To All of You,

Dengarkan Musik Ini

Super Mario Game

INFO SINGKAT

Beri Masukan Untuk Kami

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Senin, Januari 21, 2008

Pusat Informasi : SEJARAH KARISMATIK - DARI BANGKOK DAN MANILA MENUJU JAKARTA

Kehadiran Pembaruan Karismatik Katolik pada tahun 1976 di Keuskupan Agung Jakarta tidak dapat dipisahkan dari jasa Alm. Mgr. Leo Soekoto SJ, Uskup Agung Jakarta waktu itu. Untuk menolong umat Katolik yang haus akan persekutuan doa dan dalam kerangka penggembalaan gerejawi, beliau mengundang dua orang pastor dari luar negeri datang ke Jakarta untuk memperkenalkan Pembaruan Karismatik Katolik kepada para imam, biarawan dan biarawati serta tokoh-tokoh Gereja Katolik di Jakarta. Dua orang pastor tersebut adalah Pastor Paul O Brien SJ tokoh PKK dari USA yang berdomisili di Bangkok, dan Pastor Herber Schneider SJ yang waktu itu termasuk sebagai pencetus, pengasuh dan moderator dari sebuah komunitas karismatik di Manila. Pertengahan April 1976 Pastor O Brien SJ telah tiba dahulu di Jakarta, disusul awal Mei 1976 dengan kedatangan Pastor Herbert Schneider SJ.

Pastor O Brien sudah lama berkecimpung di Pembaruan Karismatik Katolik, tak sebatas memiliki pengetahuan teoritis tapi juga praktek. Beliau adalah salah seorang pendiri rumah retret khusus bagi para uskup, imam dan diakon di Rhode Island, USA, suatu tempat dimana para uskup, imam dan diakon dapat berdoa bagi sesama uskup, imam dan diakon di seluruh dunia.

Pada awal Mei 1976 itu diadakan serangkaian ceramah, pertama untuk para imam di seluruh Jakarta. Ceramah hari berikutnya (tentang Pembaruan Karismatik Katolik) disampaikan kepada kelompok biarawan-biarawati se Jakarta, lalu menyusul (14 Mei 1976) sebuah kesempatan lagi untuk tokoh-tokoh Katolik Jakarta dengan jumlah yang sangat terbatas, hanya untuk awam tertentu saja.

Kesempatan untuk umat yang lebih luas diberikan selama dua kali.

Pertama di Gereja Hati Kudus, Kramat, Jakarta Pusat pada hari Minggu 16 Mei 1976 dengan mendapat perhatian cukup besar.

Kesempatan kedua untuk umat dilaksanakan pada 23 Mei 1976 di Aula Susteran Ursulin, Jl. Pos, Jakarta Pusat. Kesempatan kedua ini juga mendapat perhatian yang sangat baik dari para peserta.

Kedua imam ini juga memberikan seminar ”Hidup dalam Roh ( Life in the spirit)  kepada 200 orang dalam bahasa Inggris selama lima hari penuh pada tanggal 17-21 Mei 1976. Sesi Introduksi/Pendahuluan diberikan pada 16 Mei 1976 di Gereja Hati Kudus, Kramat, Jakarta Pusat. Sesi-sesi berikutnya dari Life in the Spirit ini diberikan di Gereja St.Joseph, Matraman, Jakarta Timur.

Peminat yang serius pada waktu itu diberi kesempatan lagi untuk meningkatkan pengetahuan dengan kursus dasar kepemimpinan (spiritual leadership). Hadir sekitar 120 orang selama lima hari dari tanggal 24-28 Mei 1976, bertempat di Aula Susteran Ursulin Jl. Pos 2, Jakarta Pusat. Tokoh-tokoh Katolik yang sudah ada dan mengikuti semua ini dari permulaan, antara lain :

Alm.Bpk. Antonius Rahmat Abdisa dari Paroki Katedral,

Bpk Suyud dari Paroki Hati Kudus-Kramat,

Pasutri Roy-Winny Setjadi dari Paroki St. Maria Bunda Perantara – Cideng.

Pasutri Setiobudi-Nelly dari Paroki St.Petrus Paulus – Mangga Besar.

Dengan tersedianya serangkaian pengarahan yang cukup sistematik ini, khususnya mengenai langkah-langkah selanjutnya di hari hari ke depan, jelaslah bahwa kedatangan dua imam Yesuit ini bukanlah sekedar memperkenalkan Pembaruan Karismatik Katolik. Rangkaian acara demi acara tersebut telah menciptakan peluang dimana PKK agaknya memiliki potensi untuk ditumbuhkembangkan di KAJ.

