Dia selalu duduk diam. Sesekali dia tersenyum dan hanya mengatakan good morning, good afternoon dan good night, bila aku menyapanya. Karena Ia tidak bisa berbahasa Inggris dengan lancar. Ia hanya berbicara dalam bahasa Awim (bahasa daerah mereka). Setiap pagi dia berangkat dari rumahnya dengan jalan kaki. Di kepalanya disangulkan tas (bilum) dengan berbagai macam barang dan bergegas ke tepi jalan untuk menjajakan barang dagangannya. Tidak terlalu banyak barang dagangannya, hanya beberapa pak rokok, korek api, jenis umbi-umbian dan sirih pinang. Ia tak memiliki tempat berteduh, selain payung yang ditancapkan begitu saja pada tanah dan dia duduk dibawahnya dengan barang dagangnnya. Setiap mobil yang lewat di tepi jalan tak henti-hentinya dia tersenyum dan melambaikan tangan. Ketika hari sudah menunjukkan jam 12, dia mengemaskan barang dagangannya, kembali ke rumahnya untuk makan siang dan melepaskan lelah sejenak bersama dengan anak-anak dan cucu-cucunya. Jam dua siang, dia akan kembali lagi menjajakan barang dagangannya. Demikianlah kesehariaan hidup Ari Linda. Umurnya kira-kira 70 tahun. Nama ibu itu sebenarnya Linda, tetapi karena dia sudah tua, di depan nama Linda diberi nama Ari. Nama “Ari” hanya dikenakan pada ibu-ibu yang sudah memasuki usia senja. Tepatnya mereka yang sudah menjadi nenek.
Ari Linda hidup sangat sederhana, tetapi seorang yang saleh. Dia selalu terlibat dalam semua bentuk kegiatan rohani. Suatu saat, kami mengadakan sharing kitab suci, “metode tujuh langkah”. Metode ini pertama kali kami adakan. Kami membuat liturgi yang menarik. Kami duduk membentuk lingkaran. Sedangkan di tengah-tengahnya diletakkan salib, lilin, kitab suci, dan jenis makanan khas mereka, pisang, sagu dan umbi-umbiaan. Saat sharing kitab suci, semua yang hadir tidak ketinggalan untuk menceritakan pengalaman hidup dan iman mereka, tak terkecuali Ari Linda. Saat Ari Linda berkisah tentang pengalamannya, beberapa orang berkata “drinu” artinya benar apa yang dikatakannya. Aku tidak memahami satu kata pun apa yang dikatakan oleh Ari Linda. Namun aku penasaran dan mencoba mencari penjelasan. Aku mendapat informasi dari penerjemah bahwa setiap malam Ari Linda menghabiskan waktu 3 menit untuk bertemu dengan Tuhan. Sederhana saja yang dilakukannya; menit pertama, ia mencoba merenungkan apa yang membuatnya merasa bahagia hari ini. Ia mulai merenungkan bahwa ternyata banyak pembeli yang datang ke tempat dagangannya. Melihat cucu-cucunya yang memang lucu-lucu dan menyenangkan. Ia berkata kepada Yesus tentang kegembiraan ini. Dan akhirnya ia mengucap syukur atas pengalaman kegembiraan kecil hari ini. Menit yang kedua, ia merenungkan bahwa seharian ini, kadangkala ia kurang sabar, dan kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya. Dia katakan kepada Yesus tentang kelemahannya dan meminta Yesus untuk mengampuni segala dosanya. Akhirnya menit yang ketiga, dia melihat untuk keesokkan harinya. Ia berpikir bahwa akan menghadapi banyak kesulitan, karena harus pergi ke kota untuk belanja barang dagangannya. Dan terkadang takut barang dagangannya tidak laku. Dia berbicara kepada Yesus tentang masalah ini, dan meminta penerangan dan kekuatan dari tanganNya.
Doa Ari Linda yang sangat sederhana membuat aku terkesima, betapa kedalaman hatinya terpancar sukacita dan kegembiraan yang mendalam, karena relasi yang akrab dengan Tuhan. Tuhan memberikan hati seorang “Ari” yang selalu tekun dan berani berbagi tentang pengalaman iman yang sederhana, tetapi memberikan penerangan hati bagi siapa saja termasuk aku.
Masuk dalam Relasi
Menyimak kehidupan Yesus dan perutusananNya, jelas bahwa Yesus selalu mengajak para muridNya untuk meluangkan waktu untuk berdoa. Setelah berkeliling dari desa ke desa mengadakan mujisat, menyembuhkan orang sakit, dan memberi makan kepada banyak orang, Yesus datang dan berdoa kepada bapaNya. Rasa lelah, capek, dan sibuk dengan karya perutusanNya bukanlah alasan untuk tidak berdoa kepada BapaNya. Doa adalah kekuatan dan sumber pengharapan dan kegembiraan Yesus dalam karya perutusanNya. Tidak jemu-jemunya dia berdoa dan mohon kekuatan dari BapaNya, bahkan saat di kayu salib, Dia masih berdoa dan meminta kekuatan dari BapaNya.
Namun, di lain kesempatan Yesus mengeritik kebiasaan doa dari orang-orang Farisi sebagai orang yang munafik, karena mereka berdoa di sudut-sudut jalan, dengan jubah yang panjang-panjang, tampak saleh, tetapi dengan suatu motivasi yang terselubung supaya dilihat orang dan tampak sebagai orang yang beragama. Yesus berkata, kalau engkau berdoa masuklah ke dalam kamarmu dan berdoalah di tempat yang tersembunyi, karena BapaMu yang berada di tempat yang tersembunyi akan mengetahuinya. Yesus mengajak para muridnya untuk memiliki kebiasaan berdoa. Doa bukan karena supaya mendapat pujian, atau keinginan untuk mendapat penghargaan dari orang lain karena dilihat sebagai orang saleh, tetapi doa adalah suatu pengalaman masuk dalam relasi yang pribadi dengan Allah. Doa adalah suatu kebutuhan untuk menjalin relasi yang akrab dengan Allah. Dengan masuk dalam relasi yang mesra dengan Allah, maka kekuatan dan cinta Allah itu dapat dirasakan dan dialami.
