LEWAT PERKATAAN DAN PEMIKIRAN ANDA,
ANDA AKAN MENENTUKAN APAKAH ANDA AKAN
MENIKMATI PERJALANAN ANDA ATAU TIDAK
Saya terbang lagi.
Pada hari Rabu, saya memulai suatu perjalanan yang cepat, non-stop selama sepuluh hari ke Amerika dan Kanada. Dalam sepuluh hari itu, saya akan memberi kotbah di sepuluh kota. Serius. Dari Los Angeles ke San Francisco ke Vancouver ke New Jersey ke Maryland…
Beberapa orang mengatakan pada saya bahwa jadwal saya tidak cocok untuk seorang manusia. Tapi tidak ada masalah dengan itu, sungguh.
Saya pernah melakukan ini, jadi saya tahu rutinnya: Terbang,berkotbah, terbang, berkotbah, terbang, berkotbah… Dan hirup oksigen di sela-selanya.
Jika saya bisa menikmati makanan ringan di sela-selanya, puji Tuhan. Jika tidak, sebuah pisang pun cukup. Sekarang Anda mengerti mengapa saya kurus. Tapi saya kuat. Saya telah menjadi seorang semi-vegetarian selama 14 tahun. Saya juga berolahraga setiap hari. Dan saya mempunyai hidup yang bahagia.
Ke mana pun saya pergi, orang-orang bertanya, “Bagaimana engkau dapat melakukan semua yang engkau lakukan?” Mereka mengatakan kalender saya adalah penyiksaan.
Tidak, bukan begitu. Saya mencintai apa yang saya lakukan.
Jadi bagi saya, kalender saya bukan penyiksaan melainkan suatu petualangan yang seru.
PERINGATAN : ORANG YANG MENGELUH
AKAN MENDAPAT LEBIH BANYAK DARI APA YANG MEREKA KELUHKAN
Suatu hari, saya sedang berdiri dalam suatu antrian panjang di bandara.
Di depan mesin X-Ray, detektor logam, dan staf keamanan yang sudah lelah.
Di belakang saya berdiri seorang pria parobaya yang rambutnya mulai menipis dengan wajah penuh kemarahan, sebongkah batu akan mencair dibawah tatapannya. Ia mencaci, “Sial, saya tidak tahan menunggu. Ini membuat saya gila. Tidakkah Anda benci dengan antrian panjang?”
Saya tersenyum.
Sikap diam saya sudah cukup untuk memberitahunya, “Anda punya pilihan untuk menjadi gembira atau merasa susah.”
Karena pada saat itu, saya merasa gembira.
Karena saya memilih untuk menjadi gembira.
Saya berdamai dengan Tuhan dan diri sendiri dan seluruh alam semesta.
Saya bepergian dengan pesawat ratusan kali dalam setahun dan saya telah lama memutuskan untuk tidak mengeluh soal antrian panjang.
Mengeluh tidak ada gunanya.
Lebih baik, saya menghargai hadiah istimewa yang diberikan antrian panjang pada saya.
Antrian panjang memaksa saya untuk mengobrol dengan seorang teman,untuk membaca buku, untuk merencanakan hidup saya 50 tahun ke depan, untuk berdoa, untuk menjadi betul-betul tidak berguna, dan untuk sama sekali tidak melakukan apapun. Oh damainya!
Jangan mengeluh.
Saya tahu beberapa orang yang mengeluh sebelum perjalanan dimulai.
Dengan melakukan itu, mereka “menciptakan” kesedihan yang akan mereka alami. Karena keluhan mereka menjadi nubuat bagi diri mereka sendiri.
Begitulah cara kerja kehidupan.
DARIPADA MENGELUH
BAYANGKAN BAGAIMANA ANDA INGIN MELAKUKAN PERJALANAN ANDA
Sebelum setiap perjalanan, saya sudah membuat suatu keputusan dan menyatakan, “Saya akan menikmati perjalanan mengagumkan ini.”
Alkitab mengatakan “Hidup dan mati ada dikuasai lidah.” Saya percaya hal itu. Maka sebelum pergi untuk memulai suatu perjalanan, saya mengaku, “Perjalanan saya akan sangat diberkati!”
Saya juga melakukan sesuatu yang saya pelajari dari kejuaraan Olympiade: Dalam pikiran saya, saya membayangkan apa yang saya inginkan terjadi.
Bagian dari pelatihan seorang atlet Olympiade adalah visualisasi. Setiap pagi, bahkan sebelum ia berlari, seorang sprinter (pelari jarak pendek) akan membayangkan rintangan 100 meternya. Ia membayangkan segala sesuatu. Suara tembakan. Lompatan awal. Angin yang terasa di wajahnya. Riuh-rendah suara penonton. Pita garis akhir yang mengenai dadanya. Medali emas di lehernya.
Dan jika hal itu cukup baik bagi para peserta Olympiade, saya pikir hal itu cukup baik pula buat saya.
Maka sebelum setiap perjalanan, inilah yang saya bayangkan…
• Dalam setiap kotbah yang saya berikan, saya bayangkan betapa umat akan menerima kasih Tuhan. Orang-orang akan dikenyangkan secara rohani. Orang-orang akan mengalami Tuhan seperti belum pernah mengalami sebelumnya. Mereka akan merasa sangat diberkati; mereka akan memberitahu teman-teman mereka tentang pengalaman itu. (Petunjuk bagi para Pembicara: Ini yang saya bayangkan sebelum saya memberi
kotbah. Saya tidak melangkah ke mimbar tanpa melakukan ini.)
• Dalam setiap relasi dengan orang lain, saya membayangkan betapa saya belajar dari orang-orang mempesona yang akan saya temui. Saya akan diberkati oleh teman-teman saya, orang-orang yang mengundang saya, dan para penyelenggara setiap acara. Dan saya akan memberkati mereka dengan kasih dan persahabatan saya juga. (Saya menikmati pertemuan dengan semua anggota Kerygma Family di seluruh dunia.)
• Dalam saat-saat tenang, entah berdiri dalam antrian atau duduk di pesawat, saya akan membaca dan menulis dan beristirahat dan berdoa. Saya membayangkan diri saya sungguh-sungguh menikmati saat tenang dan saat hening saya.
• Saya akan tiba di rumah untuk beristirahat, di-“charge” kembali dan diberkati!
Imajinasi saya adalah doa saya.