Ketika seminar ditutup, Uskup Agung Jakarta yang hadir menyampaikan rasa terima kasihnya kepada kedua imam tersebut dan menghimbau para peserta seminar untuk dapat meneruskan dengan tekun dalam persekutuan Doa Karismatik Katolik. Momen inilah yang menandai kiprah dari Pembaruan Karismatik Katolik di Keuskupan Agung Jakarta hingga mencapai usianya yang ketigapuluh di tahun 2006 ini. Keluarga besar Pembaruan Karismatik Katolik memandang peristiwa ini sebagai lahirnya secara resmi Pembaruan Karismatik Katolik di Keuskupan Agung Jakarta. Dengan kata lain, gerakan dan karya Roh Kudus melalui Pembaruan Karismatik Katolik di Keuskupan Agung Jakarta adalah suatu gerakan dan karya yang direstui oleh Bapa Uskup selaku Pemimpin Gereja. Pembaruan Karismatik Katolik bukanlah segelintir orang tertentu di luar Gereja: Pembaruan Karismatik Katolik adalah pembaruan Gereja, milik seluruh umat Gereja.

Sumber  dari Buku Sepenggal Ziarah

(Situs Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia)

 

Minggu, Januari 20, 2008

Pusat Informasi : SEJARAH KARISMATIK - SEJARAH KARISMATIK DI DUNIA

http://www.karismatikkatolik.org/images/spacer.gif

 

 

Menurut catatan sejarah, pekerjaan besar Roh Kudus terus berlanjut sejak hari Pentakosta. Beberapa orang kudus secara tegas mengalami bimbingan Roh Kudus, seperti Santo Antonius dari Mesir, sampai kepada zaman Santo Benardus.


Orang-orang kudus lain juga dengan setia terus berkarya dan tekun mendengarkan bimbingan Roh Kudus, seperti Santo Dominikus, Santo Fransiskus, Santa Clara dari Assisi, Santo Ignasius dari Loyola, Santa Theresia Avila dan Santo Yohanes dari Salib.

Pada abad 20 banyak “gerakan awam” yang terus membangun semangat spiritualitas umat dengan dorongan yang kuat dari Roh Kudus.

Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik modern secara besar-besaran muncul khususnya setelah Konsili Vatikan II yang menciptakan semangat baru yang lebih terbuka di dalam Gereja Katolik. Saat itu, Paus Yohanes XXIII menyusun suatu doa yang dibacakan setiap hari selama konsili berlangsung. Di dalam doa tersebut Bapa Suci menyampaikan permohonannya agar Roh Kudus memperbaharui kehidupan umat Katolik.

Kelompok Karismatik Katolik yang pertama kali tercatat dalam sejarah modern diperkirakan dimulai oleh beberapa siswa Katolik yang mengalami pencurahan Roh di Duquesne (baca: du-kein) di daerah Pittsburgh, Amerika pada tahun 1967 yang terkenal dengan istilah The Duquesne Weekend atau akhir pekan di Duquesne.

Pada tahun 1972, Kardinal Suenens mengalami secara pribadi pembaruan karismatik ini ketika ia datang ke Amerika. Ia begitu terpesona dengan pengalaman dalam Roh Kudus tersebut, dia ingin agar gereja Katolik dapat tumbuh seperti apa yang terjadi saat Pentakosta ketika Roh Kudus turun atas para rasul.

Kemudian Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik terus berkembang dengan pesat ke seluruh dunia termasuk ke Indonesia.

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1970-an muncul berbagai persekutuan doa ekumenik yang dengan cepat banyak memukau umat Katolik. Untuk mendukung mereka, dan dalam kerangka penggembalaan gerejawi, Uskup Agung Jakarta ketika itu, Mgr. Leo Soekoto, SJ mengundang tokoh Pembaruan Karismatik Katolik untuk menyelenggarakan “Seminar Hidup Baru”. Pada bulan Mei tahun 1976, Pastor O Brien, SJ dan H. Schneider, SJ diminta untuk menyelenggarakan seminar yang bersejarah tersebut di Jakarta.

Sejak saat itu, Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik bertumbuh dan berkembang sampai sekarang.

 

 

(Sumber: Situs Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia)

Artikel Iman : EVANGELISASI - POLA PERSEKUTUAN

http://www.karismatikkatolik.org/images/spacer.gif

 

Keunikan dari Persekutuan Doa Karismatik Katolik adalah:

A. FOKUS KEPADA YESUS KRISTUS

Didalam Persekutuan Doa Karismatik Katolik, umat memfokuskan pikiran dan hatinya hanya kepada Yesus Kristus dan merasakan kasihNya yang tak terbatas.

Dengan kuasa Roh Kudus, maka hubungan yang pribadi dengan Yesus bisa dibentuk, sehingga kehidupan umat dapat sepenuhnya mengikuti rencana Allah - dan bukan lagi menuruti rencana dirinya sendiri.

B. BENTUK PUJIAN DAN PENYEMBAHAN

Pujian dan penyembahan dilakukan bukan sebagai kelompok seperti di Gereja Katolik tradisional, tetapi lebih pribadi sifatnya. Bukan lagi nyanyian dilakukan “tentang” Yesus Kristus, tetapi “kepada” Yesus Kristus.