Setelah Yesus pergi kepada BapaNya di surga, para murid menyadari arti pentingnya berdoa. Mereka mulai berkumpul bersama, berbagi pengalaman imannya, dan berdoa bersama. Doa menjadi suatu kekuatan dan sumber pengharapan mereka. Stefanus, adalah salah satu contohnya. Menghadapi penderitaan, hingga dirajam sampai mati, ia berdoa kepada Yesus agar dikuatkan imannya dalam menghadapi segala bentuk penderitaan. Stefanus mengerti dengan benar, doa membuat dia berani untuk memberi kesaksiaan tentang kebenaran, dan cinta Allah. Rasul Petrus juga juga mengalami doa sebagai sumber kekuatan dan pengharapannya. Ketika ia mengalami begitu banyak penderitaan, dan akhirnya ditangkap dan harus berada di penjara. Ia berdoa, dan akhirnya malaikat Tuhan datang membantu dia membuka terali besi, sehingga dia bisa keluar dari penjara dengan bebas. Pengalaman Yesus dan para muridNya menunjukkan kepada kita, doa adalah sumber kekuatan bagi seseorang. Tanpa doa, manusia kehilangan kekuatan cinta.
Berkanjang dalam Pengharapan
Memupuk kebiasaan berdoa bukanlah hal yang mudah bagi orang jaman sekarang. Kesibukan kita kian menyita waktu untuk membangun relasi yang akrab dengan Tuhan. “Aku tidak mempunyai waktu untuk berdoa”. Tidak ada gunanya aku berdoa siang malam, toh Tuhan tak pernah mengabulkan permohonanku. Bagaimana aku bisa berdoa, aku harus mengurus banyak hal dengan tugas-tugasku. Demikian alasan klasik yang seringkali kita katakan. Yang terjadi adalah kesempatan untuk membangun relasi dengan Allah menjadi hilang. Sehingga makna dan arti hidup menjadi bias. Hidupku menjadi tidak berarti, karena makanan bagi santapan jiwa tidak terpenuhi.
St Vinsensius mempunyai pengalaman tersendiri tentang doa. Dia berdoa kepada Tuhan dengan rumusan yang sederhana tetapi kaya. “Tuhan berilah aku seorang pendoa, maka semuanya dapat aku lakukan”. Vinsensius menyakini bahwa doa adalah sumber kekuatan bagi seorang untuk melakukan suatu pekerjaan. Dengan doa, kita dapat melakukan apa pun juga yang bagi kita tidak mungkin menjadi mungkin. Karena kita bekerja dengan kekuatan yang datang dari Allah, bersumber dan mengalir dari Allah. Karya-karya besar yang dilakukan oleh St. Vinsensius dapat berjalan dengan baik karena kekuatan doa yang mengalir padanya. Demikian halnya St. Igantius Loyola berkata, doa adalah nafas hidup kita. Seperti kita menghirup udara dan memberikan kehidupan bagi setiap orang, demikian halnya juga dengan doa. Tanpa doa, atau tanpa nafas, kita akan kehilangan kehidupan. Doa adalah sumber pemberi dan santapan jiwa yang memberikan kelegaan dan kegembiraan bagi setiap orang. Sedemikian pentingnya doa, St. Agustinus berkata kepada Tuhan setelah mengalami pertobatan “Jiwaku tidak dapat tenang, sebelum aku beristirahat dalam damaiMu Tuhan”. Ungkapan ini melukiskan kedalaman kerinduaan St. Agustinus akan relasi yang mendalam dengan Tuhan untuk merebut kelegaan jiwa. Apa yang dilakukan oleh mereka adalah bukti bahwa berkanjang dalam doa mendatangkan kegembiraan, kekuatan, dan kedamaian di hati.
Kelegaan Hati
Dalam doa, sering kita mengalami pergumulan dengan Tuhan. Suatu saat, di mana kita mengalami kemandekan dalam doa, kecewa dengan Tuhan karena doa-doa kita tidak belum terkabul, putus asa, kisah tentang kehidupan doa Ari Linda memberikan pengharapan baru bagi kita untuk terus membangun relasi dengan Tuhan. Ari Linda mempunyai rumusan yang sangat sederhana untuk merebut kelegaan hati melalui doa dalam tiga menit. Menghabiskan waktu dalam tiga menit untuk berdoa sebelum merebakan tubuh bukanlah sesuatu yang sukar atau sulit untuk kita jalankan. Tiga menit sungguh-sungguh akan memberikan kelegaan hati di dalam jiwanya, karena seperti kata St. Agutinus, jiwa kita dapat tenang, karena beristirahat dengan damai dalam Tuhan.
Dalam doa, memang ada saat-saat di mana luapan sukacita yang mendalam yang kita alami dan rasakan. Akan tetapi tidak jarang pula kekosongan dan kehampaan yang kita rasakan di dalam doa. Kadangkala pula pandangan hati kita tidak lagi terarah kepada Tuhan. Bila kita tetap berdoa, meskipun mengalami kekosongan yang kita rasakan, Tuhan akan memberikan apreasiasi atas perjuangan kita.
Ketika kembali ke kamarku, aku merenungkan apa yang disharingkan oleh Ari Linda kepada kami. Benar! Doa seharusnya menjadi nafas bagi hidupku. Setiap menit, adalah saat-saat merasakan dan mengalami cinta Tuhan. Ketika lelah menghinggapi hidupku, kejenuhan dan kebosanan datang dalam banyak rupa, aku hanya datang kepada Tuhan, dalam tiga menit, melihat kembali saat-saat kebahagian yang aku alami, aku syukuri, saat-saat di mana aku lalai dengan tugasku, karena kelemahan pribadiku, aku minta maaf, dan saat-saat di mana ada rasa takut, cemas yang menghantuiku, aku minta kepada Tuhan untuk memohon penerangan dan bimbingan dari ROh Kudus. Cara sederhana yang diajarkan oleh Ari Linda ternyata memberikan kelegaan dalam diriku. Saat-saat di mana doaku semakin kering, saat di mana aku mengalami kekosongan, aku selalu berusaha untuk datang bertemu dengan Tuhan. Karena yakin, Tuhan tetap memberi apresiasi atas perjuanganku. Nasihat yang sederhana dan bijaksana dari Ari Linda, tetaplah berkanjang dalam doa memberikan kelegaan hati bahwa Dalam situasi apapun tetaplah berdoa dan berharap kepada Allah.