Saya mengklaim bahwa semua ini akan terjadi di dalam nama Yesus.
HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN;
TERSERAH ANDA UNTUK MENIKMATINYA ATAU TIDAK
Ingat: Pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada Anda. Pengalaman adalah apa yang Anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada Anda.
Setiap hari, Anda semakin mendekati tujuan Anda.
Tujuan Anda adalah Tuhan.
Tapi Tuhan bukanlah hanya suatu tujuan, Ia juga adalah jalan Anda.
Karena itu nikmatilah perjalanan yang disebut kehidupan.
Di setiap langkah dalam perjalanan itu, Tuhan hadir.
Semoga impian Anda menjadi kenyataan,
Bo Sanchez
Terjemahan oleh : Jessica J. Pangestu
Sumber: Milis Bo Sanchez
Kiriman dari: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
To All of You,
Dengarkan Musik Ini
Super Mario Game
INFO SINGKAT
Send texts to over 200 countries with CardBoardFish
Beri Masukan Untuk Kami
|
|
Minggu, Juni 22, 2008
Minggu, Juni 15, 2008
e-Brief: SAAT AGAMA TERLIBAT SEPAKBOLA

euro2008[26/05/08 Doni Wahyudi, detiksport] Basel - Sepakbola identik dengan kerusuhan atau minuman keras? Tidak semua seperti itu karena di Austria-Swiss tempat digelarnya Piala Eropa 2008, agama justru dilibatkan. Bahkan ada nonton bareng di gereja.
Demikian inisiatif yang dilakukan beberapa pemuka agama di Swiss demi menyambut Piala Eropa 2008. Meski acaranya bertajuk The Church 08 Campaign, namun tak hanya pemuka agama Kristen saja yang terlibat karena pemuka agama Islam juga diajak berpartisipasi.
"Dunia butuh kedamaian sehingga manusia bisa hidup bersama dengan damai, sesuatu yang belum pasti di dunia ini. Dua pesan utama kami adalah damai dan keramahan," ungkap seorang Pastor Stefan Roth pada Swissinfo.
Rangkaian acara tersebut telah dimulai Minggu (25/5/2008) kemarin yang juga didatangi oleh Menteri Olahraga, Samuel Schmid. Acara akan berlanjut Selasa (27/5/2008) besok dengan acara pertandingan sepakbola antara pemuka agama versus politisi.
Dari pihak pemuka agama akan bermain Muris Begovic, seorang imam di mesjid Kota Schlieren. Sementara dari kubu politisi juga akan diperkuat beberapa wakil dari partai yang berbeda seperti Toni Bortoluzzi dari partai sayap kanan, Swiss People's Party serta Maya Graf dari Green Party.
Rangkaian acara The Churche 08 Campaign akan berlangsung hingga Piala Eropa berakhir. Beberapa gereja di kota Zurich, Geneva, Basel dan Bern bahkan akan buka hingga malam untuk menunjang acara tersebut dengan menyiapkan layar raksasa, tentunya untuk menggelar nonton bareng.
"Kami tidak sedang berusaha menambah jumlah jemaah - kami tahu orang berada di sini karena sepakbola, bukan karena agama. Tapi jika seseorang menemukan hubungan antara Tuhan dalam pekan-pekan ini, itu adalah bonus," lanjut Stefan Roth. ( din / krs )
Sumber:Mirifica News, http://www.mirifica.net
Pengirim: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI

Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica. Di masa mudanya, Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya daripada belajar. Ketika usianya 20 tahun, Fransiskus ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pada masa itulah ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah Fransiskus dibebaskan, ia mendapat suatu mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia mendengar suara yang berkata, "layanilah majikan dan bukannya pelayan."
Setelah itu Fransiskus memutuskan untuk hidup miskin. Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin di Kubur Para Rasul. Ia pulang tanpa uang sama sekali di sakunya. Suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja St. Damiano, Fransiskus mendengar suara Tuhan, "Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh". Jadi, Fransiskus pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.
Pak Bernardone marah sekali! Fransiskus dikurungnya di dalam kamar. Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, yaitu Uskup kota Assisi. Pak Bernardone segera menyusulnya. Ia mengancam jika Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, ia tidak akan mengakui Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Fransiskus. Mendengar itu, Fransiskus malahan melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya.
Kelak, setelah menjadi seorang biarawan, Fransiskus baru menyadari bahwa yang dimaksudkan Tuhan dengan membangun Gereja-Nya ialah membangun semangat ke-Kristenan.
Pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usianya yang ke empatpuluh lima tahun Fransiskus meninggal dengan stigmata (Luka-luka Kristus) di tubuhnya.
Tidak ada seorang pun dari pengikutnya yang menyerah dan mengundurkan diri setelah kematian Fransiskus, tetapi mereka semua melanjutkan karya cinta kasihnya dengan semangat kerendahan hati dan meneruskan kerinduannya untuk memanggil semua orang menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Santo Fransiskus adalah santo pelindung binatang dan anak-anak. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober.
DOA ST. FRANSISKUS DARI ASSISI
TUHAN, jadikanlah aku pembawa DAMAI.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Banyak cerita yang mengisahkan bagaimana St. Fransiskus dari Assisi (1182-1226) dapat berkomunikasi dengan binatang-binatang dan menyatu dengan semua ciptaan.
["disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya"]
Sumber:Mirifica News, http://www.mirifica.net
Pengirim: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
TAK BISA SEJALAN
Bacaan:
Yak 2:14-24,26
Mzm 112:1-6
Mrk 8:34-9:1
Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya (Mrk 8:34)
Pengalaman saya sudah membuktikan bahwa mengikut Yesus haruslah 'eksklusif'. Karena mengikut Yesus dan mengikuti kehendak 'daging' sangat bertolak belakang. Sama tidak mungkinnya seperti kita hendak berada di laut dan di puncak gunung dalam waktu yang bersamaan.
Banyak diantara kita berpikir mengikut Yesus hanyalah pelengkap. Sama seperti pelampung keselamatan pada sebuah kapal feri dan digunakan bila dibutuhkan saja. Atau ada yang menganggap hanya sebagai asesoris yang dikenakan bila sesuai dengan keadaan. Bila pikiran kita seperti demikian, janganlah heran bila kita merasa Allah sangat jauh dan seakan-akan tidak pernah mendengarkan doa kita.
