To All of You,

Dengarkan Musik Ini

Super Mario Game

INFO SINGKAT

Beri Masukan Untuk Kami

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Kamis, Februari 19, 2009

SEMINAR " Buat Apa Jadi Katolik"


KEP MBK bekerjasama dengan Penerbit Dioma akan mengadakan Seminar setengah hari dengan tema “Buat Apa jadi Katolik?”. Seminar Rome Sweet Home, The Lamb s Supper dan Reason to Believe. Pembicara Rm. Prof. Dr. Mardiatmaja, S.J. dan moderator Rm. L. Heru Susanto, Pr.

Diadakan pada hari Sabtu, 21 Februari 2009,
Pkl. 09:00-12:00 di Auditorium Gereja MBK.

Tiket seharga Rp.30.000,- dapat diperoleh di stand di depan gereja setelah misa atau dapat menghubungi Sutji (0816.935172), Galan (0812.9988799), Wihendro (0812.8287098) atau Ferry (0816.4822620).


Dikirim oleh: Titi (Paroki MBK - Jakarta)

Rabu, Januari 28, 2009

AKU INGIN PULANG

Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea

            Diletakkan begitu saja bajunya di atas tumpukan kayu bakar. Segera ia mengambil beberapa pisang mentah dan dibakar di dalam tungku api yang sedang menyalah. Sambil menunggu pisang yang sedang dibakar, dia mengambil sebatang rokok dari saku celananya. Ia mengisap rokok itu dalam-dalam dan segera itu menghebuskan asap rokok itu keluar dari mulut dan hidungnya. Sepertinya memberikan kelegaan tersendiri bagi dirinya. Pandangan matanya terarah pada pisang mentah yang sedang dibakar, sesekali dibalikannya pisang itu dan dikeluarkannya dari tungku api setelah dilihat pisang itu sudah dapat dimakan. Ia bergegas ke sudut rumahnya mengambil sebuah piring yang sudah agak kumal, diletakkan pisang di atasnya dan dihidangkannya  kepada saya. Raut wajahnya kelihatan sangat lelah dan capeh, tampak dari lingkaran hitam pada kedua bola matanya. Namun ia tetap memberi senyum kepadaku. Itulah bapak Andreas, wajah seorang pengungsi dari Papua Barat.

            Sudah sepuluh tahun kami tinggal di Papua New Guinea, tetapi kehidupan kami tidak pernah berubah, malah mengenaskan. Sejak kami datang ke tempat ini, lahan tanah tidak pernah kami miliki, selain pekarangan di sekitar rumah yang tidak dapat ditanam karena kondisi tanahnya. Kata bapak Andreas kepadaku. Sebenarnya kami diberi tanah tetapi masih dalam kepemilikan tuan tanah. Kami tidak dapat menanam apapun juga. Kalaupun kami menanam sesuatu pasti akan diambil semuanya oleh tuan tanah.

 

Kepastian Hidup

            Saat kami keluar dari Papua barat menuju Papua New Guinea sebenarnya kami tidak mengetahui dengan pasti persoalan politik apa yang sedang terjadi. Kami hanya mendengar bahwa kami akan merdeka, tetapi merdeka dari apa? Kamipun tidak pernah mengetahui dengan pasti. Tetapi satu hal ini yang tidak pernah kami lupakan adalah perlakukan yang sangat tidak manusiawi dari pihak-pihak penguasa. Kami ditekan, dipaksa, bahkan kami hidup dalam ketakutan di kampung kami sendiri. Kami merasa takut di tanah yang merupakan warisan dari leluhur kami. Dalam suasana kepanikan, dan ketakutan, kami meninggalkan tanah dan semua warisan  dari nenek moyang kami. Kini tanah itu sudah bukan milik kami lagi. Ketika kami tiba di PNG, kami mendapat janji dari pemerintah bahwa mereka akan memberikan tempat yang layak bagi kami, dan memperhatikan hak-hak kami. Namun kenyataan itu tidak pernah kami alami, justru pengalaman-pengalaman  pahit yang  kami alami. Semua tanah di daerah tempat kami tinggal sekarang ini adalah milik tuan tanah. Sewaktu-waktu tanah ini dapat diambil oleh tuan tanah, dan pemerintah PNG sepertinya tidak memiliki kewibahan untuk menghadapi tuan tanah. Kami tidak dapat menggunakan tanah itu untuk berkebun. Bahkan bukan hanya keluarga kami saja, tetapi semua pengungsi yang mendiami tanah disini adalah milik tuan tanah yakni  penduduk asli. Jika kami diberi tanah, luasnya tanah itu hanya sepetak saja. Bila kami membuat bisnis kecil-kecilan untuk perbaikan ekonomi rumah tangga, kami akan diprotes oleh mereka. Katanya lebih lanjut kepadaku. Saya hanya mendengarkan kisahnya dan memilih diam saja, saat dia menceritakan kehidupannya. Mungkin ini yang dapat saya lakukan, menyediakan hati untuk mendengarkan kisah kehidupannya.

