinya, ia berhenti sejenak di sungai dan menimba air untuk memuaskan rasa dahaganya. Setelah itu, ia melanjutkan lagi perjalanannya. Ia berjalan dalam keheningan dan kesendirian di tengah jalan kecil di hutan menuju ke kota.

Jalan kecil yang melalui hutan itu dilewatinya setiap bulan kalau ia datang ke kota. Dia tidak pernah mengetahui sudah berapa lama ia berjalan, karena dia tidak memiliki jam tangan. Namun ia mengetahui dengan pasti bahwa kalau dia berangkat pagi hari berarti dia akan tiba di kota, ketika anak-anak sekolah sudah mulai bergegas keluar dari gedung sekolah. Inilah potret wajah Jo, seorang Prayer leader dari desa Nonigire. Ia sangat sederhana, pakaian yang dikenakan masih sama saja, dengan bekas lumpur di mana-mana, namun senyumnya selalu menghiasi wajahnya. Tak tergambar rasa lelah, yang adalah kelegaaan yang terpancar.

Wajah Jo adalah wajah orang Papua. Wajah-wajah kesederhanaan yang menikmati perjalanan dalam kesunyiaan tanpa merasa kesepian. Orang-orang Papua adalah pribadi-pribadi penikmat kesendirian. Mereka tidak memiliki akses untuk menjangkau dari satu tempat ke tempat yang lain. Akses yang sangat terbatas tidak membuat mereka putus asa memilih jalan kecil di tengah hutan untuk tiba di kota. Meskipun beban bahan makanan kadang sangat berat, namun mereka terus berjalan dan mengayunkan langkah. Ketika langkah awal diayunkan, itulah kehidupan mereka mulai bergulir. Rasa lelah dengan berjalan kaki berjam-jam dipuaskan dengan sumber air di tengah hutan yang memberi kesegaran baru untuk melangkah lagi, hingga mereka sampai di tempat tujuan.

Religiositas hati orang Papua
Kedekatan dengan alam membuat orang-orang Papua merasa bahwa alam adalah sahabat mereka yang senantiasa menyertai mereka dalam kesendirian. Alam adalah penuntun hidup mereka. Alam selalu menyediakan hati untuk memuaskan rasa dahaga mereka. Tatkala lelah, capek dan lapar, alam menyediakan air dan makanan bagi hidup mereka. Dalam kesunyiaan, alam berbisik tentang kehadiran mereka dalam perjalanan. Perjalanan itu menjadi suatu sukacita di tengah kesendiriaan. Mereka menikmati kesendiriaan sebagai doa dan mendengarkan suara-suara alam yang menyapa mereka bahwa mereka dicintai, bahwa hidup mereka berharga. Sehingga perjalanan itu tidak lagi menjadi suatu beban tatkala mereka mulai melangkah.

Hati yang dekat dengan alam membuat mereka memahami kehidupan dengan lebih jernih. Alam memberi banyak kemungkinan tentang hidup manusia. Alam menyapa di hati mereka bahwa ada harapan untuk mengapai hidup yang tenang. ketika perjalanan itu dirayakan dengan sikap yang terbuka, kelegaan hati akan mereka raih. Perjalanan bagi mereka di tengah alam tidak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan, meskipun dalam kesendirian, karena keyakinan akan alam yang selalu berbicara tanpa kata-kata.
Hidup mereka bagaikan sebuah perjalanan doa. Tak ada rasa takut, gelisah dan cemas meskipun harus melewati hutan belantara dan jalan sempit, karena kesadaran akan suara-suara Tuhan yang memanggil mereka dengan nama mereka bahwa mereka dicintai.

Hadir di Hadapan Allah
Theresa dari Avila mengatakan doa adalah hadir di hadapan Allah, menikmati dan merasakan kekuatan kasih yang mengalir dari Allah. Bagi Hendri Nouwen dalam bukunya “The Only Necessary Thing living a prayerful Life” mengatakan doa adalah masuk dalam persatuan dengan pribadi yang mencintai kita sebelum kita dapat mencintai. Inilah cinta pertama yang diungkapkan pada kita dalam doa. Sedemikian pentingnya doa, sehingga St Vinsensius pernah berkata “ Berilah aku hati seorang pendoa, maka aku akan dapat melakukan semuanya”. Benar! Doa adalah sumber hidup yang memberi kekuatan di saat kita lelah. Doa seperti air yang memberi kelegaan, kepuasaan dan kegembiraan pada kita.