Bila bisa saya illustrasikan, mengikut Allah sama seperti bila kita ingin hidup sehat. Ada 'harga' yang harus dibayar. Jangan berharap akan hidup sehat bila kita tidak pernah mau berolah-raga, maunya hanya makan makanan yang tidak sehat saja, alkohol, merokok, malas-malasan dan lain sebagainya. Menjadi sehat dan makan sembarangan tidak bisa sejalan. Anda harus pilih antara sehat atau kenikmatan lidah sesaat.
Begitu pula dengan Allah. Allah meminta kita untuk menyangkal diri, karena Dia tahu pasti bahwa keinginan manusia pada hakekatnya adalah dosa. Dia ingin masnusia hidup bersama Dia dan FirmanNya karena Dia tahu bagaimana membuat manusia bahagia. Dunia tidak tahu apa-apa mengenai kebahagiaan sejati, yang ada hanyalah tipuan dan kesenangan sesaat. Namun semuanya kembali kepada manusia, mana yang ia pilih...(Al)
Dikutip dari: "Bahasa Kasih",Mei 2008 - Renungan Harian Berdasarkan Kalender Liturgi
Yak 2:14-24,26
Mzm 112:1-6
Mrk 8:34-9:1
Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya (Mrk 8:34)
Pengalaman saya sudah membuktikan bahwa mengikut Yesus haruslah 'eksklusif'. Karena mengikut Yesus dan mengikuti kehendak 'daging' sangat bertolak belakang. Sama tidak mungkinnya seperti kita hendak berada di laut dan di puncak gunung dalam waktu yang bersamaan.
Banyak diantara kita berpikir mengikut Yesus hanyalah pelengkap. Sama seperti pelampung keselamatan pada sebuah kapal feri dan digunakan bila dibutuhkan saja. Atau ada yang menganggap hanya sebagai asesoris yang dikenakan bila sesuai dengan keadaan. Bila pikiran kita seperti demikian, janganlah heran bila kita merasa Allah sangat jauh dan seakan-akan tidak pernah mendengarkan doa kita.
Bila bisa saya illustrasikan, mengikut Allah sama seperti bila kita ingin hidup sehat. Ada 'harga' yang harus dibayar. Jangan berharap akan hidup sehat bila kita tidak pernah mau berolah-raga, maunya hanya makan makanan yang tidak sehat saja, alkohol, merokok, malas-malasan dan lain sebagainya. Menjadi sehat dan makan sembarangan tidak bisa sejalan. Anda harus pilih antara sehat atau kenikmatan lidah sesaat.
Begitu pula dengan Allah. Allah meminta kita untuk menyangkal diri, karena Dia tahu pasti bahwa keinginan manusia pada hakekatnya adalah dosa. Dia ingin masnusia hidup bersama Dia dan FirmanNya karena Dia tahu bagaimana membuat manusia bahagia. Dunia tidak tahu apa-apa mengenai kebahagiaan sejati, yang ada hanyalah tipuan dan kesenangan sesaat. Namun semuanya kembali kepada manusia, mana yang ia pilih...(Al)
Dikutip dari: "Bahasa Kasih",Mei 2008 - Renungan Harian Berdasarkan Kalender Liturgi
SEPATU

Sudah agak lama ia memperhatikan sepatu keakungannya. Diletakkan begitu saja di sudut rumahnya. Satu-satunya hadiah dari orang tuanya. Sepatu itu penuh lumpur. Diambilnya kain dan dibersihkannya perlahan-lahan, hingga tampak lumpur yang melekat pada sepatu itu tidak kelihatan lagi. Meskipun ia tahu, kalau dia bepergian, dan harus melewati jalan yang berlumpur dan jalan yang becek, sepatunya pasti akan kotor lagi.
Sepatu adalah satu-satunya sahabatnya. Ke mana saja ia pergi, sepatu itu selalu dikenakan. Tatkala ia melewati hutan, sungai, pergi ke kota, bahkan ke gereja, sepasang sepatu satu-satunya itu selalu melekat di kaki. Kalau hendak pergi tidur, sepatu itu baru akan dilepaskan dari kakinya. Namun, sepatu itu sekarang itu tidak dapat digunakan lagi, tampak sobek di mana-mana. Kini ia tidak memiliki lagi sepatu itu. Ia tidak mempunyai niat untuk membeli sepatu lagi, karena untuk makanan saja sangat sulit. Terkadang ia hanya makan sekali saja dalam sehari.
Ia tidak pernah sedih tidak memakai sepatu ketika datang ke kota, bahkan dia tak pernah malu untuk datang ke gereja tanpa sepatu dan sandal, karena baginya bukan sepatu yang diminta oleh Tuhan, tetapi hati, kerinduan jiwalah yang diminta oleh Tuhan. Demikianlah kisah Simon tentang sepasang sepatu satu-satunya.
Sepatu Berbicara tentang Status

Sepatu berbicara tentang siapa diri kita. Ada orang mengatakan kita memakai hati kita pada tapak kaki. Sepatu adalah indikasi yang paling baik bagaimana orang merasakan dirinya. Bila sepatu yang dikenakan itu indah, bermerek, orang akan dengan mudah mengatakan bahwa orang ini memiliki kedudukan yang tinggi. Bila sepatu yang dikenakan adalah sepatu bot, orang akan dengan mudah berpikiran bahwa pasti dia seorang tentara. Dari sepatu, kita akan mengetahui siapakah dirinya. Kita juga akan dapat mengetahui kepada siapa, ia mengabdi. Maxim Gorky seorang penulis Rusia mengatakan sepasang sepatu bot lebih akan mengabdi kepada kekuasaan dari pada sepasang mata yang hitam. Sepatu itu akan menghentikan kematian yang lebih dini.
Namun sepasang sepatu akan berbicara lain tentang orang Papua. Bagi orang Papua, sepatu adalah barang mewah. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sepatu. Kalaupun mereka menggenakan sepatu, tampak lumpur dan sobek di mana-mana. Karena ada hal yang lebih penting dari sepatu yakni bagaimana mereka bisa makan. Kebanyakan mereka, kecil, tua dan muda ke mana-mana tanpa alas kaki. Mereka sepertinya sudah menyatu dengan kehidupan mereka. Meskipun terik matahari yang menyengat, dan lumpur di jalanan, mereka tetap berjalan tanpa alas kaki. Demikian halnya juga tatkala mereka datang ke gereja menghadiri perayaan ekaristi. Pada umumnya mereka tidak mengenakan sandal, apalagi sepatu.