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
To All of You,
Dengarkan Musik Ini
Super Mario Game
INFO SINGKAT
Send texts to over 200 countries with CardBoardFish
Beri Masukan Untuk Kami
|
|
Selasa, Juli 29, 2008
Selasa, Juli 15, 2008
SEMINAR TENTANG SPIRITUALITAS NEW AGE
Dear All,
Bagi temen2 yg berminat ikut seminar, berikut ada info seminar...semoga bermanfaat..
thanks, GBU
Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Loly (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
Spiritualitas NEW AGE dari sudut pandang Katolik
Pembicara: Rm. Petrus Tunjung Kesuma Pr (Dosen & Ahli Spiritualitas); dan Rm. Lukas Jua SVD (Ahli Kitab Suci)
Hari : Minggu, tanggal 27 Juli 2008, jam 8.30 - 15.30
di : Aula Lantai 4 Gereja St. Yoseph, Matraman.
Jl. Matraman Raya 127, Jakarta Timur.
Pengganti snack dan makan siang : Rp.35.000,- / peserta.
Daftar ke: Titi, 08128039446
Minggu, Juni 22, 2008
"JANGAN MENGELUH!"
LEWAT PERKATAAN DAN PEMIKIRAN ANDA,
ANDA AKAN MENENTUKAN APAKAH ANDA AKAN
MENIKMATI PERJALANAN ANDA ATAU TIDAK
Saya terbang lagi.
Pada hari Rabu, saya memulai suatu perjalanan yang cepat, non-stop selama sepuluh hari ke Amerika dan Kanada. Dalam sepuluh hari itu, saya akan memberi kotbah di sepuluh kota. Serius. Dari Los Angeles ke San Francisco ke Vancouver ke New Jersey ke Maryland…
Beberapa orang mengatakan pada saya bahwa jadwal saya tidak cocok untuk seorang manusia. Tapi tidak ada masalah dengan itu, sungguh.
Saya pernah melakukan ini, jadi saya tahu rutinnya: Terbang,berkotbah, terbang, berkotbah, terbang, berkotbah… Dan hirup oksigen di sela-selanya.
Jika saya bisa menikmati makanan ringan di sela-selanya, puji Tuhan. Jika tidak, sebuah pisang pun cukup. Sekarang Anda mengerti mengapa saya kurus. Tapi saya kuat. Saya telah menjadi seorang semi-vegetarian selama 14 tahun. Saya juga berolahraga setiap hari. Dan saya mempunyai hidup yang bahagia.
Ke mana pun saya pergi, orang-orang bertanya, “Bagaimana engkau dapat melakukan semua yang engkau lakukan?” Mereka mengatakan kalender saya adalah penyiksaan.
Tidak, bukan begitu. Saya mencintai apa yang saya lakukan.
Jadi bagi saya, kalender saya bukan penyiksaan melainkan suatu petualangan yang seru.
PERINGATAN : ORANG YANG MENGELUH
AKAN MENDAPAT LEBIH BANYAK DARI APA YANG MEREKA KELUHKAN
Suatu hari, saya sedang berdiri dalam suatu antrian panjang di bandara.
Di depan mesin X-Ray, detektor logam, dan staf keamanan yang sudah lelah.
Di belakang saya berdiri seorang pria parobaya yang rambutnya mulai menipis dengan wajah penuh kemarahan, sebongkah batu akan mencair dibawah tatapannya. Ia mencaci, “Sial, saya tidak tahan menunggu. Ini membuat saya gila. Tidakkah Anda benci dengan antrian panjang?”
Saya tersenyum.
Sikap diam saya sudah cukup untuk memberitahunya, “Anda punya pilihan untuk menjadi gembira atau merasa susah.”
Karena pada saat itu, saya merasa gembira.
Karena saya memilih untuk menjadi gembira.
Saya berdamai dengan Tuhan dan diri sendiri dan seluruh alam semesta.
Saya bepergian dengan pesawat ratusan kali dalam setahun dan saya telah lama memutuskan untuk tidak mengeluh soal antrian panjang.
Mengeluh tidak ada gunanya.
Lebih baik, saya menghargai hadiah istimewa yang diberikan antrian panjang pada saya.
Antrian panjang memaksa saya untuk mengobrol dengan seorang teman,untuk membaca buku, untuk merencanakan hidup saya 50 tahun ke depan, untuk berdoa, untuk menjadi betul-betul tidak berguna, dan untuk sama sekali tidak melakukan apapun. Oh damainya!
Jangan mengeluh.
Saya tahu beberapa orang yang mengeluh sebelum perjalanan dimulai.
Dengan melakukan itu, mereka “menciptakan” kesedihan yang akan mereka alami. Karena keluhan mereka menjadi nubuat bagi diri mereka sendiri.
Begitulah cara kerja kehidupan.
DARIPADA MENGELUH
BAYANGKAN BAGAIMANA ANDA INGIN MELAKUKAN PERJALANAN ANDA
Sebelum setiap perjalanan, saya sudah membuat suatu keputusan dan menyatakan, “Saya akan menikmati perjalanan mengagumkan ini.”
Alkitab mengatakan “Hidup dan mati ada dikuasai lidah.” Saya percaya hal itu. Maka sebelum pergi untuk memulai suatu perjalanan, saya mengaku, “Perjalanan saya akan sangat diberkati!”
Saya juga melakukan sesuatu yang saya pelajari dari kejuaraan Olympiade: Dalam pikiran saya, saya membayangkan apa yang saya inginkan terjadi.