Hidup sebagai pengungsi bukanlah sesuatu yang gampang, seperti halnya yang dialami oleh keluarga Bapak Andreas. Mereka hidup dalam ketidakpastian. Meskipun mereka tinggal di Papua New Guinea sekian tahun, tetapi mereka masih dianggap sebagai orang asing, dan imbas dari itu kadangkala hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka dilihat sebagai orang yang membawa masalah, bukan sebagai pribadi. Mendiang Paus Yohanes Paulus II, saat merayakan hari buruh migran dan para pengungsi, 2005 di dalam pesannya, beliau mengatakan bahwa pentingnya integrasi diantara orang-orang untuk memperkokoh identitas para pengungsi dan buruh migran dan pengakuan hak asasi mereka melalui diolog, keramahtamahan, serta mengembangkan semangat solidaritas sehingga mereka dapat bertumbuh kembang. Seruan mendiang Paus Yohanes Paulus II ini masih memiliki gemah yang mendalam sampai saat ini ketika melihat ribuan bahkan jutaan pengungsi yang hak-hak asasi mereka tidak dihargai sebagai manusia. Kisah dari Ruwanda, Tutsi, Ethiophia, Gasa, Iran,  Sidoarjo adalah contoh lain dari wajah-wajah para pengungsi yang hak asasi mereka tidak pernah dihargai. Mereka seperti orang asing yang tidak menemukan kepastian pengalaman hidup mereka di masa mendatang. Hari esok seperti hari-hari yang penuh kegelapan, karena mereka melangkah dalam ketidakpastian.  Mereka mendengar dan menerima janji, tetapi janji seperti pemanis bagi kehidupan mereka. Kisah pengungsi di Sidoarjo adalah contohnya, betapa hari-hari hidup mereka diwarnai dengan ketidakpastian, karena janji untuk perbaikan kesejahteraan tidak pernah terpenuhi, bahkan hidup mereka kian hari semakin tidak menentu. Untuk tidak mengatakan hak-hak asasi mereka semakin tidak diapresiasi sebagai manusia. Mereka dipaksa untuk meninggalkan tanah warisan mereka dengan janji ganti rugi, namun pada akhirnya ganti rugi sangat merugikan para pengungsi.

           

Menjadi rasul cinta

            Paus Benediktus XV1, di dalam pesannya saat merayakan hari para migran dan para pengungsi sedunia yang ke-95, memilih tema "St.Paul migrant, Apostle of the peoples, 18 January 2008.  Rasul Paulus lahir di dalam sebuah keluarga imigran Yahudi di Tarsus, Cicilia, ia didik di Ibrani, dalam budaya dan bahasa Yunani. Sesudah pengalaman berjumpaannya dengan Yesus di jalan Damaskus, dia mengabdikan dirinya  tanpa ragu-ragu pada misinya yang baru dengan keberanian dan entusiasme, serta patuh pada perintah Tuhan. Hidupnya berubah secara radikal. Jesus menjadikan hidupnya "raisaon d'etre and motivosi yang menginspirasikan karya kerasulannya untuk pewartaan Injil. Ia berubah dari  penganiyaya orang kristiani menjadi  rasul Tuhan Yesus. Paulus didalam karya perutusannya melihat Injil sebagai kekuatan Allah bagi keselamatan setiap orang yang memiliki iman baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Ia menyebut dirinya sebagai "Missionary to migrants", ketika karya pewartaannya ditolak oleh orang Yahudi. Hidup dan pewartaannya membuat Yesus dikenal dan dicintai oleh banyak orang. Inilah semangat missioner dari Santo Paulus.

            Paus Benediktus XVI di dalam suratnya menyebutkan bahwa semangat missioner adalah semangat dari setiap orang yang dibaptis. Semangat missioner ditunjukan melalui keberpihakkan dan perhatiannya pada kaum imigran, pengungsi, orang-orang yang tidak memiliki rumah, termasuk korban dari bentuk penindasan modern. Paus Benediktus menegaskan bahwa berhadapan dengan perubahan budaya, sosial dan tantangan-tantangan lainnya, semangat Santo Paulus harus menjadi jiwa dari setiap orang kristiani yakni mengembangkan semangat solidaritas dengan saudara-saudari yang menderita, dan ikut menciptakan lingkungan yang damai diantara budaya, agama dan manusia.

 