Keindahan Jiwa

Masyarakat modern memandang sepatu sebagai suatu gaya hidup. Maka orang berlomba-lomba mencari merek sepatu yang terbaik, dan paling mahal. Sepatu memiliki fungsinya masing-masing, tergantung situasi dan tempat. Tatkala orang datang ke tempat umum, sepatunya merek luar negeri, dan ketika datang ke gereja, orang memakai sepatu merek dari negara lain. Orang mengetahui saat kapan harus menggunakan sepatu jenis ini dan sepatu jenis itu. Sedemikian pentingnya sepatu, sehingga berbagai merek sepatu terpajang di rak-rak lemari.
Kenyataan seperti itu tidak ditemukan pada orang Papua. Sepatu jarang ada di rumah mereka, apalagi sepatu yang bermerek. Seperti halnya, di rumahnya Simon yang sederhana. Simon berkisah untuk makan saja sulit, apalagi untuk membeli sepatu bermerek. Namun Simon tak pernah merasa minder karena tidak memiliki sepatu tatkala datang ke Gereja. Ia mempunyai keyakinan bahwa Tuhan tak pernah merasa kecewa dengan dirinya karena kakinya penuh lumpur. Yang Tuhan minta adalah kerendahan hati dari dirinya. “Aku tidak pernah memiliki keinginan yang banyak, harus memakai sepatu yang indah dan bermerek ke Gereja, karena bagiku hati yang selalu bersyukur, karena diberi kehidupan oleh Tuhan. Itu sudah cukup bagiku”.
Taoisme pernah berkata bahwa orang sukar menjadi bijaksana dan suci karena terlalu banyak mempunyai keinginan. Keinginan yang banyak membuat diri manusia terpenjara di dalam dirinya, karena ketika orang itu memenuhi satu keinginan, akan muncul keinginan lainnya, dan seterusnya. Keinginan yang banyak bagaikan sebuah mata rantai yang tak pernah berakhir. Sehingga hidup manusia kehilangan fokus dan arah hidupnya yang sebenarnya.
Simon adalah gambaran wajah orang-orang Papua yang sederhana, tidak mempunyai keinginan yang meluap-luap tetapi memiliki kebijaksanaan hidup. Hidup apa adanya dan mengalir begitu saja, seperti air sungai yang mengalir dari dataran tinggi menuju dataran yang rendah. Ia tetap bening dan cemerlang, karena ia mengalir dalam keheningan dan ketenangan. Kehidupan Yesus adalah cermin kehidupan yang sederhana. Yesus hanya memiliki satu keinginan yakni melakukan kehendak BapaNya di surga. Untuk itu, Yesus memilih cara hidup yang sederhana, lahir di kandang Betlehem yang hina, tidak di tempat yang mewah, bergaul dengan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa. Ia datang dalam kesederhanaan, tetapi dari sanalah mengalir kebijaksanaan karena hatiNya yang selalu terbuka kepada kehendak BapaNya.
Dipanggil untuk berkorban
Di kamar kita, mungkin ada bermacam-macam merek sepatu. Kita dapat sesuka hati kita mengenakannya. Bila menginginkan sepatu jenis tertentu, kita dapat pula dengan mudah membelinya. Berbagai tawaran merek sepatu yang terbaik dan termahal dengan gampang juga kita dapat menjangkaunya. Sepatu adalah simbol harga diri kita, karena dari sanapula kita memperoleh pengakuan sosial, dan penghormatan dari orang lain.
Mendengar kisah Simon, terkadang terbersit rasa malu, karena Simon tak pernah merasa takut melewati jalan yang berlumpur, meskipun ia tidak mengenakan sepatu. Sedangkan aku masih merasa takut kalau sepatu yang aku kenakan menjadi kotor kalau melayani orang-orang sederhana dan miskin. Maka aku memilih untuk menghindarinya. Aku memilih jalan yang menyenangkan diriku dan tidak mau peduli dengan orang lain. Simon juga tak pernah merasa malu dan takut ketika datang ke Gereja dengan tidak mengenakan sepatu. Sedangkan aku masih merasa takut, kalau tidak mendapat penghormatan dan penghargaan dari orang lain, saat aku tidak mengenakan sepatu. Itulah cermin wajah manusia jaman sekarang yang lebih melihat penampilan luar dari pada penampilan dari lubuk hati yang terdalam.
Kisah kehidupan Simon membawa permenungan tersendiri, bahwa rahasia cinta Allah tersembunyi dalam hidup orang miskin. Rahasia cinta Allah tersembunyi dalam lubuk hati yang terbuka dan rendah hati. Rahasia hati inilah yang dicari oleh banyak orang, tetapi tidak pernah menemukannya, karena lebih memilih untuk memuliakan tubuh dengan aksesoris luar, dari pada memuliakan jiwa yang terdalam di dalam lubuk hati kita. Tuhan Yesus mengatakan kepada para muridNya bahwa banyak orang mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga tetapi tidak mendengar. Hanya kepada orang yang dianugerahi sajalah yang mampu melihat dan mendengarkan. Yesus ingin menunjukkan rahasia kebijaksanaan dapat diperoleh, hanya bila manusia selalu terbuka pada kehendak Allah dan rendah hati.
Simon tidak pernah memvonis orang lain yang mempunyai sepatu yang banyak, dan dapat membeli sepatu yang bermerek kalau hendak Gereja. Itu merupakan hak pribadi mereka masing-masing. Ia hanya bercerita tentang kehidupannya yang sederhana dan sepasang sepatu satu-satunya yang tidak dapat dia pakai lagi. Namun dari balik kisah Simon, terungkap sebuah jawaban tentang rahasia hidup damai, ketenangan batin yakni keterbukaan jiwa dan kerendahan hati dihadapan Allah. Yang Allah minta bukan penampilan luar dengan segala aksesoris, tetapi hati yang tulus yang dengan rendah hati datang bertelut di bawah kaki Tuhan, bukan untuk dilayani, melainkan berani melayani, bukan untuk mengharapkan penghormatan dan penghargaan dari orang lain, namun siap menjadi kotor dan berani melewati jalan berlumpur. Di situlah semangat berkorban kita diminta. Berkorban berarti memberi diri bagi orang lain, agar orang lain juga mencicipi kebahagiaan. Semangat inilah yang menjiwai Mother Theresa untuk berkorban memberikan dirinya bagi pelayaan orang miskin. Semangat berkorban ini pula yang membuat Mother Theresa meyakini bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang berani berbagi dan berkorban untuk orang lain. Siapa takut??