Lagu-lagu yang dinyanyikan biasanya berkaitan dengan ayat-ayat yang terdapat didalam Alkitab.

Dalam menyanyikan lagu-lagu pujian dan penyembahan, umat seringkali mengangkat tangannya. Akan tetapi hal ini tidak diharuskan. Semangat dalam pujian dan penyembahan ditujukan sepenuhnya kepada hubungan pribadi yang terjadi dengan Tuhan.

C. PENDALAMAN ALKITAB

Gerakan Pembaruan Katolik Karismatik lebih banyak menekankan kepada pentingnya umat untuk membaca, mendalami dan melakukan Firman Tuhan.

Sejak awal terjadinya gerakan ini, kelompok Karismatik Katolik selalu membawa Alkitab untuk dibaca, dipelajari dan diimani.

Pentingnya akan penguasaan dan mendalaman Firman Tuhan ini agak membedakan Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik dibandingkan Gereja Katolik tradisional.

D. KARUNIA ROH KUDUS

Ketika mengikuti Persekutuan Doa Karismatik Katolik, umat biasanya berbahasa Roh. Banyak umat Katolik yang merasa tidak nyaman berada di dalam Persekutuan Doa ini karena mereka belum menerima berbagai karunia-karunia Roh Kudus.

Karunia Roh Kudus tidak membuat seseorang lebih kudus atau lebih suci dari yang lain. Karunia tersebut diberikan secara gratis oleh Roh Kudus, dan bukan untuk disombongkan kepada orang lain.

Yang lebih diutamakan adalah hubungan dan komunikasi secara pribadi dengan Yesus Kristus saat mengikuti Persekutuan Doa tersebut. Roh Kudus bekerja dengan caraNya sendiri didalam diri setiap orang - dan setiap orang sangat berharga dihadapan Allah.

E. MANIFESTASI

Saat berlangsungnya doa, beberapa umat bisa mengalami manifestasi karena hadirnya Roh Kudus saat itu. Walaupun hal ini tidak selalu terjadi, akan tetapi jika terjadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Panitia Persekutuan Doa atau para pembimbingnya selalu siap untuk membantu umat yang sedang mengalami manisfestasi tersebut.


Umat yang lain dapat membantu dengan doa ataupun menumpangkan tangannya kepada yang sedang mengalami manisfestasi.

 

(Sumber: Situs Badan Pelayanan Nasional Pembaruan Karismatik Katolik Indonesia)

 

Artikel Iman : EVANGELISASI - PERTEMUAN DOA KARISMATIK

Artikel Iman : EVANGELISASI
PERTEMUAN DOA KARISMATIK

http://www.karismatikkatolik.org/images/spacer.gif

 

Seminar Hidup Baru dalam Roh dimaksudkan menjadi pengantar kedalam hidup baru dalam Roh yang dihayati bersama-sama dengan orang-orang lain. Pengalaman membuktikan bahwa bila orang tidak menjalin hubungan dengan orang-orang lain yang menghayati hidup baru ini. Seminar tidak akan membuat perbedaan yang langgeng dalam hidupnya, dan hidup baru yang sudah dimulainya akan segera memudar. Lebih banyak dibutuhkan dan pada hanya Seminar saja. Karena itu harus dibuat suatu transisi dan Seminar kearah menjadi bagian dan kelompok atau komunitas.
Pertemuan doa adalah kumpulan murid-murid yang berkumpul seminggu sekali yang mencoba menghayati hidup Kristiani yang bersemangat dalam dunia modern. Pertemuan doa merupakan pelengkap Misa Kudus, perbuatan ibadat yang utama yang ditinggalkan oleh Yesus kepada pengikut- pengikut Nya, yang memberikan kesempatan untuk ibadat kelompok yang informal dan untuk mempraktekkan berbagai macam karunia yang dapat membangun Tubuh Kristus. Perternuan doa menuntut janji Tuhan Yesus, Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaKu, disitu Aku ada ditengah-tengah mereka. (Matius 18,20).
Karena itu segala sesuatu dikatakan dan dilakukan dengan iman akan kehadiran Yesus yang hidup, Tuhan yang bangkit, yang menjadi pusat perhatian. Namun demikian, pertemuan tidak ditutupi dengan selubung kesalehan dan kekhidmatan. Ada cukup banyak kebebasan untuk menyanyi, sharing, membaca, doa spontan, gerakan-gerakan anggota badan, bahkan tawa dan persaudaraan.
Tujuan utama dari pertemuan doa adalah memuji dan menyembah Allah, mengikuti nasihat Santo Paulus; Hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bemyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita . (Efesus 5,18-20). Karena itu dalam pertemuan doa karismatik, orang-orang memuji Allah dengan nyanyian, karunia bahasa roh, doa-doa, tepuk tangan, menari, mengangkat tangan dan bermacam-macam alat musik, kesaksian-kesaksian pribadi berhubungan dengan berkat Allah dan karyaNya dalam hidup mereka.