Kerinduan yang besar

            Sebulan kemudian saat saya datang ke kota, saya bertemu dengan bapak Andreas. Ia mengatakan kepadaku bahwa dia ingin pulang ke tanah asalnya, karena tanah warisan dari nenek moyangnya adalah tanah yang menjanjikan dan memberikan kebahagian daripada di tempat ini. Ia memiliki bakat, keterampilan, tetapi ia ingin membangun dan mengembangkan kehidupan yang lebih baik di daerahnya, bukan di negeri orang. Tidak ada kebahagian yang lebih besar, selain pergi dan membangun kehidupan yang lebih baik di tanah sendiri, daripada di tanah milik orang lain. Di negara PNG kami tidak pernah diakui hak-hak kami; kami hanya dilihat sebagai masalah bukan sebagai pribadi. Maka jalan yang paling baik adalah kembali ke kampung halaman kami dan membangun kembali kampung halaman kami menjadi lebih baik seperti waktu kami masih berada di sana. Tetapi bagaimana dengan tanah warisanmu yang ada di sana? Apakah masih menjadi hakmu, setelah sekian lama kamu tinggalkan? Tanyaku lebih lanjut kepadanya. Ia tidak menjawab dengan segera pertanyaanku.  Air matanya membasah pipinya, karena dia ingat bahwa beberapa tahun yang lalu ketika dia ke tempat asalnya untuk mengunjungi saudara-saudarinya mereka mengatakan kepada dia bahwa tanah yang dahulu dibangga-banggakan kini tidak pernah ditempati lagi, karena mereka mendapat tekanan dari banyak pihak, dicurigai, dituduh sebagai orang yang bekerjasama dengan kelompok pro kemerdekaan Papua. Padahal kami ini adalah masyarakat sederhana yang tidak pernah mengerti tentang peta politik. Yang kami rindukan adalah kelak kami dapat pulang lagi ke tanah yang telah melahirkan, yang telah memberikan kehidupan bagi kami. Di tanah itu kami merasa hidup itu menjadi lebih berarti karena tinggal bersama sebagai saudara-saudari, diterima, dihargai sebagai pribadi dan bukan dilihat sebagai masalah. Ia berkata kepadaku bahwa dia hanya ingin pulang melihat kampung halamannya, karena disanalah dia mendapat kekuatan dan kegembiraan melihat saudara-saudarinya di Papua Barat.

Ketika dia pamit dan meninggalkanku, pandanganku terarah kepada pengalaman orang Israel saat mereka berada di tepi sungai Babylon. Mungkinkah orang-orang pengungsi adalah orang-orang yang berada di tepi sungai Babilon yang tidak dapat menyanyikan kidung di negeri orang? Mereka hanya ingin menyanyikan kidung di tanah warisan nenek moyang mereka, di tanah yang memungkinkan mereka merasa dihormati, dan dihargai. Mungkin mereka  hanya duduk menangis, karena mereka tidak pernah tahu dengan pasti kapan mereka pulang? Mereka juga merasa lelah dan capeh karena stigmatisasi dari masyarakat terhadap mereka sebagai pembawa persoalan dan bukan sebagai  pribadi. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tatakala kuceritakan kisah ini kepada Romo Gros, CM, beliau hanya mengatakan kepadaku hadirlah bersama mereka melalui pembinaan manusiawi dan iman untuk melihat secercah harapan di masa yang akan datang. Mungkin ini pesan solidaritas yang sederhana menjadi rasul cinta seperti Santo Paulus.

           


Jumat, Januari 09, 2009

MISA JUMAT KEDUA FORUM KATOLIK / FORKAT SCBD

Misa diselenggarakan di Plaza Bapindo, Mandiri Tower Lt.26-Jakarta dan dipersembahkan oleh Rm Hani Rudi SJ. Misa mengambil waktu istirahat kerja kantor karyawan di sekitar Sudirman Central Business District (SCBD). Sebagai anggota Koor Keluarga Forkat /KKF SCBD yang bertugas, saya hadir dalam misa itu.

Bagaikan siraman air yang segar ditengah kesibukan dapat sejenak hadir dalam keheningan pikiran dan batin mengikuti misa, mendengarkan firman yang disampaikan sekaligus menyemarakkan suasana dengan melantunkan lagu-lagu dalam kelompok paduan suara KKF dan bertemu dengan teman teman dalam satu iman dan pengharapan akan Tuhan Yesus menyertai dan membimbing kita sepanjang tahun 2009 ini yang menurut para analis bahkan paranormal sekalipun adalah tahun yang berat dan menakutkan.

Romo mengajak agar dengan kerendahan hati kita memohon penyertaan dan campur tangan Tuhan seperti bacaan Injil hari ini, seorang kusta yang tersungkur dan memohon kepada Yesus. Tuhan menyembuhkan seketika itu juga penyakitnya karena dia percaya dan Tuhan mau mentahirkannya.

Andreas Andy S. - Paroki Kristus Salvator, Jakarta.

Rabu, November 05, 2008

MALAM DEVOSI MARIA III


Saya bersama dengan Pak Hendro mengikuti acara Malam Devosi Maria III pada hari Jumat, 31 Oktober 2008 bertempat di XXI Ballroom, Djakarta Theatre Complex yang berlangsung dengan acara ramah tamah, santap malam, Devosi, penggalangan dana dan diakhiri dengan berkat penutup oleh Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM.
Acara ini diselenggarakan oleh Mitra Komisi Liturgi KWI dengan ketua panitia acaranya adalah Ibu A. Lily Widjaja.


Mitra Komisi Liturgi KWI (Mitra Komlit) yang diketuai oleh Bapak Agustinus Santoso adalah sekelompok awam Katolik yang peduli dan penuh komitmen membantu karya dan program kerja Komisi Liturgi KWI.
Mitra Komisi Liturgi KWI mempunyai misi membantu dan mendukung program kerja Komisi Liturgi KWI bagi pengembangan liturgi di Indonesia serta menggalang dana guna mensukseskan karya pelayanan Komisi Liturgi KWI. Salah satu karya Komisi Liturgi KWI yang dibantu Mitra Komlit yang sudah berjalan adalah penerbitan Majalah LITURGI. Majalah ini didistribusikan ke semua paroki di seluruh Indonesia.