Tuhan Yesus menunjukkan dengan jelas bagaimana kekuatan doa. Ketika dia dan para muridNya berjalan dari kota ke kota, dia selalu berusaha mengasingkan diri dalam kesendirian dan bertemu dengan BapaNya. Ketika rasa takut menghadapi kematian di depan matanya, Yesus bertemu dengan BapaNya seorang diri di taman Getsemani. Yesus berdoa. Yesus memulai seluruh karya dan perutusanNya dengan doa. Rasa takut dan kesendirian menjadi kekuatan, ketika Ia datang bertemu dengan BapaNya dan merasakan betapa BapaNya mencintai Dia. Yesus tidak pernah lari dari kesendirian dan kesepian karena keyakinan akan penyertaan BapaNya. Semuanya itu ditemukan dalam doa.

Kesunyiaan Hati
Hidup di Papua adalah hidup dalam dunia kesunyiaan. Hidup dengan tak ada tawaran dan promosi modernisme. Hidup yang mengalir begitu saja, tanpa ada hiruk pikuk yang menenggelamkan hati pada dunia. Yang ada adalah suara-suara alam yang memanggil dari hari ke hari. Suara alam yang menyanyikan senandung pujian, senandung doa dan senandung lagu cinta bahwa hidup manusia dicintai dan berharga di mata Allah.
Namun suara-suara yang menyapa setiap saat sepertinya berlalu begitu saja, tatkala hidup manusia kian hari kian tak ada ruang waktu yang disediakan untuk melangkah dan masuk dalam diri sendiri. Kian hari kian kita kian takut untuk hidup dalam kesunyian. Maka kita berusaha untuk melepaskan diri dari rasa takut dengan memuaskan diri pada atribut-atribut duniawi. Kita berusaha memenuhi berbagai tawaran duniawi, ketimbang berusaha memenuhi panggilan jiwa. Karena panggilan jiwa adalah berjalan dalam kesendirian, di tapak kecil dengan jarak waktu yang kian lama. Tatkala tak ada ruang untuk memenuhi panggilan jiwa, kesepian datang dalam berbagai wajah. Wajah yang paling menakutkan adalah wajah yang memperlihatkan wajah ketidakpuasaan dengan diri sendiri. Orang menjadi cepat marah, bahkan berbagai tindakan brutalisme, kejahatan, dan kriminalitas lahir dari ketiadaan ruang untuk memenuhi kesunyiaan hati. Kesunyiaan adalah momok yang menakutkan, karena di sanalah diri kita berhadapan dengan kesendirian. Maka doa dengan masuk dan bersatu dengan Allah menjadi suatu beban. Jika demikian doa tidak lagi dilihat sebagai sumber yang memberi kepuasaan, kedahagaan, dan kebahagian hidup seperti Orang Papua tatkala lelah, berhenti sejenak menikmati sumber air, melainkan doa dilihat sebagai saat membuang-buang waktu, karena melakukan hal yang tidak berguna.

Sebagai orang Kristiani kadang aku malu dan bertanya pada diri sendiri. Sudah kah aku jadikan doa sebagai sumber hidupku yang memberi kedahagaan? Alasan klasik sering aku lakukan adalah tidak ada waktu untuk berdoa karena sibuk dengan dunia idealismeku sendiri. Sibuk mencari popularitas dan merasa bahwa aku tidak membutukan doa lagi. Tatkala kesepian datang, aku berusaha untuk mencari atribut-atribut duniawi. Namun semakin aku mencari kelegaan tak pernah aku raih. Inilah cermin wajah-wajah kita yang memilih memuliahkan diri sendiri, dan lupa untuk mendengarkan suara pribadi yang memanggil “anakku Aku mencintai engkau”. Peristiwa pembabtisan Yesus di sungai Yordan dengan gamblang melukiskan suara yang terdengar dari langit “ Inilah Anakku yang terkasih, dengarkan Dia. Bapa menyapa Yesus dengan sapaan anakku yang terkasih. Jika Yesus disapa dengan anakku yang terkasih, berarti aku juga disapa demikian.

Menikmati Kesendirian
Kesepian adalah bagian dari hidup manusia. Siapapun pasti mengalami. Kesepian datang setiap saat. Di tengah keramaian, di tengah suara gegap gempita bahkan di tengah suasana pesta, kesepian itu datang. Kesepian adalah sebuah pengalaman eksistensial yang tidak mengenakan. Dan ketika ia datang tidak jarang kita berusaha untuk menghindarinya, tanpa berusaha untuk mengelola rasa kesepian itu menjadi suatu yang kreatif.

Tuhan Yesus pun mengalami kesepian dan kesendiraan ditinggalkan oleh BapaNya ketika Ia bergantung di kayu salib “ ya Allah, ya Allaku mengapa Engkau meningalkan Aku? Yesus merasa ditinggalkan oleh BapaNya, namun segera itu dia menyadari karya perutusanNya, dia berkata “ sudah selesai”. Yesus menyadari bahwa dalam kesepian itu BapaNya tetap menunjukkan kasih dan penyertaanNya. Allah tak pernah tidur. Dia selalu menyertai kita dalam setiap perjalanan hidup. Dia hadir menyapa setiap manusia melalui berbagai peristiwa, mungkin peristiwa yang tidak besar, tetapi dalam pengalaman keseharian yang sederhana. Di situ Allah juga berbicara. Yang terpenting adalah membuka hati dan mata untuk melihat Allah yang berbicara kepada kita dalam pengalaman itu.