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Sabtu, Mei 31, 2008
SETIALAH KEPADA DIRI ANDA SENDIRI
Saya akan ceritakan pada Anda sebuah rahasia sederhana untuk berhasil dalam hidup.
Jangan pernah mencoba untuk menyenangkan setiap orang.
Saya sudah menjadi seorang pemimpin organisasi Katolik selama dua dekade hingga saat ini. Jika saya mencoba untuk menyenangkan semua harapan-harapan yang digantungkan orang-orang atas saya, saya perlu menjadi Padre Pio dan Bill Gates dan Fransiskus Asisi dan John Rockefeller dan Clark Kent dalam waktu bersamaan.
Beberapa orang ingin saya menjadi Padre Pio: "Bo, waktu doa pagimu-dilakukan pukul empat dini hari-harusnya berlangsung selama tiga jam. Beberapa lama sekali kamu harus melayang di udara. Saat kamu berjalan, kamu akan mencium parfum kekudusan dan melihat pancaran keindahan diwajahmu." Saya punya beberapa tipe parfum, yang saya ketahui. Tapi saya ragu jika itu adalah suci. (Coba eja nama saya. Mengingatkan Anda akan sesuatu?)
Yang lain ingin saya menjadi Bill Gates, CEO yang luar biasa: "Sebagai ketua kami,kamu harus mengatur organisasi dengan baik. Kamu harus membangun tempat pemasaran kita dan mengejar sistim ISO 9002 dalam persekutuan doa kita."
Yang lain ingin saya menjadi Santo Fransiskus Asisi, sang pertapa: "Bo, kamu harus hidup dalam kemiskinan, memakai baju bekas dan jangan pernah menyentuh atau memiliki atau berpikir tentang uang sama sekali. Mengendarai sebuah mobil yang bobrok dan berkarat. Dan tinggal di area kumuh."
Dan juga sekelompok orang yang lain memaksa saya menjadi John Rockefeller, sang dermawan: "Ketika kami mempunyai kebutuhan finansial, akan sangat baik jika kami melihatmu merogoh sakumu dalam-dalam dan membantu kami dalam biaya sekolah anak-anak kami, biaya rumah sakit kami, uang belanja kami."
Beberapa berharap saya menjadi Clark Kent: " Saya tidak perduli dengan jadualmu yang padat. Kamu harus ada saat saya membutuhkan! Jadilah teman baik saya. Jangan hanya menjadi pemimpin saya! Telepon saya setiap hari dan kunjungi saya setiap hari yang lain."
Bagi dua ribu anggota organisasi saya ?
Saya telah menerima kenyataan ini: Saya percaya bahwa jika saya melakukan apa yang diinginkan pencipta saya, saya akan mengecewakan banyak orang.
Saya bukan semua tokoh ini. Saya adalah Bo. Dan saya senang menjadi Bo!
Tuhan telah menciptakan saya untuk menjadi orang ini dengan semua kelebihan, kelemahan, dan keanehan saya.
Jangan pernah mencoba untuk menyenangkan setiap orang.
Kecewakan orang!
Ketahui panggilan Anda.
Dan jawablah panggilan itu.
Diterjemahkan secara bebas dari Buku "You Have the Power to Create Love" - Bo Sanchez
Dikutip dari: "Bahasa Kasih",Juni 2008 - Renungan Harian Berdasarkan Kalender Liturgi
Jangan pernah mencoba untuk menyenangkan setiap orang.
Saya sudah menjadi seorang pemimpin organisasi Katolik selama dua dekade hingga saat ini. Jika saya mencoba untuk menyenangkan semua harapan-harapan yang digantungkan orang-orang atas saya, saya perlu menjadi Padre Pio dan Bill Gates dan Fransiskus Asisi dan John Rockefeller dan Clark Kent dalam waktu bersamaan.
Beberapa orang ingin saya menjadi Padre Pio: "Bo, waktu doa pagimu-dilakukan pukul empat dini hari-harusnya berlangsung selama tiga jam. Beberapa lama sekali kamu harus melayang di udara. Saat kamu berjalan, kamu akan mencium parfum kekudusan dan melihat pancaran keindahan diwajahmu." Saya punya beberapa tipe parfum, yang saya ketahui. Tapi saya ragu jika itu adalah suci. (Coba eja nama saya. Mengingatkan Anda akan sesuatu?)
Yang lain ingin saya menjadi Bill Gates, CEO yang luar biasa: "Sebagai ketua kami,kamu harus mengatur organisasi dengan baik. Kamu harus membangun tempat pemasaran kita dan mengejar sistim ISO 9002 dalam persekutuan doa kita."
Yang lain ingin saya menjadi Santo Fransiskus Asisi, sang pertapa: "Bo, kamu harus hidup dalam kemiskinan, memakai baju bekas dan jangan pernah menyentuh atau memiliki atau berpikir tentang uang sama sekali. Mengendarai sebuah mobil yang bobrok dan berkarat. Dan tinggal di area kumuh."
Dan juga sekelompok orang yang lain memaksa saya menjadi John Rockefeller, sang dermawan: "Ketika kami mempunyai kebutuhan finansial, akan sangat baik jika kami melihatmu merogoh sakumu dalam-dalam dan membantu kami dalam biaya sekolah anak-anak kami, biaya rumah sakit kami, uang belanja kami."
Beberapa berharap saya menjadi Clark Kent: " Saya tidak perduli dengan jadualmu yang padat. Kamu harus ada saat saya membutuhkan! Jadilah teman baik saya. Jangan hanya menjadi pemimpin saya! Telepon saya setiap hari dan kunjungi saya setiap hari yang lain."
Bagi dua ribu anggota organisasi saya ?
Saya telah menerima kenyataan ini: Saya percaya bahwa jika saya melakukan apa yang diinginkan pencipta saya, saya akan mengecewakan banyak orang.
Saya bukan semua tokoh ini. Saya adalah Bo. Dan saya senang menjadi Bo!
Tuhan telah menciptakan saya untuk menjadi orang ini dengan semua kelebihan, kelemahan, dan keanehan saya.
Jangan pernah mencoba untuk menyenangkan setiap orang.
Kecewakan orang!
Ketahui panggilan Anda.