Orang-orang Katolik pada umumnya lebih biasa dengan ibadat yang diam dari pada pujian yang bersemangat penuh sukacita, karena itu pentinglah mengajarkan kepada orang-orang bahwa doa pujian yang alkitabiah berbeda dalam gaya dengan penyembahan. Alkitab mengajar orang-orang Kristiani untuk memuji Allah dengan tanpa dihalangi, dengan sorak sorai atau dalam keramaian (Mazmur 27,6; 42,4; 66,1; 95,1), dengan tepuk tangan (Mazmur 47,1), dengan menari (Mz 150,4), alat-alat musik (Mz 98,5), dengan mengangkat tangan (Mz 63,5; 134,2) dsb. Alasan untuk kebebasan seperti itu dalam pujian adalah : Sebab Tuhan berkenan kepada umatNya (MT. 149,4)! lbadat Harian atau Ofisi llahi dari Gereja, yang didoakan setiap hari oleh para imarn, para religius dan oleh banyak orang awam, juga menyarankan pujian bagi Tuhan seperti itu dalam segala waktu ; Bukalah bibir kami ya Tuhan dan mulut kami akan memaklumkan pujianMu atau Pujian adalah cocok untuk hati yang setia! Kehidupan para kudus (seperti Agustinus, Fransiskus Assisi, Teresia dari Avila dsb) penuh dengan pujian vokal maupun penyembahan hening.

Tujuan kedua dari pertemuan doa adalah menerima makanan dari firman Allah, dari karunia-karunia misalnya nubuat, sabda pengetahuan dan sabda kebijaksanaan, dan dari pengajaran dan kesaksian. Pengajaran mengenai bagaimana tumbuh secara rohani memang diperlukan, supaya pujian penuh sukacita pasti menjadi bagian dari hidup orang Kristiani, demikian juga Salib (orang harus memanggul salibnya setiap hari dan mengikuti- Yesus). Kehadiran dan kuasa Roh dalam hidup seseorang harus dinyatakan dalam waktu yang baik atau waktu yang tidak baik, dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban seperti penyembuhan-penyembuhan dan berkat-berkat yang lain, maupun dalam terus menerus mati terhadap diri sendiri supaya dapat mengasihi Allah dengan segenap hati dan segenap budi dan segenap kekuatan; dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Menjelang akhir pertemuan doa biasanya ada waktu untuk doa permohonan baik untuk orang lain maupun untuk diri sendiri (doa intersesori dan doa petisi) dan ada waktu juga untuk mendoakan orang lain dengan penumpangan tangan atau pelayanan secara lain bagi mereka yang membutuhkannya. Pertemuan doa sendiri merupakan sarana yang mengagumkan untuk tumbuh dalam kasih karunia Tuhan Yesus Kristus dan kasih Allah dan persekutuan Roh Kudus (2Kor 13,13).

Sumber : Buku Pembaruan Karismatik Katolik
Buku Pegangan Untuk Para Pemimpin dan Peminat PKK


Fr.Fio Mascarenhas, SJ

 

Belajar Dari Penderitaan

15 Januari 2008

Bacaan: Ibrani 5:1-10

Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,- Ibrani 5:8

 

Kita memang bisa belajar dari keberhasilan atau kesuksesan yang telah kita raih. Namun sejujurnya, kita akan lebih banyak belajar dari kesalahan yang kita buat atau kegagalan yang kita alami, daripada belajar dari keberhasilan atau kesuksesan. Ini fakta yang tak dapat disangkal lagi.

Kapan kita belajar menerapkan pola makan yang sehat, diet yang tepat dan bersedia olahraga? Bukankah ketika kita sudah sangat menderita karena penyakit dan dokter sudah mengancam, “ Kalau Anda tidak mengubah gaya hidup Anda, nyawa Anda akan melayang. Kapan kita belajar untuk memberi perhatian lebih besar kepada keluarga? Ketika melihat keluarga kita kacau berantakan. Jika Anda masih sekolah, kapan Anda belajar giat? Saat hampir tidak lulus! Dalam dunia pekerjaan, kapan kita bekerja lebih giat, lebih serius dan mencoba ide-ide baru? Ketika usaha kita mengalami krisis! Kapan kita belajar memperlakukan konsumen dengan baik? Ketika konsumen lari semua dari kita. Kapan kita belajar berdoa dan berharap kepada Tuhan? Yang pasti, ketika hidup kita sudah diujung tanduk.

Dari contoh-contoh sederhana itu, bukankah bisa disimpulkan bahwa kita sebenarnya banyak belajar dari masalah, penderitaan bahkan musibah? Kita selalu saja bisa mempelajari hal-hal terbaik ketika segalanya memburuk. Itu sebabnya kita perlu berterima kasih kepada musibah atau masalah, karena dari situlah kita akan belajar banyak.