Bagian dari pelatihan seorang atlet Olympiade adalah visualisasi. Setiap pagi, bahkan sebelum ia berlari, seorang sprinter (pelari jarak pendek) akan membayangkan rintangan 100 meternya. Ia membayangkan segala sesuatu. Suara tembakan. Lompatan awal. Angin yang terasa di wajahnya. Riuh-rendah suara penonton. Pita garis akhir yang mengenai dadanya. Medali emas di lehernya.
Dan jika hal itu cukup baik bagi para peserta Olympiade, saya pikir hal itu cukup baik pula buat saya.
Maka sebelum setiap perjalanan, inilah yang saya bayangkan…
• Dalam setiap kotbah yang saya berikan, saya bayangkan betapa umat akan menerima kasih Tuhan. Orang-orang akan dikenyangkan secara rohani. Orang-orang akan mengalami Tuhan seperti belum pernah mengalami sebelumnya. Mereka akan merasa sangat diberkati; mereka akan memberitahu teman-teman mereka tentang pengalaman itu. (Petunjuk bagi para Pembicara: Ini yang saya bayangkan sebelum saya memberi
kotbah. Saya tidak melangkah ke mimbar tanpa melakukan ini.)
• Dalam setiap relasi dengan orang lain, saya membayangkan betapa saya belajar dari orang-orang mempesona yang akan saya temui. Saya akan diberkati oleh teman-teman saya, orang-orang yang mengundang saya, dan para penyelenggara setiap acara. Dan saya akan memberkati mereka dengan kasih dan persahabatan saya juga. (Saya menikmati pertemuan dengan semua anggota Kerygma Family di seluruh dunia.)
• Dalam saat-saat tenang, entah berdiri dalam antrian atau duduk di pesawat, saya akan membaca dan menulis dan beristirahat dan berdoa. Saya membayangkan diri saya sungguh-sungguh menikmati saat tenang dan saat hening saya.
• Saya akan tiba di rumah untuk beristirahat, di-“charge” kembali dan diberkati!
Imajinasi saya adalah doa saya.
Saya mengklaim bahwa semua ini akan terjadi di dalam nama Yesus.
HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN;
TERSERAH ANDA UNTUK MENIKMATINYA ATAU TIDAK
Ingat: Pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada Anda. Pengalaman adalah apa yang Anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada Anda.
Setiap hari, Anda semakin mendekati tujuan Anda.
Tujuan Anda adalah Tuhan.
Tapi Tuhan bukanlah hanya suatu tujuan, Ia juga adalah jalan Anda.
Karena itu nikmatilah perjalanan yang disebut kehidupan.
Di setiap langkah dalam perjalanan itu, Tuhan hadir.
Semoga impian Anda menjadi kenyataan,
Bo Sanchez
Terjemahan oleh : Jessica J. Pangestu
Sumber: Milis Bo Sanchez
Kiriman dari: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
ANDA AKAN MENENTUKAN APAKAH ANDA AKAN
MENIKMATI PERJALANAN ANDA ATAU TIDAK
Saya terbang lagi.
Pada hari Rabu, saya memulai suatu perjalanan yang cepat, non-stop selama sepuluh hari ke Amerika dan Kanada. Dalam sepuluh hari itu, saya akan memberi kotbah di sepuluh kota. Serius. Dari Los Angeles ke San Francisco ke Vancouver ke New Jersey ke Maryland…
Beberapa orang mengatakan pada saya bahwa jadwal saya tidak cocok untuk seorang manusia. Tapi tidak ada masalah dengan itu, sungguh.
Saya pernah melakukan ini, jadi saya tahu rutinnya: Terbang,berkotbah, terbang, berkotbah, terbang, berkotbah… Dan hirup oksigen di sela-selanya.
Jika saya bisa menikmati makanan ringan di sela-selanya, puji Tuhan. Jika tidak, sebuah pisang pun cukup. Sekarang Anda mengerti mengapa saya kurus. Tapi saya kuat. Saya telah menjadi seorang semi-vegetarian selama 14 tahun. Saya juga berolahraga setiap hari. Dan saya mempunyai hidup yang bahagia.
Ke mana pun saya pergi, orang-orang bertanya, “Bagaimana engkau dapat melakukan semua yang engkau lakukan?” Mereka mengatakan kalender saya adalah penyiksaan.
Tidak, bukan begitu. Saya mencintai apa yang saya lakukan.
Jadi bagi saya, kalender saya bukan penyiksaan melainkan suatu petualangan yang seru.
PERINGATAN : ORANG YANG MENGELUH
AKAN MENDAPAT LEBIH BANYAK DARI APA YANG MEREKA KELUHKAN
Suatu hari, saya sedang berdiri dalam suatu antrian panjang di bandara.
Di depan mesin X-Ray, detektor logam, dan staf keamanan yang sudah lelah.
Di belakang saya berdiri seorang pria parobaya yang rambutnya mulai menipis dengan wajah penuh kemarahan, sebongkah batu akan mencair dibawah tatapannya. Ia mencaci, “Sial, saya tidak tahan menunggu. Ini membuat saya gila. Tidakkah Anda benci dengan antrian panjang?”
Saya tersenyum.
Sikap diam saya sudah cukup untuk memberitahunya, “Anda punya pilihan untuk menjadi gembira atau merasa susah.”
Karena pada saat itu, saya merasa gembira.
Karena saya memilih untuk menjadi gembira.
Saya berdamai dengan Tuhan dan diri sendiri dan seluruh alam semesta.
Saya bepergian dengan pesawat ratusan kali dalam setahun dan saya telah lama memutuskan untuk tidak mengeluh soal antrian panjang.
Mengeluh tidak ada gunanya.
Lebih baik, saya menghargai hadiah istimewa yang diberikan antrian panjang pada saya.
Antrian panjang memaksa saya untuk mengobrol dengan seorang teman,untuk membaca buku, untuk merencanakan hidup saya 50 tahun ke depan, untuk berdoa, untuk menjadi betul-betul tidak berguna, dan untuk sama sekali tidak melakukan apapun. Oh damainya!
Jangan mengeluh.
Saya tahu beberapa orang yang mengeluh sebelum perjalanan dimulai.