Devosi dibuka dan dijembatani dengan aksi monolog Butet Kartaredjasa, lagu dan pujian persembahan Trie Utami, Maria Mama Mia, Kia AFI, Gratia Voice, Gerak tari dari Ratna Ully Dancer dan Vicky Sianipar Ethnic Band.


Kolaborasi dan aksi panggung yang apik para seniman tersebut mengingatkan dan menggugah perasaan terlebih introspeksi diri sejauh mana cinta dan kasih serta perhatian kita kepada sesama terutama kepada keluarga dan anak-anak kita yang kita kasihi. Seraya berdoa kepada Tuhan melalui pertolongan Bunda Maria untuk kita dapat meneladani kesetiaan Maria dari awal hingga akhir menemani Yesus dan mewujudkan rencana Allah, meskipun hancur hatinya melihat Anaknya yang harus menanggung derita dengan dihina, disiksa dan wafat di kayu salib.


Demikian Maria bagi umat Katolik sungguh berarti, dihormati dan diteladani karena peranannya yang luar biasa sebagai anggota keluarga kudus Allah dalam mengiringi Puteranya mewujudkan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia dari kebinasaan karena maut/dosa. Kini jalan keselamatan itu sudah ditawarkan oleh karena inisiatif yang berlandaskan kasih dari Allah Bapa dan kita sebagai manusia diberikan pilihan.






Kiriman: Andreas Andy S. & Petrus Hendro (Paroki Kristus Salvator)

Minggu, November 02, 2008

CERITAKAN ALLAH KEPADAKU

Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea

Sudah beberapa jam speed boat yang kami tumpangi berusaha untuk melaju, tetapi tidak ada tanda-tanda untuk ia bergerak maju, karena mesin motor tidak berfungsi dengan baik, dan harus berhadapan dengan arus sungai yang sangat kencang. Beberapa kali, kami merapat ke tepi untuk memperbaiki mesin motor yang tidak mempunyai tenaga untuk menggerakan speed boat. Ketika berhadapan dengan arus yang lebih kencang, kami terpaksa harus turun dari speed boat, dan perlahan-lahan mendorong melawan arus, bahkan ada beberapa diantara kami yang harus menarik speed boat dengan tali melintasi arus sungai. Rasa lelah, dan lapar tidak membuat kami putus asa untuk membawa salib dan gambar bunda Maria ke sebuah paroki di atas bukit. Untuk sampai ke paroki itu, kami harus melewati sungai dengan arus yang sangat keras. Rasa lelah berubah menjadi keceriaan tatkala ribuan kupu-kupu putih melintasi dan berarak bersama kami. Mereka sepertinya sedang menari, dan ikut berjuang bersama-sama dengan kami. Kupu-kupu itu sepertinya memberikan kegembiraan kepada kami. Kadang mereka mendarat di speed boat, dan beberapa diantara kami sibuk untuk menangkap dan mengumpulkan kupu-kupu putih tersebut. Kata mereka, kupu-kupu itu akan dikumpulkan dan dimakan. Sementara itu sepanjang aliran sungai, ribuan kupu-kupu, ada yang sedang terbang, ada yang sedang bermain-main di atas sungai. Salah satu diantara mereka berkata kepada aku; father, Allah juga ikut berjuang bersama kita untuk melawan arus sungai ini. Aku hanya menjawab “I think so”. Ia berkata lagi; Allah datang menemui kita, dalam keindahan kupu-kupu putih ini.

Setelah sekian lama melawan arus, kami akhirnya tiba juga di sebuah hutan, dan berlabuh di sebuah sungai kecil. Beberapa penduduk di sekitar itu sudah datang menyambut salib dan gambar bunda Maria yang kami bawa. Kami berjalan kaki lagi menuju sebuah kampung. Kampung itu letaknya di atas bukit, dengan pemandangan yang sangat menawan. Kurang lebih satu jam kami tiba di paroki itu. Hari sudah menjelang malam saat itu. Di depan pintu masuk kampung, sudah banyak umat berkumpul untuk menyambut salib dan gambar bunda Maria. Mereka berdoa dan menyanyikan lagu Maria. Beberapa kaum muda dari paroki kami menyerahkan salib kepada mereka. Dengan keceriaan, mereka membawanya menuju gereja. Salib dan gambar bunda Maria diletakkan di depan altar, dan semua orang yang datang menyaksikan dan memberi penghormatan kepadanya.