Penderitaan adalah hal yang seringkali dijauhi manusia, tapi uniknya Yesus sama sekali tidak alergi dengan penderitaan. Mengapa? Karena Alkitab berkata bahwa Yesus belajar taat dari apa yang dideritaNya! Apakah Anda sedang menderita? Selamat! Anda akan belajar banyak dari penderitaan itu. Tak perlu lagi merenungi nasib yang malang. Tak perlu lagi mengasihani diri secara berlebihan. Kemungkinan besar, penderitaan ini terjadi dalam kehidupan kita karena Tuhan mengijinkannya. Tuhan ingin agar kita bertumbuh oleh karena kita belajar dari penderitaan itu. Milikilah perspektif atau cara pandang yang positif tentang penderitaan. Jika memang kita bisa belajar banyak dari penderitaan atau masalah, bukankah itu berarti kita perlu berterima kasih ketika masalah datang? Saya banyak belajar dari air mata, Yesus juga, Anda?

 

 

 

(Kwik)

» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit

 

Sabtu, Januari 12, 2008

UNDANGAN MISA PEMBUKAAN KEP-VIII

Syalom,

 

Bapak-Ibu, teman-teman PKEP-7 semuanya diundang untuk menghadiri misa pembukaan KEP angkatan VIII Paroki Kristus Salvator yang akan diselenggarakan pada hari Senin, tanggal 14  Januari 2008 pukul 19:00 WIB. Misa pembukaan ini dilakukan bersamaan dengan misa harian Gereja.

 

Kehadiran Bapak-Ibu dan teman-teman sangat diharapkan dan semoga dapat memberikan semangat bagi Panitia KEP-8  (PKEP-8) dalam mengemban tugas pelayanannya.

 

Demikian saya sampaikan informasi undangan ini sesuai dengan informasi melalui SMS yang saya terima dari Ketua PKEP-8.

 

Terima kasih atas perhatiannya.

 

God Bless You,

Andreas Andy S.

Adilkah Hidup Ini?

09 Januari 2008

http://www.renungan-spirit.com/skin/images/renungan/adilkah_hidup_ini.jpg

Bacaan: Kejadian 37:12-36

Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke sumur... - Kejadian 37:24

 

Saya bukan menulis hal ini karena pesimis, tapi ini adalah fakta. Bukan juga karena keluhan, tapi memang kenyataan yang terjadi adalah seperti itu. Bagi kita hidup memang terlihat tidak adil, meski kita menginginkan keadilan. Kadangkala kita mengalami hal yang sama sekali tidak pantas terjadi dalam hidup kita. Tapi siapa menjamin bahwa hidup adalah mudah dan semuanya berjalan dalam keadilan? Tuhan tidak pernah mengatakannya, justru Ia menekankan bahwa kita harus mengalami berbagai pencobaan yang salah satunya adalah ketidakadilan itu.

Apakah adil jika orang benar menderita sementara orang fasik malah berkelimpahan? Apakah adil jika orang benar mati dengan cara yang mengenaskan dalam sebuah kecelakaan, sementara orang jahat justru berumur panjang? Kita jujur dan bangkrut, sementara pesaing kita curang dan ia ... sukses! Seorang anak kecil benci dengan dirinya sendiri ketika ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya yang sebenarnya. Yang ia tahu adalah ia ditemukan di kardus pembuangan. Sungguh baginya hidup tidak adil. Para cacat juga akan mengeluhkan hal yang sama karena mereka tidak pernah minta terlahir dengan kondisi fisik seperti itu, tapi toh realita berbicara berbeda.

Kita terjebak dalam sebuah pemikiran bahwa Tuhan itu tidak adil. Lalu kita mempertanyakan dimana keadilan Tuhan. Kalau Tuhan benar adil, bukankah Ia akan memberikan setimpal dengan perbuatan yang telah dilakukan manusia? Yang baik diberikan kebaikan dan yang jahat akan ditimpa malapetaka. Tapi mengapa fakta menjadi sedemikian terbalik?

Keadilan Tuhan tidak akan pernah mampu dilihat oleh mata kita. Mata kita terlalu sempit untuk menilaiNya. Mata kita bukanlah juri yang baik, apalagi juri untuk memberi nilai kepada Tuhan. Benar, hidup sepertinya tidak adil, tapi sebenarnya dibalik ketidakadilan yang kita lihat, ada keadilan Ilahi yang sedang bekerja. Apakah adil jika Yusuf harus masuk ke sumur kering, dijual sebagai budak, bahkan ia difitnah dan menjadi napi? Tapi setelah melihat kisah Yusuf sampai selesai, akankah kita tetap berkata Allah itu tidak adil? Jadi, jika kita menerima hal yang buruk, meski kita sudah berbuat baik, itu adalah adil. Adil menurut penilaian Tuhan, karena dibalik itu ada kebaikan dan kejutan-kejutan yang menanti kita.