Dan jawablah panggilan itu.
Diterjemahkan secara bebas dari Buku "You Have the Power to Create Love" - Bo Sanchez
Dikutip dari: "Bahasa Kasih",Juni 2008 - Renungan Harian Berdasarkan Kalender Liturgi
Minggu, Mei 18, 2008
BERBAGI
Ahmans2006
Sungai kecil itu mengalir di tengah hutan ke sungai yang lain. Airnya selalu bening. Ketika melewati sungai kecil di tengah hutan, beberapa orang-orang mengambil air dari sungai itu dan dimasukan ke dalam botol. Dalam bayanganku, air itu akan dibawa ke rumah, direbus, setelah itu diminum. Namun, tidak demikian air itu langsung diminum begitu saja. Aku agak ragu-ragu untuk meminumnya, tetapi setelah melihat beberapa orang menikmati air di sungai itu, tanpa ragu-ragu aku juga ikut menikmatinya. Bahkan setelah kami tiba di sebuah kampung dan melepaskan lelah, air itu diletakkan begitu saja di rumah panggung. Tatkala kami menikmati hidangan sagu dan pisang, air itu diminum tanpa dimasak lebih dahulu.
Romanus adalah salah satu keluarga yang seringkali datang untuk mengambil air dari sungai. Setiap kali datang, ia selalu membawa beberapa botol air. Botol-botol ini tidak terlalu besar. Bila botol itu sudah selesai, ia datang mengambil air dari sungai ini lagi. Demikian pula warga yang lain, mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Romanus. Di rumah-rumah mereka, hampir tidak pernah dijumpai ember dalam ukuran yang besar, tetapi botol-botol kecil yang warna dan bentuknya sudah semakin tidak jelas. Kadangkala di tengah hutan, mereka membuat aliran kecil dari bambu,sehingga setiap orang yang lewat memudahkan mereka untuk mengambilnya.
Mereka tidak pernah membuang kotoran atau sampah di tengah sungai itu. Romanus bercerita kepadaku bahwa air ini akan mengalir ke sungai yang lebih besar, dan sepanjang sungai itu, masyarakat di desa yang lain akan menikmati air yang sama. Maka seperti suatu kebijaksanaan hidup, mereka tidak akan mengotori air tersebut.
Ketika persediaan air semakin tidak ada, mereka rela berbagi air kepada orang lain. Kegembiraan itulah yang mereka berikan. Meskipun persediaan air tinggal sedikit, mereka masih mau berbagi dengan orang lain. Bagi mereka, seperti sumber air yang memberi dan berbagi kepada sungai-sungai yang lain, dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, maka kehidupan itu akan selalu dirayakan dalam kebahagiaan dengan “memberi”. Romanus berkata, sumber air selalu memancarkan kebeningan, karena sumber air selalu memberi, dan selalu berbagi kepada orang lain. Ke mana air itu mengalir, ia selalu menawarkan sukacita, kepuasaan dan memberikan kedahagaan kepada orang lain.
Mengalirkan kehidupan
Tuhan Yesus menyebut dirinya sebagai sumber air hidup. “Barang siapa datang kepadaKu, dan minum dari sumber air yang Aku berikan ini, dia tidak akan mati, tetapi akan memperoleh kehidupan. Yesus dalam seluruh karya perutusanNya selalu memberikan kelegaan kepada manusia. Ketika Ia mengajar dari desa ke desa Ia selalu membawa warta gembira dan sukacita, sehingga hati setiap orang yang terbuka dan mendengarkan warta gembira mengalami sukacita, dan kegembiraan.
Hati Yesus adalah sumber air hidup yang memberikan kelegaan dan kegembiraan kepada manusia yang siap untuk menerima. Kabar sukacita ini ditawarkan kepada setiap manusia dengan memberikan diriNya sendiri seutuhNya kepada manusia, agar manusia mengalami kebahagiaan. Puncak pemberiaan diriNya adalah melalui penderitaan, hingga wafat di kayu salib. Warta tentang kebangkitan yang dibawah oleh para rasul dan wanita yang mengalami penampakan menimbulkan sukacita, karena Yesus sebagai sumber air hidup tetap tinggal dan hadir di setiap langkah hidup manusia.
Berani Memberi
Confusions mengajarkan sebuah nilai keutamaan bahwa tatkala manusia berani melepaskan dan menanggalkan segala apa yang menjadi keinginannya, dan kelekatan hidupnya ia akan meraih hidup baru. Kelekatan berarti tidak berani untuk memberi yang dimilikinya untuk dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian hidup baru yakni hidup yang memberi dan menyajikan santapan kehidupan yang melegakan bagi orang lain tidak dirayakan bersama dengan orang lain, tetapi hanya demi kepuasaan diri sendiri. Anthony De Mello mengatakan hidup yang sejati adalah sikap hidup lepas bebas. Sikap hidup lepas bebas ini memungkinkan manusia meraih arti dan makna hidup yang sebenarnya.
Orang-orang Papua adalah pribadi yang berani untuk memberi. Prinsip hidup mereka adalah seperti sumber air hidup yang mengalir ke mana saja dan menawarkan kesegaran. Demikian pula hidup mereka, dengan memberi air kepada orang lain, meskipun mereka hanya memiliki sedikit, tetapi mampu memberikan kehidupan kepada orang lain. Mereka berani melepaskan dan menanggalkan apa yang mereka miliki dan dibagikan kepada orang lain untuk merebut kelegaan hati yang jauh lebih mewah dari pada membiarkan orang lain menderita.
Perumpaan seorang janda miskin yang memberikan sepeser koin yang dimilikinya di bait Allah mendapat apresiasi dari Yesus adalah contoh paling jelas dalam kitab suci. Yesus memuji janda miskin, karena dia berani memberikan dari kekurangannya dan bukan dari kelebihannya untuk Tuhan. Ia berani memberikan semua yang menjadi jerih payahnya. Keyakinannya yang teguh bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terindah dalam hidupnya. Satu-satunya pedomanan hidupnya adalah berharap dan berpegang pada Tuhan. Iman dan keteguhan akan kepercayaan bahwa kemurahan Allah akan dialami, membuat dia memberikan semuanya untuk Tuhan.