Cinta Allah
Dalam kesaksian hidup mereka, mereka membagikan pengalaman yang berharga bahwa Allah datang menemui dan mengunjungi mereka. Meskipun hidup di sebuah dunia yang sangat jauh dari keramaian, dengan akses tempat tinggal yang sangat jauh dari kota, dan sulit, tetapi Allah sendiri tetap memperhatikan hidup kami. Dia datang menemui kami di daerah ini. Umat yang tinggal di kampung itu semuanya beragama katolik. Sebagai ungkapan sukacita dan kegembiraan bahwa Allah datang menemui mereka, mereka berdoa dan memuji kebaikan Allah. Mereka datang membuat baris, sambil kepalanya tertunduk, masing-masing mulai dari yang kecil sampai yang tua, maju ke depan berlutut dan menyentuh salib, merangkul salib dan bunda Maria, sebagai ungkapan terima kasih atas rahmat yang boleh mereka terima. Aku berdiri di belakang mereka sambil memandang mereka melakukan tindakan yang serupa. Dalam hati kecil aku, ada kekaguman bahwa cinta Allah pertama-tama bukan karena usaha atau prestasi dari manusia, tetapi karena semata-mata rahmat dari Allah. Aku dapat mengalami Allah, bukan karena usaha aku, tetapi karena usaha dan inisiatif dari Allah yang datang menemuiku. Disinilah cinta Allah tidak pernah terungkap, dan cinta yang paling jelas itu dalam diri Yesus, yang datang sebagai manusia, solider dengan manusia, agar manusia dapat mengalami kasih Allah secara penuh.

Mencari Allah
Dalam Injil dikisahkan tentang Zakeus, seorang pemungut Cukai. Sebagai pemungut pajak ia masuk dalam jajaran pegawai dari kekuasaan bangsa Romawi. Kehadirannya tidak disukai oleh kebanyakan orang, bukan karena ukuran badannya yang pendek, tetapi karena kehadirannya membuat banyak rakyat menderita. Sebagai pegawai pajak, ia memungut lebih uang yang seharusnya diberikan untuk membayar pajak. Kelebihan uang ini dipakai untuk kantong pribadinya. Dengan kata lain, ia memeras dari rakyat. Sudah pasti, dia tidak disenangi oleh kebanyakan orang, dan dianggap sebagai orang berdosa. Dalam situasi yang terpuruk, justru ia berusaha mencari Allah. Ketika suatu saat Yesus datang ke kotanya, dia juga tidak ketinggalan untuk datang melihat Yesus. Namun, karena banyak orang yang mengelilingi Yesus, dan ukuran badannya yang pendek membuat dia kesulitan untuk melihat bagaimana rupa dari Yesus. Zakeus tidak kehilangan akal, dia lalu memanjat pohon supaya dapat melihat Yesus yang sedang berada di tengah kerumunan banyak orang. Ia berusaha mencari wajah Allah dalam diri Yesus. Ia mencari Yesus karena kerinduannya yang sangat besar untuk mengalami cinta dari Yesus seperti pengalaman dari kebanyakan orang yang mengalami penyembuhan. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, Yesus datang menemuinya. Di tengah kerumunan begitu banyak orang, Yesus justru lebih tertarik untuk melihat seorang pribadi yang sedang mencarinya, yang berada di atas pohon. Sesuatu yang tidak biasa. Yesus tidak hanya memandang dia, tetapi justru berbicara dengan Zakeus, dan berkata, bahwa dia ingin bertamu di rumahnya. Tentu Zakeus begitu kaget, heran, dan bahagia. Ia heran, karena sebagai orang berdosa, di mata banyak orang, Yesus berbicara dengan dia. Ia bahagia, karena Yesus mau datang ke rumahnya dan makan di rumahnya. Sesuatu kegembiraan yang meluap di hati Zakeus.

Pengalaman Zakeus menunjukkan dengan jelas bahwa rahmat Allah yang kita terima bukan semata-mata prestasi kita, bukan juga karena usaha keras kita, melainkan karena semata-mata rahmat Allah. Tuhan sendirilah yang datang menemui dan bertamu di dalam rumah kita. Ketika pencarian kita tentang Allah dengan usaha dan jerih payah yang melelahkan, tidak pernah kita temukan. Saat-saat seperti itulah Tuhan datang kepada kita dan bertamu di dalam rumah kita. Tuhan mengetahui segala apa yang sedang menjadi kegalauan hati kita.

Membuka hati disapa
Ketika kami kembali dari paroki di atas bukit itu, hati kami dipenuhi dengan keceriaan. Kami tidak lagi berjuang melawan arus. Kupu-kupu putih yang berarak mengantarkan kami juga sudah tidak ada lagi. Yang ada adalah ketenangan. Salah satu anak muda berkata kepada aku, father, Tuhan kemarin datang berjuang bersama kita, Dia datang menemui kita yang sedang kelaparan, ketika kita lelah, capek, lapar, justru Dia datang menemui kita dalam semerbak ribuan kupu-kupu putih. Father, “ aku baru melihatnya ini pertama kali” kata dia lebih lanjut. Di kampung kita tidak ada kupu-kupu seperti itu, sungguh-sungguh rahmat yang mengagumkan.

Hidup saat ini adalah bukan suatu yang mudah. Kita hidup dengan suatu idealisme untuk mengejar kekayaan, prestasi, dan mengira itu semua memberikan kebahagian. Kadang kita harus berhadapan dengan arus kehidupan yang sangat kencang. Berbagai kegagalan, pengalaman pahit menghadang kita. Semangat hidup kita tidak ada lagi, ketika antuasisme meredup, karena berbagai kesulitan yang kita alami. Saat-saat seperti itu terkadang kita putus asa, dan tidak mengetahui apa yang harus kita lakukan lagi. Bahkan, termasuk mencintai orang-orang yang disekitar kita pun, kita abaikan begitu saja. Kehadiran Allah yang menyapa kitapun dalam pengalaman keseharian kita tidak kita rasakan lagi. Namun, seperti pengalaman Zakeus dan orang-orang Papua, Tuhan justru sedang berjuang bersama-sama kita. Tuhan tidak pernah membiarkan kita melawan badai kehidupan seorang diri, karena Dia menginginkan kita mengalami keselamatan, dan kebahagian dalam hidup ini. Yang terpenting adalah membuka diri untuk disapa dalam berbagai peristiwa ini, karena kehadiran Tuhan tidak pernah kita duga.