(Kwik)


» Renungan ini diambil dari Renungan Harian Spirit

 

Minggu, Januari 06, 2008

Why Do Families (And The World) Lack So Much Love?

Dua hari lalu, saya menghadiri pertemuan dengan Presiden Gloria dan para
pemuka-pemuka agama dari seluruh penjuru negeri (bahkan pemuka agama
Muslim).  Dalam pertemuan itu saya berbicara kepada Uskup Ruben Abante,
pimpinan Gereja Baptis di Filipin.  Kami membicarakan tentang bagaimana
menyelesaikan masalah-masalah dunia.

Dalam pembicaraan itu Uskup Ruben memberi saya satu kata tentang keluarga
yang menyentak saya.  Ia berkata, "Saudara Bo, Alkitab mengatakan dalam
Efesus 5:22-25, 'Hai suami, kasihilah isterimu, dan hai isteri, tunduklah
kepada suamimu.'  Pernahkah Anda berpikir mengapa Alkitab tidak
mengatakan, 'Hai isteri, kasihilah suamimu?'"
"Mengapa?" tanya saya.

Uskup menjelaskan pada saya bahwa tanggungjawab untuk mengasihi keluarga
terletak di bahu suami.  Isteri dan anak-anak hanya merespons terhadap
kasih itu.  Sama seperti yang Alkitab katakan dalam 1 Yohanes 4:19 (ayat
hidup saya) "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita,"
kita merespons terhadap kasih Allah kepada kita.

Apa yang dikatakan Uskup begitu menyemangati saya.  Saya mulai melihat
kembali semua keluarga yang berantakan yang datang untuk konseling pada
saya selama 28 tahun hidup saya.  Kebanyakan dari mereka (tidak semua)
berantakan karena sang ayah tidak cukup memiliki kasih.  Dan saat saya
melihat kembali semua orang yang berantakan yang saya berikan konseling,
saya dapat melihat pola yang sama.  Dalam hampir semua orang ini (sekali
lagi, tidak semua), saya melihat kurangnya figur ayah yang penuh kasih
dalam hidup orang tersebut.

Para ayah, Anda mempunyai peranan yang sangat penting dalam hidup isteri
dan anak-anak Anda.  Anda harus mengasihi mereka secara aktif – dan mereka
akan merespons.
 
Tapi Uskup yang baik itu belum selesai.  Ia berkata, "Mengapa Tuhan tidak
mengatakan, 'Hai suami, tunduklah kepada isterimu?'"
 "Mengapa?" tanya saya lagi.

Ia berkata bahwa begitu kasih itu hadir, ketaatan adalah respons yang
alami.  Ia bertanya, "Mengapa ada banyak pemberontakan dan ketidak-taatan
yang terjadi pada anak-anak sekarang ini?"  Ia menjelaskan bahwa anak-anak
perlu melihat ibu mereka tunduk kepada ayah mereka sebagai contoh untuk
diikuti.  (Kita tidak mempunyai waktu untuk membicarakan tentang
situasi-situasi dimana seorang kepala keluarga tidak mengasihi.  Apakah
sang isteri tetap harus tunduk?  Saya harap dapat menjawab pertanyaan yang
sulit itu dalam artikel lainnya.)
Tapi saya akan bagikan pada Anda pengalaman saya.
 
Saya mencintai isteri saya.  Saya mencintai secara aktif.
Dan ia tunduk pada kepemimpinan saya.  Saya mempunyai visi untuk keluarga
dan saya sedang membawa keluarga saya menuju visi itu – dan ia mendukung
saya.
Namun apa artinya dalam kehidupan sehari-hari?
Apakah berarti saya adalah raja dan ia adalah pelayan saya?
Ya Tuhan, Anda harus berkunjung ke rumah saya.
Karena saya mencintainya, saya ingin melayaninya.  Dan karena ia telah
mengikuti jalan saya secara umum, saya menyadari bahwa 90% dari
keputusan-keputusan adalah hal-hal sepele.  Karena saya mencintainya,
adalah tugas saya untuk mengatakan, "Ya" kepadanya.  Jadi dalam
kenyataannya, saya mengikutinya 90% dari seluruh waktu!
Isteri saya bukan pelayan saya.  Ia adalah ratu yang saya manjakan.
Teman, itulah "ketaatan terhadap kepemimpinan dalam pernikahan"  dalam
kehidupan sehari-hari.
 
Dengan catatan ini saya menyalami Anda – Selamat Natal.
Semoga keluarga Anda dipenuhi dengan kasih.
Para suami, ambil tanggungjawab dalam mengisi keluarga Anda dengan kasih.
Para isteri, dukung dan tunduklah pada suami Anda.