Menikmati kebahagiaan
Tatkala kami pulang, dan melewati sungai itu, Romanus menunjukkan kepadaku bahwa sungai ini menjadi berkat bagi hidup mereka. Sungainya tetap bersih dan bening, dan mengalir kemana saja, dia suka, dan kemana dia mengalir, sungai ini menawarkan dan memberikan kepuasaan bagi orang lain. Hidup itu indah kalau kita mau memberi, seperti sungai yang selalu memberi dan mengalir. Meskipun hanya sedikit tetapi memberi makna bagi hidup orang ini. Aku tidak banyak menanggapi dengan filosofi sederhana yang diajarkan oleh Romanus kepadaku. Aku teringat akan tindakan sederhana yang dilakukan oleh Romanus ketika ia memberikan semua makanannya kepada orang lain saat kami makan bersama di sebuah kampung. Ketika kubertanya apakah masih ada makanan untuk dirinya? Sambil tersenyum ia berkata tidak ada lagi makanan yang lain selain ini. Tetapi “no problem”. Karena kadang kala kami hanya makan sekali saja dalam sehari. Aku baru mengerti bahwa ia telah belajar dari air sungai yang selalu memberi. Memberi adalah sebuah tindakan yang sederhana, namun kedalaman hatinya mengajarkan sebuah keutamaan kemurahan hati. Kemurahan yang memancarkan sukacita dalam dirinya dan dalam diri orang lain yang menikmatinya.
Steven covey, dalam bukunya “ Delapan kebiasaan Baik” memaparkan rumusan yang sederhana namun kaya dengan makna hidup yakni bahwa kebahagian dapat diraih melalui “sikap dan tindakan memberi”. Sikap memberi adalah tindakan “share and give” apa yang aku miliki kepada orang lain, agar orang lain dapat menikmati kebahagiaan. Benar! Seperti apa yang dilakukan oleh janda miskin dalam Injil, dikisahkan bahwa ia memberikan semua apa yang ada padanya kepada Tuhan. Bagi orang lain, tindakan janda miskin adalah sebuah tindakan yang keliru, karena memberi semuanya, lantas untuk dirinya bagaimana? Sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi. Tetapi keyakinan yang teguh bahwa memberi adalah menuai kebahagiaan dalam jiwa. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menuai kebahagiaan yakni menerima. Tuhan Yesus adalah teladan hidup dalam sikap pemberiaan diriNya yang total kepada Allah dan manusia. Meskipun penderitaan dan kesengsaraan yang dialami begitu berat, namun keselamatan manusia menjadi kebahagiaan BapaNya di surga.
Melihat cara hidup orang Papua, kekaguman terberserit dalam diriku. Betapa mereka menghayati sebuah nilai memberi agar mereka dapat menikmati kebahagiaan. Kata-kata Romanus menggetarkan hatiku, betapa penghayatan hidup yang sederhana ini justru menuai kebahagian. Tidak jarang, egoisme dan sikap indivuadualisme menumbuhkan sikap untuk enggan memberi apa yang kita miliki kepada orang lain. Karena memahami memberi berarti mengurangi apa yang telah aku miliki.
Sungai yang mengalir di tengah hutan itu kini menjadi symbol untuk mengingatkan hidup manusia bahwa memberi adalah mengalirkan kehidupan kepada orang lain, agar orang lain dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan. Dengan memberi dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, hidup menjadi bermakna dan berarti, karena sumber yang mengalir dalam jiwa manusia terus memancarkan sukacita.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Sungai kecil itu mengalir di tengah hutan ke sungai yang lain. Airnya selalu bening. Ketika melewati sungai kecil di tengah hutan, beberapa orang-orang mengambil air dari sungai itu dan dimasukan ke dalam botol. Dalam bayanganku, air itu akan dibawa ke rumah, direbus, setelah itu diminum. Namun, tidak demikian air itu langsung diminum begitu saja. Aku agak ragu-ragu untuk meminumnya, tetapi setelah melihat beberapa orang menikmati air di sungai itu, tanpa ragu-ragu aku juga ikut menikmatinya. Bahkan setelah kami tiba di sebuah kampung dan melepaskan lelah, air itu diletakkan begitu saja di rumah panggung. Tatkala kami menikmati hidangan sagu dan pisang, air itu diminum tanpa dimasak lebih dahulu.
Romanus adalah salah satu keluarga yang seringkali datang untuk mengambil air dari sungai. Setiap kali datang, ia selalu membawa beberapa botol air. Botol-botol ini tidak terlalu besar. Bila botol itu sudah selesai, ia datang mengambil air dari sungai ini lagi. Demikian pula warga yang lain, mereka juga melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Romanus. Di rumah-rumah mereka, hampir tidak pernah dijumpai ember dalam ukuran yang besar, tetapi botol-botol kecil yang warna dan bentuknya sudah semakin tidak jelas. Kadangkala di tengah hutan, mereka membuat aliran kecil dari bambu,sehingga setiap orang yang lewat memudahkan mereka untuk mengambilnya.
Mereka tidak pernah membuang kotoran atau sampah di tengah sungai itu. Romanus bercerita kepadaku bahwa air ini akan mengalir ke sungai yang lebih besar, dan sepanjang sungai itu, masyarakat di desa yang lain akan menikmati air yang sama. Maka seperti suatu kebijaksanaan hidup, mereka tidak akan mengotori air tersebut.
Ketika persediaan air semakin tidak ada, mereka rela berbagi air kepada orang lain. Kegembiraan itulah yang mereka berikan. Meskipun persediaan air tinggal sedikit, mereka masih mau berbagi dengan orang lain. Bagi mereka, seperti sumber air yang memberi dan berbagi kepada sungai-sungai yang lain, dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, maka kehidupan itu akan selalu dirayakan dalam kebahagiaan dengan “memberi”. Romanus berkata, sumber air selalu memancarkan kebeningan, karena sumber air selalu memberi, dan selalu berbagi kepada orang lain. Ke mana air itu mengalir, ia selalu menawarkan sukacita, kepuasaan dan memberikan kedahagaan kepada orang lain.
Mengalirkan kehidupan
Tuhan Yesus menyebut dirinya sebagai sumber air hidup. “Barang siapa datang kepadaKu, dan minum dari sumber air yang Aku berikan ini, dia tidak akan mati, tetapi akan memperoleh kehidupan. Yesus dalam seluruh karya perutusanNya selalu memberikan kelegaan kepada manusia. Ketika Ia mengajar dari desa ke desa Ia selalu membawa warta gembira dan sukacita, sehingga hati setiap orang yang terbuka dan mendengarkan warta gembira mengalami sukacita, dan kegembiraan.