Merenungkan kembali pengalaman itu, aku terbawa dalam pergulatan untuk mengenal lebih dekat pribadi Yesus. Yesus adalah seorang pribadi yang mengagumkan. kehadiranNya membawa kebahagian bagi setiap orang yang membuka hatinya. Siapun pribadi kita dengan segala kelemahan, dan keterbatasan, dengan segala kerapuhan dan dosa kita, Tuhan tetap datang menyapa dan menemui kita. Apapun situasi kita, dia datang berjuang, dan berjalan bersama kita. Dia tidak pernah menunggu, apalagi menunda tetapi datang menemui kita. Yang terpenting adalah membuka hati kita untuk menerima rahmat dari Allah. Selanjutnya mewujudkan cinta Allah dengan mencintai setiap orang yang ada di sekitar kita, terutama orang-orang yang membutuhkan uluran tangan dari kita. Saat di sanalah kita akan bertemu dengan Allah sendiri. Tidak ada ruang untuk menunda dan berhenti untuk mencintai, karena Allah adalah cinta itu sendiri. Kita telah mengalami dan menikmati hidup ini, karena semata-mata cinta yang datang dari Allah, bukan karena prestasi kita, tetapi karena kemurahan Allah. Cinta dan rahmat Allah inilah yang telah aku dengar bahwa Allah adalah Allah yang berani memberi tubuh dan darahNya bagi manusia. Allah adalah pribadi yang berani menderita, memikul salib yang berat, hingga wafat di kayu salib, hanya karena cinta kepada manusia. Allah adalah pribadi yang mengalahkan maut, agar aku semakin mengimani Dia bahwa DIa adalah Allah yang hidup yang menyertai setiap langkah hidup kita. Inilah rahmat Allah yang kita alami selama pekan suci.


Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)

Minggu, Oktober 12, 2008

BUTTERFLY DANCE


Oleh: Pastor Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea


Delapan orang anak kecil keluar dari semak-semak dan mulai menari. Ditangan mereka masing-masing memegang ranting-ranting pohon yang dihiasi dengan bulu ayam berwarna putih. Seluruh tubuh mereka juga dicat dengan warna putih. Mereka tidak berbusana. Sedangkan di depan dan di belakang barisan anak-anak, dua orang pemuda, yang juga tanpa busana, dengan tubuh mereka juga dihiasi warna putih menari sambil memukul gendang. Mereka hanya mengenakan koteka. Diwajah mereka dicat berbagai warna-warni, di kepala mereka disematkan hiasan mahkota dari burung paradise dan di belakang punggung mereka, dicat dengan tulisan “welcome”. Gerakan mereka menyerupai kupu-kupu yang sedang terbang. Beberapa kali mereka mengelilingi halaman dengan tarian yang bervariasi seperti kupu-kupu. Semua yang berkumpul di sana dengan khidmat berdiri, mengagumi tarian yang sedang diperagakan untuk penerimaan beberapa tamu dari keuskupan. Itulah tarian kupu-kupu untuk penerimaan orang-orang asing yang datang ke kampung kami. Kata seorang bapak kepada aku. Menurut legenda, tarian kupu-kupu berasal dari nenek moyang mereka yang diwariskan turun-temurun untuk menyambut tamu asing. Semula ada sebuah batu besar. Suatu saat ada orang asing datang membawa pesan yang berguna bagi kehidupan mereka. Kupu-kupu putih itu keluar dari sebuah batu besar untuk menyambut mereka. Ribuan kupu-kupu putih terbang dan mengelilingi kampung, sebagai tanda akan datang tamu yang membawa warta gembira. Warisan ini diteruskan dan dilanjutkan oleh orang-orang refugis dari west papua. Setelah penyambutan dengan tarian kupu-kupu, dilanjutkan dengan acara makan bersama. Mereka membakar babi, sebagai tanda keramahan mereka untuk menjamu para tamu. Ketika kutanya, apakah hanya karena tatkala kami datang, mereka berkata bahwa kami lakukan pada umumnya menyambut tamu asing yang datang ke tempat kami. Apalagi para tamu yang datang adalah orang-orang yang membawa pesan yang berharga bagi kampung kami. Peristiwa itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua di paroki Matkomnai. Pada saat kaum muda dari Australia datang ke paroki kami, mereka juga menunjukkan keramahan melalui penerimaan mereka dengan pakaian adat mereka. Mulai dari anak-anak, para wanita sampai orang tua ingin mempersembahkan yang terbaik dengan tarian untuk orang-orang Australia. Mereka memakai pakaian dari jenis rumput-rumput, dengan telanjang dada. Sedangkan di kepala mereka disematkan mahkota dari burung paradise. Mereka menari dan membentuk gerakan yang meragakan penerimaan tamu dengan kegembiraan. Itulah bentuk keramahan orang-orang Papua.
Orang-orang Papua mempunyai kebiasaan menjamu orang-orang asing bila datang ke tempat mereka. Mereka berusaha untuk memberikan yang terbaik. Rumah mereka yang sangat sederhana tidak mengurangi keramahan mereka untuk mengundang, datang dan bertamulah ke rumah kami. Citarasa keramahan mereka membuat aku merenungkan hidup kita.