Dengan melakukan itu, mereka “menciptakan” kesedihan yang akan mereka alami. Karena keluhan mereka menjadi nubuat bagi diri mereka sendiri.
Begitulah cara kerja kehidupan.
DARIPADA MENGELUH
BAYANGKAN BAGAIMANA ANDA INGIN MELAKUKAN PERJALANAN ANDA
Sebelum setiap perjalanan, saya sudah membuat suatu keputusan dan menyatakan, “Saya akan menikmati perjalanan mengagumkan ini.”
Alkitab mengatakan “Hidup dan mati ada dikuasai lidah.” Saya percaya hal itu. Maka sebelum pergi untuk memulai suatu perjalanan, saya mengaku, “Perjalanan saya akan sangat diberkati!”
Saya juga melakukan sesuatu yang saya pelajari dari kejuaraan Olympiade: Dalam pikiran saya, saya membayangkan apa yang saya inginkan terjadi.
Bagian dari pelatihan seorang atlet Olympiade adalah visualisasi. Setiap pagi, bahkan sebelum ia berlari, seorang sprinter (pelari jarak pendek) akan membayangkan rintangan 100 meternya. Ia membayangkan segala sesuatu. Suara tembakan. Lompatan awal. Angin yang terasa di wajahnya. Riuh-rendah suara penonton. Pita garis akhir yang mengenai dadanya. Medali emas di lehernya.
Dan jika hal itu cukup baik bagi para peserta Olympiade, saya pikir hal itu cukup baik pula buat saya.
Maka sebelum setiap perjalanan, inilah yang saya bayangkan…
• Dalam setiap kotbah yang saya berikan, saya bayangkan betapa umat akan menerima kasih Tuhan. Orang-orang akan dikenyangkan secara rohani. Orang-orang akan mengalami Tuhan seperti belum pernah mengalami sebelumnya. Mereka akan merasa sangat diberkati; mereka akan memberitahu teman-teman mereka tentang pengalaman itu. (Petunjuk bagi para Pembicara: Ini yang saya bayangkan sebelum saya memberi
kotbah. Saya tidak melangkah ke mimbar tanpa melakukan ini.)
• Dalam setiap relasi dengan orang lain, saya membayangkan betapa saya belajar dari orang-orang mempesona yang akan saya temui. Saya akan diberkati oleh teman-teman saya, orang-orang yang mengundang saya, dan para penyelenggara setiap acara. Dan saya akan memberkati mereka dengan kasih dan persahabatan saya juga. (Saya menikmati pertemuan dengan semua anggota Kerygma Family di seluruh dunia.)
• Dalam saat-saat tenang, entah berdiri dalam antrian atau duduk di pesawat, saya akan membaca dan menulis dan beristirahat dan berdoa. Saya membayangkan diri saya sungguh-sungguh menikmati saat tenang dan saat hening saya.
• Saya akan tiba di rumah untuk beristirahat, di-“charge” kembali dan diberkati!
Imajinasi saya adalah doa saya.
Saya mengklaim bahwa semua ini akan terjadi di dalam nama Yesus.
HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN;
TERSERAH ANDA UNTUK MENIKMATINYA ATAU TIDAK
Ingat: Pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada Anda. Pengalaman adalah apa yang Anda lakukan terhadap apa yang terjadi pada Anda.
Setiap hari, Anda semakin mendekati tujuan Anda.
Tujuan Anda adalah Tuhan.
Tapi Tuhan bukanlah hanya suatu tujuan, Ia juga adalah jalan Anda.
Karena itu nikmatilah perjalanan yang disebut kehidupan.
Di setiap langkah dalam perjalanan itu, Tuhan hadir.
Semoga impian Anda menjadi kenyataan,
Bo Sanchez
Terjemahan oleh : Jessica J. Pangestu
Sumber: Milis Bo Sanchez
Kiriman dari: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
Minggu, Juni 15, 2008
e-Brief: SAAT AGAMA TERLIBAT SEPAKBOLA

euro2008[26/05/08 Doni Wahyudi, detiksport] Basel - Sepakbola identik dengan kerusuhan atau minuman keras? Tidak semua seperti itu karena di Austria-Swiss tempat digelarnya Piala Eropa 2008, agama justru dilibatkan. Bahkan ada nonton bareng di gereja.
Demikian inisiatif yang dilakukan beberapa pemuka agama di Swiss demi menyambut Piala Eropa 2008. Meski acaranya bertajuk The Church 08 Campaign, namun tak hanya pemuka agama Kristen saja yang terlibat karena pemuka agama Islam juga diajak berpartisipasi.
"Dunia butuh kedamaian sehingga manusia bisa hidup bersama dengan damai, sesuatu yang belum pasti di dunia ini. Dua pesan utama kami adalah damai dan keramahan," ungkap seorang Pastor Stefan Roth pada Swissinfo.
Rangkaian acara tersebut telah dimulai Minggu (25/5/2008) kemarin yang juga didatangi oleh Menteri Olahraga, Samuel Schmid. Acara akan berlanjut Selasa (27/5/2008) besok dengan acara pertandingan sepakbola antara pemuka agama versus politisi.
Dari pihak pemuka agama akan bermain Muris Begovic, seorang imam di mesjid Kota Schlieren. Sementara dari kubu politisi juga akan diperkuat beberapa wakil dari partai yang berbeda seperti Toni Bortoluzzi dari partai sayap kanan, Swiss People's Party serta Maya Graf dari Green Party.
Rangkaian acara The Churche 08 Campaign akan berlangsung hingga Piala Eropa berakhir. Beberapa gereja di kota Zurich, Geneva, Basel dan Bern bahkan akan buka hingga malam untuk menunjang acara tersebut dengan menyiapkan layar raksasa, tentunya untuk menggelar nonton bareng.