Hati Yesus adalah sumber air hidup yang memberikan kelegaan dan kegembiraan kepada manusia yang siap untuk menerima. Kabar sukacita ini ditawarkan kepada setiap manusia dengan memberikan diriNya sendiri seutuhNya kepada manusia, agar manusia mengalami kebahagiaan. Puncak pemberiaan diriNya adalah melalui penderitaan, hingga wafat di kayu salib. Warta tentang kebangkitan yang dibawah oleh para rasul dan wanita yang mengalami penampakan menimbulkan sukacita, karena Yesus sebagai sumber air hidup tetap tinggal dan hadir di setiap langkah hidup manusia.
Berani Memberi
Confusions mengajarkan sebuah nilai keutamaan bahwa tatkala manusia berani melepaskan dan menanggalkan segala apa yang menjadi keinginannya, dan kelekatan hidupnya ia akan meraih hidup baru. Kelekatan berarti tidak berani untuk memberi yang dimilikinya untuk dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian hidup baru yakni hidup yang memberi dan menyajikan santapan kehidupan yang melegakan bagi orang lain tidak dirayakan bersama dengan orang lain, tetapi hanya demi kepuasaan diri sendiri. Anthony De Mello mengatakan hidup yang sejati adalah sikap hidup lepas bebas. Sikap hidup lepas bebas ini memungkinkan manusia meraih arti dan makna hidup yang sebenarnya.
Orang-orang Papua adalah pribadi yang berani untuk memberi. Prinsip hidup mereka adalah seperti sumber air hidup yang mengalir ke mana saja dan menawarkan kesegaran. Demikian pula hidup mereka, dengan memberi air kepada orang lain, meskipun mereka hanya memiliki sedikit, tetapi mampu memberikan kehidupan kepada orang lain. Mereka berani melepaskan dan menanggalkan apa yang mereka miliki dan dibagikan kepada orang lain untuk merebut kelegaan hati yang jauh lebih mewah dari pada membiarkan orang lain menderita.
Perumpaan seorang janda miskin yang memberikan sepeser koin yang dimilikinya di bait Allah mendapat apresiasi dari Yesus adalah contoh paling jelas dalam kitab suci. Yesus memuji janda miskin, karena dia berani memberikan dari kekurangannya dan bukan dari kelebihannya untuk Tuhan. Ia berani memberikan semua yang menjadi jerih payahnya. Keyakinannya yang teguh bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terindah dalam hidupnya. Satu-satunya pedomanan hidupnya adalah berharap dan berpegang pada Tuhan. Iman dan keteguhan akan kepercayaan bahwa kemurahan Allah akan dialami, membuat dia memberikan semuanya untuk Tuhan.
Menikmati kebahagiaan
Tatkala kami pulang, dan melewati sungai itu, Romanus menunjukkan kepadaku bahwa sungai ini menjadi berkat bagi hidup mereka. Sungainya tetap bersih dan bening, dan mengalir kemana saja, dia suka, dan kemana dia mengalir, sungai ini menawarkan dan memberikan kepuasaan bagi orang lain. Hidup itu indah kalau kita mau memberi, seperti sungai yang selalu memberi dan mengalir. Meskipun hanya sedikit tetapi memberi makna bagi hidup orang ini. Aku tidak banyak menanggapi dengan filosofi sederhana yang diajarkan oleh Romanus kepadaku. Aku teringat akan tindakan sederhana yang dilakukan oleh Romanus ketika ia memberikan semua makanannya kepada orang lain saat kami makan bersama di sebuah kampung. Ketika kubertanya apakah masih ada makanan untuk dirinya? Sambil tersenyum ia berkata tidak ada lagi makanan yang lain selain ini. Tetapi “no problem”. Karena kadang kala kami hanya makan sekali saja dalam sehari. Aku baru mengerti bahwa ia telah belajar dari air sungai yang selalu memberi. Memberi adalah sebuah tindakan yang sederhana, namun kedalaman hatinya mengajarkan sebuah keutamaan kemurahan hati. Kemurahan yang memancarkan sukacita dalam dirinya dan dalam diri orang lain yang menikmatinya.
Steven covey, dalam bukunya “ Delapan kebiasaan Baik” memaparkan rumusan yang sederhana namun kaya dengan makna hidup yakni bahwa kebahagian dapat diraih melalui “sikap dan tindakan memberi”. Sikap memberi adalah tindakan “share and give” apa yang aku miliki kepada orang lain, agar orang lain dapat menikmati kebahagiaan. Benar! Seperti apa yang dilakukan oleh janda miskin dalam Injil, dikisahkan bahwa ia memberikan semua apa yang ada padanya kepada Tuhan. Bagi orang lain, tindakan janda miskin adalah sebuah tindakan yang keliru, karena memberi semuanya, lantas untuk dirinya bagaimana? Sebuah pertanyaan yang sangat manusiawi. Tetapi keyakinan yang teguh bahwa memberi adalah menuai kebahagiaan dalam jiwa. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita menuai kebahagiaan yakni menerima. Tuhan Yesus adalah teladan hidup dalam sikap pemberiaan diriNya yang total kepada Allah dan manusia. Meskipun penderitaan dan kesengsaraan yang dialami begitu berat, namun keselamatan manusia menjadi kebahagiaan BapaNya di surga.
Melihat cara hidup orang Papua, kekaguman terberserit dalam diriku. Betapa mereka menghayati sebuah nilai memberi agar mereka dapat menikmati kebahagiaan. Kata-kata Romanus menggetarkan hatiku, betapa penghayatan hidup yang sederhana ini justru menuai kebahagian. Tidak jarang, egoisme dan sikap indivuadualisme menumbuhkan sikap untuk enggan memberi apa yang kita miliki kepada orang lain. Karena memahami memberi berarti mengurangi apa yang telah aku miliki.
Sungai yang mengalir di tengah hutan itu kini menjadi symbol untuk mengingatkan hidup manusia bahwa memberi adalah mengalirkan kehidupan kepada orang lain, agar orang lain dapat merasakan dan menikmati kebahagiaan. Dengan memberi dan mengalirkan kehidupan kepada orang lain, hidup menjadi bermakna dan berarti, karena sumber yang mengalir dalam jiwa manusia terus memancarkan sukacita.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Langganan:
Postingan (Atom)