Rahmat yang berharga
Di dalam kitab suci diceritakan tentang semangat keramahan dari orang-orang yang menerima orang asing. Suatu hari, Abraham sedang duduk dibawah kemahnya di Mamre. Ketika ia mengangkat mukanya dilihatnya tiga orang asing. Ia menyongsong mereka dan mempersilakan mereka datang dan beristirahat sejenak untuk melepaskan dahaga mereka, membiarkan mereka membasuh wajah mereka dengan air. Setelah itu Abraham dan Sarah istrinya menyediakan bagi mereka, air, roti dan lembu tambun yang terbaik. Ketiga tamunya akhirnya mengungkapkan diri mereka kepadanya bahwa istrinya akan melahirkan seorang anak, meskipun istrinya sudah sangat tua. Demikian juga yang dilakukan oleh Janda di Zaraphat, sikap keramahannya juga diperlihatkan ketika ia menghidangkan makanan dan menampung Elia di rumahnya. Ia menyediakan makanan untuk Elia, yang sebenarnya makanan itu merupakan persediaan yang terakhir untuk anak-anaknya, setelah itu ia dan anak-anaknya akan mati. Elia mengungkapkan dirinya sebagai utusan Allah yang akan memberikan kelimpahan minyak dan makanan, dan akan membangkitkan anaknya dari kematian. Dalam injil, kita dapat menyimak kisah tentang dua orang murid Yesus yang pergi ke Emaus, dan tiba-tiba di tengah jalan, hadir seorang asing yang berjalan-jalan bersama-sama dengan mereka. Karena hari menjelang malam, kedua murid itu mengundang seorang asing itu, datang dan tinggal bersama mereka. Pada akhirnya Yesus memperkenalkan diriNya tatkala Dia memecahkan roti dan membagi-bagikan kepada dua orang muridNya. Dia hadir sebagai Tuhan dan penyelamat. Keramahan yang diperlihatkan oleh kisah di atas bukan merupakan suatu kewajiban untuk menerima orang asing di dalam rumah mereka, tetapi lebih dari itu, karena orang-orang asing membawa pesan dan rahmat yang berharga bagi mereka.


Ketiga kisah di atas menunjukkan bahwa keramahan menerima seseorang mendatangkan berkat yang melimpah bagi penerima tamunya. Ketika merenungkan pengalaman dan kisah kehidupan orang-orang di dalam kitab suci dan kisah kehidupan orang-orang Papua, aku terpana pada sikap keramahan yang ditampilkan. Kehadiran orang asing tidak membuat mereka menaruh curiga, tetapi sebaliknya menerima mereka dengan sukacita, layaknya seorang sahabat lama yang tidak pernah bertemu, dan suatu saat datang ke tempat mereka. Mereka semua berusaha untuk memberikan yang terbaik. Dalam artian tertentu memberi kesan yang membuat orang terpesona, atau “memanjakan mereka”. Cita rasa keramahan yang ditampilkan ini membuat penerima merasa damai, karena berani untuk memberi yang terbaik, dan yang datang juga merasa diterima, dimanjakan, yang membuat kesan tersendiri bagi orang lain.

Datang dan Lihatlah
Dalam injil Yohanes dikisahkan bagaimana keramahan yang ditampilkan oleh Yesus. Ketika dua orang murid Yohanes bertanya di manakah engkau tinggal? Yesus menjawab kepada mereka “datang dan lihatlah”. Suatu bentuk undangan dari Yesus untuk datang dan mengenal Dia secara lebih dekat. Tetapi dibalik itu semua suatu bentuk keramahan dari Yesus yang mengundang para murid Yohanes untuk memahami dan mengerti dengan benar bahwa Dialah Tuhan yang ditunggu-tunggu. Untuk mengenal pribadi Yesus tidak cukup hanya dengan mendengar saja, tetapi datang mengikuti Dia, berkunjung ke rumah Dia, mengenal Dia secara lebih mendalam. Pengenalan secara mendalam mengandaikan sikap untuk datang dan mengalami secara langsung. Sikap Yesus ini menunjukkan suatu sikap yang terbuka kepada siapapun yang datang kepadaNya. Yesus hanya menawarkan bentuk keramahanNya, tergantung dari kita, apakah kita berani untuk memenuhi undanganNya atau tidak.