Dan bersama, kita dapat mengisi dunia ini dengan kasih.
 
Bo Sanchez
 
(Dikutip dari milis Bo Sanchez, terjemahan oleh Jessica J. Pangestu)

 
 

The Best Is Yet To Come!

Seorang Wanita Yang Suaminya Pengangguran Membagikan Kisah Penantiannya…

 Saya ingin berbagi satu cerita yang indah dengan Anda.   Saya bertemu Yane Pe Benito ketika saya memberi kotbah di perusahaannya.  Yane adalah seorang wanita yang menyenangkan yang memiliki kisah yang mengagumkan untuk diceritakan, saya memutuskan untuk menceritakannya pada dunia.

Dua tahun lalu, suami Yane, Beni, tapa peringatan, kehilangan pekerjaannya.  Hal ini menyebabkan rasa sakit dua kali lipat karena pekerjaannya sebenarnya sangat menjanjikan.   Selama 6 tahun, Beni sangat menikmati pekerjaannya di sebuah perusahaan distribusi multinasional untuk produk perawatan kulit.  Namun karena perubahan struktur organisasi yang terjadi dalam perusahaan tersebut (yang sering terjadi di banyak perusahaan belakangan ini), ia di-PHK.

Yane memutuskan untuk memberitahu berita menyedihkan itu pada kedua anaknya yang masih kecil, Gabriel (6 tahun) dan Marga (4 tahun).   Ia memilih dengan hati-hati kata-kata yang akan dipakai untuk menjelaskan hal tersebut.  "Anak-anak, kita harus menjaga lebih baik barang-barang kita…dan tidak memboroskan uang kita karena…ayah tidak punya pekerjaan lagi."

Gabriel kecil berkata, "Maksud ibu, ayah dipecat?"  Yane terkejut mendengar kata-kata yang kasar tersebut.   "Di mana kamu belajar tentang kata itu?!"  Puteranya menjawab tanpa berbelit-belit, "Dari Peter Parker – Spiderman."

Tapi ya, PHK hanya merupakan kata yang lebih baik dari "Keluar, kami tidak lagi membutuhkanmu di sini."   Kehilangan pekerjaan adalah selalu menyakitkan, sekalipun jika dibarengi dengan "pesangon".  Di satu sisi Yane bersyukur atas "rejeki nomplok" itu, tapi di sisi lain Yane kuatir, menebak-nebak berapa lama keluarga mereka akan hidup dengan bergantung pada pesangon itu.

Beberapa bulan pertama semua berjalan baik; Beni menerima rata-rata dua panggilan interview setiap minggu.   Namun beberapa bulan menjadi setahun – dan terus berlanjut, panggilan interview semakin sedikit dan jarang.

Selama hampir dua tahun suaminya menganggur, Yane melalui kegelisahannya sendiri.  Sebagai seorang ibu dari dua anak usia sekolah, ia melihat tabungan mereka yang semakin menipis.   (Sebagai ukuran, ia pindah dari pekerjaan yang sudah ditekuninya selama 8 tahun, ke pekerjaan yang lebih tinggi bayarannya.)

Tapi di samping dana yang semakin berkurang, ia juga kuatir akan harga diri Beni.  Bukan karena Beni tidak mencoba; namun kelihatannya memang tidak banyak kesempatan kerja bagi pria berumur dengan latar belakang dan pengalaman seperti yang dimiliki Beni.   Sebenarnya ada dua pekerjaan yang ia terima, tapi keduanya hanya bertahan sebentar.  Sebut saja sebuah konflik kepribadian atau ketidak-cocokan, tapi Beni tidak dapat melihat dirinya bekerja lama di sana.   Dengan marah, Beni akan keluar lagi.

Dan pernikahan mereka pun mengalami kesulitan, karena sekarang Yanelah yang memberi penghasilan bagi keluarga.   "Akankah ego suami saya bertahan selama ini?" ia terus dan terus bertanya pada dirinya sendiri.  Semakin waktu berlalu, ia semakin dan semakin kuatir akan Beni.

Yane mulai bertanya pada Tuhan, "Tuhan, saya tidak mengerti apa lagi yang Engkau sedang ajarkan pada kami!   Bagaimana lagi kami harus berdoa?  Apa lagi yang harus kami doakan?"

Itulah saat ketika Yane menyadari bahwa doa mereka harus lebih spesifik.

Maka ia mengumpulkan kedua anaknya dan berkata, "Mari berdoa bagi ayah, agar ia dapat menemukan suatu pekerjaan yang baik dengan seorang atasan yang baik – seseorang yang seperti atasannya di perusahaan yang dulu."

Dan itu menjadi doa spesifik keluarga tersebut.  "Tuhan, tolong ayah untuk mendapatkan seorang atasan yang baik seperti atasannya dulu, dalam nama Yesus."