"Kami tidak sedang berusaha menambah jumlah jemaah - kami tahu orang berada di sini karena sepakbola, bukan karena agama. Tapi jika seseorang menemukan hubungan antara Tuhan dalam pekan-pekan ini, itu adalah bonus," lanjut Stefan Roth. ( din / krs )
Sumber:Mirifica News, http://www.mirifica.net
Pengirim: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
SANTO FRANSISKUS DARI ASSISI

Fransiskus dilahirkan di kota Assisi, Italia pada tahun 1181. Ayahnya bernama Pietro Bernardone, seorang pedagang kain yang kaya raya, dan ibunya bernama Donna Pica. Di masa mudanya, Fransiskus lebih suka bersenang-senang dan menghambur-hamburkan harta ayahnya daripada belajar. Ketika usianya 20 tahun, Fransiskus ikut maju berperang melawan Perugia. Ia tertangkap dan disekap selama satu tahun hingga jatuh sakit. Pada masa itulah ia mendekatkan diri kepada Tuhan. Setelah Fransiskus dibebaskan, ia mendapat suatu mimpi yang aneh. Dalam mimpinya, ia mendengar suara yang berkata, "layanilah majikan dan bukannya pelayan."
Setelah itu Fransiskus memutuskan untuk hidup miskin. Ia pergi ke Roma dan menukarkan bajunya yang mahal dengan seorang pengemis, setelah itu seharian ia mengemis. Semua hasilnya dimasukkan Fransiskus ke dalam kotak persembahan untuk orang-orang miskin di Kubur Para Rasul. Ia pulang tanpa uang sama sekali di sakunya. Suatu hari, ketika sedang berdoa di Gereja St. Damiano, Fransiskus mendengar suara Tuhan, "Fransiskus, perbaikilah Gereja-Ku yang hampir roboh". Jadi, Fransiskus pergi untuk melaksanakan perintah Tuhan. Ia menjual setumpuk kain ayahnya yang mahal untuk membeli bahan-bahan guna membangun gereja yang telah tua itu.
Pak Bernardone marah sekali! Fransiskus dikurungnya di dalam kamar. Fransiskus, dengan bantuan ibunya, berhasil melarikan diri dan pergi kepada Uskup Guido, yaitu Uskup kota Assisi. Pak Bernardone segera menyusulnya. Ia mengancam jika Fransiskus tidak mau pulang bersamanya, ia tidak akan mengakui Fransiskus sebagai anaknya dan dengan demikian tidak akan memberikan warisan barang sepeser pun kepada Fransiskus. Mendengar itu, Fransiskus malahan melepaskan baju yang menempel di tubuhnya dan mengembalikannya kepada ayahnya.
Kelak, setelah menjadi seorang biarawan, Fransiskus baru menyadari bahwa yang dimaksudkan Tuhan dengan membangun Gereja-Nya ialah membangun semangat ke-Kristenan.
Pada tanggal 3 Oktober 1226, dalam usianya yang ke empatpuluh lima tahun Fransiskus meninggal dengan stigmata (Luka-luka Kristus) di tubuhnya.
Tidak ada seorang pun dari pengikutnya yang menyerah dan mengundurkan diri setelah kematian Fransiskus, tetapi mereka semua melanjutkan karya cinta kasihnya dengan semangat kerendahan hati dan meneruskan kerinduannya untuk memanggil semua orang menjadi pengikut Kristus yang sejati.
Santo Fransiskus adalah santo pelindung binatang dan anak-anak. Pestanya dirayakan setiap tanggal 4 Oktober.
DOA ST. FRANSISKUS DARI ASSISI
TUHAN, jadikanlah aku pembawa DAMAI.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asaan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Banyak cerita yang mengisahkan bagaimana St. Fransiskus dari Assisi (1182-1226) dapat berkomunikasi dengan binatang-binatang dan menyatu dengan semua ciptaan.
["disarikan dan diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya"]
Sumber:Mirifica News, http://www.mirifica.net
Pengirim: Andreas Andy S. (Paroki Kristus Salvator, Jakarta)
TAK BISA SEJALAN
Bacaan:
Yak 2:14-24,26
Mzm 112:1-6
Mrk 8:34-9:1
Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya (Mrk 8:34)
Pengalaman saya sudah membuktikan bahwa mengikut Yesus haruslah 'eksklusif'. Karena mengikut Yesus dan mengikuti kehendak 'daging' sangat bertolak belakang. Sama tidak mungkinnya seperti kita hendak berada di laut dan di puncak gunung dalam waktu yang bersamaan.
Banyak diantara kita berpikir mengikut Yesus hanyalah pelengkap. Sama seperti pelampung keselamatan pada sebuah kapal feri dan digunakan bila dibutuhkan saja. Atau ada yang menganggap hanya sebagai asesoris yang dikenakan bila sesuai dengan keadaan. Bila pikiran kita seperti demikian, janganlah heran bila kita merasa Allah sangat jauh dan seakan-akan tidak pernah mendengarkan doa kita.
Bila bisa saya illustrasikan, mengikut Allah sama seperti bila kita ingin hidup sehat. Ada 'harga' yang harus dibayar. Jangan berharap akan hidup sehat bila kita tidak pernah mau berolah-raga, maunya hanya makan makanan yang tidak sehat saja, alkohol, merokok, malas-malasan dan lain sebagainya. Menjadi sehat dan makan sembarangan tidak bisa sejalan. Anda harus pilih antara sehat atau kenikmatan lidah sesaat.
Begitu pula dengan Allah. Allah meminta kita untuk menyangkal diri, karena Dia tahu pasti bahwa keinginan manusia pada hakekatnya adalah dosa. Dia ingin masnusia hidup bersama Dia dan FirmanNya karena Dia tahu bagaimana membuat manusia bahagia. Dunia tidak tahu apa-apa mengenai kebahagiaan sejati, yang ada hanyalah tipuan dan kesenangan sesaat. Namun semuanya kembali kepada manusia, mana yang ia pilih...(Al)
Dikutip dari: "Bahasa Kasih",Mei 2008 - Renungan Harian Berdasarkan Kalender Liturgi
Yak 2:14-24,26
Mzm 112:1-6
Mrk 8:34-9:1
Setiap orang yang mau mengikut Aku, Ia harus menyangkal dirinya (Mrk 8:34)
Pengalaman saya sudah membuktikan bahwa mengikut Yesus haruslah 'eksklusif'. Karena mengikut Yesus dan mengikuti kehendak 'daging' sangat bertolak belakang. Sama tidak mungkinnya seperti kita hendak berada di laut dan di puncak gunung dalam waktu yang bersamaan.