Undangan itu mirip seperti yang dilakukan oleh orang-orang Papua. Dalam kesederhanaan, mereka selalu mengundang setiap orang untuk datang dan mengenal mereka secara lebih dekat. Mereka adalah pribadi-pribadi yang terbuka untuk disapa, untuk disentuh dengan kasih. Kehadiran kita akan membuat mereka selalu ingin menyuguhkan yang terbaik bagi siapa saja yang datang ke tempat mereka.
Ketika merenung seorang diri, aku menemukan hidup sekarang ini semakin memuja pada semangat individualisme. Artinya semangat yang berpusat pada diri sendiri, tanpa menghiraukan orang lain di sekitar kita. Semangat keramahan kepada orang lain semakin luntur, karena kita terbawah pada sikap tidak mempercayai orang lain. Orang lain adalah bukan aku yang lain. Orang lain adalah di luar dari hidup kita, sehingga ketika ada orang yang datang kepada kita, sikap yang kita tampilkan adalah sikap tidak ramah, untuk tidak mengatakan sikap menolak kehadiran mereka. Kita tidak membiarkan ruang sedikit pun untuk mengenal mereka secara mendalam, dan sebaliknya tidak ada ruang pula bagi mereka untuk mengenal kita secara lebih mendalam. Kita menutup jendela hati kita untuk mereka. Lantas undangan untuk masuk dalam perjamuan, menikmati bersama menjadi tidak ada lagi. Karena kehadiran orang asing adalah kehadiran yang merepotkan kita. Kehadiran orang asing adalah kehadiran yang membuat kita sibuk dengan segala banyak urusan. Lantas yang terjadi adalah sikap tidak ramah yang kita tampilkan.

Tetapi orang Papua berkisah lain tentang kehadiran orang lain. Orang lain adalah rahmat karena mereka membawa pesan bagi mereka. Maka suguhan yang paling baik diberikan. Tarian kupu-kupu dan tarian adat mereka tampilkan. Semua yang mereka lakukan hanya untuk memberikan kegembiraan dan kelegaan kepada para tamu. Sagu, pisang, dan segala bentuk makanan mereka sajikan hanya untuk membuat para tamu merasa dimanjakan. Dalam kesederhanaan, mereka tetap mengundang setiap orang asing untuk datang ke rumah mereka. Mereka tidak pernah malu untuk berkisah tentang rumah, kehidupan dan makanan yang sederhana yang disajikan oleh mereka. Karena itulah cita rasa keramahan mereka. Keramahan yang keluar dari ketulusan dan keterbukaan hati mereka untuk menerima siapapun yang datang berkunjung ke tempat mereka. Bagi mereka orang asing adalah tamu yang terhormat, maka memberi tempat yang terhormat dengan menyajikan sesuatu yang terbaik mendapat tempat yang pantas dalam budaya mereka.
Tarian kupu-kupu itu mengingatkan aku, dan mengingatkan kita akan semangat keramahan, dalam menerima orang lain. Kehadiran orang lain, siap pun orangnya, terlebih lagi orang miskin adalah kehadiran yang memberi pesan bagi kehidupan kita. Acap kali kita lalai terhadap kehadiran mereka di depan pintu rumah, di depan pintu pastoran kita, karena anggapan kita mereka adalah orang lain, mereka adalah orang asing. Namun kitab suci mengingatkan kita “barangsiapa menerima orang sekecil ini, ia menerima Aku”. Itulah kehadiran Yesus yang datang bertamu dalam rupa orang asing, dalam rupa orang miskin. Dalam diri orang yang kotor, bau badan, dengan pakaian seadanya. Tetapi kehadiran mereka membawa pesan, bahwa Tuhan sendiri yang datang berkunjung ke dalam rumah kita. St. Vinsensius berkata kalau ada orang yang datang ke tempatmu, dan pada saat itu kamu sedang berdoa, “tinggalkan Tuhan untuk bertemu dengan Tuhan, yang hadir dalam diri sesamamu. Kata-kata itu menjadi kekuatan kita untuk menerima orang dengan keramahan, dan dengan sikap yang terbuka dan tulus. Seperti Tuhan Yesus sendiri yang menerima kedua murid Yohanes, kita pun berani berkata “ datanglah dan lihatlah”. Disinilah damai itu dapat kita rasakan, karena kita melayani Tuhan yang hadir dalam diri mereka. inilah pesan kehadiran mereka orang-orang miskin.


Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)

Kamis, Oktober 09, 2008

Misa Pelantikan Pengurus PDKK Kristus Salvator 2008-2011



Pastor Anton dalam misa pelantikan pengurus baru PDKK Kristus Salvator mengingatkan bahwa dalam setiap pelayanan dapat terjadi perselisihan paham atau pendapat tentang sesuatu hal. Demikian halnya pernah terjadi pada jaman Rasul Paulus dengan Petrus dan Yakobus seperti tertulis dalam surat Paulus kepada Jemaat Galatia tentang adanya permasalahan/perbedaan pendapat dalam hal perlunya Hukum Taurat diterapkan kepada golongan yang tidak bersunat atau non Yahudi yang telah menjadi Kristen.

Merujuk pada bacaan Injil, selanjutnya Pastor mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk melakukan pelayanan dalam kasih agar dengan demikian kita tidak akan menjadi batu sandungan bagi yang lainnya.

Demikian dilaporkan dari Misa pelantikan malam hari ini (8 Oktober 2008).

Andreas Andy S.

Chat on MSN, YAHOO, AIM with eBuddy