Suatu hari, sekitar setahun lalu dari hari ini, Yane pulan dari kerja dan melihat kedua anak dan suaminya sedang berdempetan sambil membungkuk.   "Ada apa ini?" tanyanya.

Ia mendengar anak-anaknya berbisik dengan gembiranya, "Tunjukkan pada ibu sekarang!"

Beni menyodorkan sebuah amplop coklat padanya.

Yane pikir itu adalah sesuatu dari sekolah anak-anak.

Tapi bukan.  Dengan perlahan ia menarik keluar secarik kertas dari amplop itu, ia membaca nama perusahaan…kemudian jabatan suaminya…dan gajinya…   Sampai di sini, ia mengangguk puas.

Namun ketika ia sampai ke bagian bawah kertas tersebut, ia kaget setengah mati.  Karena ada sebuah tanda tangan.   Tanda tangan milik atasan favorit Beni!

Diiringin tatapan heran anak-anaknya, Yane mulai menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan.   Ia sangat sulit untuk mempercayai ini!  Seperti seorang anak, ia melompat-lompat kesenangan, dan disambut gembira oleh kedua anaknya yang ikut melompat dan tertawa bersamanya.

Gabriel bertanya pada ibunya, "Ibu, mengapa engkau menangis dan tertawa pada saat yang bersamaan?"

Yane melihat kesempatan bagus untuk menjelaskan, "Ibu menangis karena ibu begitu bahagia.  Ingatkah bagaimana kamu berdoa untuk seorang atasan yang baik bagi ayah?  Lihatlah nama ini," ia menunjuk kertas yang masih ia pegang.  "Kita hanya meminta seorang atasan yang seperti atasan ayah yang dulu.  Tapi, Tuhan memberi ayah seorang atasan yang persis sama!  Ia menjawab doa-doa kita!"

Saat itulah Gabriel mulai menangis.

"Mengapa kamu menangis?" tanya Yane.

"Karena aku juga sangat bahagia," kata anak laki kecil itu, dan seluruh keluarga saling berpelukan.

Ketika Yane menceritakan kisah ini, saya tahu saya harus berbagi cerita ini dengan Anda.

Karena semua kita melalui banyak kesulitan dan kehilangan.

Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan orang-orang yang kita kasihi, kita kehilangan uang kita, kita kehilangan sahabat-sahabat kita…      Dan seringkali, kita menanti dan menanti agar rasa sakit ini hilang, agar rasa kehilangan ini menjadi sembuh.  Kadang-kadang, kita menanti selama waktu yang panjang.  (Yane dan Beni harus menunggu selama dua tahun.)

 Namun pada akhirnya, saya percaya kalau Tuhan telah menyiapkan berkat terbaik bagi Anda.

Berimanlah.  Percaya.  Yang terbaik akan datang!

 

Sahabatmu,

Bo Sanchez
 
(Dikutip dari milis Bo Sanchez, terjemahan oleh Jessica J. Pangestu)

Posting Naskah Blog Dari Handphone (Mobile Blog atau Moblog)

Supaya informasi dapat cepat dipublikasikan di era digital ini di blog
yang dituju, maka Blogger.com menyediakan fasilitas posting via
handphone dengan cara: naskah blog dikirim via e-mail ke suatu alamat
e-mail tertentu yang sudah kita buat melalui fasilitas di blogger.com
dimana kita melakukan  log-in dulu di web tsb.

1. Masuklah ke bagian Settings:
2. Klik link Email:
3. isi kata sandi di kolom Mail-to-Blogger Address.

Maka jadilah alamat email tujuan yang diperlukan untuk mem posting
naskah blog kita via handphone dan langsung segera tampil di blog
kita.

Naskah ini merupakan contohnya yang telah saya coba sendiri.

Semoga bermanfaat ya.
 
(Oleh: Andreas AS)
 

Mengisi Hari Libur

Terlalu panjang hari libur terkadang membuat saya terlena - santai banget yang cenderung malas - karena relatif otak kurang bekerja dibandingkan hari-hari kerja biasa. Tanpa disadari, saya menjadi tidak produktif; tidak memanfaatkan waktu yang ada untuk melakukan suatu kegiatan yang saya ingin lakukan yang mana pada hari kerja biasa dirasa tidak ada atau tidak cukup waktu untuk melakukannya.

Ketika menyadari hal itu saya teringat saat-saat dimana saya merasa kekurangan waktu dalam mengerjakan sesuatu yang saya senangi. Oleh karena merasakan saat kekurangan waktu itu, sekarang saya tidak akan begitu saja melewatkan hari libur dengan tidak produktif karena waktu luang yang diperoleh saat ini adalah sangat berharga buat saya.

"Agar tidak lupa mengucap syukur di saat ber-kecukupan / ber-kelebihan, ingat selalu saat-saat dimana kita ber-kekurangan."

(Oleh: Andreas AS)

Chat on MSN, YAHOO, AIM with eBuddy