Banyak diantara kita berpikir mengikut Yesus hanyalah pelengkap. Sama seperti pelampung keselamatan pada sebuah kapal feri dan digunakan bila dibutuhkan saja. Atau ada yang menganggap hanya sebagai asesoris yang dikenakan bila sesuai dengan keadaan. Bila pikiran kita seperti demikian, janganlah heran bila kita merasa Allah sangat jauh dan seakan-akan tidak pernah mendengarkan doa kita.
Bila bisa saya illustrasikan, mengikut Allah sama seperti bila kita ingin hidup sehat. Ada 'harga' yang harus dibayar. Jangan berharap akan hidup sehat bila kita tidak pernah mau berolah-raga, maunya hanya makan makanan yang tidak sehat saja, alkohol, merokok, malas-malasan dan lain sebagainya. Menjadi sehat dan makan sembarangan tidak bisa sejalan. Anda harus pilih antara sehat atau kenikmatan lidah sesaat.
Begitu pula dengan Allah. Allah meminta kita untuk menyangkal diri, karena Dia tahu pasti bahwa keinginan manusia pada hakekatnya adalah dosa. Dia ingin masnusia hidup bersama Dia dan FirmanNya karena Dia tahu bagaimana membuat manusia bahagia. Dunia tidak tahu apa-apa mengenai kebahagiaan sejati, yang ada hanyalah tipuan dan kesenangan sesaat. Namun semuanya kembali kepada manusia, mana yang ia pilih...(Al)
Dikutip dari: "Bahasa Kasih",Mei 2008 - Renungan Harian Berdasarkan Kalender Liturgi
SEPATU

Sudah agak lama ia memperhatikan sepatu keakungannya. Diletakkan begitu saja di sudut rumahnya. Satu-satunya hadiah dari orang tuanya. Sepatu itu penuh lumpur. Diambilnya kain dan dibersihkannya perlahan-lahan, hingga tampak lumpur yang melekat pada sepatu itu tidak kelihatan lagi. Meskipun ia tahu, kalau dia bepergian, dan harus melewati jalan yang berlumpur dan jalan yang becek, sepatunya pasti akan kotor lagi.
Sepatu adalah satu-satunya sahabatnya. Ke mana saja ia pergi, sepatu itu selalu dikenakan. Tatkala ia melewati hutan, sungai, pergi ke kota, bahkan ke gereja, sepasang sepatu satu-satunya itu selalu melekat di kaki. Kalau hendak pergi tidur, sepatu itu baru akan dilepaskan dari kakinya. Namun, sepatu itu sekarang itu tidak dapat digunakan lagi, tampak sobek di mana-mana. Kini ia tidak memiliki lagi sepatu itu. Ia tidak mempunyai niat untuk membeli sepatu lagi, karena untuk makanan saja sangat sulit. Terkadang ia hanya makan sekali saja dalam sehari.
Ia tidak pernah sedih tidak memakai sepatu ketika datang ke kota, bahkan dia tak pernah malu untuk datang ke gereja tanpa sepatu dan sandal, karena baginya bukan sepatu yang diminta oleh Tuhan, tetapi hati, kerinduan jiwalah yang diminta oleh Tuhan. Demikianlah kisah Simon tentang sepasang sepatu satu-satunya.
Sepatu Berbicara tentang Status

Sepatu berbicara tentang siapa diri kita. Ada orang mengatakan kita memakai hati kita pada tapak kaki. Sepatu adalah indikasi yang paling baik bagaimana orang merasakan dirinya. Bila sepatu yang dikenakan itu indah, bermerek, orang akan dengan mudah mengatakan bahwa orang ini memiliki kedudukan yang tinggi. Bila sepatu yang dikenakan adalah sepatu bot, orang akan dengan mudah berpikiran bahwa pasti dia seorang tentara. Dari sepatu, kita akan mengetahui siapakah dirinya. Kita juga akan dapat mengetahui kepada siapa, ia mengabdi. Maxim Gorky seorang penulis Rusia mengatakan sepasang sepatu bot lebih akan mengabdi kepada kekuasaan dari pada sepasang mata yang hitam. Sepatu itu akan menghentikan kematian yang lebih dini.
Namun sepasang sepatu akan berbicara lain tentang orang Papua. Bagi orang Papua, sepatu adalah barang mewah. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki sepatu. Kalaupun mereka menggenakan sepatu, tampak lumpur dan sobek di mana-mana. Karena ada hal yang lebih penting dari sepatu yakni bagaimana mereka bisa makan. Kebanyakan mereka, kecil, tua dan muda ke mana-mana tanpa alas kaki. Mereka sepertinya sudah menyatu dengan kehidupan mereka. Meskipun terik matahari yang menyengat, dan lumpur di jalanan, mereka tetap berjalan tanpa alas kaki. Demikian halnya juga tatkala mereka datang ke gereja menghadiri perayaan ekaristi. Pada umumnya mereka tidak mengenakan sandal, apalagi sepatu.
Keindahan Jiwa

Masyarakat modern memandang sepatu sebagai suatu gaya hidup. Maka orang berlomba-lomba mencari merek sepatu yang terbaik, dan paling mahal. Sepatu memiliki fungsinya masing-masing, tergantung situasi dan tempat. Tatkala orang datang ke tempat umum, sepatunya merek luar negeri, dan ketika datang ke gereja, orang memakai sepatu merek dari negara lain. Orang mengetahui saat kapan harus menggunakan sepatu jenis ini dan sepatu jenis itu. Sedemikian pentingnya sepatu, sehingga berbagai merek sepatu terpajang di rak-rak lemari.