Kita sering merasa sendirian, meskipun berbagai atribut duniawi kita miliki. Jo dan orang Papua adalah pribadi-pribadi yang tidak memiliki apa-apa. Mereka hanya memiliki sikap hati yang terbuka sehingga peka melihat bahwa di tengah kesendirian di jalan tapak kecil di antara hutan, mereka masih meyakini bahwa alam selalu melindungi dan menyertai mereka. Mereka menikmati perjalanan dalam kesendirian, namun tidak merasa kesepian. Itulah hidup yang harus kita kejar dan kita raih, bahwa dalam kesendirian Allah selalu dan masih mencintai kita. Nikmatilah kesendirian di hadirat Tuhan, karena kesendirian bukan berarti kesepian.

…..bersambung….

Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea. (ahmans2006@yahoo.com.au) atau (belina_cm@dg.com.pg)



Dikirim oleh: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)

Rabu, Maret 19, 2008

KABAR BAIK DARI PAPUA NEW GUINEA

Syalom Bapak, Ibu dan teman-teman semua,

Kabar baik dalam masa pra-paskah yang sangat menggembirakan kita semua yang saya terima dari Titik, teman kita satu perjuangan di dalam kepanitian Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) angkatan ke-7 Paroki Kristus Salvator-Jakarta, adalah diterimanya artikel bacaan rohani untuk mengisi blog ini dari seorang Pastor Congregasi Misi (CM) yang saat ini sedang bertugas di Papua New Guinea, negara tetangga kita. Atas kebaikan Tuhan Yesus melalui Pastor Mans Werang, CM dan Titik, sebentar lagi kita akan menikmati hidangan tulisan-tulisan Pastor yang berkisah tentang kehidupan dan religiositas keseharian orang-orang Papua; Kisah tentang pernik-pernik pengalaman Pastor Mans Werang berjumpa, mengalami dan melayani saudara-saudara kita di Papua. Sungguh menarik tentunya bukan ? Thank You, Lord.

Pada kesempatan ini kami alumni KEP Paroki Kristus Salvator, khususnya Panitia KEP-7 sebelumnya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Pastor yang telah men-sharing-kan pengalaman rohaninya dalam misi kepada kami. Kebaikan Pastor telah memotivasi dan memberikan dukungan kepada kami untuk terus mengisi dan memelihara blog ini. Melalui blog ini kami mau ber-introspeksi, belajar, memberitakan kebaikan Tuhan dan bertumbuh bersama serta mendapatkan kekuatan dalam iman kepada Yesus. Kekuatan dalam Tuhan sangat kami perlukan bagi perjalanan hidup dan karya kami di dunia ini mengarungi gelombang kehidupan sampai dengan akhir hayat kami. Kami memang harus terus berjuang untuk sampai pada akhirnya Tuhan menjumpai kami dalam keadaan tetap setia kepada-Nya. Roh Kudus kami mohonkan kekuatan dan bimbingan-Mu agar senantiasa mampu mengatasi godaan dan cobaan dalam perjalanan hidup kami di dunia ini.

Sebelum membaca tulisan Pastor nanti, berikut ini adalah informasi diri dan karya dari Pastor Mans Werang, CM:


Mans Werang, CM, Lahir, Lebao Solor, 10 Oktober 1976. Setelah menyelesaikan pendidikan di Seminari Menengah San Dominggo Hokeng, pada tahun 1997 bergabung dengan CM (Congregasi Misi). Menyelesaikan pendidikan Filsafat dan Teologi di STFT Widya Sasana Malang pada tahun 2006. Pada tanggal 30 Agustus 2006, ditahbiskan menjadi imam CM di Surabaya, dan mendapat tugas berkarya menjadi misionaris di Papua New Guinea. Mulai menulis sejak SMA Seminari, beberapa tulisannya pernah dimuat di harian surat kabar, seperti “Pos Kupang”, “Banjarmasin Post”, “Surabaya News”, dan beberapa majalah seperti, “Educare”, Rohani, “Serikat Kecil”, “Lazaris”, dan pernah menulis reportase untuk Majalah Hidup. Sekarang bertugas sebagai Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea. (ahmans2006@yahoo.com.au) atau (belina_cm@dg.com.pg).

Selamat mengikuti artikel dari Pastor Mans Werang, CM yang rencananya pada setiap hari Senin akan dapat kami sajikan.

Salam dalam Kristus,
Andreas Andy S.

Chat on MSN, YAHOO, AIM with eBuddy