Kenyataan seperti itu tidak ditemukan pada orang Papua. Sepatu jarang ada di rumah mereka, apalagi sepatu yang bermerek. Seperti halnya, di rumahnya Simon yang sederhana. Simon berkisah untuk makan saja sulit, apalagi untuk membeli sepatu bermerek. Namun Simon tak pernah merasa minder karena tidak memiliki sepatu tatkala datang ke Gereja. Ia mempunyai keyakinan bahwa Tuhan tak pernah merasa kecewa dengan dirinya karena kakinya penuh lumpur. Yang Tuhan minta adalah kerendahan hati dari dirinya. “Aku tidak pernah memiliki keinginan yang banyak, harus memakai sepatu yang indah dan bermerek ke Gereja, karena bagiku hati yang selalu bersyukur, karena diberi kehidupan oleh Tuhan. Itu sudah cukup bagiku”.
Taoisme pernah berkata bahwa orang sukar menjadi bijaksana dan suci karena terlalu banyak mempunyai keinginan. Keinginan yang banyak membuat diri manusia terpenjara di dalam dirinya, karena ketika orang itu memenuhi satu keinginan, akan muncul keinginan lainnya, dan seterusnya. Keinginan yang banyak bagaikan sebuah mata rantai yang tak pernah berakhir. Sehingga hidup manusia kehilangan fokus dan arah hidupnya yang sebenarnya.
Simon adalah gambaran wajah orang-orang Papua yang sederhana, tidak mempunyai keinginan yang meluap-luap tetapi memiliki kebijaksanaan hidup. Hidup apa adanya dan mengalir begitu saja, seperti air sungai yang mengalir dari dataran tinggi menuju dataran yang rendah. Ia tetap bening dan cemerlang, karena ia mengalir dalam keheningan dan ketenangan. Kehidupan Yesus adalah cermin kehidupan yang sederhana. Yesus hanya memiliki satu keinginan yakni melakukan kehendak BapaNya di surga. Untuk itu, Yesus memilih cara hidup yang sederhana, lahir di kandang Betlehem yang hina, tidak di tempat yang mewah, bergaul dengan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa. Ia datang dalam kesederhanaan, tetapi dari sanalah mengalir kebijaksanaan karena hatiNya yang selalu terbuka kepada kehendak BapaNya.
Dipanggil untuk berkorban
Di kamar kita, mungkin ada bermacam-macam merek sepatu. Kita dapat sesuka hati kita mengenakannya. Bila menginginkan sepatu jenis tertentu, kita dapat pula dengan mudah membelinya. Berbagai tawaran merek sepatu yang terbaik dan termahal dengan gampang juga kita dapat menjangkaunya. Sepatu adalah simbol harga diri kita, karena dari sanapula kita memperoleh pengakuan sosial, dan penghormatan dari orang lain.
Mendengar kisah Simon, terkadang terbersit rasa malu, karena Simon tak pernah merasa takut melewati jalan yang berlumpur, meskipun ia tidak mengenakan sepatu. Sedangkan aku masih merasa takut kalau sepatu yang aku kenakan menjadi kotor kalau melayani orang-orang sederhana dan miskin. Maka aku memilih untuk menghindarinya. Aku memilih jalan yang menyenangkan diriku dan tidak mau peduli dengan orang lain. Simon juga tak pernah merasa malu dan takut ketika datang ke Gereja dengan tidak mengenakan sepatu. Sedangkan aku masih merasa takut, kalau tidak mendapat penghormatan dan penghargaan dari orang lain, saat aku tidak mengenakan sepatu. Itulah cermin wajah manusia jaman sekarang yang lebih melihat penampilan luar dari pada penampilan dari lubuk hati yang terdalam.
Kisah kehidupan Simon membawa permenungan tersendiri, bahwa rahasia cinta Allah tersembunyi dalam hidup orang miskin. Rahasia cinta Allah tersembunyi dalam lubuk hati yang terbuka dan rendah hati. Rahasia hati inilah yang dicari oleh banyak orang, tetapi tidak pernah menemukannya, karena lebih memilih untuk memuliakan tubuh dengan aksesoris luar, dari pada memuliakan jiwa yang terdalam di dalam lubuk hati kita. Tuhan Yesus mengatakan kepada para muridNya bahwa banyak orang mempunyai mata tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga tetapi tidak mendengar. Hanya kepada orang yang dianugerahi sajalah yang mampu melihat dan mendengarkan. Yesus ingin menunjukkan rahasia kebijaksanaan dapat diperoleh, hanya bila manusia selalu terbuka pada kehendak Allah dan rendah hati.
Simon tidak pernah memvonis orang lain yang mempunyai sepatu yang banyak, dan dapat membeli sepatu yang bermerek kalau hendak Gereja. Itu merupakan hak pribadi mereka masing-masing. Ia hanya bercerita tentang kehidupannya yang sederhana dan sepasang sepatu satu-satunya yang tidak dapat dia pakai lagi. Namun dari balik kisah Simon, terungkap sebuah jawaban tentang rahasia hidup damai, ketenangan batin yakni keterbukaan jiwa dan kerendahan hati dihadapan Allah. Yang Allah minta bukan penampilan luar dengan segala aksesoris, tetapi hati yang tulus yang dengan rendah hati datang bertelut di bawah kaki Tuhan, bukan untuk dilayani, melainkan berani melayani, bukan untuk mengharapkan penghormatan dan penghargaan dari orang lain, namun siap menjadi kotor dan berani melewati jalan berlumpur. Di situlah semangat berkorban kita diminta. Berkorban berarti memberi diri bagi orang lain, agar orang lain juga mencicipi kebahagiaan. Semangat inilah yang menjiwai Mother Theresa untuk berkorban memberikan dirinya bagi pelayaan orang miskin. Semangat berkorban ini pula yang membuat Mother Theresa meyakini bahwa hidup yang bahagia adalah hidup yang berani berbagi dan berkorban untuk orang lain. Siapa takut??
Mans Werang, CM
Pastor Paroki St. Yohanes, Matkomnai, Keuskupan Daru-Kiunga, Western Province, Papua New Guinea
Kiriman dari: Titi (Paroki Maria Bunda Karmel, Jakarta)
Langganan:
Postingan (Atom)
